SURREPTITIOUS

SURREPTITIOUS
Part 35



Xaga tiduran di sofa. Ia sedang melihat ke layar ponselnya membaca pesan chat dari Amadhea.


Dhea : Makasih sebelumnya.


Xaga : Besok aku akan datang ke rumahmu bersama Arnold dan Alinda, karena aku tidak enak kalau datang sendirian.


Dhea : Okay.


Keesokan paginya.


Xaga sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Ia menuruni tangga dan melihat keluarganya sarapan bersama.


Bu Bachtiar menoleh pada putranya. "Xaga, sarapan dulu, Nak."


Xaga tidak merespon. Ia melanjutkan langkahnya.


"Hei, kamu nggak mau sarapan dulu?" tanya Starla.


Xaga tetap tidak menjawab.


"Biarkan saja," ucap Pak Bachtiar.


Bu Bachtiar tampak sedih. Ia menatap punggung putranya yang menjauh dan menghilang di balik pintu.


Sesampainya di sekolah, Xaga memarkirkan motornya. Ia menaiki tangga menuju ke kelasnya. Saat menaiki tangga menuju lantai 3, Xaga berpapasan dengan Amadhea. Gadis itu tampak pucat.


"Xaga." Tanpa diduga gadis itu memeluknya. Tubuhnya terasa sangat dingin.


Kedua pipi Xaga memerah kala pelukan Amadhea semakin mengerat. Kedua tangan laki-laki itu terangkat. Namun, laki-laki itu segera menggelengkan kepalanya dan menyentuh bahu Amadhea kemudian melepaskan pelukan gadis itu darinya.


Amadhea menatap Xaga. "Aku rindu sama kamu."


Xaga melihat mata Amadhea yang berubah-ubah. Terkadang normal, terkadang warna matanya hitam semua.


"Kamu bukan Amadhea," ucap Xaga.


Amadhea tersenyum tipis, lama-lama senyumannya semakin lebar dan mengerikan. Ia tertawa cekikikan dengan warna matanya berubah menjadi hitam semua.


"Jangan ikut campur, mata biru!" bentak sosok yang menyerupai Amadhea itu lalu tiba-tiba menghilang dari hadapan Xaga.


Xaga menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya.


Bel istirahat berbunyi. Xaga, Zayn, dan Elan tampak makan bersama di kantin.


"Sore ini aku mau pergi ke rumah Dhea bersama Arnold dan Alinda. Kalian mau ikut?" tanya Xaga.


"Ya, kalau diajak, kami ikut. Ya, kan?" Elan menyikut lengan Zayn.


Zayn mengangguk. "Iya, sekalian menjenguknya. Zahra bilang, Dhea sedang sakit."


Sore harinya.


Alinda tampak serius menyetir mobilnya. Di sampingnya ada Arnold. Sementara di kursi belakang ada Xaga, Zayn, dan Elan.


"Kita sampai." Alinda menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Amadhea.


"Sudah sampai?" Elan dan Arnold melihat ke depan.


"Kenapa tidak ada security yang membukakan gerbang?" tanya Elan.


"Karena Amadhea tinggal sendirian di rumah ini," jawab Alinda.


"Di rumah sebesar ini?" tanya Elan tak percaya.


Arnold dan Xaga keluar dari mobil. Mereka membukakan pintu gerbang. Mobil Alinda pun masuk.


"Meski pun aku satu kelas dengan Amadhea, tapi aku baru pertama kali datang ke rumahnya," ucap Arnold.


"Aku juga," bohong Xaga. Ia pernah membuntuti Amadhea waktu itu.


Alinda mengetuk pintu. Sementara Xaga, Zayn, Elan, dan Arnold berdiri di belakangnya.


"Permisi? Dhea?"


Tak ada jawaban.


Tak lama kemudian, pintu dibuka oleh Irma. "Kalian temannya Dhea, ya?"


"Iya, Tante, kami datang menjenguk," ucap Elan.


"Oh, silakan masuk." Irma menyuruh mereka masuk.


"Katanya tinggal sendiri, itu siapa?" bisik Arnold pada Alinda.


"Itu tetangganya," jawab Alinda.


Terlihat Amadhea sedang duduk di sofa sambil memakan bubur dan telur rebus. Ia menoleh pada teman-temannya yang datang. Amadhea mempersilakan temannya duduk di sofa. Ia membenarkan rambutnya agar menutupi dahi kirinya yang membenjol.


