System : Project M.A.I.

System : Project M.A.I.
Bab 11 : Kekhawatiran dan Kemarahan



Rein telah sampai dirumah dengan menggendong Rom. Rein mendobrak pintu tersebut membuat Lilya, Lilith, Ifrit, Kanna dan Chaterine terkejut. Mereka berlima waspada siapa yang datang.


Seketika muncul Rein dengan keringat yang membasahi wajahnya serta Rom yang kini menggigil puncat.


Tampak wajah Rein khawatir dengan keselamatan Putranya. Rein pun menatap Lilya.


"Lilya...." Ucap Rein dengan lirih.


"Rom!" Teriak Lilya.


Lilya pun datang kehadapan Rein dan mengambil Rom dari gendongan Rein. Lilya pun meletakkan Rom di lantai sejenak dan menampar Rein dengan keras.


Rein pun hanyq menunduk dan merasa bersalah dan ceroboh tak bisa melindung Anaknya. Rein pun mengangkat wajahnya dan melihat Lilya menangis menatapnya.


Rein merasa sakit hati dan langsung memeluknya sebentar dan meminta maaf. Lalu Lilya melepas pelukan Rein dan langsung memeriksa keadaan Rom.


Lilya menyalurkan Mana-nya memeriksa setiap saluran darah Rom. Merasa sesuatu ada yang tertinggal didalam tubuh Rom. Lilya pun melapisi tangannya dengan Mana dan membedah tubuh Rom yang berlubang. Lilya pun mengeluarkan seperti alat pengapit berbentuk sumpit besi dengan ujung runcing dari Cincin penyimpanannya.


Dengan hati-hati dan fokus Lilya mengeluarkan semua sisik Naga Air tersebut.


Lilith dan Ifrit pun menutup mata Putri mereka dan menyiruh mereka untuk diam. Tanpa diketahui mereka bisa melihat dari sela-sela jari Ibunya dan melihat Lelaki tampan yang kini sekarat dengan baju terbuka memperlihatkan otot kecil yang pas ditubuh Rom. Mereka melihat banyak darah ditubuh lelaki tersebut dan merasa kasihan.


Entah kenapa keduanya menangis. Lilith dan Ifrit pun yang melihat Putri mereka menangis pun menghela nafas kuat dan memeluk mereka.


Lilya sudah mencabut semua sisik tersebut dan menyuruh Rein untuk mengambil air serta beberapa kain.


Rein dengan cepat menggunakan Enchantment oada tububnya agar bergerak cepat. Beberwpa waktu kemudian Rein sudah membawa air dan kain bersih berwarna putih.


Lilya pun menyalurkan Mana-nya didalam air dan membersihkan tubuh Rom dengan dehelai kain putih. Dengan lembut dan teliti Lilya membersihkan tubuh yang berlobang Ron miliki.


Lilya pun mengeluarkan sebuah jarum platinum dari Cincin Penyimpanan dan mencabut beberapa helai rambutnya. Lilya pun memasukkan ujung rambutnya yang sudah tercabut ke ujung lubang jarum. Setelah berhasil dan mengikatnya agar tidak lepas, Lilya pun menjahit lubang luka ditubuh Rom.


Rom yang kini sudah pingsan dibuat oleh Lilya. Rom ternyata masih sadar tapi didalam jiwanya sendiri. Rom kini duduk berdiskusi dengan Badut Iblisnya untuk menghilangkan bosan. Rom pun merasa khawatir karena telah membuat kedua Orangtuanya bersedih. Tapi Badut Iblis mengajaknya untuk tidak khawatir dan mari bersenang-senang dengannya dalam bercerita. Tentu didalam jiwa Rom, Rom tak bisa melihat kepuar apa yang terjadi. Jadi Rom pun menciptakan PS5 didalam jiwanya dan mengajak Badut Iblisnya memainkan game dewasa dengan grapik 4K Ultra HD tanpa sensor bersubtitle. Mereka pun bersenang-senang dengan wajah mesum mereka bermain game legendaris tersebut.


Setelah menjahit semua luka Rom, Lilya pun berdiri dengan susah payah. Lalu Ifrit dan Lilith membantu Lilya berdiri sedangkan Kanna dan Chaterine hanya melihat bahwa lelaki tersebut sudah dirawat dengan baik.


"Jadi, apakah Putramu baik-baik saja?" Tanya Ifrit.


"Tidak. Dia masih dalam kondisi kritis...." Ucap Lilya membuat Rein terkejut dan menundukkan kepalanya.


"Memang apa yang terjadi terhadap Putramu?" Tanya Lilith yang kini mendudukkan Lilya dikursi ruang tamu.


