System : Project M.A.I.

System : Project M.A.I.
Bab 05 : Hari Bahagia Dan Mulainya Latihan



Desa Magia, Rumah Rom.


18 September EPB521.


Pagi Hari.


Setelah sarapan dan pembicaraan yang dilakukan Rom dengan Orangtuanya. Mereka semua pun merapikan wadah tempat makanan mereka dan membantu Lilya menaruhnya kedapur untuk dicuci.


Kini mereka bertiga sudah merapikan dan juga membersihkan wadah makanan tersebut. Rein pun mendekati Lilya dan membicarakan sesuatu. Rom yang melihat hal tersebut ingin menguping tapi disuruh oleh Ibunya untuk keruang makan langsung untuk menunggu. Rom pun pergi menuju keruang tamu dengan cepat mengiyakan perkataan Ibunya.


"Jadi apa yang mau kau bicarakan, Rein?" Tanya Lilya.


"Jadi bagaimana... Apakah kita akan melatihnya sekarang. Rom itu pintar dan pasti ia mempunya bakat menjadi Penyihir dimasa depan. Ia pasti mengikuti gen milik kita berdua. Ia pintar dan sering membaca buku sama sepertimu. Jadi, pasti ia juga punya bakat dalam fisiknya dariku. Yah, walau kuakui bahwa fisikmu lebih kuat." Ucap Rein serius.


"Aku tahu Sayang. Dia juga sudah berumur 5 tahun dan bentar lagi menuju 6 tahun. Lebih baik dari sekarang saja pelatihannya. Aku tak mau dimasa depan anak kita lemah dan juga bisa mengatasi bahaya yang akan mendatang. Apalagi, Rom nanti akan pergi meninggalkan kita untuk belajar diakademi. Sebaiknya, lita lakukan sekarang. Pasti Rom tidak menolak tersebut apalagi jika mengenai sihir. Latihan fisik juga pasti ia menyukainya mengikuti gen milikmu." Ucap Lilya dengan jelas dan meyakinkan Rein.


"Haha, itu benar. Tak mungkin Rom tidak menyukai latihan fisik. Sihir itu dilatih ketika ia membangkitkan bakat sihirnya diumur 10 tahun. Jadi mari kita bicara kepadannya." Ucap Rein yang bersemangat dan bergegas pergi menuju ruang makan.


Lilya yang melihat hal tersebut hanya menghelalan nafas. Tinggal 5 tahun lagi waktunya bersama Rom untuk bersama-sama seperti hal sekarang. Ia juga cukup khawatir, tapi ia sudah memantapkan hati dan melatih Rom sebaik mungkin agar bisa menjaga diri dan menjadi kuat. Ia tidak lupa dengan pembicaraan rahasia mereka berdua. Rom walaupun tubuhnya kecil tapi pemikirannya sudah dewasa. Bahkan mengenai hal tersebut ia mengucapkannya dengan wajah polos. Apalagi, Dia sudah melihatnya melakukan hubungan seksual dan mengerti akan hal tersebut. Lilya hanya tersenyum dan pergi dari dapur menuju ruang makan yang pasti Rom menunggu disitu.


......................


Kini Rom duduk dengan tangannya sebagai bantal. Wajahnya miring menatap kosong. Ia kini sedang menghayal ia menjadi kuat, bertemu Illia, dan mempunyai anak. Ia tersenyum-senyum sendiri. Rom juga tidak lupa dengan MAI Sang Sistem ciptaannya. Sebuah mahakarya yang ia buat susah payah bersama Illia. Walaupun masih cacat diwaktu bumi tapi performanya sangat menakjubkan dan itu berfungsi. Dan melihat kini ia bereinkarnasi dibantu MAI ia tak bisa pungkiri bahwa setelah kematiannya, MAI bisa berkembang dan seharusnya berfungsi baik jika sudah aktif kembali dikemudian hari. Rom pasti menebak bahwa MAI akan aktif diwaktu ia membangkitkan bakat sihirnya.


Setelah beberapa saat kemudian, Rein Sang Ayah datang menemui Rom yang kini duduk tiduran dimeja. Dibarengi Lilya yang muncul kembali dibelakang Rein. Rein pun duduk dikursi dan diikuti oleh Lilya disebelahnya. Rom pun mulai mengangkat wajahnya dan menoleh kearah Ayah dan Ibunya. Terjadi keheningan diruangan tersebut. Rein menoleh kearah Lilya yang menanyakan sesuatu dan Lilya langsung mengiyakan dengan anggukan kepala. Rein pun menoleh kembali kearah Rom dan mulai berbicara.


