SURREPTITIOUS

SURREPTITIOUS
Part 48



Di kamar barunya, Nino tidak bisa tidur. Ia merasa bosan dan bangkit dari ranjang kemudian ia duduk di meja belajar. Anak laki-laki itu mulai menggambar menggunakan krayon di buku gambarnya.


Tak terasa jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Nino menyelesaikan gambarnya. Sangat lucu gambar yang ia buat itu. Dalam gambar tersebut terlihat keluarga kecil yang bahagia. Ayah, ibu, dan anak laki-laki. Di belakang mereka ada rumah besar.


Nino tersenyum senang membayangkan gambar itu akan menjadi kenyataan suatu hari nanti.


Samar-samar terdengar suara ketukan di jendela. Perhatian Nino teralihkan ke jendela itu. Ia beranjak dari kursi kemudian menyingkap gordennya, tapi tidak bisa, karena gordennya dipaku ke kusen.


Nino mencungkil paku payung yang memaku gorden tersebut ke kusen dengan sekuat tenaga.


Tanpa ia sadari, sosok wanita berwajah terbakar berdiri di belakangnya. Wanita itu menyeringai menakutkan.


Merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, Nino menoleh. Tidak ada siapa-siapa di ruangan itu kecuali dirinya.


Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh di ruangan yang merangkap dengan kamarnya. Nino tampak kaget dan ketakutan.


Ia segera tidur dan menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut. Tubuhnya gemetar dalam bungkusan selimut tersebut.


Krieeeeettttt!


Terdengar suara pintu terbuka dengan suara engsel yang khas. Kepala Nino muncul dari balik selimutnya. Ia melihat pintu kamar mandi yang merangkap dengan ruang kamarnya itu terbuka. Nino tidak melihat apa pun di sana.


"Hhhrrrgggs!!!" Tiba-tiba wajah terbakar itu muncul di depannya.


Nino berteriak tertahan lalu ia kembali bersembunyi di bawah selimutnya. Ia tidak bisa berteriak dengan keras. Suaranya tertahan di tenggorokkan. Ingin sekali anak itu berteriak sekencang-kencangnya meminta pertolongan dari orang tuanya.


Hari mulai pagi.


Ayuni membuka kunci pintu kamar Nino. Ia membuka pintunya dan melihat Nino masih tertidur. Wanita itu tersenyum kemudian berlalu ke dapur untuk memasak.


Saat Ayuni menumis bumbu, aroma lezat tercium memenuhi ruang dapur. Wanita itu sangat pandai memasak.


Setelah masakannya matang, Ayuni menyajikannya ke meja.


Sudarman memasuki dapur sambil membawa koran.


"Kopinya, Mas." Ayuni menyodorkan secangkir kopi. Uap lembut menari-nari di atas kopi tersebut.


"Terima kasih, Sayang." Sudarman meniup kopi tersebut lalu meneguknya.


Pandangan Sudarman dan Ayuni tertuju ke pintu kala melihat Nino berdiri di sana.


"Anakku, kamu sudah bangun, Nak? Kemarilah, kita sarapan bersama."


Nino berlari memeluk ibunya. Ayuni juga membalas pelukan putranya dan mengusap rambutnya dengan lembut.


"Putraku."


Ayuni menuangkan nasi dan lauk untuk Nino. Anak laki-laki itu tertawa senang.


"Nino, makan yang banyak, ya. Biar kamu kuat dan bisa melindungi Mama kelak," kata Ayuni lembut.


Nino menganggukkan kepalanya semangat. Ia pun makan.


Sudarman meletakkan garpu dan sendoknya dengan agak kasar membuat suara berdeting karena berbenturan dengan piring. Ayuni dan Nino terkejut. Mereka berdua mendongkak menatap Sudarman.


"Selera makanku hilang." Setelah mengatakan itu, Sudarman beranjak dari kursinya kemudian berlalu.


Nino menangis.


Ayuni mengusap rambut Nino. "Nino lanjutkan makannya, ya. Mama harus bicara dulu dengan Papa."


Nino hanya mengangguk. Ia menunduk sepeninggal Ayuni yang berlalu keluar dari dapur.


Nino tidak melanjutkan makan. Ia melamun lalu menatap ke pintu. Anak laki-laki itu mengintip dan melihat orang tuanya sedang bertengkar.


"Mas, kalau kamu begini terus, Nino jadi takut sama kamu. Mau bagaimana pun Nino anak kandung kita," kata Ayuni.


