
Beberapa siswi mengalami kerasukan. Mereka berteriak dan meronta-ronta sambil memaki-maki. Beberapa murid lainnya beserta guru yang berada di kelas tersebut memegangi murid yang kerasukan agar tidak melakukan tindakan yang membahayakan dirinya. Beberapa murid berdo'a berharap makhluk yang merasuki teman-teman mereka segera keluar.
Murid yang kerasukan semakin bertambah. Para guru kewalahan menghadapi kerasukan masal itu. Untuk pertama kalinya ada kasus kerasukan di SMA Germada.
Zahra berdo'a sambil memegang tasbih miliknya. Greeta menyentuh kalung salib di lehernya, ia juga berdo'a. Alinda mengatupkan kedua tangannya sambil berdo'a dalam hati.
Amadhea melihat makhluk-makhluk mengerikan yang berkeliling di koridor sekolah. Ia bergidik merinding melihat bentuk dari hantu-hantu itu. Sebelumnya Amadhea tidak pernah melihat sosok-sosok aneh itu di sekolah.
Melihat keadaan yang semakin memburuk, Bu Ismayani membimbing murid-murid kelas XI-IPA-B agar fokus, tidak mengosongkan pikiran. "Baiklah, anak-anak. Marilah kita berdo'a menurut agama dan kepercayaan masing-masing."
Semua murid kelas IPA-B menunduk dan berdo'a sesuai dengan instruksi dari Bu Ismayani. Bu Ismayani sendiri menengadahkan tangannya lalu berdo'a dalam hati.
Baru beberapa menit berdo'a, tiba-tiba salah satu murid di dalam kelas berteriak.
"Aaaarggghhhhh!!!"
Semua murid terkejut dan melihat Tasya _salah satu siswi kelas IPA-B_ kerasukan. Ia membanting kursi dan menghantamkan wajahnya ke meja beberapa kali dengan keras.
Alinda menarik lengan Tasya. Greeta membantunya dengan menarik lengan satunya. Tenaga Tasya sangat kuat. Beberapa siswa membantu Alinda dan Greeta untuk menahan tubuh Tasya yang terus-menerus mencoba melukai dirinya sendiri. Bu Ismayani juga membantu sebisanya.
Amadhea melihat tangan-tangan hitam yang mencuat keluar dari perut dan dada Tasya seolah-olah makhluk yang merasuki Tasya memukuli tubuh Tasya dari dalam dengan sekuat tenaga dan ingin merobek perutnya.
Bahkan kini satu tangan muncul dari mulut Tasya. Yang dilihat murid lainnya, Tasya membuka mulutnya dengan lebar.
Amadhea tidak bisa tinggal diam. Ia menarik tangan hitam itu dari mulut Tasya. Tanpa diduga, ternyata Amadhea bisa memegang tangan hitam itu. Melihat kesempatan bagus, Amadhea menariknya dengan sekuat tenaga, tapi pegangannya terlepas. Amadhea tersungkur jatuh.
Semua murid bingung dengan apa yang dilakukan Amadhea. Begitu pun dengan Bu Ismayani.
Tangan hitam itu kembali masuk tertelan oleh Tasya.
Amadhea tidak putus asa. Ia menarik tangan-tangan hitam yang mencuat dari perut Tasya.
"Sialan!" maki Amadhea. Ia mencoba lebih keras lagi. Kali ini ia lebih mengeratkan pegangannya. Makhluk mengerikan bertubuh hitam legam itu tertarik keluar dari mulut Tasya karena ditarik oleh Amadhea.
"Hrraaaaggssshh!!" Hantu itu menggeram dan menatap tajam pada Amadhea.
Sementara Tasya terkulai tak sadarkan diri. Semua murid melihat pada Amadhea yang terlihat sangat ketakutan.
"Dhea, kamu nggak apa-apa?" Para murid mengira Amadhea takut pada mereka. Mereka juga berpikir kalau Amadhea kerasukan.
Padahal sebenarnya Amadhea sedang berhadapan dengan hantu bertubuh hitam yang memiliki banyak tangan. Amadhea beringsut mundur.
"Amadhea...." Tiba-tiba Amadhea mendengar suara misterius itu lagi. Itu adalah suara hantu wanita bermata hitam keseluruhan.
Hantu bertubuh hitam itu menyergap Amadhea dan mencoba membuka mulut Amadhea dengan tangan-tangannya. Ia tampaknya mau merasuki tubuh Amadhea lewat mulut.
Amadhea tidak bisa melakukan apa-apa, karena seluruh tubuhnya dikunci oleh tangan-tangan makhluk tersebut.
