
Setelah Rom membantu Ibunya membawa wadah tempat makan kedapur. Rom pun pergi ke ruang makan dan melihat Ayahnya yang kini membersihkan sela giginya menggunakan lidi beserta membuka sebagian bajunya diangkat memperlihatkan otot perutnya yang berbidanv tersebut.
Rein setelah makan merasa agak panas pun itu sedikit bersantai dengan kaki kanan naik keatas kursinya. Rein menyadari bahwa Rom datang oun berdiri dan mengajak untuk pelatihan fisiknya dan kali ini sedikit ringan.
...-SKIP-...
Nampak seorang Anak yang kelelahan dengan keringat membasahi bajunya dengan pedang besi ditangannya. Ia terduduk jatuh melepaskan pedang tersebut dan benafas terengah-engah. Anak tersebut adalah Rom.
"Huft... Huft... Ayah selanjutnya apa yang kita lakukan... Hah...." Tanya Rom yang masih kelelahan sambil mengelap keringat didahinya memgunakan lengan kanannya.
Rein yang masih mengayunkan pedang besarnya pun berhenti dan menancapkannya ditanah berumput hijau. Nampak Rein sedikit lelah dan menarik nafas dalam terlebih dahulu.
Fiuh...
Rein menghelakan nafasnya lalu memikirkan apa yang merekq lakukan selanjutnya. Rein menatap langit biru dengan awan-awan menghiasi serta matahari yang posisinya hampir ditengah-tengah pun terlintas sebuah ide.
"Aha! Baiklah... Nak, apakah kamu mau belajar memanah?" Tanya Rein.
"Maulah!" Ucap Ron dengan antusias.
"Baiklah, sepertinya sudah mau siang. Mari kita berburu untuk makan siang dan malam. Disitu Ayah juga mengajarimu memanah." Ucap Rein dengan tangan berpangku digagang pedangnya yang tertancap tersebut.
"En... Baiklah Ayah..." Ucap Rom.
"Baiklah, mari kita mandi di pancuran." Ucap Rein dengan mencabut pedang besarnya dan menyandarkan pedangnya dibahu kanannya.
Rom yang mendengar ajakan Ayahnya untuk mandi dipemandian umum dimata ada sebuah mata air hingga menciptakan sebuah kolam kecil. Kolam kecil tersebuy disambung dengan sebuah bambu yang dapat menyalurkan air keluar dari kolam kecil tersebut. Dengan begitu kita bisa mandi tanpa menggayung air lagi.
Rom pun mengangguk dan berdiri menepis celananya yang kotor dan mengambil pedang besinya pulang untuk diletakkan dirumah.
...-SKIP-...
Rom dan Rein kini berpamitan dengan Lilya yang menggunakan celemek sambil bertolak pinggang menatap Rom dan Rein.
"Kami pergi dulu Lilya/Ibu...." Ucap Ayah dan Anak tersebut bersamaan sambil melambaikan tangan kearah Lilya.
"Rein! Jaga Rom biar gak keliaran. Huh, awas kalo Dia kena masalah...." Ucap Lilya dengan mengembungkan mulutnya.
Rom dan Rein menatap Ibunya yang kini berwajah imut pun tertawa kecil. Tapi Rom sangat bingung mengapa Ibunya terlihat kesal.
Seketika Rom dipindahkan kedalam Jiwanya dan menemukan Badut Iblisnya berdiri dihadapannya.
"Dia kesepian...." Ucap Badut tersebut.
"Kamu jangan sampai lupa dengan janjimu kepadanya... Kau sudah berjanji...." Ucap Badut Iblisnya dan langsung mengembalikan pandangan Rom kesemula.
Rom yang diberitahu oleh Badut Iblisnya pun sadar dan menghelakan nafas. Ia hampir lupa dengan janjinya tadi pagi. Rom pun tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Tenanglah Ibu. Kami akan cepat pulang...." Ucap Rom yang sudah berjalan pergi menjauhi rumahnya serta Lilya.
Lilya yang melihat kepergian Rein dan Rom serta mendengar perkataan Rom pun mendengus kesal. Nampaknya sesuatu membuatnya sedikit kecewa.
