
Amadhea melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 11.42. Gadis itu tampak khawatir. Apalagi suasana kelas sangat sunyi. Ia melihat Pak Dedi yang duduk di meja guru sambil membaca buku materi di tangannya. Amadhea juga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia melihat teman-temannya belajar dengan serius.
Deg!
Serasa ada godam yang menghantam jantungnya saat Amadhea mendengar suara derap langkah kaki di koridor sekolah. Ia menoleh ke jendela. Terlihat makhluk-makhluk mengerikan itu berlarian di koridor. Mereka menggedor-gedor pintu dan sebagai masuk lewat jendela.
Amadhea melihat teman-temannya yang mulai merasakan kehadiran makhluk-makhluk itu. Mereka berdo'a dengan khusyuk.
"Aaarrgghhh!" Salah seorang siswi mulai kerasukan.
Amadhea menutup kedua matanya untuk beberapa saat kemudian ia kembali membuka matanya. Gadis itu terbelalak setelah mendapati dirinya berada di sebuah tempat pemakaman umum. Ia masih duduk di bangkunya yang berada di atas salah satu makam.
Amadhea segera turun dari bangkunya kemudian ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada siapa pun di tempat itu. Hanya dirinya dan batu-batu nisan yang mencuat di atas gundukan tanah.
Amadhea membatin, apa aku sedang berada di dimensi lain lagi? Seperti waktu itu?
Perhatian Amadhea tertuju ke pohon besar di depan sana. Amadhea mengenali pohon tersebut yang tak lain adalah pohon tua di depan gerbang SMA Germada yang sebenarnya sudah ditebang. Namun, di dimensi lain, pohon itu masih berdiri kokoh.
"Jadi, bangunan SMA Germada dibangun di atas kuburan?" Amadhea berlari ke arah pohon itu.
Semakin dekat, Amadhea melihat ada banyak mahkluk yang 'bertengger' di pohon tua tersebut. Ada laba-laba besar, ular berkepala manusia, makhluk yang merangkak bertentakel, makhluk yang menyerupai landak, bahkan masih banyak lagi makhluk-makhluk aneh lainnya.
Amadhea menelan saliva karena mereka menyadari kalau Amadhea melihat kehadiran mereka. Makhluk-makhluk itu berlarian dan terbang ke arahnya. Amadhea segera menutup matanya rapat-rapat.
"Amadhea... Amadhea...." Suara itu terdengar lagi.
"Kamu siapa? Kenapa terus menggangguku?" tanya Amadhea.
Terdengar suara cekikikan.
"Aarrgghh!!!"
Amadhea tersentak kaget. Ia segera membuka matanya. Amadhea kembali berada di dalam kelas. Ia melihat beberapa temannya yang kerasukan. Kali ini para siswa lebih gesit. Mereka segera membawa siswi yang kerasukan ke ruangan di lantai bawah seperti kemarin.
Zahra membaca Al-Qur'an dengan suara pelan nyaris tidak terdengar, Greeta menggenggam rosario di tangannya sambil berdo'a, Alinda juga berdoa. Terlihat taburan garam dan pasir putih di sekitarnya. Setidaknya itu membuat mereka aman. Karena Amadhea melihat makhluk-makhluk itu tidak mendekati mereka bertiga.
Pandangan Amadhea tertuju ke jendela. Ia melihat Xaga berdiri menatap padanya dari luar jendela.
Amadhea keluar untuk menghampiri Xaga, tapi laki-laki itu sudah tidak ada di sana. "Ada apa dengannya? Apa dia juga hantu? Kenapa suka menghilang secara tiba-tiba?"
Kali ini hanya sedikit murid yang kerasukan. Mereka segera mendapatkan penanganan dan langsung sadar meski dalam kondisi lemas.
Karena hari ini adalah hari Jum'at, beberapa siswa yang beragama Islam sudah pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat jum'at. Beberapa siswi tampak khawatir kalau-kalau akan ada kerasukan lagi, sementara kebanyakan siswa pergi sholat jum'at. Sebenarnya masih ada beberapa siswa di kelas yang Non-Muslim berjaga-jaga.
Zahra membuka tasnya. Ia mengambil mukena miliknya kemudian menghampiri Amadhea, Alinda, dan Greeta. "Aku sholat dulu, ya."
"Iya, hati-hati di jalan. Jangan bengong, ya."
Zahra mengangguk. Ia pergi bersama ketiga temannya yang lain.
"Hei, Aisha, kenapa tidak pergi sholat?" tanya Greeta pada salah seorang siswi.
