SURREPTITIOUS

SURREPTITIOUS
Part 32



Setelah masakannya selesai dibuat, Zahra dan Greeta membawa semua makanan itu ke kamar Amadhea. Mereka pun makan bersama. Alinda menyuapi Amadhea. Ia juga membantu Amadhea minum obat.


Terdengar suara ketukan di pintu utama.


"Mungkin itu Tante Irma. Aku buka pintunya, ya," kata Zahra kemudian berlalu.


Benar, Irma datang sambil membawa nasi, lauk pauk, dan makanan lainnya. Ia tidak tahu kalau Zahra dan Greeta sudah memasak.


"Ya sudah, makanan dari Tante buat makan siang saja, ya," kata Irma.


"Iya, Tante, terima kasih."


"Bagaimana keadaan Dhea?"


"Dia sudah mendingan."


Setelah mengantarkan makanan, Irma langsung pulang. Sementara Greeta dan Alinda membersihkan rumah. Giliran Zahra yang menemani Amadhea.


"Kemarin Zayn nanyain nomor kamu, tapi nggak aku kasih," kata Zahra.


"Zayn?" Amadhea tampak kebingungan.


"Bukan Zayn, lebih tepatnya Xaga yang meminta nomormu melalui Zayn lalu Zayn memintanya padaku," koreksi Zahra.


Ia melanjutkan, "Aku tidak bisa memberikan nomormu pada orang lain kalau aku belum meminta izin langsung padamu."


Amadhea tersenyum. "Tidak apa-apa, berikan saja."


"Baiklah, kalau kamu mengizinkan." Zahra membawa ponselnya. Ia mengirimkan nomor Amadhea pada Zayn.


"Kamu dekat dengan Zayn?" tanya Amadhea.


Zahra tersipu. "Tidak, kami tidak sedekat itu. Papaku dan papanya Zayn berteman baik."


"Oohh." Amadhea mengangguk mengerti.


Ponsel Amadhea berbunyi. Gadis itu mengambilnya dan mengecek notifikasi yang masuk, ternyata ada chat dari nomor tak dikenal. Saat dibaca, ternyata Xaga yang mengirimkan pesan chat.


"Xaga nge-chat," kata Amadhea sambil menunjukkan chat dari laki-laki itu.


"Wah, dia sangat antusias rupanya. Setelah mendapatkan nomor kamu, dia langsung mengirimkan pesan chat," celetuk Zahra.


"Mungkin ada sesuatu yang penting." Amadhea menyimpan nomor Xaga ke kontaknya kemudian ia membalas chat tersebut.


"Dhea, dahi kamu kenapa?" tanya Zahra dengan pandangan tertuju ke dahi Amadhea.


"Ini?" Amadhea menyentuh dahi sebelah kirinya yang benjol. "Aku tidak tahu. Mungkin karena jatuh kemarin, jadinya benjol begini."


Amadhea mengambil cermin di meja lalu berkaca. Benjolan itu berbentuk oval dan sebesar ibu jari orang dewasa.


"Apa sakit?" tanya Zahra.


Amadhea menggeleng. "Aku tidak merasakan apa pun saat memegangnya."


Greeta membersihkan lantai dengan vacuum cleaner. Saat ia membersihkan lantai depan pintu di samping ujung tangga, gadis itu tampak kebingungan melihat setumpuk krayon merah yang sudah patah di depan pintu tersebut.


"Kenapa Dhea menyimpan krayon di sini?" Greeta mengumpulkan krayon tersebut lalu menyimpannya ke meja di samping pintu itu. Ia melanjutkan membersihkan lantai.


Tiba-tiba terdengar suara benda kecil yang jatuh. Greeta melihat krayon merah menggelinding dari bawah pintu.


Greeta mengambilnya lalu meletakkannya bersama krayon-krayon lainnya yang tadi ia simpan di meja.


Samar-samar Greeta mendengar suara ketukan di pintu. Namun, gadis itu mengabaikannya. Ia melanjutkan aktivitasnya dan menekan tombol super agar suara vacuum cleaner lebih keras.


Sementara di ruangan lain, Alinda terlihat sedang mengepel lantai. Ia membasahi alat pelnya dengan pemutar otomatis. Saat berbalik dan kembali mengepel, ia terkejut melihat jejak kaki anak kecil di lantai yang sudah ia pel. Jejak kaki itu menuju ke salah satu kamar.


Alinda tidak terlalu peduli. Ia melanjutkan mengepel tanpa mau mengepel ulang jejak kaki di lantai itu.


