
Rein pun menarik nafas dalam-dalam dan memfokuskan dirinya. Rein memperkuat pengendaliannya dalam sihir api atau bisa dibilang Manipution-nya terhadap sihir api. Rein pun menghembuskan nafasnya.
Rein pun menancapkan pedang besarnya ditanah dan melakukan gerakan silat yang lembut dan cepat. Rein pun menyatukan kedua telapak tangannya kedepan dengan semua ujung jari mengarah ke Naga Air.
Rein menggosokkan tangannya dengan cepat secara berulang-ulang hingga menciptakan aura panas serta asap dikedua telapak tangannya. Layaknya seseorang yang kedinginan dan menggosok kedua telapak tangannya demi menghangatkan diri, begitu juga hal yang dilakukan Rein.
Setelah beberapa saat kinj asap tebal muncul dari kedua telapak tangan Rein dan menyebar kesekitar. Rein menatap tajam danau bukan Naga Air lagi. Dengan cepat Rein membuka tangannya dengan tangan kiri terbuka kedeptlan mengarah danau dan tangan kanan dibelakang bersiap-siap untuk melakukan sesuatu.
"Fire Magic : Fiery Clap!"
Plak!
Rein menepuk telapak tangannya dengan kuat membuat asap yang muncuk ditelapak tangan kirinya menghilang dan seketika ledakan terjadi dari dalam danau membuat hutan sekitar sedikit bergetar.
Drrt...
Rom yang melihat gaya bertarung Ayahnya yang menepuk tangannya layak membunuh nyamuk pun menahan tawa dengan pipi mengembung. Seketika Rom merasa getaran kuat pun berlari mundur dan berjinjit mengintip apa yang terjadi.
Boom!
Blar!
Creshh...
Ledakan terjadi dalam danau dan membuat ledakan tersebut menyemburkan air danau keluar dengan deras.
Kini air danau menghujani hutan, dengan sinar matahari yang terang dan pohon-pohon yang tumbang tak menghalangi lagi sinar matahari pun menciptakan pelangi yang indah.
Rom yang melihat keatas pun tersenyum tak memperdulikan Ayahnya dan Naga Air tersebut. Kini Rom hanya memperhatikan pelangi yang muncul diatas.
......................
Desa Magia.
Boom!
"Kyaa...." Teriak para wanita yang ada disekitar.
"Apa yang terjadi?" Tanya pemuda yang berdiri disitu.
"Huh, sepeetinya ada seseorang yang bertarung." Jawab pemuda lainnya.
Dirumah Rom.
Boom!
"Hey Lilya, apa kau mendengar itu?" Tanya seorang wanita yang duduk dikursi ruang tamu yang kini dihadapannya Lilya dan wanita lainnya serta dua anak kecil berjenis kelamin perempuan seumuran dengan Rom.
"Hey, Chaterine! Sini...." Ucap Wanita disamping Lilya yang menyuruh perempuan tersebut yang sedang asik bermain dengan perempuan lainnya.
Kedua perempua tersembut pun bubar. Yang satunya menuju wanita disamping kiri Lilya yang satu lagi pergi ke wanita yang ada dihadapan Lilya.
"Sini Kanna...." Ucap wanita tersebut dengan mempersilakan perempuan tersebut memeluknya.
Kanna berambut putih serta wanita yang memeluknya berambut putih. Sedangkan Chaterine berambut merah muda dan wanita yang ditujunya berambut merah.
"Aku mendengarnya, Lilith." Ucap Lilya menjawab kepada wanita berambut putih dihadapannya yang kini memeluk Putrinya, Kanna.
"Hey Lilya, bukannya kamu mengatakan bahwa Suamimu serta Anakmu berburu? Apakah sesuatu terjadi kepada mereka." Ucap wanita berambut merah disamping kiri Lilya yang kini memangku Putrinya, Chaterine.
