
Pintu kamar dibuka. Amadhea keluar dari kamarnya. Ia melihat ke sekeliling. Seseorang mengintip di balik dinding samping kamarnya. Amadhea berlari ke arah sana yang menuju ke kamar orang tuanya. Terdengar suara tawa anak kecil yang menggema di lantai dua itu
Amadhea melihat sosok anak kecil itu berlari masuk ke kamar orang tuanya. Kini Amadhea berdiri di depan pintu kamar mendiang ayah dan ibunya yang setengah terbuka. Tangannya bergerak menyentuh knop lalu mendorong pintu tersebut. Namun, niatnya urung. Ia memilih menarik pintu kamar tersebut untuk menutupinya.
Tetapi, Amadhea merasakan pintu itu ditarik dari dalam oleh seseorang. Ia melepaskan pegangannya pada knop pintu kemudian ia berlalu untuk kembali ke kamarnya.
Kreeeeeekk, pintu kamar orang tua Amadhea perlahan terbuka. Sosok anak kecil itu berdiri di ambang pintu.
Amadhea mendengar jelas suara pintu yang terbuka itu, tapi ia pura-pura tidak mendengarnya.
Tiba-tiba Amadhea mendengar suara teriakan anak kecil yang memekakkan telinga dari kamar orang tuanya. Gadis itu sampai berjongkok sembari menutupi telinganya dengan kedua tangan.
Suara teriakan anak kecil itu masih menggema di dalam rumah tua bertingkat dua itu. Amadhea berbalik melihat bukunya dilempar dari kamar tersebut disertai bantingan pintu yang keras.
Amadhea menelan saliva kemudian ia bangkit. Perlahan gadis itu berjalan dan mengambil bukunya. Ia melihat bukunya yang sudah dicoret-coret dengan krayon merah.
Mau marah, tapi marahnya sama siapa? Mau kesal, ya... nggak bisa.
Amadhea merogoh sakunya dan mengambil ponsel dari dalam sana. Ia menelepon seseorang.
"Zahra?"
"Iya, Dhea?" Zahra menjawab setelah panggilan mereka tersambung.
"Boleh aku meminjam buku Kimia punya kamu? Buku Kimia punyaku basah jatuh ke air pel," ucap Amadhea.
"Iya, boleh. Besok, ya."
"Tolong fotoin tugas Kimia yang minggu lalu. Soalnya aku belum sempet ngerjain," pinta Amadhea.
"Oh, yang minggu kemarin. Sebentar, ya. Aku fotoin dulu. Nanti aku kirim ke chat," kata Zahra.
"Okay, aku matiin teleponnya, ya."
"Iya."
Panggilan pun berakhir. Amadhea melihat bukunya yang sudah merah semua isinya. Gadis itu membuka lembar demi lembar buku tersebut berharap masih ada catatan yang bisa ia selamatkan. Setidaknya ia bisa mencatat sebagian catatan Kimia kalau masih ada catatan yang aman.
Namun, ada hal lain yang membuatnya sangat terkejut, yaitu dimulai dari lembar tengah ada tulisannya. Amadhea membacanya dalam hati.
AKU PIKIR AKU SUDAH BESAR.
Amadhea membuka lembar selanjutnya. Semuanya ditulis dengan krayon merah.
TERNYATA AKU MASIH KECIL.
Amadhea menelan saliva. Keringat dingin mengalir dari dahinya. Ia melanjutkan membuka lembar selanjutnya.
KENAPA MAMA DAN PAPA MENGURUNGKU DI RUANGAN ITU SAMPAI MATI? APA KALIAN MEMBENCIKU?
Amadhea semakin cepat membuka lembarannya dan membacanya.
AKU TIDAK SALAH!
KENAPA MEMBENCIKU?! AKU TIDAK PERNAH INGIN DILAHIRKAN!
KALIAN YANG MEMBUATKU LAHIR KE DUNIA, KALIAN JUGA ALASANKU BERAKHIR TRAGIS DALAM KEMATIAN YANG MENAKUTKAN!
BUKA PINTUNYA! BUKA!
Amadhea mendengar suara gedoran pintu kamarnya. Tangannya yang memegang buku gemetar. Ia membuka halaman berikutnya
HALO, APA KAMU MEMBACA INI?
Amadhea melemparkan buku tersebut ke lantai. Suara gedoran di pintu kamarnya sudah tak terdengar lagi. Angin berhembus entah dari mana membuat lembar demi lembar buku Amadhea di lantai terbuka lalu berakhir di halaman paling belakang.
AKU JUGA AKAN MEMBUNUHMU!
Grrrrtttt, grrrrtttt.
Amadhea terlonjak saat ponsel di sakunya bergetar. Ia merogoh sakunya lalu mengecek notifikasi yang masuk. Ternyata chat dari Zahra yang mengirimkan foto-foto tugas Kimia untuk besok.
Amadhea memberanikan diri memasuki kamarnya. Ia membulatkan matanya melihat tulisan besar dari krayon merah di dinding kamarnya.
AKU JUGA AKAN MEMBUNUHMU!!!
Suara tangisan, teriakan, dan tawa anak kecil menggema di rumah tua itu. Amadhea mengeratkan tangannya yang memegang ponsel.
