SURREPTITIOUS

SURREPTITIOUS
Part 52



Beberapa bulan kemudian, hubungan Sudarman dan Ayuni sudah kembali membaik. Mereka tidur sekamar dan kembali bertegur sapa layaknya suami istri. Sekarang Sudarman berubah. Ia lebih memperhatikan Ayuni, karena tidak ingin kehilangan istri tercintanya itu. Kematian Nino hampir membuat hubungan rumah tangga mereka retak. Sudarman tidak ingin hubungan mereka berakhir dengan perceraian.


Meski pun Ayuni tidak lagi berlarut-larut dalam kesedihan atas kematian putranya, tapi ia masih merasa kehilangan dan masih menangis kadang-kadang saat ia melihat barang milik Nino. Seandainya Nino pernah difoto lalu Ayuni melihat fotonya, mungkin Ayuni tidak akan bisa berhenti menangis sampai kapan pun.


Namun, karena Sudarman menutupi keberadaan Nino, jadi Nino tidak pernah berfoto seumur hidupnya. Bahkan dalam kartu keluarga pun nama El Nino Gletser tidak tertulis. Nino dianggap bayangan, bahkan mungkin Sudarman menganggapnya tidak ada.


Setelah kematian Nino, rumah tua itu terasa lebih menyeramkan. Teror-teror mulai bermunculan. Sosok Nino seolah masih ada dan berkeliaran di rumah tersebut.


Setiap malam sering terdengar suara langkah kaki, suara tawa, tangisan, dan teriakan anak kecil. Namun, baik Sudarman mau pun Ayuni, mereka mengabaikannya meski ketakutan. Ditambah lagi sosok bayangan yang terus melintas.


Pagi itu, Merlin datang berkunjung ke rumah tua itu. Tampaknya ia sudah melahirkan, karena perutnya rata. Merlin menekan bel, tapi tidak ada jawaban. Sekali lagi bel pintu ditekan, tapi masih tidak ada jawaban. Tidak ada yang datang membuka pintu.


Merlin mendorong pintunya yang ternyata tidak dikunci. Ia pun nyelonong masuk. "Mas?"


Terlihat Ayuni berdiri di depan lukisan Pantai Mati membelakangi pintu.


"Sedang apa di sana?" tanya Merlin sinis.


Ayuni tidak merespon. Ia masih berdiri mematung. Merlin menghampirinya kemudian berdiri bersebelahan dengan Ayuni.


"Mas Sudarman tidak membeli persediaan susu lagi seperti biasanya. Apa dia sudah tidak peduli pada Nino?" tanya Merlin.


Ayuni tidak memberikan respon.


"Untuk apa juga mempedulikan anak tidak berguna itu. Dia hanya beban," sambung Merlin.


Ayuni tetap diam.


Merlin mengernyit melihat Ayuni yang tidak biasanya diam seperti itu. Ia kembali bersuara, "Atau jangan-jangan... si bisu itu sudah mati?"


"Kau yang akan mati," ucap Ayuni pelan, tetapi Merlin mendengarnya.


"Apa?!" Merlin menarik lengan Ayuni. "Kamu bilang apa?!"


Ayuni menatap Merlin dengan tajam kemudian menunjuk lukisan itu. "Kamu akan mati di tempat ini dengan luka di wajah, leher, dan kepala. Kamu akan mati di depan anakmu!"


Merlin mengangkat tangannya akan menampar Ayuni, tapi Ayuni segera menangkap tangan Merlin. Ia menampar wajah adik iparnya itu dengan keras. Merlin melawan, tapi Ayuni lebih cekatan dan berkali-kali ia menampar wajah Merlin hingga tersungkur jatuh.


"Mas Sudarman! Tolong!" teriak Merlin saat Ayuni menginjak dan menendang-nendangnya.


"Aaa! Mas Sudarman!!" teriak Merlin kesakitan sambil melindungi wajahnya dengan kedua tangan.


"Ada apa?!" tanya Sudarman sambil menghampiri Merlin.


"Mas!" Merlin memeluk Sudarman. Ia melihat ke sekeliling, tapi tidak melihat keberadaan Ayuni di mana pun.


"Kenapa kamu berantakan begini? Ada apa?" tanya Sudarman. Ia melihat sudut bibir Merlin yang berdarah.


"Mbak Ayuni, dia memukuliku," kata Merlin.


Sudarman mengernyit. "Ayuni tidak mungkin memukulimu sampai begini."


"Dia memukuliku, dia menendangku, dan menginjak-injak tubuhku!" tangis Merlin.


"Kamu jangan menuduh istriku. Aku tahu kamu benci sama Ayuni, tapi dengan menuduhnya seperti ini, kamu sudah sangat keterlaluan!" bentak Sudarman.


