
Setelah mengantarkan Haifa dan Leha sampai ke depan mushola, Amadhea kembali ke kelas. Ia berpapasan dengan Xaga di tangga.
"Aku harus bicara sama kamu," kata Amadhea.
Xaga mengangguk. "Baiklah."
Amadhea tidak mengira kali ini Xaga tidak menolak.
Di bangku taman sekolah, Xaga dan Amadhea duduk bersebelahan. Mereka tampak serius berbicara.
"Kenapa kamu mau bicara denganku?" tanya Xaga.
"Aku yakin kamu menyembunyikan sesuatu. Kamu pasti tahu sesuatu," kata Amadhea.
Xaga menatap Amadhea, tidak... bukan menatap Amadhea, melainkan menatap wanita yang memiliki bola mata hitam pekat di belakang gadis itu.
Amadhea mendengus kesal sambil membuang muka. "Aku benci melihat caramu menatapku. Kenapa kamu selalu menatapku seperti itu?"
Xaga menggeleng lalu mengubah ekspresinya. "Aku tidak bermaksud melihatmu seperti itu."
Amadhea melihat jam tangannya lalu bangkit dari bangku taman. "Sebentar lagi bel masuk berbunyi, aku harus berada di kelas."
Xaga segera meraih tangan Amadhea sebelum gadis itu benar-benar pergi. "Bel masuk masih lama, orang-orang masih sholat jum'at."
Amadhea kembali duduk. "Baiklah, sekarang jelaskan apa yang membuatmu membenciku? Kalau aku memang melakukan kesalahan, aku akan meminta maaf, tapi kalau kamu tidak memiliki alasan yang jelas kenapa membenciku, kamu benar-benar jahat."
"Aku tidak pernah bilang kalau aku membencimu," sanggah Xaga.
Amadhea menatap Xaga. "Setiap melihatku, kamu suka menatapku dengan tatapan seperti tadi. Lalu kamu juga pernah bilang, kalau aku sangat mengganggu. Kamu juga membuang makanan yang aku masak susah payah."
"Kalau aku membencimu, kenapa aku menolongmu tiga kali?" Xaga balik bertanya.
Amadhea terdiam untuk sesaat. "Aku juga mau menanyakan itu."
"Kamu terlalu fokus dengan keburukanku," gumam Xaga.
"Tunggu, tiga kali?" tanya Amadhea kebingungan. "Bukannya dua kali, ya?"
"Bawang putih itu, aku juga sengaja memasukkannya ke dalam saku jaketmu," kata Xaga.
"Benar juga," gumam Amadhea.
"Tapi, sepertinya tidak semua hantu di sekitarmu takut dengan bawang putih," kata Xaga dengan tatapan tertuju ke wanita bermata hitam pekat di belakang Amadhea.
Untuk sesaat Amadhea menatap kedua manik biru gelap laki-laki di depannya itu. Amadhea baru menyadari, kalau laki-laki itu tidak menatap padanya, tapi melihat sesuatu yang lain di belakangnya.
Dia melihat apa? Aku tidak merasakan kehadiran siapa pun di sekitarku. Manusia mau pun hantu. Jadi, apa yang dia lihat? Pikir Amadhea.
Namun, saat Amadhea melihat manik biru gelap itu dengan teliti, Amadhea melihat pantulan bayangan wanita berbola mata hitam pekat. Gadis itu tersentak kaget dan tefleks menoleh ke belakangnya, tapi tidak ada siapa-siapa di sana.
Amadhea kembali menatap Xaga. "Jadi, kamu benar-benar bisa melihat hantu?"
π» Flashback π»
Setelah pembagian raport akhir semester pertama, Irma dan Amadhea melewati kelas XI-IPA-A, pandangan Amadhea tertuju ke dalam kelas unggulan itu. Tampaknya para orang tua dan siswa di kelas tersebut belum bubar. Wali kelas masih memanggil nama siswa dan membagikan raport.
Ia melihat salah seorang siswa yang menatap ke arahnya. Amadhea mengernyit bingung, karena laki-laki yang tak lain adalah Xaga itu menatap tajam padanya seolah ia memiliki dendam pada Amadhea. Padahal ia sama sekali tidak mengenal Xaga meski pun kelas mereka bersebelahan.
Karena tidak nyaman dengan tatapan Xaga, Amadhea memilih memutuskan kontak mata duluan.
Xaga masih terus menatap Amadhea bahkan setelah gadis itu menghilang dari pandangannya.
Sebenarnya apa yang dilihat Xaga?
Yang dilihat laki-laki itu adalah wanita berambut panjang dan berkulit pucat yang mengikuti langkah Amadhea di belakangnya. Yang menakutkan adalah bola matanya hitam semua.