Keesokan paginya, Amadhea membersihkan dinding kamarnya yang dicoret-coret dengan krayon merah itu menggunakan lap basah. "Ah, nyusahin mulu!"
Di sekolah.
Pak Tarmin menyapu di depan gerbang. Tidak ada pohon besar lagi di sana. Sebelumnya gerbang SMA Germada hanya terlihat sebagian, karena terhalang pohon besar yang rindang. Cahaya matahari juga terhalang oleh daunnya yang rimbun. Kini gerbang SMA Germada terlihat jelas secara keseluruhan. Sebagai gantinya, Pak Tarmin menanam pohon muda yang di tanah bekas pohon tua sebelumnya tumbuh.
Amadhea dan Zahra baru tiba di area sekolah. Mereka menyapa Pak Tarmin, "Selamat pagi, Pak Tarmin."
Amadhea dan Zahra menaiki tangga menuju kelas mereka.
"Aku jadi pangling melihat bagian depan SMA setelah pohon besar itu ditebang," ucap Zahra.
"Iya," sahut Amadhea.
Jam menunjukkan pukul 10.15. Bel istirahat berbunyi. Semua murid keluar dari kelas dan pergi ke kantin.
Alinda menggandeng tangan Greeta. "Zahra, Dhea, ayo ke kantin."
Amadhea tampak serius menyalin materi Kimia dari buku Zahra ke buku barunya. "Kalian bertiga duluan saja. Aku mau menyelesaikan ini."
"Nanti saja menyalinnya, makan dulu," kata Greeta. "Nanti giliran Fisika. Tahu sendiri Bu Ismayani kayak gimana. Kamu nggak bisa makan di kelas."
"Semua guru memang melarang muridnya makan di kelas, apalagi saat jam pelajaran berlangsung," kata Alinda.
Greeta terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya juga, sih."
"Kalian duluan saja, nanti aku sama Dhea nyusul," kata Zahra.
"Harus nyusul, ya. Awas, jangan sampai nggak makan," ancam Alinda sambil berlalu bersama Greeta.
"Padahal kamu bisa menyalinnya di rumah," kata Zahra sambil memberikan tiga buah permen pada Amadhea.
Amadhea menghentikan aktivitasnya sejenak kemudian ia menerima permen tersebut. "Aku nggak bisa konsentrasi kalau menulis di rumah."
Zahra mengernyit. "Kenapa nggak konsen? Bukannya di rumah lebih tenang, ya?"
Amadhea tersenyum kaku. "Iya, sih."
Tatapan Amadhea teralihkan ke jendela. Ia melihat Xaga bersama Zayn berjalan di koridor depan kelasnya.
Merasa diperhatikan, Xaga menoleh ke jendela kelas XI-IPA-B. Pandangannya bertemu dengan Amadhea. Keduanya saling menatap. Tiba-tiba muncul wajah mengerikan di jendela menghalangi wajah Xaga.
"Hhh!" Amadhea hampir menjerit saking kagetnya melihat wajah penuh luka itu.
Bel masuk berbunyi.
Bu Ismayani memasuki kelas XI-IPA-B. Ia memberikan soal ulangan harian pada semua murid. Setelah itu ia duduk dan membuka bukunya.
"Kerjakan di kertas selembar, jangan berisik," kata Bu Ismayani.
"Semester 2 baru saja dimulai, tapi sudah ada latihan soal."
"Irsya, Ibu mendengarmu," tegur Bu Ismayani.
Murid bernama Irsya terlonjak kaget. "Maaf, Bu."
Amadhea mengambil kertas dari bagian tengah bukunya lalu mengambil penggaris dan memotong kertasnya menjadi dua bagian menggunakan penggaris tersebut.
Greeta membuka bukunya lalu mencabut kertas dari bagian tengahnya. Ia melipat dan menjilat lipatan di antara kedua kertas tersebut lalu merobeknya menjadi dua bagian.
"Ih, jorok, ini ada gunting," gerutu Alinda yang melihat perbuatan Greeta. Ia menyodorkan guntingnya.
"Telat!"
"Greeta! Alinda!" tegur Bu Ismayani.
"Maaf, Bu," sahut Greeta dan Alinda berbarengan.
Beberapa murid tampak serius mengerjakan soal masing-masing. Ada juga murid berbisik dan menanyakan jawaban pada murid yang cerdas. Ada juga yang memilih untuk mengisi seenaknya asal kertas jawabannya tidak kosong. Bahkan ada juga murid yang menghitung kancing atau cap-cip-cup untuk mengisi soal pilihan ganda. Semua usaha murid sangat beragam.
Tanpa sadar, kelas menjadi sunyi. Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang keras dari luar ruangan.
Amadhea mendongkak menatap ke sekeliling. Tampaknya kali ini bukan hanya Amadhea yang mendengarnya, tapi murid lain di kelas IPA-B juga mendengarnya.
"Suara apa itu?"
"Itu seperti suara teriakan seseorang."
"Apa ada yang celaka?"
Bu Ismayani mengetuk-ngetuk meja. "Anak-anak, kembali duduk ke meja masing-masing dan kerjakan soal kalian!"
Bukannya menuruti perintah Bu Ismayani, semua murid kelas IPA-B beranjak dari kursi dan mengintip ke jendela.
Mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat.
...π»π»π»...
^^^14.44 | 1 September 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah^^^