Kini Rom sudah dibaringkan diatas kursi panjang yang ada diruang tamu oleh Rein. Setelah Rein membaringkan Rom, Rein pun berkumpul kembali mendengar penjelasan Lilya.


"Sisik Naga Air tersebut beracun." Ucap Lilya singkat.


"Apa!?" Teriak Rein, Ifrit dan Lilith.


Sedangkan Kanna dan Chaterine kini berada dihalaman rumah Rom bermain diluar.


"Naga Air beracun itu tipe yang langkah. Bagaiman bisa ada di Hutan Magia?" Ucap Lilith.


"Benar... Naga Air sesuai namanya memiliki Elemen Air. Tapi memiliki kemampuan dalam hal racun sepertinya Naga Air itu bukan Naga Air Murni tapi Evolusi dari sebelumnya." Ucap Ifrit.


"Dihutan Magia sangat jarang muncul Magical Beast jika Hewan Buas disini berevolusi. Yang berarti evolusi awal Naga Air tersebut adaalh Ular." Ucap Rein.


"Betul. sekali. Jadi...." Ucap Lilya dengan menitikkan air mata.


"Baiklah. Biar aku pergi ke Kota Poysont untuk membeli penawar racun tersebut." Ucap Rein yang langsung melesat pergi.


"Berhati-hatilah...." Ucap Lilya dengan lirih.


"Mmm...." Angguk Rein dan langsung pergi keluar meninggalkan rumah.


Rein membuka pintu dan melihat dua gadis kecil seumuran dengan Rom. Sebelum Rein hendak terbang. Salah satu gadis tersebut bertanya.


"Paman mau kemana?" Tanya Chaterine. Sedangkan Kanna hanya mengikutinya.


"Pergi ke Kota untuk membeli obat buat Rom." Ucap Rein dengan senyum menanggapi pertanyaan Chaterine.


"Oh... Baiklah Paman. Hati-hati dijalan." Ucap Chaterine sambil melambaikan tangannya.


Kanna juga mengikuti Chaterine yang melambaikan tangannya dan tak berbicara sedikitpun.


Rein yang melihat kedua gadis tersebut tersenyum dan pergi dengan mengeluarkan sayap feniks yang terbuat dari api merah. Rein mengepakkan sayapnya dan melayang, lalu kakinya menyemburkan api merah membuat Rein melesat kearah Timur Laut dari halaman rumahnya.


Kanna dan Chaterine yang melihat hal tersebut pun terkagum apalagi Chaterine yang pernah melihat elemen api yang sama digunakan Ibunya, Ifrit.


Lalu Chaterine mengajak Kanna bermain lagi dengan menggambar wajah Orangtua mereka ditanah yang kosong tanpa rumput.


......................


Rein pun sudah memasuki wilayah Kota Poysont melewati gerbang menggunakan kartu identitasnya. Tak lama kemudian ia pergi ke tempat alkimia dimana tempat itu menjual obat-obatan dan penawar racun yang lumayan lengkap dan pengunjung nya sangat banyak.


Rein cukup mengenal pemilik tempat yang bernama 'Apotek Mandiri' tersebut dan pemiliknya Luis Xermon.


Rein menemui seorang kasir yang menjaga di barisan paling kiri jika kita masuk dari pintu.


"Halo Tuan, apa yang saya bisa bantu?" Tanya Kasir perempuan tersebut.


"Penawar racun Sisik Naga Air." Ucap Rein singkat.


"Baiklah...." Ucap Kasir tersebut lalu mengambil sesuatu dilaci bawah dan meletakkannya dimeja.


Penawar tersebut berupa bubuk dari Empedu Naga Air Jantan tipe beracun yang sudah dimasukkan kewadah berbentu botol yang terbuat dari tanah liat serta beberapa sihir untuk melindungi bubuk tersebut.


"25 Perak Tuan...." Ucap Kasir tersebut dengan senyum ramah.


Rein membalas senyuman tersebut dan memberikan 25 Perak yang sudah terbungkus kain. Kasir itu memeriksa dan langsung mengambilnya. Rein pun mengambil botol penawar tersebut dan langsung pergi.


Di tempat yang dikerumuni oleh orang-orang Rein sedikit susah keluar dan dia pun dengan paksa menyalip semua dan menyenggol orang-orang.


Tanpa sengaja seseorang yang tersenggol tersebut sedikit marah dan menggapai bahu kiri Rein menggunakan tangan kanannya.


"Hey sialan! Apa matamu tidak melihat kau menyenggol orang!?" Ucap Pemuda yang tampan dan terlihat memakai baju rapi dan mahal.