"Aku sedang menstruasi, tidak boleh sholat," jawab siswi bernama Aisha itu.
"Oh." Greeta mengangguk mengerti. Greeta beralih pada siswi lainnya. "Haifa, Leha, kalian juga menstruasi? Kenapa tidak pergi sholat?"
Haifa dan Leha saling pandang kemudian mengangguk. "Kami juga sedang menstruasi."
Greeta mengernyit curiga. "Kalian yakin? Kenapa menstruasi barengan begitu? Buruan sholat, nanti kalo lo kerasukan gimana?"
"Tapi, aku takut keluarnya. Gimana kalau aku kerasukan pas di jalan mau ke mushola?" gerutu Haifa.
Alinda menghela napas berat. "Lagian kenapa nggak bareng sama Zahra tadi?"
Haifa dan Leha saling pandang.
Amadhea beranjak dari tempat duduknya. "Kalau kalian mau, aku antar sampai depan mushola."
Haifa dan Leha mengangguk. Amadhea keluar untuk mengantar mereka berdua. Di depan kelas, Amadhea berpapasan dengan Elan.
Perhatian Amadhea tertuju ke kantong kertas di tangan Elan.
Elan melihat pada Haifa dan Leha kemudian ia bertanya pada Amadhea, "Kalian mau ke mana?"
"Mau ke mushola," jawab Amadhea.
"Aku cuma nganterin mereka sampai depan mushola," jelas Amadhea.
Haifa dan Leha mengangguk.
"Ooohhh, eh... Greeta ada di kelas, kan?" tanya Elan.
Amadhea mengangguk.
Elan terlihat senang. "Aku boleh masuk ke kelas kalian?"
Lagi-lagi Amadhea mengangguk.
Elan tersenyum kemudian memasuki kelas IPA-B.
"Ayo!" Amadhea menggandeng lengan Leha dan Haifa. Mereka bertiga pun pergi.
"Kalian tidak membawa mukena?" tanya Amadhea.
"Ada mukena yang disediakan di mushola, kami bisa menggunakannya," jawab Leha.
"Ooohhh." Amadhea mengangguk mengerti.
"Greeetaaa!" Elan melambaikan tangannya pada Greeta.
Alinda dan Greeta menoleh.
"Elaaaan! Sini!" Greeta menggerakkan tangannya memberikan isyarat agar Elan masuk dan duduk di depannya.
"Ah, duo berisik," gumam Alinda pelan.
Elan memberikan kantong kertas yang dari tadi ia bawa pada Greeta.
"Wah, apa ini?" Greeta mengeluarkan semua isi dari kantong tersebut ke meja. Ternyata camilan seperti kripik kentang, kripik singkong, stik coklat, minuman bersoda, dan masih banyak lagi.
"Waaaahhhh! Makasih, Elaaaan!" Greeta tampak senang. Elan hanya tersenyum.
Sementara Alinda terkejut dengan mulut menganga melihat camilan sebanyak itu di meja. Ia bergumam, "Pantas saja hubungan mereka langgeng."
Greeta berbagai dengan Alinda. "Ini buat kamu."
"Makasih." Alinda menerimanya.
"Semoga kalian nggak marah sama Xaga gara-gara waktu itu," ucap Elan dengan ekspresi penuh penyesalan.
"Sebenarnya kita nggak marah setelah Dhea bilang kalau Xaga menolongnya, tapi membuang makanan seperti itu masih membuatku agak kesal, sih," kata Greeta.
"Iya, lupakan saja," kata Alinda.
Arnold masuk ke dalam kelas lalu duduk di samping Alinda.
"Apa Citra dan yang lainnya sudah ditangani? Apa mereka sudah sadar?" tanya Alinda.
"Citra dan Salsa sudah sadar. Fani agak sulit ditangani, tapi barusan dia sadar. Kondisi mereka sangat lemas. Bu Rita menghubungi orang tua mereka untuk segera dijemput," jelas Arnold.
"Setidaknya siswi yang kerasukan berkurang hari ini," kata Elan.
Arnold mengangguk. "Iya."
Alinda menyodorkan kripik kentang pada Arnold. Laki-laki itu mengambilnya dan memakannya.
"Siapa yang membeli camilan sebanyak ini?" tanya Arnold sambil mengunyah.
Alinda menunjuk Elan dan Greeta.
"Ohh, okay." Arnold mengangguk-anggukkan kepalanya.
...π»π»π»...
^^^08.02 | 1 September 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^