"Amadhea!!!!" suara wanita itu kali ini terdengar sangat marah dan menakutkan.
Hantu bertubuh hitam itu mundur ketakutan dan mengilang begitu saja tanpa sebab dan perlawanan. Amadhea masih gemetar ketakutan.
Zahra memeluknya sambil terus berdo'a. Alinda mengusap keringat yang mengalir dari kening Amadhea. Greeta menangis khawatir.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Alinda.
Amadhea menggeleng.
"Alhamdulillah, jangan ngelamun terus, ya. Aku kira kamu kerasukan." Zahra mengeratkan pelukannya sambil menangis.
Greeta menghela napas lega.
Jam menunjukkan pukul 5 sore. Semua murid yang kerasukan sudah tenang setelah mendapatkan penanganan.
Pihak sekolah memanggil tetua adat sekitar yang mengetahui seluk-beluk tempat tersebut.
Ternyata hantu penghuni pohon tua yang kemarin ditebang marah, karena tempat tinggal mereka dirusak. Itulah sebabnya mereka merasuki para siswi.
Alinda yang merupakan wakil ketua PMR bertanggung jawab besar atas keselamatan semua murid. Ia sibuk membantu anggotanya menolong para siswi yang lemas karena kerasukan.
Setelah selesai membantu para siswi yang kerasukan di ruang PMR, Alinda menemui Amadhea, Zahra, dan Greeta yang menunggunya di depan ruangan PMR.
"Bagaimana? Apa Tasya dan yang lainnya baik-baik saja?" tanya Amadhea.
Alinda mengangguk. "Mereka sudah membaik dan sadar, tapi tubuh mereka sangat lemas."
"Alhamdulillah." Zahra menghela napas panjang.
"Puji Tuhan, setidaknya kondisi semua murid sudah kembali stabil," ucap Greeta sambil tersenyum lega.
Alinda mengangguk.
"Greeta, aku nggak bisa pulang dulu. Aku harus mengurus pasien PMR sampai orang tua mereka datang menjemput. Tolong bilang sama Mama, suruh seseorang menjemputku," kata Alinda.
Greeta mengangguk. "Iya, nanti aku bilang ke Mama kamu. Untung Elan nggak kerasukan. Aku bisa pulang sama dia."
Zahra mengusap bahu Amadhea. "Aku juga nggak bisa pulang sekarang, nih. Karena aku PKS (Polisi Keamanan Siswa), aku disuruh guru pembimbing membantu PMR."
Amadhea tersenyum. "Nggak apa-apa, kok. Aku bisa pulang naik Bus."
"Hati-hati di jalan."
Amadhea mengangguk. Ia berjalan kaki sampai ke stasiun yang tak jauh dari SMA Germada.
Hujan turun mengguyur bumi tanpa gerimis yang biasanya memberitahu. Amadhea memakai jaketnya saat suhu terasa dingin. Ia duduk di bangku menunggu bus.
Amadhea menatap lurus dengan pandangan kosong. Ia mengingat apa yang baru saja dialaminya di kelas.
Aku bisa menyentuh hantu. Kenapa bisa begitu, ya? Lalu... kenapa hantu itu terlihat ketakutan sebelum mengilang saat ada suara yang memanggil namaku? Amadhea bertanya-tanya dalam hati.
Bus lewat.
Amadhea berdiri dan melambaikan tangannya, tapi bus itu sudah melaju pergi.
Amadhea mendengus menyesal. "Ah! Kenapa juga aku melamun?! Itu bus terakhir."
Saat menoleh ke sampingnya, Amadhea terkejut melihat seorang siswi berseragam SMA memegang payung merah menutupi wajahnya.
Amadhea bertanya, "Kamu juga ketinggalan bus, ya?"
Siswi itu mengangkat payungnya.
Kedua mata Amadhea terbelalak lebar melihat siswi berwajah penuh luka dan tidak memiliki bola mata itu. Ia pernah melihatnya di kelas saat Xaga melewati kelasnya tadi. Hantu siswi itu menunjukkan dirinya.
Siswi itu tersenyum mengerikan lalu mendorong Amadhea ke jalan raya.
"Aduh."
Lampu menyorot wajah Amadhea dari belakang. Ia menoleh dan melihat sebuah truk melintas ke arahnya.
Bunyi klakson terdengar nyaring di tengah derasnya hujan. Amadhea menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia membatin, beginikah akhir hidupku?
"Amadhea...." suara itu kembali terdengar.
Ketika truk itu nyaris melindasnya, seseorang menarik jaket Amadhea dan membawanya ke tepi jalan.
...π»π»π»...
^^^16.23 | 1 September 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^