Rein menatap Pemuda berwajah cantik dan rambut coklat disisir kesamping tersebut dan mengetahui bahwa Pemuda didepannya adalah seorang Bangsawan. Rein melihat sekitar ada beberapa orang yang sepwrtinya Penyihir Elementak dan Penyihir Petarung sebagai pengawal. Kira-kira jumlah mereka 6. 3 Penyihir Elemental, 3 Penyihir Petarung. Semua laki-laki.


Rein yang ingin cepat pulang membawa obat kepada Rom dan tak ingin menyebabkan masalah yang menghambatnya pun mengabil tindakan.


"Oh, maafkan Aku. Aku sedang terburu-buru...." Ucap Rein tanpa menundukkan kepala dan langsung menepis tangan yang masih menempel dibahu kirinya dan berbalik.


Pemuda tersebut yang ditepis tangannya pun wajahnya suram dan menyuruh pengawalnya untuk mencegatnya ketika keluar.


Rein bisa mendengar dan melihat itu pun menyadari bahwa Pemuda itu tidak bodoh membuat keributan di Apotek Mandiri ini. Rein pun bergegas keluar dan menuju sebuah hutan yang sepi.


6 Pengawal tersebut sudah mengikuti Rein sejak awal dan Pemuda tersebut sepertinya ikut kali ini.


Rein berhenti dihutan dan jauh dari pemukiman pun menoleh kebelakang.


"Hey, kalian daritadi mengikutiku. Aku sudah meminta maaf loh." Ucap Rein dengan santai dan tatapannya menyelidik dibalik pohon serta diatas pohon.


"Hahaha... Kau ternyata cukup peka yah. Aku sangat membencimu tadi. Kau menepis tanganku yang mulus ini. Kau pikir kamu siapa!? Rakyak jelata menepis seorang bangsawan. Kalian serang Dia! Patahkan tangan kirinya yang sudah menepis tanganku yang cantik ini!" Ucap Pemuda berambut coklat tersebut.


"Baik Tuan Muda!" Ucap mereka berenam.


3 Penyihir tersebut berada diatas pohon dengan tumpuannya sebuah ranting. 2 diantara mereka adalah Penyihir Elemental tipe Penyerang jarak jauh dan satu lagi Penyihir Elemental tipe Pendukung. 2 Penyihir Elemental adalah seorang Mono-Elemental dan Penyihir Pendukung tersebut Di-Elemental.


Melihat mereka berenam sudah bersiap menyerang, Rein sedikit kerepotan untuk Penyihir Pendukung tersebut. Tapi untungnya Rein seorang Tri-Elemental dengan Element Api, Air dan Tanah yang mana cukup untuk menahan 3 Penyihir Petarung tersebut.


"**Fire Slash...."


"Water Slash...."


"Earth Strike**...."


Ketiga laki-laki tersebut mengeluarkan jurusnya secara bersamaan membentuk 3 cakaran dengan 3 elemen berbeda.


Rein yang melihat itu pun membuat pelindung dengan resistansi sesuai elemen musuh dan ia punya.


"Barrier : Tri-Elemental Resistance!"


Rein meneriakkan sihirnya dan memunculkan sebuah pelindung transparan yang menahan ketiga sihir tersebut.


Boom...


Crack...


Rein melihat pelindungnya retak langsung menoleh keatas pohon dimana Penyihir Pelindumg berada. Terlihat Penyihir tersebut merapal mantra sihir aktif secara terus menerus dan 2 Penyihir lainnya menyalurkankan Mana mereka kepada Penyihir Elemental tipe Pendukung tersebut.


Rein sedikit geram dan juga ia bisa melihat tingkatan mereka juga tak terlalu tinggi dari dirinya tapi yang membuat susah adalah mereka berenam sangat baik dalam hal kerja sama sedangkan dirinya sendiri.


Tang... Tang... Tang...


Rein sedikit kesulitan dengan serangan berturut-turut dari ketiga Penyihir Petarung tersebut. Yang berelemen Api memiliki kecepatan yang unggul, elemen Air memiliki kelembutan dan dalam serangan tipuan unggul dan elemen Tanah unggul dalam kekuatan.


Rein dengan berusahan menangkis serangan mereka. Entah kenapa Rein merasa mereka menyerang, staminanya tidak berkurang. Rein menyadari bahwa ini perbuatan Penyihir Elemental tipe Pendukung tersebut.


"Haha, Paman... Sebaiknya kamu menyerah dan patahkan tangan kirimu lalu hal ini pun berakhir!" Teriak Pemuda berambut hitam panjang berelem Api.


"Benar Paman. Sebaiknya Anda menyerah." Ucap Pemuda berambut biru dengan penutup mulut berelemen Air.