Pandangan Xaga tertuju pada Amadhea. Kedua mata gadis itu juga tampak normal.


Xaga membatin, terakhir kali aku bertemu dengannya, mata kirinya berwarna hitam pekat tanpa ada bagian putihnya. Sekarang dia terlihat normal. Apa hantu bermata hitam itu sudah tidak mengganggu Dhea lagi?


"Tante tinggal, ya." Irma berlalu ke dapur setelah mendapatkan jawaban dari teman-teman Amadhea.


"Apa kondisimu sudah membaik?" tanya Arnold.


Amadhea mengangguk. "Iya, aku rasa sudah mendingan. Dokter bilang, aku hanya typhus ringan."


"Syukurlah," kata Elan dan Alinda berbarengan.


"Kami membawa sedikit buah-buahan segar dan sayuran." Zayn meletakkan dua keranjang sayuran dan buah ke meja.


"Terima kasih sudah repot-repot," kata Amadhea.


Terdengar suara pintu diketuk. Alinda beranjak dari sofa. Irma keluar dari dapur.


"Aku aja yang buka, Tante," kata Alinda.


"Oh, iya." Setelah Alinda pergi untuk membuka pintu, Irma kembali ke dapur.


Ternyata Zahra dan Greeta yang datang.


"Tadi aku ke rumah kamu mau ngajakin ke rumah Dhea bareng," kata Zahra.


"Maaf, aku nggak sempat bilang, soalnya Arnold mendadak ngajakin aku ke sini," ucap Alinda.


"Aku lihat mobil kamu di depan, kamu datang sama siapa lagi selain Arnold?" tanya Greeta penasaran.


"Masuk dulu," kata Alinda.


Greeta terkejut melihat keberadaan Elan. "Oh? Elan, kamu nggak bilang mau ke sini."


"Aku diajak Xaga," ucap Elan sambil menunjuk Xaga.


"Kamu juga di sini, Zayn?" tanya Zahra.


"Iya, aku juga diajak Xaga," kata Zayn.


Mereka pun duduk.


"Aku terharu kalian semua datang untuk menjengukku," kata Amadhea.


"Kata Alinda, kamu tinggal sendirian, jadi kami datang untuk menjengukmu. Selain itu, Xaga juga memaksa kami agar datang bersamanya," ucap Arnold.


Xaga memberikan kode pada Arnold agar temannya itu berhenti mengatakan kebenaran.


"Oh?" Amadhea melirik Xaga.


"Itu... karena tidak enak kalau aku datang sendirian," jelas Xaga.


Greeta menyikut lengan Zahra. Keduanya tersenyum mendengar alibi Xaga.


"Nggak ada salahnya, kok," kata Alinda.


Xaga mengangguk mengiyakan pertolongan Alinda untuknya.


Irma menyajikan camilan dan minuman ke meja. Setelah sedikit berbincang, mereka mulai sibuk sendiri.


Elan dan Zayn mabar game online, Zahra dan Irma sibuk melihat-lihat majalah hijab, Arnold dan Elan berkeliling di belakang rumah setelah mendapat izin dari Amadhea, Greeta sudah pasti sibuk ngemil, begitu pun dengan Alinda. Mereka berdua ngemil sambil menonton TV.


Sementara Xaga dan Amadhea duduk bersebelahan agak berjarak. Mereka sama-sama diam.


Xaga melirik pada Amadhea. "Apa kamu nggak jadi minta tolong karena ada mereka?"


Amadhea menoleh pada Xaga kemudian menggeleng. "Tidak, aku tidak merasa terganggu sama sekali. Justru aku senang melihat teman-temanku datang. Rumah tua ini tidak terasa sepi saat kalian datang."


Xaga tersenyum. "Jadi, apa yang bisa kubantu?"


"Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu. Ini tentang mimpiku semalam. Tidak hanya semalam, sebelumnya aku juga sering bermimpi dan mimpiku itu bukan mimpi kosong. Semuanya nyata," jelas Amadhea. Ia menceritakan semuanya pada Xaga.


Xaga mendengarkan dengan serius.


"Aku selalu merasa ketakutan. Aku sudah lelah. Aku tidak tahu harus menceritakan ini pada siapa. Hanya kamu yang mengerti kondisiku," ucap Amadhea setelah ceritanya selesai.


"Sepertinya mata batin kamu terbuka, lebih tepatnya mata kiri kamu."


...πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»...


^^^21.42 | 1 September 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^