
Setelah makan, Rom pun merapikan piring dan wadah makanan lainnya dan membantu Ibunya untuk membawanya kedapur untuk dicuci. Setelah itu, Rom kembali keruang makan dan duduk menemui Ayahnya, Rein.
"Ayah, apa yang terjadi tadi siang?" Tanya Rom kepada Rein.
"Oh, kamu pingsan karena terlalu kelelahan karena latihan tadi siang. Maaf karena memberi pelatihan yang agak berat kepadamu." Jawab Rein.
"Ah... Itu tidak masalah, Ayah." Ucap Rom sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah. Kedepannya latihan fisikmu semakin berat dan tambah banyak juga setelah mahir menggunkan pedang kayu, kamu akan beralih menggunakan pedang dan belati. Mungkin berlatih fisik dan pedang kayumu hanya setahun dan 3 tahun lagi kamu latihan pedang besi dan belati dibarengi ditahun ke-empat kamu akan belajar teori sihir bersama Ibumu." Ucap Rein dengan serius dengan tangan menyentuh dagu.
Rom yang mendengar hal tersebut tak mempermasalahkannya dan mengangguk setuju mengiyakan perkataan Rein Sang Ayah. Bagaimanapun latihan fisik sangat penting bagi Penyihir yang bertarung jarak jauh berbeda dengan Penyihir Petarung jarang dekat. Bagi Penyihir tipe serangan jarak jauh harus bisa melindungi dirinya dalam serangan jarak dekat seperti Assassin atau jebakan. Sehingga tidak terus menerus menggunkan Barrier yang menguras Mana yang akan membuat seorang Penyihir terpuruk. Aku tak tahu menahu apakah didunia ini ada alat canggih seperti Alat sihir yang membantu sang Penyihir. Tapi satu hal yang pasti Alat sihir itu ada karena keberadaan Dwarf dan tak dipungkiri bahwa Manusia dan Ras lainnya meneliti atau mengembangkan teknoligi. Yah, mudah-mudahan saja ada karena aku sangat menyukai teknologi atau bisa disebut Sains.
Rein yang melihat anggukkan Rom pun tersenyum dan mengangguk kepalanya kembali membalas anggukan Rom. Seketika, petanyaan terlintas dipikiran Rein. Rein pun mencoba menanyaka sesuatu kepada Rom.
"Hey, nak." Ucap Rein.
"Apa Ayah?" Tanya Rom.
"Apakah kau tak berniat bermain dan mencari teman?" Tanya Ayah yang juga baru sadar bahwa selama ini Rom tak pernah keluar rumah untuk berkeliling Desa Magia dan menjumpai manusia lainnya selain mereka berdua.
Rom yang ditanyakan hal tersebut pun terkejut dan juga baru sadar akan pertanyaan Rein Sang Ayah. Rom hanya dirumah tersebut dengan membaca buku dari kecil sampai sekarang yang mulai melatih fisik. Rom pun juga butuh yang namanya teman sebaya atau lebih mudah atau tua darinya yang bisa diajak bercanda, belajar atau bermain. Rom pun memutuskan sesuatu dan mencoba berbicara kepada Rein.
"Ayah, mungkin pas aku berumur 10 tahun atau lebih baru mencari teman. Mungkin sekarang aku belajar dan melatih fisikku. Dimasa depan aku bisa mencari teman lebih banyak jika aku kuat dan juga diriku yang tampan ini pasti menarik perhatian seorang wanita." Ucap Rom dengan wajah polos tak bersalah sambil memegang dagunya yang sudah memutuskan untuk berlatih dan belajar saja dulu.
Uhuk-
Rein terbatuk mendengar perkataan Rom. Rein mengakui bahwa Rom tampan apalagi jika latihan fisiknya selesai dan dilanjutkan dengan latihan fisik diselang waktunya. Pasti tubuh Rom mungkin makin tinggi dan juga makin terbentuk dengan otot-otot yang menggoda seperti punyanya yang pasti menarik perhatian wanita. Tapi, tak mungkin Rom menunjukkan tubuhnya hanya mencari seorang teman wanita. Hah, wajah Rom memang tampan dan mungkin menarik banyak masalah dimasa depan tapi biarlah. Rom pasti bisa mengatasinya dimasa depan. Aku mempercayai Anakku.