"Aku tahu Ifrit... Rein pasti bisa melindunginya. Aku juga sedikit khawatir kepada Rom...." Jawab Lilya menanggapi perkataan wanita berambut merah disamping kirinya. Nampak wajah Lilya sedikit sedih dan khawatir.
"Baiklah. Aku ingin memperkenalkan Putriku kepada Anakmu. Kalau bisa dijodohkan pun boleh. Iya kan Kanna?" Tanya Lilith terhadap Kanna.
Lilya dan Ifrit pun terkejut dengan perkataan Lilith. Entah kenapa Lilya sedikit senang dan kekhawatiran nya kurang sedangkan Ifrit sedikit kesal terhadap Lilith yang sudah memulai duluan.
Nampak Kanna tersipu mali dengan rona merah diwajahnya. Ia membenamkan wajahnya dibulan ganda milik Lilith.
"Hmnn... A-Aku belum bertemu dengannya. Tunggu Aku melihatnya, Ibu...." Ucap Kanna.
Lilith pun tersenyum dengan senang dan menatap Lilya. Lilya pun membalasnya dengan senyuman.
Ifrit yang mau mengatakannya seperti itu juga terpotong oleh perkataan Putrinya.
"Saudari Kanna, Aku juga ingin bertemu dengannya dan melihatnya. Nanti Aku juga mengajaknya bermain bersamaku. Hmph, Ibu pasti menjodohkanku dengannya. Benarkan? Ibu...." Chaterine yang tadi bersemangat kini memelas menatap Ibunya, Ifrit.
Ifrit yang melihat wajah imut Putrinya serta mata berkaca milik Chaterine pun tersenyum hangat dan memeluknya.
"Itu benar. Kamu juga Ibu jodohkan dengan Anak Bibi Lilya."
Kanna yang mendengar perkataan Ibunya Chaterine entah kenapa hatinya salkit dan kesal. Ia menggemgam kuat baju Ibunya dan memeluknya erat.
Lilith dapat melihat tingkah laku Kanna yang terlihat cemburu dan kesal. Lilith hanya menggelengkan kepala melihat Putrinya sudah bertingkah dewasa.
Chaterine yang mendemgar itu pun tertawa senang dengan mulut terbuka lebar.
"Terima kasih, Mama." Ucap Chaterine.
Lilya yang melihat kedua temannya yang saling menjodohkan Putrinya kepada Rom pun senang tpi juga sedikit kesal. Sepertinya kesempatan untuk janjinya terhadap Rom pun berkurang. Tapi Lilya tak terlalu memikirkannya, demi kebahagiaan Anaknya, dirinya pun pasti merelakan sesuatu untuk Anaknya.
"Kalian berdua... Ckckckck...."
......................
Naga Air tersebut meraung keras membuat hembusan angin kencang keluar dari mulutnya. Naga Air terlihat begitu marah ketika melihat air danaunya habis terbuang dan mendidih dibuat Rein.
Naga tersebut terbang keatas dan menembakkan peluru air yang banyak. Peluru air tersebut ditembakkan kesegala arah.
Rein begitu bingung melihat peluru air tersebut darimana ia mempunyai pasokan air lagi, jika sihir seharusnya ia bisa berpikir untuk menggunkan Mana-nya dengan efesien.
Rein menciptakan pelindung yang sama dengan Dia buat kepada Rom. Peluru akr tersebut mengenai pelindungnya sehingga retak dan peluru air tersebut menancap dipelindungnya. Ia perhatikan peluru air tersebut ternyata adalah sisiknya. Karena berwarna biru yang menyerupai air jernih pun sehingga terlihat seperti air. Ini mungkin sisiknya bisa berkamuflase dalan air membuat Naga Air tersebut menjadi tidak terlihat.
Rein begitu terkejut melihat ada peluri air lainnya menuju kearahnya. Rein pun menciptakan berlapis-lapis pelindung untuk menahas peluru sisik yang berupa air tersebut.
Cet... Cet... Cet...
