
"Hhhh!" Amadhea tersentak bangun. Keringat dingin mengalir dari sekujur tubuhnya. Bahkan rambutnya juga sedikit basah. Ia mengusap wajahnya kemudian pergi ke kamar mandi untuk cuci muka.
Amadhea menatap pantulan wajahnya di cermin. Benjolan di dahi kirinya masih terlihat, bahkan mungkin semakin besar. Amadhea menyentuhnya. Tidak ada rasa sakit sama sekali saat Amadhea menekan-nekan bagian benjol itu.
Jika dirasa-rasa, seperti ada bagian lunak di dalam benjolan itu.
Amadhea mengambil gunting lalu menggunting rambut bagian depannya agar terlihat sedikit lebih pendek dan bisa dijadikan penutup benjolan di dahinya. Lalu ia mengambil catok rambut.
Di sekolah.
Greeta sarapan seperti biasa di kantin. Zahra dan Alinda juga berada di sana. Seorang siswi masuk ke kantin. Pandangan mereka bertiga tertuju ke gadis itu.
"Dhea?" Zahra melongo.
Gadis yang ternyata Amadhea itu menoleh. Ia tampak berbeda dengan wavy hair-nya.
"Wah!" Greeta terkagum-kagum dengan mulut penuh.
Amadhea membawa roti kemudian duduk di samping Greeta.
"Kamu kapan ke salon? Wah, kamu terlihat berbeda," kata Alinda.
"Cantiknya." Zahra gemas melihat wajah imut Amadhea.
Amadhea hanya tersenyum kecil. "Ah, kalian bisa saja. Aku mencatok rambutku sendiri di rumah."
"Apa kamu pacaran sama Xaga?" tanya Greeta kepo.
"Hah?" Amadhea memundurkan wajahnya.
Alinda mengiyakan. "Iya, aku juga berpikir begitu. Orang bilang, saat seorang gadis jatuh cinta, gadis itu akan merubah penampilannya menjadi lebih cantik."
Zahra menoleh pada Amadhea menunggu jawaban.
"Siapa bilang mengubah gaya rambut atau penampilan hanya karena sedang jatuh cinta?" tanya Amadhea setengah menggerutu.
"Ibuku," jawab Alinda cepat.
"Oh." Tidak hanya Amadhea. Zahra dan Greeta juga ber-oh-bareng.
"Aku nggak pacaran sama siapa-siapa, kok. Aku mengubah gaya rambutku karena aku mau," ujar Amadhea mengalihkan pembicaraan.
Greeta dan Alinda ber-oh-ria. "Oh, kirain."
Sebenarnya aku juga tidak ingin memotong rambutku atau mencatoknya, tapi mau bagaimana lagi, aku harus menyembunyikan benjolan di dahiku, batin Amadhea.
"Selama aku tidak masuk sekolah, apa masih ada yang kerasukan di sekolah ini?" tanya Amadhea.
"Pihak sekolah sudah menanganinya dengan bantuan orang-orang yang suka menolong yang kerasukan. Tidak ada lagi yang kerasukan semenjak dua hari yang lalu," jawab Alinda.
"Syukurlah," ucap Amadhea.
Saat jam istirahat tiba, Amadhea dan teman-temannya pergi ke kantin, tapi meja kantin sudah penuh. Terpaksa mereka pergi ke rumah makan di luar sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh.
"Waaaahhh, lihatlah menunya!" Greeta melihat buku menu dan menuliskan beberapa makanan yang ia inginkan.
"Kalian mau memesan apa? Biar aku yang menuliskan pesanan kalian," kata Alinda sambil membawa kertas pesanan.
"Aku mau cilok sama cireng isi," kata Zahra.
"Aku cibay sama batagor. Minumnya es kelapa muda," ucap Amadhea.
"Oh, iya... aku minumannya es teh manis," kata Zahra.
Alinda tampak serius menuliskan pesanan. Ia menoleh pada Greeta. "Kamu mau pesan apa?"
Greeta menarik napas kemudian menyebutkan makanan yang ia pesan seperti sedang rapping, "Bakso bakwan, seblak, cilok goang, ceker mercon, ayam geprek plus nasi, cimol, basreng. Makanan penutupnya bolu gulung 2, donat coklat 4, donat stroberi 2, donat blueberry 8, pie susu 1. Minumannya jus jeruk 2 sama 3 sop buah mangga."
Alinda baru menulis huruf B. Ia mendongkak menatap Greeta yang tersenyum manis. "Emm... kamu tulis sendiri saja, ya."
Greeta mengangguk. Ia mengambil kertas pesanan dari Alinda kemudian ia menulis sendiri pesanannya.
Saat makanan pesanan mereka sudah datang, keempat siswi itu pun menyantapnya. Xaga dan teman-temannya memasuki rumah makan. Mereka melihat pada Amadhea dan teman-temannya.
