
Amadhea melihat ibunya memeluk anak laki-laki itu.
"Mama, Papa," panggil Amadhea.
Tampaknya Sudarman dan Ayuni tidak bisa melihat Amadhea. Bahkan saat Amadhea menyentuh orang tuanya, tangannya menembus tubuh mereka.
Ayuni menuangkan nasi dan lauk untuk anak laki-laki itu. Amadhea merasa cemburu melihat itu, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain melihat mereka.
Anak laki-laki itu tertawa senang.
Deg!
Suara tawa anak kecil itu sangat familiar. Itu adalah suara yang sama yang sering terdengar saat hantu anak kecil penunggu ruang tersembunyi di dekat tangga muncul.
Amadhea menelan saliva. "Jadi, anak itu... anak Mama dan Papa? Lalu... lalu aku siapa?"
"Nino, makan yang banyak, ya. Biar kamu kuat dan bisa melindungi Mama kelak," kata Ayuni lembut.
Anak laki-laki yang memiliki nama Nino itu menganggukkan kepalanya semangat. Ia pun makan.
Amadhea memperhatikan anak laki-laki itu. Ia membatin, dia memang mirip Papa. Bahkan sangat mirip. Kalau dipikir-pikir, aku tidak ada miripnya sama sekali dengan orang tuaku. Tapi, kalau aku anak angkat, kenapa test DNA itu sangat cocok?
Sudarman meletakkan garpu dan sendoknya dengan agak kasar membuat suara berdeting karena berbenturan dengan piring. Ayuni dan Nino terkejut. Mereka berdua menatap Sudarman, tak terkecuali Amadhea.
"Selera makanku hilang." Setelah mengatakan itu, Sudarman beranjak dari kursinya kemudian berlalu.
Amadhea menatap punggung ayahnya yang menghilang di balik pintu. Ia tidak mengira ayahnya akan bersikap seperti itu. Amadhea kembali menoleh pada Ayuni dan Nino.
Nino menangis. Suara tangisannya juga mengingatkan Amadhea dengan suara tangisan hantu anak kecil di ruangan itu.
Ayuni mengusap rambut Nino. "Nino lanjutkan makannya, ya. Mama harus bicara dulu dengan Papa."
Nino hanya mengangguk. Ia menunduk sepeninggal Ayuni yang berlalu keluar dari dapur.
Amadhea masih berdiri memperhatikan Nino yang melamun dan tidak melanjutkan makannya. Gadis itu menyusul ibunya. Ia melihat Ayuni dan Sudarman sedang bertengkar. Seumur hidup, baru kali ini Amadhea melihat pertengkaran orang tuanya.
"Mas, kalau kamu begini terus, Nino jadi takut sama kamu. Mau bagaimana pun Nino anak kandung kita," kata Ayuni.
Amadhea mendengarkan.
"Aku benar-benar tidak menyukai anak itu. Setiap aku melihatnya, aku aku benar-benar kesal," gerutu Sudarman.
"Mas...."
"Kenapa, Ayuni? Kenapa kamu melahirkan anak cacat seperti itu?!" teriak Sudarman memotong ucapan Ayuni.
Amadhea menutup mulutnya. Ia tidak mengira ayahnya akan bicara kasar seperti itu. Amadhea melihat Nino yang mengintip di ambang pintu dapur. Amadhea yang awalnya kesal dan cemburu menjadi iba pada Nino.
"Mas, jangan keras-keras, nanti Nino dengar," kata Ayuni.
Sudarman mengusap kasar wajahnya. "Sudah aku bilang, buang saja anak itu ke panti asuhan. Merlin benar, Nino seharusnya tidak lahir ke dunia ini."
Amadhea menautkan alisnya. Tante Merlin selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga orang tuaku... bahkan ternyata sejak dulu. Jadi, Tante Merlin tahu tentang Nino? Itulah sebabnya dia menganggapku bukan anak kandung Papa dan Mama.
Ayuni tidak bisa menahan air matanya yang kini mengalir membasahi pipinya. "Mas menyalahkanku?"
"Kalau bukan salahmu, salah siapa lagi?! Kamu memaksaku untuk mempertahankan anak itu!" bentak Sudarman.
"Papa! Jangan marahi Mama!" gerutu Amadhea. Ia tidak tahan melihat ibunya dipojokkan oleh ayahnya.
"Aku menyesal menikahimu, Ayuni!"
"Papa!" Amadhea menghalangi Ayuni dari Sudarman, meski ia tahu itu sia-sia, karena baik ayahnya mau pun ibunya tidak bisa melihat keberadaannya.
Terdengar suara bel berbunyi. Pandangan ketiga orang itu tertuju ke pintu utama.
Ayuni mengelap air matanya kemudian ia berlalu untuk membukakan pintu. Amadhea menyusul dan ingin tahu siapa yang datang.