"Aku benar-benar tidak menyukai anak itu. Setiap aku melihatnya, aku aku benar-benar kesal," gerutu Sudarman.


"Mas...."


"Kenapa, Ayuni? Kenapa kamu melahirkan anak cacat seperti itu?!" teriak Sudarman memotong ucapan Ayuni.


"Mas, jangan keras-keras, nanti Nino dengar," kata Ayuni.


Sudarman mengusap kasar wajahnya. "Sudah aku bilang, buang saja anak itu ke panti asuhan. Merlin benar, Nino seharusnya tidak lahir ke dunia ini."


Ayuni tidak bisa menahan air matanya yang kini mengalir membasahi pipinya. "Mas menyalahkanku?"


"Kalau bukan salahmu, salah siapa lagi?! Kamu memaksaku untuk mempertahankan anak itu!" bentak Sudarman.


"Aku menyesal menikahimu, Ayuni!"


Terdengar suara bel berbunyi. Pandangan mereka berdua tertuju ke pintu utama.


Ayuni mengelap air matanya kemudian ia berlalu untuk membukakan pintu.


Sudarman berlalu ke dapur dan menyuruh Nino untuk segera masuk ke kamarnya. Sudarman mengunci kamar tersebut.


Ternyata Karnilah yang datang bertamu. Ayuni mempersilakannya masuk. Mereka berdua duduk bersebelahan di sofa.


"Apa rumahnya nyaman?" tanya wanita itu.


"Sangat nyaman," kata Ayuni.


"Mungkin rumahnya memang terlihat agak tua, maklum usia rumah ini sudah dua ratus tahun," kata Karnilah sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling melihat perubahan rumah tersebut setelah ditinggali Sudarman dan Ayuni.


"Suami saya sangat menyukai desainnya yang seperti bangunan bergaya Eropa, Bu Karnilah," kata Ayuni.


Karnilah tersenyum. "Syukurlah kalau kalian merasa nyaman di rumah ini."


"Sekarang Bu Karnilah tinggal di mana?" tanya Ayuni.


"Aku tinggal di luar provinsi, di sebuah pantai yang indah dikelilingi hutan bakau," ucap Karnilah.


Angin lembut berhembus masuk dari ventilasi udara membuat ruangan itu terasa sejuk.


Tiba-tiba lukisan Pantai Mati jatuh tanpa sebab. Pandangan Ayuni dan Karnilah tertuju ke lukisan tersebut di lantai.


"Lukisannya jatuh," kata Ayuni sambil beranjak dari sofa lalu membenarkan lukisan tersebut.


Karnilah merasakan ada sesuatu yang lain yang hadir di ruangan tersebut. Untuk mengalihkan pikirannya, Karnilah bersuara, "Aku tinggal di pantai yang ada dalam lukisan tersebut, Pantai Mati."


"Pantai Mati? Namanya agak menyeramkan," kata Ayuni sambil memandangi lukisan tersebut.


Bu Karnilah tersenyum membuat keriputnya semakin nyata. "Ya, tempat itu memang terkenal menyeramkan, tapi bagi orang sepertiku, aku sudah terbiasa dan merasa nyaman."


Ayuni mengangguk mengerti. Ia kembali duduk di samping Karnilah.


"Kalian masih muda dan bisa memiliki banyak anak untuk mengisi hari-hari kalian di rumah sebesar ini," kata Karnilah.


Ayuni tersenyum sendu. "Semoga tahun ini kami diberikan keturunan."


Dalam hati, Ayuni membatin, aku sudah memiliki seorang putra yang tampan dan baik hati. Dia adalah putraku yang sangat aku sayangi.


"Kalau begitu, aku pulang, ya." Karnilah berpamitan.


Ayuni mengangguk. Ia mengantar Karnilah sampai depan rumah.


Karnilah menaiki mobil klasik yang terparkir di pelataran rumah yang tadi membawanya ke sana. Wanita tua itu membuka pintu mobil lalu masuk.


Mobil pun melaju meninggalkan rumah tersebut.


Karnilah menghela napas berat. Ia membatin, padahal aku sudah mengusir semua hantu di rumah itu sebelum ditempati oleh Sudarman dan istrinya, tapi kenapa masih banyak yang berkeliaran? Semoga mereka baik-baik saja. Aku sudah membangun benteng pelindung untuk menjaga keluarga mereka dari ilmu hitam dukun zaman sekarang.


...πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»...


^^^14.16 | 1 September 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


^^^Ig @ucu_irna_marhamah ^^^