"Kalian juga di sini?" Zayn melihat banyak sekali makanan di meja, nyaris tidak ada bagian yang kosong.
"Elaaan!" Greeta melambaikan tangannya.
Greeta menyuapi Elan.
Zahra dan Amadhea yang jomblo akut hanya bisa melihat kemesraan Greeta dan Elan.
Xaga dan Zayn tampak biasa-biasa saja, sementara Alinda dan Arnold tertawa kecil melihat keromantisan itu.
"Hari ini kantin penuh, tumben, ya," kata Zayn.
"Anak-anak kelas 10 kali," ujar Elan.
Mereka menyantap makanan dengan lahap, karena kelaparan. Setelah itu, mereka kembali ke kelas bareng-bareng.
Zahra dan Alinda jalan duluan diikuti Elan dan Greeta, kemudian di belakangnya Zayn dan Arnold, yang terakhir Amadhea dan Xaga.
"Kamu terlihat masih pucat, kenapa memaksakan diri ke sekolah?" tanya Xaga.
"Aku rasa lebih berbahaya kalau aku tinggal di rumah terlalu lama, jadi aku mau pergi ke sekolah agar terhindar dari mereka," kata Amadhea.
Angin berhembus menerpa wajah Amadhea. Rambutnya bergerak dan sedikit menampakkan dahinya.
Xaga melihat ada benjolan di dahi kiri Amadhea. Benjolan itu bergerak-gerak seperti bergulir.
"Sebentar." Xaga menghentikan langkahnya kemudian menggenggam tangan Amadhea.
Langkah Amadhea terhenti. Ia menatap pada Xaga. Laki-laki itu menyingkap rambut yang menutupi dahi kirinya. Benar, benjolan itu bergerak-gerak.
Ditatap seperti itu oleh Xaga membuat kedua pipi Amadhea memerah.
"Apa ini sakit?" tanya Xaga.
Amadhea menggeleng.
"Kalau sore ini kamu ada waktu, aku akan membawamu ke rumah Mbak Ratih. Dia ahlinya dalam dunia paranormal," kata Xaga.
Amadhea mengangguk.
Sore harinya, Xaga datang ke rumah Amadhea dengan motornya. Mereka pergi ke rumah seseorang bernama Ratih. Sebuah rumah bercat abu-abu muda. Ada banyak tanaman hias di depan rumahnya.
Xaga mengetuk pintu. "Permisi? Mbak Ratih?"
Pintu dibuka. Seorang wanita yang kira-kira berusia 30-an membuka pintu. Ia melihat pada Xaga dan Amadhea bergantian. "Oh? Xaga?"
Ratih mempersilakan mereka berdua masuk ke dalam rumahnya. Xaga dan Amadhea duduk berhadapan dengan Ratih. Ada banyak barang antik dan kuno di ruang tamu. Kaca besar dengan bingkai emas diletakkan di ruang tamu menarik perhatiannya Amadhea. Ada tiga lilin berwarna merah yang menyala di depan kaca itu.
Amadhea terkejut melihat dua sosok bertopeng yang berdiri di belakang Ratih. Mereka berdua memiliki aura baik. Tubuh mereka memancarkan sinar kuning keemasan.
"Kamu merasakan gangguan mereka, ya?" tanya Ratih pada Amadhea to the point.
Amadhea mengangguk. "Iya, semenjak orang tua saya meninggal, semuanya semakin rumit. Saya juga sering bermimpi aneh belakangan ini dan... saya rasa mimpi itu benar-benar nyata."
Ratih mengangguk mengerti. "Kamu memang memimpikan sebuah kejadian nyata, Dhea. Kamu berada di tengah-tengah antara dua dimensi."
Xaga terbelalak kaget mendengar ucapan Ratih. "Bagaimana bisa? Apa mungkin...."
Ratih mengangguk. "Kamu tidak sekedar diganggu, tapi sudah dirasuki oleh hantu itu. Tidak, bukan dirasuki. Lebih tepatnya kamu dan hantu itu sudah menyatu."
Amadhea membeku. Ia menelan saliva.
Yang Ratih lihat, kedua mata Amadhea kadang terlihat normal, kadang juga berubah-ubah menjadi hitam semua.
"Kamu tidak menyadarinya, Xaga?" tanya Ratih.
Xaga menggeleng.
Ratih beralih pada Amadhea. "Itulah sebabnya kamu bisa melihat, bahkan menyentuh makhluk halus. Selain mata batin kamu yang terbuka, kamu juga memiliki sebagian dari tubuh makhluk itu."
Amadhea tampak khawatir. "Lalu... saya harus bagaimana?"
...π»π»π»...
^^^14.15 | 1 September 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^