"Nak, saatnya kau memulai pelatihan untuk masa depanmu." Ucap Rein.


"Maksud Ayah?" Tanya Rom dengan bingung walaupun sudah menebak bahwa ia pasti dilatih oleh Orangtuanya baik fisik maupun sihir walaupun hanya teori saja.


"Maksud Ayah, kamu akan memulai pelatihan seperti latihan fisik dan beberapa teori sihir sebelum waktu kebangkitan bakat sihirmu 4 tahun lagi." Jawab Rein.


Rom yang mendengar perkataan Ayahnya mengenai '4 tahun lagi' itu pun sedikit bingung. Seharusnya dalam perkiraan Rom itu sekitar 5 tahun lagi.


'Apa mungkin....' Ucap Rom dalam batinnya dengan menunjukkan mimik terkejut.


Rein dan Lilya yang melihat Rom terkejut itupun mulai tersenyum dan bersama-sama mengatakan sesuatu.


"Selamat Ulang Tahun, Rom" Ucam Mereka berdua yang kini bertepuktangan meriah.


Rom pun merasa terkejut dan senang. Sebab walaupun ia membaca buku dengan adanya perbedaan waktu dibuku tersebut. Rom tidak tahu berapa hari dalam sebulan, berapa bulan dalam setahun, dan era atau tahun berapa sekarang. Ia juga tak tahu apakah dunia ini memakai sistem hitungan waktu yang sama dengan sistem di Bumi. Yah, Rom pun hanya menghelakan nafas dan mencoba tersenyum dengan apa yang ia rasakan sekarang. Rom tidak pernah yang namanya merayakan Ulang Tahun bersama Keluarga. Yah, melihat kini Orangtuanya merayakan Ulangtahunnya walaupun sebelumnya ia tak pernah dirayakan pun tetap senang.


Rein dan Lilya beranjang dari kursinya dan memeluk Rom. Dibarengin ciuman dikening oleh kedua Orangtuanya. Setelah hal tersebut mereka pun memulai memakan roti tawar dan susu dingin yang disiapkan oleh Lilya. Yah, hanya ini yang bisa disiapkan Lilya karena belum masak untuk makan siang. Mereka pun mulai berbicara dengan gembira dan Rom pun menanyakan hitungan waktu dalam hari yang ia tidak ketahui.


Lilya pun menjelaskan bahwa dunia ini menggunakan sistem waktu dalam sehari itu ada 24 jam. Seminggu itu 10 hari. Sebulan itu 3 minggu, dan setahun itu 12 bulan yang dimana nama-nama bulan didunia ini sama dengan Bumi yaitu : Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember.


Era yang ada didunia ini adalah Era Permulaan Baru dengan mulainya Tahun baru dengan awalan EPB yang sekarang adalah tahun EPB521.


Lalu, Lilya juga memberi tahu bahwa Rom lahir di tanggal 18 September EPB515 dipagi hari. Rom pun mengangguk pelan dan mereka pun melanjutkan makan kecil-kecilan mereka.


Lilya pun mengeluarkan dua buku agak tebal dan memberikannya kepada Rom. Yang salah satunya buku kosong untuk Rom menuliskan sesuatu dengan sampul yang baik dan sedikit motif keren yang menghiasi buku tersebut. Yang satu lagi adalah Buku Kesayangan Lilya.


Lilya membuka beberapa kancing bajunya yang memperlihatkan belahan buah dadanya dan sebagian dadanya membuat mata Rom melebar melotot. Seketika Lilya mengeluarkan sebuah kalung dan memberikan kalung tersebut yang mana itu sebuah kunci untuk membuka buku yang berjudul 'Magikí Erevnitikí Syllogí' tersebut.


Kalung tersebut berbentuk sebuar karakter tambah atau plus (+) yang pas ditengah buku tersebut. Dengan tali yang berbahan dari rambut yang mana itu adalah rambut Lilya dengan tambahan sedikit sihir Enchantment untuk memperkuat rambut tersebut dan sedikit mana Lilya yang mana bisa mendeteksi keberadaan benda yang ditanamkan oleh mana Lilya.


Rom pun menerima hadiah pemberian Ibunya dan menoleh kearah Ibunya. Lilya hanya tersenyum menatap Rom. Rom pun meletakkan hadiah itu dimeja dan memeluk Lilya.