"Mas masih membela Ayuni, meski Mas melihat sendiri aku babak belur begini?! Kalau bukan dia siapa?!" tanya Merlin.


Ayuni keluar dari dapur dengan celemek di tubuhnya. "Ada apa, Mas?"


Merlin menunjuk Ayuni. "Jangan berpura-pura bodoh! Kamu baru saja memukuliku dan menendangku!"


"Apa?!" Ayuni terkejut mendengar ucapan Merlin.


"Berhenti menuduh Ayuni, Merlin! Dari tadi Ayuni bersamaku di ruang makan!" kata Sudarman.


"Sudah puas memaki istriku?" tanya Sudarman.


"Mas." Merlin mengguncangkan lengan kakaknya.


Ayuni menatap Merlin sesaat kemudian ia berlalu ke ruang makan.


Karena kejadian itu, Merlin semakin yakin kalau Ayuni melakukan praktik ilmu hitam untuk melindungi dirinya dan suaminya.


Beberapa bulan kemudian, Ayuni mengandung. Tentu hal tersebut membuat Sudarman bahagia. Ia sangat menjaga kesehatan istrinya dan juga janin dalam kandungannya.


Namun, saat menginjak bulan ke-6, Ayuni mengalami keguguran. Ia sangat sedih. Sudarman menghiburnya agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan yang mendalam.


Hal tersebut berulang-ulang. Setiap Ayuni hamil dan usia kandungannya menginjak bulan ke-6, maka ia akan keguguran.


Belakangan ini Ayuni sering memimpikan Nino yang berlari di rumah sambil tertawa. Saat didekati, Nino akan menunjukkan ekspresi marah lalu menghilang.


Suatu hari, Karnilah mengunjungi rumah Sudarman dan Ayuni. Ia hanya ingin melihat keadaan mereka. Saat itu, hanya ada Ayuni di rumah, karena Sudarman pergi ke kantor.


Ayuni menyajikan camilan dan minuman ke meja lalu ia duduk berhadapan dengan Karnilah.


"Bagaimana kabar kamu, Ayuni?" tanya Karnilah.


"Kabarku baik, Bu Karnilah. Bagaimana dengan kabar Bu Karnilah?" jawab Ayuni diakhiri dengan pertanyaan.


"Aku juga baik."


Ayuni tersenyum.


"Kamu terlihat pucat," ucap Karnilah khawatir.


"Tiga hari yang lalu aku mengalami keguguran," jujur Ayuni.


Karnilah tampak sedih. "Aku turut berduka."


"Ini yang ke-4 kalinya," ucap Ayuni.


Karnilah tampak sedih. "Apa sebelumnya kamu pernah memiliki anak?"


Ayuni tampak terkejut, karena ia tidak mengira Karnilah bisa tahu. Wanita itu tampak khawatir, karena tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang Nino, atau Sudarman akan marah padanya.


Bukan tanpa alasan Karnilah bertanya seperti itu. Ia melihat sosok anak kecil bermata putih yang memeluk perut Ayuni dan terus mengikuti wanita itu ke mana pun ia pergi.


Karnilah tampak menunggu jawaban. "Tidak apa-apa, aku bisa menjaga rahasia dengan baik. Kamu tahu aku seorang paranormal. Aku menyimpan baik rahasia orang yang datang padaku."


Ayuni tiba-tiba menangis. Ia pun menceritakan semuanya pada Karnilah. Wanita tua itu mendengarkan semua curahan hati Ayuni.


"Semua orang di dunia ini pasti pernah melakukan kesalahan." Karnilah mengusap rambut Ayuni yang menangis dalam pelukannya.


Karnilah menjelaskan, "Putramu itu masih belum menerima kenyataan kalau dirinya sudah meninggal. Dia juga masih memiliki dendam pada ayahnya. Selain itu, kamu juga belum bisa merelakannya. Itulah sebabnya putramu masih berkeliaran di rumah ini meski dia sudah dikuburkan dengan layak. Dia selalu mengikutimu ke mana pun kamu pergi. Dia tidak ingin ibunya memiliki anak lagi. Dia benci pada janin yang ada di perutmu. Oleh karena itu, kamu keguguran."


Ayuni mencerna ucapan Karnilah. "Apa dia... dia membunuh janinku?"


Karnilah mengangguk. "Iya."


Ayuni menangis semakin kencang. Ia tidak mengharapkan jawaban itu, tapi ia juga tidak bisa membenci putranya.


"Bisa tunjukkan di mana kamarnya?"


...πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»...


^^^10.24 | 1 September 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^