System : Project M.A.I.

System : Project M.A.I.
Bab 03 : Informasi | Part II



Begitulah informasi mengenai Dunia Gaia yang memiliki 5 Benua berpenghuni beserta Ras dan Kerajaan disetiap Benua dan 2 Benua yang tidak berpenghuni atau tidak diketahui.


Selanjutnya adalah jenis pengaktifan atau pengaplikasian sihir, yakni :


-Sihir Objektif (Single target/target perorangan)


Sihir yang pengaplikasiannya mengunci atau mentarget mahluk hidup atau benda mati untuk diserang maupun diberi sebesar mana untuk memperkuat makluk hidup itu atau benda mati tersebut.


-Sihir Area (Area of Effect)


Sihir yang pengaplikasiannya akan berefek terhadap suatu area yang ditentukan dan efek sihir tersebut mengenai banyak orang bukan objektif. Mentargetkan mahluk hidup dan benda mati sekitar yang ada didalam area/zona sihir.


Jenis sihir yang digunakan :


-Sihir Aktif.


Sihir yang penggunaannya atau pengeksekusiannya secara manual dilakukan oleh Penyihir itu sendiri.


-Sihir Pasif.


Sihir yang penggunaannya atau pengeksekusiannya berjalan terus menerus tanpa diaktifkan oleh Penyihir itu sendiri


Note : Sihir disini juga dapat disebut sebagai skill bagi penyihir itu sendiri.


Tingkatan Sihir :


-Tingkat E (Eazila)


-Tingkat D (Daizila)


-Tingkat C (Caizila)


-Tingkat B (Baizila)


-Tingkat A (Aazila)


-Tingkat S (Sazila)


-Tingkat SS (Super Sazila)


-Tingkat SSS (Super Super Sazila)


-Tingkat Un (Unique)


-Tingkat U (Ultra)


Note : Nama tingkatan tersebut Author buat sendiri biar keren aja gitu :v


Setiap tingkatan ada kelebihan dan kekurangannya dengan diberi tanda :


-Plus (+) untuk Kelebihan.


-Minus (-) untuk Kekurangan.


......................


Setelah mengetahui informasi tentang tingkatan sihir dan jenis pengaplikasian sihir itu, Aku, Rom pun hanya menghelakan nafas melihat informasi tersebut. Dengan ini, Rom semakin bersemangat untuk menjadi kuat supaya dapat bertemu Illia, wanita tercintanya.


Informasi dibuku tersebut juga mengatakan bahwa menjadi Penyihir harus memiliki bakat bawaan yang sudah ada didalam diri mereka sejak lahir dan mulai bangkit di umur 10 tahun. Perlahan tapi pasti, Rom berharap kepada keberuntungan agar dilahirkan berbakat menjadi penyihir dan biarkan seiring berjalan waktu. Saat ini aku berumur 5 tahun, 5 tahun lagi adalah dimana kebangkitan bagi mereka yang berbakat.


Setelah sekian lama membaca, aku menemukan sebuah catatan dengan sampul bermotif bunga tanpa ada kerusakan sedikit pun. Aku mengambil buku tersebut dan melihat tulisan 'Magikí Erevnitikí Syllogí' yang pasti sebuah judul. Aku melihat ditengah sampul buku tersebut, ada sebuah lubang berbentuk Plus (+) dengan motif ukiran bunga dan rune-rune sihir.


Aku meraba ukiran tersebut dan melihatnya dengan teliti. Aku mencoba membukanya dan menariknya dengan kuat tetapi tetap tak bisa terbuka. Aku terus membuka tanpa memperhatikan sekitar bahwa Ibuku, Lilya Veins melihatku membuka bukunya. Ia melihat sekitar sudah banyak buku yang berserakan terbuka dikamarnya. Ibu Rom pun terbatuk sengaja untuk menyadar Rom yang kini sedang mengotak-atik buku Ibunya.


"Ehem..."


Rom yang mendengar batuk itu pun tersadar dan terdiam. Ia pun merasakan tatapan membunuh dibelakang punggungnya.


Gluk-


"Rom Sayang... Kenapa buku Ibu semua berserakan!? Huh!?" Tanya Ibu Rom dengan wajah gelap dan muncul urat dikepalanya.