"Terima Kasih Ibu..." Ucap Rom sambil memeluk dan juga mengendus-endus didada Lilya.


Lilya yang mendapat pelukan dan ucapan Terima kasih itu pun mengelus kepalanya dan menyudahinya dengan mengelus wajah Rom yang tampan memperlihatkan Rambut berwarna hitam sealis dengan mata hitam kelam dengan sedikit butiran kecil putih yang menghiasinya. Lilya bisa melihat butiran tersebut dengan menatapnya dengan serius. Lilya menggunakan sihir Enchantment khususnya yang bisa memperkuat matanya tuk melihat bahkan menembus pandang. Itu adalah sihir yang ia teliti dari Sihir Enchantment yang biasa digunakan Penyihir Lain. Dengan memfokuskan Mananya ke matanya, Lilya yang menatap mata Rom tersebut pun merasa melihat sebuah pemandangan malam yang dihiasi bintang-bintang. Lilya yang terpesona dengan keindahan mata Rom pun tersadar dengan pegangan tangan yang menimpa tangannya yang masih berdiam diwajah Rom. Yah, itu adalah tangan Rom yang kini memegang tangan Lilya.


"Ibu... Apakah tak masalah memberikan Buku Kesayanganmu sebagai hadiah untukku?" Tanya Rom.


Yah, Rom menanyakan hal tersebut sebab karena buku tersebut membuat Rom dimarahi oleh Ibunya. Rom merasa bingung dengan apa yang dilakukan Ibunya yang memberikan Buku Kesayangannya kepada dirinya.


Lilya hanya tersenyum dan mencium kening Rom. Lalu membenamkan kembali wajah Rom kedadanya yang setengah terbuka. Kini dada Lilya mengenai wajah Rom yang mana posisi wajah Rom kini dibelahan dada besar Lilya tanpa ditutupi oleh bajunya. Rom merasa nyaman dan melupakan nafsu yang diberikan dada tersebut dan mencoba bersandar menenangkan diri dengan wewangian khas tubuh Lilya yang mengingatkan Rom akan Illia. Lilya pun mengatakan sesuatu.


"Walaupun buku itu adalah Buku Kesayangan Ibu, Kamu adalah yang utama. Ibu lebih menyayangimu daripada buku tersebut. Itu adalah dulu waktu kamu belum lahir. Buku itu yang menemani Ibumu ini. Kini kamu sudah lahir yang mana kamu lebih penting daripada buku tersebut. Jadi itu tak apa." Ucap Lilya dengan wajah ceria.


Rom yang mendengar hal tersebut pun merasa tersentuh dengan perkataan Ibunya dan makin mencintainya walaupun belum saatnya sesuai dengan perjanjian antara mereka berdua. Kini nampak senyum lebar diwajah Rom yang tertutupi oleh buah dada besar Lilya.


"Dan kamu hanya bisa membukanya ketika kamu berumur 10 tahun yang mana disitu kamu akan mengalami yang namanya Kebangkitan akan bakat sihirmu. Karena selain membutuhkan kunci tersebut, kamu harus menyalurkan Mana-mu kekunci tersebut." Ucap Lilya yang menjelaskan hal tersebut secara singkat dan mudah dimengerti.


......................


Setelah menyudahi pelukan tersebut, kini Rein Sang Ayah datang dan memunculkan 3 benda kepada Rom. Bisa diketahui bahwa benda tersebut adalah sebuah Pedang kayu biasa, Pedang besi hitam dengan sarungnya, dan sebuah belati bersama sarungnya yang terlihat keren.


Rein memberikan 3 benda tersebut dan menjelaskan bahwa Pedang kayu digunakan untuk latihan, Pedang besi hitam digunakan sesudah mahir berpedang dan belati sebagai hadiah khusus untuknya. Belati yang cantik dan keren tersebut diberikan kepada Rom karena Rein adalah pengguna Pedang besar dan biasa. Ia tidak terlalu sering menggunakan belati walaupun Rein mahir dalam menggunakan belati.


Rom pun menerima ketiga benda tersebut dan menatapnya dengan kagum. Lalu Rom meletakkan 2 Pedang dan Belati tersebut diatas meja dan pergi memekuk Ayahnya dan berterima kasih. Rein hanya tersenyum dan mengelus kepalanya. Yah, Rein tidak perlu lagi yang namanya mencium kening Rom karena ia sudah dewasa daripada tubuhnya yang masih kecil itu.