"Baiklah, kalau begitu besok kita latihan lagi dari mulai yang latihan ringan dulu baru yang berat. Oke?" Tanya Rein.
"Oke Ayah." Jawab Rom singkat. Setelah itu Rom pun pergi menuju kamarnya dan menghampiri rak buku dan membacanya hingga tengah malam.
Rom yang sedang tenang membaca buku itu ditemani lilin kecil menerangi ruang kamarnya dengan angin malam yang menyengat kulitnya tersebut dengan suasana hening hanya suara balikan kertas yang terdengar.
Tiba-tiba erangan dan desahan wanita terdengar menembus dinding kayu kamarnya. Dibarengi suara tamparan daging keras membuat suasana hening dan tenang tersebut kini mengundang nafsu Rom. Rom pun menolak pemikiran tersebut tapi mendekatkan kupingnya kedinding mendengar rintihan wanita yang pasti Ibunya.
Ahh~
Ahh~
Yaa~
Plak~
Plak~
Plak~
"Disitu..."
"Oh yes..."
Ron yang mendengar suara tersebut pun tersenyum kecut dan kembali kekasur mencoba menenangkan Sang Badut Iblis didalam dirinya yang kini meronta-ronta ingin keluar dan menyuruh Rom untuk pergi melihat Ibunya yang berhubungan seksual dan membuat Rom berpikiran kotor dan bernafsu tinggi.
Rom mengambil selimut mengurung diri membiarkan buku-buku terbuka diatas meja belajarnya dan mengambil bantal untuk menutupi kepalanya menutupi suara erangan, desahan dan tamparan daging tersebut.
"Sepertinya segera aku akan mempunyai Adik. Semoga perempuan..." Ucap Rom pelan dan mencoba untuk menidurkan dirinya yang kini Sang Badut Iblis menolak pernyataan tersebut dan menggedor hatinya tuk membuta Rom merubah keputusannya dan pergi mengintip Ibunya.
"Sepertinya aku tak bisa tidur malam ini. Sial!!"
...-SKIP-...
19 September EPB515.
Desa Magia.
Pagi Hari.
Pagi hari Rom bangun dengan mata yang sipit dengan kantung mata yang samar samar berona hitam. Rom berjalan sempoyongan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sambil mengucek-ngucek matanya. Sampai dikamar mandi Rom melihat bahwa kamar mandi digunakan dan mendengar desahan wanita dikamar mandi tersebut.
Sepertinya Ayah dan Ibu masih melakukan cocok tanam terlarang sampai sekarang bahkan mandi bersama pun mereka lanjutkan. Seketika mata Rom yang hitam kelam tersebut sedikit mengeluarkan asap yang mana itu adala Energi Kehampaan yang bersalah dari tubuhnya. Kini sisi buruknya Rom, Badut Iblis kini mendapat akses diri Rom dan menyuruhnya mengintip Orangtuanya yang sedang bercocok tanam tersebut.
Rom pun menyeringai dan terlihat wajah gelap dan mata sedikit berasap dibarengi sebuah bayangan dengan wajah badut menyeringai. Kini Rom berjalan ke pintu kamar mandi. Dimana lilin khusus yang dibahan bakari oleh Mana menerangi kamar mandi itu. Terlihat hanya Lilya terbaring sambil melebarkan pahanya dengan tangan kanan memainkan Goa Kewanitaannya dan tangan kirinya memainkan cembul kecil buah dada besarnya yang kini sudah mengeras. Tampak Lilya sedikit kejang-kejang dengan erangan kenikmatan dan desahan membuat Rom dan Badut Iblisnya tersenyum lebar. Kini adik kecil Rom menegang dan menunjukkan wajah nafsu dan bergairah ingin memangsa Lilya.