Setelah selesai membereskan rumah, Alinda dan Greeta bisa bersantai. Zahra sendiri sibuk memanaskan makanan yang tadi diberikan Irma. Mereka makan siang lebih awal, karena sudah lapar, begitu pun dengan Amadhea.


Hari mulai gelap.


Greeta sibuk sendirian video call dengan Elan. Sementara Zahra dan Amadhea yang jomblo memilih mabar game online. Sementara Alinda tampak fokus dengan ponselnya.


"Alin, kita mabar ludo bareng, yuk!" ajak Zahra.


"Kalian berdua saja," kata Alinda tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Ternyata ia sedang membalas pesan chat dari Arnold.


Jam menunjukkan pukul 10 malam. Amadhea, Alinda, Zahra, dan Greeta sudah tidur lelap.


Perlahan Amadhea membuka matanya. Ia tidak benar-benar tidur. Gadis itu melihat sosok anak kecil yang sedang berjongkok di antara Zahra dan Greeta. Anak kecil itu tampaknya sedang menatap Zahra dan Greeta.


Amadhea bangkit.


Anak kecil itu berlari keluar dari kamar sambil tertawa. Amadhea menghela napas berat. Ia beranjak dari tempat tidur kemudian keluar dari kamarnya.


Suara tawa anak kecil masih terdengar. Amadhea mencari sumber suara itu. Ia menuruni tangga. Ternyata suara tawa anak kecil itu berasal dari ruangan tersembunyi di dekat tangga.


Amadhea mendorong pintu itu. Suara khas engsel tua berkerit kala pintu dibuka.


Sosok anak kecil itu ada di ruangan tersebut. Ia membelakangi pintu. Amadhea menelan saliva.


"Kamu siapa? Kenapa kamu menggangguku?" tanya Amadhea dengan suara bergetar.


Tidak ada jawaban.


"Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa kamu menggangguku. Tapi, aku mohon... berhenti menggangguku. Aku sudah lelah," kata Amadhea lagi.


Anak kecil itu berjongkok kemudian menangis kencang. Amadhea menyentuh tengkuknya yang merinding. Ia memberanikan diri mendekat lalu menyentuh bahu anak itu.


Amadhea melihat ke sekeliling. Ia terkejut mendapati dirinya berada di ruangan asing. Anak kecil itu menghilang.


"Aku di mana? Ruangan ini...."


Amadhea ingat, ruangan tersebut adalah ruangan tersembunyi di dekat tangga. Namun, ruangan tersebut masih berfungsi sebagai kamar, seperti di mimpi sebelumnya.


"Apa aku berada di dimensi lain lagi?" Amadhea keluar dari kamar tersebut. Ia mencium aroma tumis bumbu yang menggoda. Gadis itu berlari ke dapur.


Aroma masakan tercium memenuhi ruang dapur. Aroma yang selama ini ia rindukan. Amadhea melihat seorang wanita memasak membelakanginya.


Air mata Amadhea berlinangan di pelupuk matanya. Wanita itu berbalik sambil menyajikan makanan ke meja. Ya, itu Ayuni, ibunya.


Amadhea meneteskan air matanya sambil bergumam pelan, "Mama."


Ayuni tampak lebih muda. Ia sangat cantik. Seorang pria memasuki dapur sambil membawa koran.


"Papa," gumam Amadhea. Ia melihat ayahnya yang juga masih muda dan tampan. Tidak ada satu pun uban di rambutnya yang hitam mengkilap.


"Kopinya, Mas." Ayuni menyodorkan secangkir kopi. Uap lembut menari-nari di atas kopi tersebut.


"Terima kasih, Sayang." Sudarman meniup kopi tersebut lalu meneguknya.


"Papa, Mama," panggil Amadhea.


Pandangan Sudarman dan Ayuni tertuju ke pintu. Amadhea tersenyum dengan air mata yang terus bercucuran membasahi pipinya.


Ayuni tersenyum cantik. "Anakku, kamu sudah bangun, Nak? Kemarilah, kita sarapan bersama."


Amadhea tersenyum. Ia melangkahkan kakinya. Namun, ia mendengar suara lari dari belakangnya. Seorang anak laki-laki berlari melewati Amadhea.


Pandangan Amadhea tertuju ke punggung anak laki-laki itu yang kini memeluk ibunya.


Ayuni juga membalas pelukan anak itu dan mengusap rambutnya dengan lembut.


"Putraku."


...πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»...


^^^15.50 | 1 September 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^