......................


Sesudah acara kecil tersebut, kini Rom dan Rein pun berada dihalaman belakang rumahnya kini berdiri ditemani angin pagi yang segar dan gemeesik angin yang berhembus menggoyang pepohonan dan dedaunan. Tampak rambut Rom sedikit berterbangan akibat hembusan angin tersebut. Rein pun mendekati Rom dan memegang pundaknya.


"Apakah kau menyukai latihan fisik?" Tanya Rein kepada Anaknya, Rom.


"Tentu Aku menyukainya." Ucap Rom singkat dengan wajah polos. Itu adalah hal yang biasa bagi Rom karena dikehidupan sebelumnya ia juga sering melatih fisiknya yang membuat tubuhnya sehat, kuat dan menambah ketampanannya sekaligus staminanya. Ia juga menyukai latihan fisik bahkan sampai ia mati pun tetap ia suka karena latihan fisik dibutuhkan. Selain memperkuat tubuh, menambah ketampanannya, itu juga menambah staminanya agar kuat bermain diatas ranjang atau hal lainnya yang membutuhkan stamina yang tinggi.


Rein yang mendengar jawaban Rom pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum-senyum. Memang buah jatuh tidak jau dari pohonnya. Rein pun menyuruh Rom untuk mengelilingi Rumah sebanyak 5 kali dengan berlari. Rom pun menganggukkan kepalanya dan berlari keliling Rumahnya sebanyak 5 kali.


Huft...


Huft...


Huft...


Tampak Rom sampai dihadapan Rein yang kini nafas Rom terengah-engah.


Hup...


Rom menhirup udara dalam dalam dan mengeluarkannya secara menyeluruh untuk menstabilkan nafasnya.


Rein yang melihat awal dan akhir yang dilakukan Rom pun senyum dengan cara Rom lakukan. Itu adalah cara yang baik setelah kelelahan dalam pemanasan pelatihan fisik guna memperkuat paru-parunya. Kini Rein menyuruh untuk meregangkan bagian kaki dan lengannya. Tidak lupa juga leher dan pinggangnya serta punggung dan bahunya.


Setelah melakukan peregangan tersebut kini Rom diperintah untuk melakukan :


Push Up sebanyak 10× yang mana Push up  bermanfaat untuk membangun kekuatan tubuh bagian atas. Fungsi  push up  adalah untuk melatih trisep, otot dada, dan bahu.


Sit Up sebanyak 10× yang mana Sit-up  adalah bentuk latihan untuk menguatkan otot perut, punggung, dan otot inti.


Squat Jump sebanyak 10× yang mana Squat Jump untuk melatih otot paha, pinggul dan bokong.


Pull Up sebanyak 10× yang mana Pull Up gerakan mengangkat badan pada palang dilakukan dengan cara membengkokkan siku untuk melatih tubuh bagian atas terutama otot lengan.


Rom yang mendengar hal tersebut pun melakukannya dengan senang hati. Karena latihan ini baik untuk tubuhnya.


Huft...


Huft...


Huft...


Kini Rom tampak kelelahan dengan tubuh terbaring direrumputan Rein yang melihat hal tersebut pun berniat mengambil minum tapi Lilya datang dan memberikan minum kepada mereka berdua. Kini Rom mengambil gelas tersebut dan meminumnya. Kini rasa segar membasahi tenggorokannya yang mana menghilangkan dahaganya dan berbaring terlentang dirumput untuk menenangkan diri merasakan udara sejuk pagi menuju siang. Setelah itu, Rom juga diajari beberapa teori berpedang dan melakukan ayunan pedang sebanyak yang ia lakukan sampai matahari tepat diatas tengah langit.


......................


Kini nampak Rom yang sedang mengayunkan pedangnya sambil menghitung ayunan yang ia lakukan.


498...


499...


500...


501...


Ucap Rom yang kini bibirnya sedikit kering dengan wajah sedikit memerah dibarengi keringat yang bercucuran didahinya dan pelipisnya. Tangan Rom sudah bergetar dan berniat berhenti menyudahi ayunan pedangnya dan menjatuhkan pedang kayu yang ia pegang.


Gedebuk-


Kini Rom terjatuh dengan nafas terengah-engah menampakkan wajahnya yang lelah dengan telapak tangan yang sedikit memerah dan baju yang sudah basah oleh keringat. Tangan Rom kini sudah tak bisa diangkat dan membiarkan tangan terlentang untuk beristirahat.