"I-Ibu...? A-aku bisa menjelaskan..." Ucap Rom terpatah-patah gagap menjawab pertanyaan Ibunya.


Baiklah, ini tentang Ibunya Rom. Lilya Veins yang suka meneliti sihir juga sering mengumpulkan buku yang berisikan informasi tentang benua-benua lain dan menulis penelitiannya di bukunya. Dan juga Lilya Veins orangnya yang tegas dan tidak suka jika bukunya dipegang atau diserakkan terbuka begitu saja. Kejadian Rom tersebut pun mengundang kemarahan sang monster yang sudah tertidur lama setelah sekian lama tak terlihat. Bahkan jika Ayahnya Rom melihat bahwa Istrinya sudah marah hanya pasrah tak bisa melawan.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi!" Teriak Ibunya Rom yang datang langsung dengan cepat kehadapan Ron dan menjewar telinganya.


"Aww... Ibu... Maafkan aku..." Ucap Rom memegang telinganya kesakitan yang kini ditarik oleh Ibunya. Rom pun menunjukkan wajah memelasnya yang imut dengan mata berkaca memohon pengampunan ke Ibunya. Memang Rom salah karena diam-diam membuka buku Ibunya tanpa memberitahu Ibunya. Bahkan Ayahnya tidak pernah berani memegang buku Istrinya tersebut.


Ibu Rom yang melihat wajah memelas Rom tersebut pun tersentuh tapi langsung tersadar dan makin menekankan jewerannya beranggap bahwa wajah memelasmu itu tidak akan berguna, sudah basi!


"Aww...Aww...Aww... Ibu, itu sakit sekali... Ibu... Ampun..." Rengek Rom tambah kesakitan dengan jeweran Ibunya yang makin kuat.


"Diam!" Teriak Ibu Rom.


Rom yang dibentak tersebut pun langsung mengambil sikap tegap dengan duduk beralaskan kakinya menunduk bersujud ke kaki Ibunya.


"Maafkan aku, Ibu..." Ucap Rom yang kini bersujud dihadapan Sang Ibu yang kini marah.


......................


Disebuah jalan menuju sebuah rumah, terdapat seorang pria berambut hitam pendek polos, wajah agak lonjong dengan dagu kotak, iris matanya berwarna hitam sedikit sipit, badan berotot dengan perawakan yang terlihat gagah dan lelah. Keringat muncul didahinya, ia berjalan sambil membawa seekor rusa dipundaknya dan pedang dipinggangnya. Sepertinya pria tersebut habis menyelesaikan perburuannya dengan mendapat seekor rusa dewasa yang akan menjadi makan malam dikeluarganya. Pria tersebut adalah Rein Steve Suami dari Lilya Veins dan seorang Ayah dari Rom Steveins. Ia pun sampai didepan pintu, meletakkan hasil buruannya dan mengetuk pintunya.


Ayah Rom yang baru pulang tersebut pun langsung membuka pintu tanpa menunggu seorang pun membukanya karena tak ada yang menjawab ketika ia mengetuk pintu. Ia pun melangkahkan kakinya membawa seekor Rusa masuk kerumah dan ingin mengucapkan kata 'Aku pulang...' tapi terpotong karena mendengar teriakan seorang wanita yang familiar dikupingnya.


"Diam!"


Ayah Rom yang mendengar teriakan tersebut pun terkejut dengan suara tersebut yakni suara Istrinya sendiri. Ia membuka sepatunya dan pergi menyusuri lorong rumah hingga sampai di suatu kamar yakni kamar kerja Lilya Veins.


Rein Sang Ayah disajikan pemandangan Sang Istri yang kini bertolak pinggang dengan Rom, Sang anak yang kini bersujud di kaki Sang Ibu.


"A-apa yang terjadi? Lilya?" Tanya Rein yang kini bingun layaknya orang bodoh.


"Kamu diamlah Rein! Ini tak ada dengan urusanmu. Ini adalah masalah antara Anak dan Ibu. Tidak denganmu! Apa kau mau tidak mendapatkan jatah dariku!? Huh!?" Ucap Lilya keras menjawab pertanyaan bodoh Rein dengan tatapan membunuh membuat suasana mencekam disekitar kamar tersebut.