Seorang wanita yang usianya kira-kira 60 tahunan yang datang. Ayuni mempersilakannya masuk. Amadhea memperhatikan wanita itu. Sejenak ia teringat dengan seseorang, wanita di lukisan yang ada dalam mimpinya sangat mirip dengan wajah wanita itu.
Ya... meski pun sudah tua, garis wajahnya masih terlihat sama.
"Apa wanita itu... apa dia... hantu bermata hitam itu? Apa ini saat dia masih hidup?" gumam Amadhea.
"Apa rumahnya nyaman?" tanya wanita itu.
Jadi, rumah ini dibeli Mama dari wanita tua itu? Rumah ini milik hantu bermata hitam itu? Batin Amadhea.
"Mungkin rumahnya memang terlihat agak tua, maklum usia rumah ini sudah dua ratus tahun," kata wanita itu.
"Apa?! Dua... dua ratus tahun?" Amadhea menutup mulutnya. "Sebelumnya aku mengira rumah ini berusia seratus tahun."
"Suami saya sangat menyukai desainnya yang seperti bangunan bergaya Eropa, Bu Karnilah," kata Ayuni.
Wanita bernama Karnilah itu tersenyum. "Syukurlah kalau kalian merasa nyaman di rumah ini."
"Sekarang Bu Karnilah tinggal di mana?" tanya Ayuni.
"Aku tinggal di luar provinsi, di sebuah pantai yang indah dikelilingi hutan bakau," ucap Karnilah.
Amadhea mencerna ucapan Karnilah. Pandangan Amadhea langsung tertuju ke lukisan Pantai Mati yang kebetulan saat itu dipajang di ruang tamu.
"Apa mungkin...." Amadhea berjalan menuju lukisan itu. Tanpa pikir panjang, ia menjatuhkan lukisan itu.
Pandangan Ayuni dan Karnilah tertuju ke lukisan tersebut yang tiba-tiba jatuh. Amadhea tidak mengira usahanya akan berhasil.
"Lukisannya jatuh," kata Ayuni sambil beranjak dari sofa lalu membenarkan lukisan tersebut.
"Aku tinggal di pantai yang ada dalam lukisan tersebut, Pantai Mati," kata Karnilah.
Deg!
Serasa ada godam yang menghantam ulu hatinya kala Amadhea mendengar ucapan Karnilah.
"Pantai Mati? Namanya agak menyeramkan," kata Ayuni sambil memandangi lukisan tersebut.
Bu Karnilah tersenyum membuat keriputnya semakin nyata. "Ya, tempat itu memang terkenal menyeramkan, tapi bagi orang sepertiku, aku sudah terbiasa dan merasa nyaman."
Apa dia seorang paranormal? Batin Amadhea.
Ayuni mengangguk mengerti.
"Kalian masih muda dan bisa memiliki banyak anak untuk mengisi hari-hari kalian di rumah sebesar ini," kata Karnilah.
Ayuni tersenyum sendu. "Semoga tahun ini kami diberikan keturunan."
Amadhea mengernyit. Apa Papa dan Mama tidak mengakui Nino? Apa mereka menyembunyikan Nino dari publik? Itulah sebabnya Nino menempati ruangan sempit di dekat tangga?
Sejenak Amadhea tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.
Benar juga! Mungkin itulah sebabnya yang orang-orang tahu, aku anak tunggal, karena Papa dan Mama hanya mengakuiku sebagai anaknya. Hanya Tante Merlin seorang yang tahu tentang Nino. Kenapa Papa tidak mau mengakui Nino? Papa bilang, Nino cacat? Tapi, dia terlihat normal-normal saja. Dia bahkan sangat tampan dan lucu.
"Kalau begitu, aku pulang, ya." Karnilah berpamitan.
Amadhea mengikuti Karnilah keluar dari rumah. Ada mobil klasik yang terparkir di pelataran rumah. Karnilah membuka pintu mobil. Amadhea segera masuk duluan. Lalu Karnilah memasuki mobil tersebut.
Mobil pun melaju.
Setelah melewati perjalanan yang panjang, mobil itu berhenti. Karnilah keluar dari mobil. Begitu pun dengan Amadhea. Karnilah berjalan kaki melewati jalanan setapak. Amadhea mengikutinya.
Beberapa menit kemudian, tibalah mereka di hutan bakau. Amadhea tampak kelelahan. Ia terus mengikuti Karnilah.
"Kita ke mana, sih?" gerutu Amadhea.
Sampailah mereka di tengah hutan bakau yang rimbun. Ada rumah yang cukup besar di sana, tapi terlihat jauh lebih menakutkan dibandingkan keadaan rumah Amadhea yang sekarang.
"Sangat menyeramkan."
...π»π»π»...
^^^22.17 | 1 September 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah^^^