"Oh, jangan lupa tinggalkan barang-barang mu semuanya! Hahahaha!" Ucap Pemuda berambut coklat dengan penutup mata sebelah kanan berelemen Tanah.


Rein yang mendengar hal tersebut pun tersenyum dengan peluh bercucuran di dahinya.


"Haha, kalian membuatku marah!" Teriak Rein yang seketika tubuhnya dilahap Api Biru dan berubah menjadi Zirah Api biru yang keren dan mengeluarkan aura dingin.


Hutan tersebut pun mulai tebakar akibat suhu yang panas disekitar. Para Penyihir Elemental tersebut pun memberhentikan sihir dan saluran Mana mereka dan turun melindungi Tuan mereka dengan menciptakan pelundung resistansi terhadap api.


Ketiga Penyihir Petarung tersebut pun mundur jauh dan melindungi Tuan Muda mereka. Pemuda berambut biru pun menciptakan pelindung berlapis tiga dengan elemen Air miliknya.


Mereka bertujuh pun sedikit lega dan juga khawatir akan terluka maupun mati melihat didepan mereka. Paman tersebut dapat mengeluarkan Api Biru yang langka.


"Tuan Muda bagaimana ini? Sepertinya kita menyinggung orang kuat?" Ucap Penyihir Elemental tipe Pendukung.


"Huh, Aku tidak peduli. Jika begitu bua-" Ucapan Pemuda cantik tersebut pun terhenti dengan sebuah Api Biru berbentu Feniks yang besar kini dihadapan mereka.


Gluk...


"Sial!!" Ucap Pemuda cantik tersebut dan menyuruh pengawalnya menciptakan pelindung dan melarikan diri.


"Hahaha, gara-gara kalian... Gara-gara kalian Aku akan terkena marah oleh Istriku. Sialan!!!" Teriak Rein yang kini menangis dan juga marah.


Brushh....


Api Biru makin membesar sesuai suasana hati dan perasaan pengguna.


"Fire Magic Second Form : Blue Phoenix!!!"


Rein melepaskan serangannya, terlihat feniks biru itu seperti hidup dan menyemburkan api biru dari mulutnya. Feniks tersebut terbang meluncur kearah tempat Pemuda cantik beserta Pengawalnya berlari.


Feniks tersebut meluncur, disetiap jalurnya yang ia lewati semuaa terbakar dan dalam radius 5 meter semua terbakar hangus kecuali si Pengguna.


Boom...


Blar...


Kawah besar dibarengi oleh Api Biru membakar hangus semua disekutar dalam radius 5 meter sedangkan kawah tersebut sebesar 30 meter dimana Rein tak terlalu banyak menggunakan kekuatannya.


Rein kini menangis dengan air mata membanjiri wajahnya lalu ia mengambil Cincin Penyimpanan mereka lalu pergi dengan kesedihan mendalam.


"Hisk... Semoga Lilya tidak marah. Aku ingin jatah malam ini...."


......................


Kini terlihat Lilya, Lilith, Ifrit serta Chaterine dan Kanna sedang diruang makan untuk makan Siang dimana hari mau menjelang sore. Tampak lainnya berbicara senang sedangkan Lilya mengetuk-ngetuk sendok kayunya di piring kayu.


Tuk... Tuk... Tuk...


Tampak wajah Lilya begitu suram dan juga marah. Ia telah kehilangan selera makannya.


"Sialan kau Rein. Kenapa lama sekali! Sudah kamu tak bisa melindungi Rom kini kamu terlambat membeli obat!?" Ucap Lilya dengan nada pelan seperti bergumam.


"Lihatlah... Kuyakin malam ini tak dapat jatah dan menghukummu dengan berat. Cih...." Dengus kesal Lilya.


Ifrit dan Lilith bisa mendengar perkataan Lilya dan mereka tersenyum. Mereka berharap bahwa Rein tidak kenapa-kenapa malam ini. Sedangkan Chaterine dan Kanna menikmati Rusa panggang dan sambal pedas manis tersebut dengan senang tak memperdulikan sekitar.


...----------------...


...๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž...


...โ„น๏ธ B E R S A M B U N G โ„น๏ธ...


...๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž...


...----------------...


Terima kasih sudah membaca novel saya.


Jangan sungkan tuk berikan saran atau kritikan kepada Author ๐Ÿ˜Ž


Jangan lupa tinggalkan :


Like ๐Ÿ‘


Komen ๐Ÿ’ฌ


Vote โœŒ๏ธ/Hadiah ๐Ÿ™


Rate โ˜…5


Dukung terus Author dan Novel 'System : Project M.A.I.'.


Enjoy ๐Ÿ˜


Romz ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ


๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ†–๐Ÿ†Ž๐Ÿ—ฟ


...****************...