"Ahh... Rom Sayang... Masuk kedalam diriku...." Ucap Lilya dengan tubuh sedikit bergoyang sambil tangan kanannya makin cepat memainkan Goa Kewanitaannya.
Deg...
Rom yang mendengar perkataan Ibunya pun jatungnya berhenti sejenak. Sekilas perkataan Ibunya tergiang-ngiang dikepala Rom membuat Rom dimabuk Euforianya. Tapi dalam sekejap Rom menepis Euforianya tersebut dan gubuhnya bergetar tak menyangka bahwa Ibunya bernafsu kepadaku.
Rom pun memperhatikan Ibunya lebih teliti yang masih mendesah dengan wajah Ahegao yang menggoda. Apalagi tubuh semok dada jumbo beserta tubuh langsing dihiasi cucuran keringat dengan kulit mengkilap bercahaya terkena cahaya lilin membuat tubuh indah dan seksi Ibunya membuat Rom bergairah hingga Rom mengeluarkan darah dari hidungnya.
Rom mengacungkan jempol sambil menyumpal hidungnya yang mengeluarkan darah tersebut. Rom memberi nilai sempurna untuh tubuh Ibunya apalagi buah melon lembut dan segar tersebut seketika membuat Rom yang masih mimisan kini malah ngeces.
Hah~
Hah~
"Ibu sudah tak tahan lagi." Ucap Lilya yang kini nafasnya terburu-buru dengan wajah Ahegao dengan mata tertutup seperti mengalami Euforianya.
Rom yang mendengar hal tersebut pun terkejut dengan wajah yang masih menyeringai bersama dengan bayangan Badut Iblis dirinya. Melihat dan mendengar perkataan Lilya yang kini dimabuk Euforianya. Rom ingin masuk tapi diberhentikan oleh perkataan Lilya.
"Rom Sayang, hamili Ibu...." ucap Lilya yang kini makin cepat tempo permainannya.
Deg...
Rom yang melihat Ibunya pun hampir mencapai klimaks pun memperhatikan Ibunya yang sedang dimabuk Euforianya dengan mata melotot tak mau kelewatan dengan adegan ini. Kini Rom ngeces lebih banyak dan wajah mesumnya keluar bersama Badut Iblisnya yang memyeringai menatap Lilya.
"Keluar!" Seru Lilya yang seketika tubuhnya menegang dengan perut sedikit terangkat dan kepala menghadap keatas.
Cresh~
Suara air mancur surgawi telah keluar dari cela bibir dunia merah muda milik Lilya. Dengan kaki melebar keatas dengan tegang karena merasakan kejutan listrik karena klimaks pun memperlihatkan bibir dunia merah mudanya yang memuncratkan air surgawi. Lilya kini terbari dilantai toilet dengan wajah Ahegao serta air liur mengalir keluar dari mulutnya.
Rom yang melihat air mancur pribadi Ibunya serta tubuh semok indah dan seksi kini telah basah oleh buih-buih peluh keringat yang banyak membuat Rom kini bergairah dan hampir kehilangan kendali. Rom pun diam-diam pergi dari sana dan balik ke kamar tidurnya untuk menunggu Ibunya selesai.
Lilya pun yang sudah tenang tapi masih dalam Euforianya pun menggerakkan kepalanya ke samping kanan mengarah pintu kamar mandi. Lilya melihat sebuah air liur bergenang didekat pintu. Lilya yang mepihat tersebut pun tersenyum menggigit bibir bawahnya.
"Hihihi... Mulai sekarang akan menyenangkan. Dasar...."
...----------------...
...๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐...
...โน๏ธ B E R S A M B U N G โน๏ธ...
...๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐...
...----------------...
Terima kasih sudah membaca novel saya.
Jangan sungkan tuk berikan saran atau kritikan kepada Author ๐
Jangan lupa tinggalkan :
Like ๐
Komen ๐ฌ
Vote โ๏ธ/Hadiah ๐
Rate โ 5
Dukung terus Author dan Novel 'System : Project M.A.I.'.
Enjoy ๐
Romz ๐ฎ๐ฉ
๐๐๐๐๐ฟ
...****************...