"Moh! Padahal ini kesempatan untuk bersenang-senang malah kini hilang sudah... Hmph!"
......................
Kini Rom berjalan disisi kanan Ayahnya. Rom melihat sekeliling nampak Desa ini lumayan ramai. Banyak anak-anak seumurannya juga dibawahnya yang bermain bersama. Rom hanya tersenyum dan meneruskan jalannya.
Sedangkan Rein melihat anaknya tersenyum menatap anak-anak lainnya hanya menggelengkan kepalanya. Ia mengetahui bahwa Rom masih kecil dan butuh yang namanya teman dan bermain. Tapi Rom sudah memberitahu bahwa saat ini dia hanya berlatih saja dulu dna saat kebangkitan nanti ia bisa mendapatkan teman saat pergi menuju Akademi di kota.
Hembusan angin pagi serta teriknya matahari yang hampir berada ditengah langit membuat pagi ini benar-benar sejuk. Kicauan burung-burung serta gemersik pepohonan menambah suasana yang indah dan menyenangkan.
Setelah berjalan agak jauh, nampak sebuah gerbang yang tersambung oleh pagar tumbuhan yang mengelilingi desa. Nampak kedua penjaga tersebut berdiri mengawasi sekitar.
Rein menghampiri penjaga teresebut dan memberi kartu identitasnya untuk izin keluar desa. Rom yang melihat hal tersebut pun mengangguk mendapat informasi bahwa kalau keluar dari desa atau kota harus menunjukkan kartu identitas.
Berbeda dengan Rom ketahui dari Novel, Komik serta Animasi yang Ia lihat. Hanya masuk saja memerlukan kartu identitas ternyata keluarpun butuh kartu identitas.
Rom pun menyimpulkan sesuatu. Sepertinya desa ini sangat ketat dan waspada akan sesuatu. Rom yang tidak mengetahui apa-apa pun mulai sedikit memahami Desa ini dan Ia yakin bahwa Desa ini juga sedikit rawan dan Ayahnya pasti mengetahui sesuatu.
Rein setelah menerima kembali kartu identitasnya pun mengajak Rom untuk melanjutkan perjalanan.
......................
Ditengah-tengah hutan yang rindang yang mana suara gemerisik pepohonan serta suara hewan kecil yang nyaring dihutan membuat suasana sedikit tegang. Suara patahan ranting serta gesekan dedaunan yang dibuat oleh Rein dan Rom yang kini berjalan menyusuri hutan.
Rom merasakan sekitarnya sedikit hangat dan melihat kedepan sepertinya Ayahnya menghunakan Mana-nya untuk mengedarkan penglihatan serta pendengaran untuk mendeteksi sekitar.
Hampir 10 menit kami menyusuri hutan dan sinar matahari hanya menembus celah-celah dedaunan pohon. Rein berhenti sejenak dan memfokuskan pengedaran Mana-nya. Merasakan suatu kehidupan dalam deteksinya. Rein pun menoleh kebelakang dan memberi isyarat terhadap Rom untuk diam dan pelan-pelan berjalan mengikitinya.
Rom mengangguk cepat dan mengikuti Ayahnya dari belakang. Sedikit suara nafas yang ditahan kini dihembuskan oleh Rein dan Rom. Rom sedikit beradaptasi dengan sekitar dan memperhatikan tingkah Ayahnya. Rom juga menggunkan sedikit ingatannya di Bumi tentang perburuan dihutan.
Rein dengan pelan menunduk dengan tangannya menyuruh Rom untuk menunduk pelan. Rom pun menunduk dan sedikit bingung dengan apa yang ditemukan Ayahnya.
"Ssst... Lihatlah." Bisik Rein kepada Rom.
Rom pun mengangguk dan pelan beranjang dari tempatnya menuju kedepan dimana Ayahnya berjongkok. Rom dapat melihat tiga ekor Rusa sedang minum didanau tersebut.
Rein hanya menyuruh untuk Rom memperhatikan sebentar. Rom pun mengerti apa yang dimaksud oleh Ayahnya. Pasti Ayahnya sedang menunggu apakah ada binatang buas yang ada didalam danau tersebut. Sepertinya Rein tak bisa mendeteksi sebuah kehidupan yang ada didalam air danau tersebut.