Rein pun langsung terkejut dan segera diam dengan ancaman Sang Istri. 'Sial, tidak dapat jatah!? Tidak, aku harus mendapat jatah malam ini. Maafkan Aku, Anakku... Aku tak bisa melawan Ibumu yang sedang marah ini. Sungguh malang nasibmu, Nak...' Ucap Sang Ayah dalam batinnya. Rein pun menoleh ke arah Rom yang masih bersujud, ia tersenyum kecut dan pergi meninggalkan Ibu dan Anak tersebut.


Rom yang mendengar kata-kata Ibunya pun terkejut 'Apa!? Bahkan Ayah yang berotot dengan tampang menyeramkan itu pun tak berkutik dihadapan Ibu!? Tak dapat jatah!? Sial, sepertinya Ayah sedang diancam... Sepertinya aku sekarang kurang beruntung' Ucap Rom dalam hati kecewa karena kejadian yang dihadapannya walaupun ia sekarang masih bersujud, mendengar tidak ada suara dan hanya langkah kaki yang menjauh pun Rom hanya menghelakan nafas.


Setelah kepergian Rein dari tempat mencekamkan tersebut Lilya Sang Ibu pun menatap Anaknya Rom yang kini masih bersujud. Ia menundukkan dirinya dengan cara berjongkok mengibaskan Rok bajunya, ia mengelus kepala Rom tersenyum.


Rom yang kepalanya dielus oleh tangan Ibunya pun senang menyudahi sujudnya dan menoleh kedepan. Betapa bodoh Rom yang sudah merasa senang melihat kedepan disuguhkan dengan senyuman iblis dari Sang Ibu.


Gluk-


Rom menelan air ludahnya. Bisa dilihat kini wajah jelek Rom ketakutan menatap Ibunya yang tersenyum jahat.


"I-Ibu..." Ucap Rom ketakutan. Ibu Rom masih mengelus kepala Rom dengan wajah tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya dan berbicara di kuping Rom.


"Nak, kau rapikan semua buku Ibu dan tempatkan ditempat semua. Jika ada lembaran yang robek atau hilang. Yakinlah, tidak ada kata ampun untukmu... Hihihi, Anakku yang B-A-I-K." Ucap Lilya dengan nada mengancam.


"Hiii....!!" Secara reflek Rom termundur kebelakang ketakutan dan segera berdiri.


"Si-siap laksanakan!" Teriak Rom berdiri tegap memberi hormat layaknya seorang prajurit yang langsung mengumpulkan semua buku dan merapikannya dengan baik. Ia ingat dengan tepat tempat buku yang ia baca dan ambil dari rak buku. Rom juga tak lupa dengan buku bermotif bunga tersebut, ia mengambilnya. Sebelum tangan Rom menggapai buku tersebut. Terlihat tangan Ibunya mendapatkan buku tersebut. Dapat Rom lihat kini Ibunya membersihkan buku tersebut, mengelus-elus sekaligus meraba buku tersebut. Terlihat dimata Ibunya Rom bergetar dan ada perasaan nostalgia dan rasa ingin melindungi buku tersebut. Rom dari situ pun menyadari bahwa buku itu sangat penting baginya. Ya, mungkin sama pentingnya dengan diriku. Apakah ada rahasia yang ada dibuku tersebut? Yah, siapa yang tahu.


"Rom... Ibu tunggu diruang makan bersama Ayah. Ingat! Rapikan semuanya!" Ucap Ibu Rom yang pergi memeluk buku tersebut meninggalkan Rom dikamar tersebut.


"Siap Ibu!" Secara reflek Rom pun menjawab dengan cepat. Melihat Ibunya sudah pergi, ia menghelakan nafas dan dengan cepat merapikan semua buku yang tergeletak terbuka.


"Semoga Ibu tidak marah lagi. Sungguh menyeramkan. Baru pertama kali aku melihat Ibu marah. Hah... Lain kali aku meminta ijin kepada Ibu untuk membaca bukunya." Ucap Rom yang masih merapikan buku yang berserakan.