Rein yang mana juga sedang melatih mengayunkan pedangnya pun berhenti ketika mendengar suara terjatuh dan menoleh kearah Rom yang kini tumbang tergeletak ditanah dengan nafas terengah-engah. Rein pun berhenti mengayunkan pedangnya dan menoleh keatas langit. Tampak sinar matahari uang silau dimata ditemani beberapa awan kecil membuat Rein menghalangi silauan tersebut menggunakan tangan kirinya. Rein pun berjalan menuju Rom dan melihat kini Rom tertidur lelap karena kelelahan. Rein hanya tersenyum dan membawa Rom dengan cara menggendongnya Rom Ala Putri Kerajaan walaupun sebenarnya Rom adalah Laki-laki.


......................


Kini Rom sudah dimandikan oleh Ibunya dengan wajah Lilya yang tersenyum-senyum sendiri membawa Rom yang pakaiannya sudah diganti menuju kamar Rom dengan cara digendong dipunggungnya menuju kamar Rom.


Tampak sebuah kamar yang berisikan tempat tidur, meja, dan beberapa buku dirak yang tersusun rapi. Lilya meletakkan Rom diatas tempat tidur dan merapikan rambutnya yang berserakan. Lilya memandang wajah terlelap Rom dengan senyum. Lilya mendekatkan wajahnya kekepala Rom dan mencium keningnya lalu menutup pintu kamar dan meninggalkan Rom tertidur tuk beristirahat.


......................


Sore Hari.


18 September EPB521.


Disebuah kamar ditemani beberapa rak yang berisikan buku-buku yang tersusun rapi didalamnya dan sebuah meja dengan sebuah wadah yang berisikan sebuah lilin yang setengah habis dengan jendela terbuka. Terdapat seorang anak lelaki yang tertidur diatas kasur diselimuti oleh kain berwarna coklat.


Anak kecil tersebut adalah Rom yang kini tidur dengan gelisah. Tampak diwajahnya menunjukkan sesuatu yang mengganggunya. Rom pun membuka matanya dan bangkit dari tempat tidur dan duduk disisi kasur.


Gruukh~


Suara bunyi perut Rom yang kosong kelaparan karena belum makan siang. Rom pun menoleh kearah jendela dengan menunjukkan langit yang mulai gelap. Rom pun bangkit dan pergi menuju ruang makan menemui Ibunya.


...-SKIP-...


Kini Rom sampai dan diperlihatkan kedua Orangtuanya yang sudah duduk menunggu dirinya dengan beberapa makanan hangat seperti daging kelinci yang digoreng dengan bumbu sambal dan sup kelinci dengan sayur kol dan rempah-rempah lainnya. Tidak lupa juga wadah air minum terpampang diatas meja. Rom pun duduk sambil mengucek matanya dan menguap. Ia merasakan sakit dilengannya dan seluruh tubuhnya. Ia dudk perlahan dan memperhatikan kedua Orangtuanya. Kedua Orangtuanya hanya tersenyum dan memulai makan malam mereka tanpa menunda atau berbicara. Rom pun memaklumi dan tak terlalu memperdulikan dan langsung mengambil nasi dan lauk pauk serta sup dan memakannya dengan lahap. Kini ia tak melihat situasi dengan garang dan cepatnya Rom makan karena sekarang perutnya yang utama.


Rein dan Lilya yang melihat Rom makan dengan garang, cepat dan lahap pun tertawa memecahkan keheningan. Rom pun tak memperhatikan kedua Orangtuanya yang tertawa dan tetap lanjut makan. Nanti setelah makan baru berbicara. Itu yang dipikirkan Rom.


...----------------...


...🆖🆎🆖🆎🆖🆎🆖🆎🆖🆎🆖🆎🆖🆎🆖🆎...


...ℹ️ B E R S A M B U N G ℹ️...


...🆖🆎🆖🆎🆖🆎🆖🆎🆖🆎🆖🆎🆖🆎🆖🆎...


...----------------...


Terima kasih sudah membaca novel saya.


Jangan sungkan tuk berikan saran atau kritikan kepada Author 😎


Jangan lupa tinggalkan :


Like 👍


Komen 💬


Vote ✌️/Hadiah 🙏


Rate ★5


Dukung terus Author dan Novel 'System : Project M.A.I.'.


Enjoy 😁


Romz 🇮🇩


🆖🆎🆖🆎🗿


...****************...