Kira-kira 1 menit tak ada kejadian aneh dengan danau tersebut. Rein pun mengeluarkan sebuah dua busur panah serta anak panah dari Cincin penyimpanan nya. Rein pun memberikannya kepada Rom dan menyuruh Rom untuk mengikuti bagaimana Ayahnya memakai busur panah serta posisi yang tepat.
Rom mengikuti instruksi yang diberikan Ayahnya. Dengan baik dan benar Rom fokus memperhatikan Ayahnya dan menirunya. Rein melihat Rom sudah memposisikan busur panah dengan baik dan benar sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh nya pun menyuruh Rom untuk membidik salah satu rusa dan membunuhnya tepat di organ vitalnya.
Rein juga melihat bahwa Rom sudah membidik mangsanya pun Rein membidik salah satu dari dua rusa lainnya. Rein memberi isyarat menggunakan kedipan mata dalam hitungan mundur dari tiga.
Rein dengan perlahan menarik nafas terlebih dahulu pun mengedipkan matanya dengan pelan sebanyak tiga kali.
Dikedipan ketiga, Rom dan Rein pun melepas jepitan jarinya membuat anak panah tersebut melesat cepat dan membunuh rusa tersebut. Mangsa Rom dan Rein kini tergeletak mati dan rusa satunya pergi melarikan diri.
Pak...
Rom dan Rein saling mempertemukan telapak tangan kanannya dengan kuat. Mereka tertawa kecil senang karena perburuan mereka berhasil dan sepertinya siang dan malam nanti akan makan daging rusa masakan Lilya yang mana pasti sangat lezat.
"Hehe... Bagus Nak. Kamu sangat cepat beradaptasi serta pemahamanmu tinggi. Kali ini sepertinya rusa ini cukup untuk dua hari kedepan." Ucap Rein sambil mengacak-acak rambut Rom.
Rom tersenyum senang dengaj pujian Ayahnya. Rom pun menyingkirkan tangan Ayahnya dan pergi menuju mangsa mereka.
Rein pun memberitahu kepada Rom untuk mencabut anak panah tersebut agar dibersikan dan masih bisa digunakan. Rom pun mengangguk dan mencabutnya.
Rom mengalami kesusahan dalam mencabutnya. Hingga akhirnya anak panah tersebut tercabut dengan darah memuncrat membasahi tangan Rom.
Buk...
Rom sedikit ceroboh karena dengan paksa mencabut membuat dirinya terduduk jatuh serta tangannya ternodai oleh darah rusa. Rein hanya tertawa melihat Anaknya terduduk jatuh setelah mencabut anak panah tersebut.
"Wahahaha...." Tawa Rein terbahak-bahak.
"Ayah, ini tidak lucu." Ucap Rom menatap Ayahnya dengan tajam.
"Haha... Maaf-maaf." Ucap Rein sambil menyeka air matanya.
Rein pun mengajak Rom untuk membersihkan anak panah tersebut serta tangan Rom ditepi danau.
Pas saat membersihkan darah rusa tersebut, Rein sedikit bingung dan merasa ada yang aneh dengan danau ini. Melihat darah rusa tersebut menyebar dan larut tergabung dengan air tersebut. Rein dengan sengaja mengalirkan Mana-nya saat membersihkan anak panah.
Merasa tidak ada tanda-tanda kehidupan, Rein pun menghelakan nafas sejenak. Dan tiba-tiba...
...----------------...
...๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐...
...โน๏ธ B E R S A M B U N G โน๏ธ...
...๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐...
...----------------...
Terima kasih sudah membaca novel saya.
Jangan sungkan tuk berikan saran atau kritikan kepada Author ๐
Jangan lupa tinggalkan :
Like ๐
Komen ๐ฌ
Vote โ๏ธ/Hadiah ๐
Rate โ 5
Dukung terus Author dan Novel 'System : Project M.A.I.'.
Enjoy ๐
Romz ๐ฎ๐ฉ
๐๐๐๐๐ฟ
...****************...