Rein menghela nafas melihat pelindungnya bisa menahan sisik-sisik tersebut.
Sedangkan Rom yang melihat beberapa peluru menuju dirinya pun terkejut dan tak bisa menghindar
"Ahk!"
Deg...
Jantung Rein berhenti seketika ketika mendengar jeritan seseorang. Dipikirannya langsung terlintas Rom. Rein langsung panik dan pergi melihat Rom yang ada dibelakangnya.
Terlihat tubuh Rom kini tertusuk oleh beberapa sisik yang menembus dirinya. Kini tubuh Rom bersimbah darah yang banyak.
"Ugh... A-Ayah?" Ucap Rom yang terlihat mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya.
"Nak!?" Ucap Rein yang kini menangis merasa bersalah dan ceroboh tak mengingat bahwa sisik tersebut menembus pelindungnya dan Rein membuat satu lapis pelindung saja kepada Rom.
Rein langsung menaruh tangannya ketubuh Rom dan menyakurkan Mana-nya menutup saluran darah Rom agar tidak mengeluarkan darah lagi. Rein juga meninggalkan sebuah api yang menghangatkan tubuh Rom. Tubuh Rom pun bergetar kedinginan dimana dirinya berada dalam status kritis.
Rein tak bisa melakukan penyembuhan biasa untuk Rom. Sepertinya sisik Naga Air tersebut tertancap didalam tubuh Rom sehingga tak bisa disembuhkan dengan penyembuh biasa.
Rein mengelus kepala Rom sambil menangis. Ia sepertinya terkena marah oleh Lilya dan depeetinya lebih parah lagi dirinya tak mendapatkan jatah dari Lilya.
"Bajing*n kau cacing sialan!" Teriak Rein.
Seketika tubuhnya berlapikan api yang membara serta sayap feniks muncul dipunggungnya. Rein pun melompat keatas dan menyilangkan tangannya didadanya.
Whoosh~
Angin kecang terisap kedalam tubuh Rein dan kini tubuh Rein mengeluarkan api biru yang dingin.
Boom!
Dentuman kuat dari tekanan angin yang Rein hasilkan menumbangkan beberapa pohon bahkan ada yang terbakar.
Kriek...
Doom...
Api biru tersebut pun membentuk sebuah jirah dan sayap membentang. Rein pun membuka silang tangannya dan kini mengarahkan kedua telapak tangannya dan memunculkan sebuah api biru kecil yang melayang ditelapak tangan Rein.
"Fire Magic Second Form : Fiery Torrent!"
Seketika semburan api biru yang besar dan kuat muncul dari telapak tangan Rein membakar semuanya yang ada didepannya.
Naga Air tersebut yang melihat semburan api biru yang dingin tersebut pun menggigil dan tubuhnya pun terbakar hangus beserta hutan yang ada disekitar.
Buurrr...
Chiissh...
Rein pun menonaktifkan sihirnya serta zirah api birunya lalu pergi menuju Ron berbaring. Rein melihat kini tubuh Rom bergetar dan kulitnya pucat. Rein memeriksa nadinya dan merasakan denyutan yang mengatakan Rom masih hidup.
Rein pun membawanya pulang dengan cepat ia gerbang dengan api yang menyembur dari kakinya serta sayap api merah dipunggungnya.
"Bertahanlah, Nak...."
...----------------...
...๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐...
...โน๏ธ B E R S A M B U N G โน๏ธ...
...๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐...
...----------------...
Terima kasih sudah membaca novel saya.
Jangan sungkan tuk berikan saran atau kritikan kepada Author ๐
Jangan lupa tinggalkan :
Like ๐
Komen ๐ฌ
Vote โ๏ธ/Hadiah ๐
Rate โ 5
Dukung terus Author dan Novel 'System : Project M.A.I.'.
Enjoy ๐
Romz ๐ฎ๐ฉ
๐๐๐๐๐ฟ
...****************...