π»π»π»
Karena terlalu menunduk, tiba-tiba Amadhea bertubrukan dengan seseorang. "Aduh, maaf."
Amadhea mendongkak menatap siswa tinggi yang barusan bertubrukan dengannya. Ternyata Xaga.
Laki-laki itu menatap tajam pada hantu wanita bermata hitam pekat di belakang Amadhea.
"Sangat mengganggu!" ucap Xaga dingin yang ditujukan pada hantu itu.
Ia menyingkir memberikan jalan untuk Xaga.
Setelah mereka berpapasan, Xaga dan Amadhea melanjutkan langkah. Namun, Xaga menghentikan langkahnya. Ia menoleh menatap wanita yang memiliki mata hitam pekat yang terus mengikuti Amadhea. Wanita menakutkan itu menatap Xaga dengan tajam.
Amadhea menghilang di belokan koridor.
"Sampai kapan hantu itu akan menempel padanya?"
π»π»π»
Saat Xaga dan Zayn makan bersama Amadhea dan Zahra, hantu wanita itu masih berada di dekat Amadhea. Ia berdiri di belakang gadis itu.
Xaga merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Sesekali ia membenarkan kalung salib di lehernya untuk mengusir makhluk itu. Namun, tampaknya itu tidak berpengaruh pada hantu bermata hitam itu.
Dia sangat kuat rupanya. Apa dia budak setan? Batin Xaga.
π»π»π»
Sewaktu di lapangan basket, pandangan Xaga teralihkan pada Amadhea. Gadis itu mengalihkan pandangannya tidak ingin berkontak mata dengan laki-laki itu.
Xaga menautkan alisnya melihat hantu wanita itu menyeringai seram. Karena kesal dengan wajah hantu itu, Xaga melemparkan bola basket di tangannya ke arah hantu itu dengan sekuat tenaga.
Amadhea membulatkan matanya. Ia segera melindungi wajahnya dengan kedua tangan.
Bola basket itu tidak mengenai Amadhea, tapi lewat ke sampingnya dan menembus tubuh hantu wanita itu lalu memantul ke dinding.
Greeta merangkul Amadhea. "Kamu nggak apa-apa?"
Amadhea yang sebenarnya masih agak kaget menggeleng pelan.
"Hei, lo! Kenapa lo ngelempar bola sembarangan! Gimana kalo kena muka orang!" Arnold menarik bagian depan baju Xaga.
π»π»π»
Suara berisik dari kelas XI-IPA-B sampai terdengar ke kelas XI-IPA-A. Zayn yang duduk sebangku dengan Elan saling pandang. Sementara Xaga terlihat biasa-biasa saja.
"Mereka heboh banget, ya," bisik Zayn.
"Lagi latihan vokal kali," jawab Elan.
Pandangan Xaga tertuju ke pintu. Ia melihat sosok anak kecil laki-laki yang usianya kira-kira 6-7 tahunan. Anak laki-laki itu memiliki sepasang mata berwarna putih polos. Ia tersenyum lebar.
Hantunya bertambah? Batin Xaga.
Bu Tessa yang sedang mengajar melihat Zayn dan Elan berbisik-bisik. "Zayn, Elan!"
Kedua laki-laki itu terlonjak. Mereka langsung menoleh pada Bu Tessa. Xaga juga menoleh pada Bu Tessa.
"Zayn jelaskan metamorfosa ayam, sementara Elan menjelaskan metamorfosa ikan!"
π»π»π»
Di kelasnya, Xaga tampak serius menulis materi di bukunya. Ia mendongkak menatap ke papan tulis. Wajah mengerikan berjarak 3 sentimeter di depan wajahnya yang terlihat. Xaga tidak terkejut sama sekali. Ia kembali menulis.
"Aku tahu kamu melihatku, Tampan," ucap hantu siswi yang memiliki banyak luka di wajahnya itu.
Xaga tidak peduli. Ia mengeluarkan kalung salibnya keluar dari balik seragamnya. Hantu siswi itu menghilang seketika disertai dengan suara teriakan.
Jam istirahat berbunyi.
Xaga dan Zayn keluar dari kelas menuju ke kantin. Pandangan Amadhea teralihkan ke jendela.
Saat melewati kelas XI-IPA-B, Xaga merasa diperhatikan, ia menoleh ke jendela kelas XI-IPA-B. Pandangannya bertemu dengan Amadhea. Keduanya saling menatap. Tiba-tiba muncul wajah mengerikan di jendela menghalangi wajah Xaga.
"Hhh!" Amadhea hampir menjerit saking kagetnya melihat wajah penuh luka itu.
Xaga juga terkejut. Ia segera mengalihkan pandangannya.
...π»π»π»...
^^^17.00 | 1 September 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^