SURREPTITIOUS

SURREPTITIOUS
Part 21



"Aku suka cowok cool, tapi kalo modelannya ngeselin kayak si Xaga, bikin emosi jadinya," gerutu Alinda.


Greeta juga terlihat masih kesal. Ia menyikut lengan Amadhea. "Ngapain juga kamu ngasih makanan sama Xaga? Daripada kamu capek bikin makanan buat Xaga, mendingan kamu masak buat aku aja. Pasti aku makan."


Amadhea tampaknya menyesal. Ia pun menceritakan apa yang terjadi padanya kemarin sewaktu pulang sekolah.


"Serius?! Dia menolong kamu?" Zahra tampaknya tidak percaya dengan cerita Amadhea.


"Aku tidak mungkin memberikan makanan padanya kalau tidak ada alasannya," ucap Amadhea.


Alinda dan Greeta saling pandang.


"Ternyata dia baik juga," ucap Alinda. Tersirat penyesalan dalam kalimatnya.


"Kalau aku tahu, aku tidak mungkin memarahinya, karena dia sudah menyelamatkan sahabatku," sesal Greeta.


Zahra bersuara, "Mungkin dia memang baik karena telah menolong Dhea, tapi menurutku dia tetap salah. Kenapa dia membuang makanan yang dibuat Dhea? Selain mubadzir, dia juga melukai perasaan Dhea yang sudah capek-capek memasak untuknya."


Alinda mengangguk. "Iya, meski pun dia sudah berbuat baik, tapi seharusnya dia tidak membuang makanannya. Kalau dia tidak mau... ya bilang aja nggak mau. Dhea tidak akan sakit hati karena makanannya ditolak, daripada dibuang seperti itu."


"Iya juga, ya. Aku nggak jadi nyesel, dah!" ketus Greeta.


"Sudah, biarkan saja." Amadhea membujuk teman-temannya agar berhenti mempermasalahkan hal tersebut.


Bel masuk berbunyi. Semua murid SMA Germada tampak serius belajar di kelas masing-masing.


Amadhea melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 11.42. Ia merasakan suasana sedikit mencekam.


Sementara di kelas IPA-A, seorang siswi di depan kelas sedang membacakan materi. Xaga tampak serius mendengarkan. Sesekali ia menuliskan bagian penting yang ia dengar ke buku catatannya.


"Aaaarrrggghhhh!!!!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar kelas.


Xaga berhenti menulis. Ia mendongkak menatap lurus ke depan.


Para murid di dalam kelas IPA-A saling pandang. Mereka khawatir dan ketakutan.


Teriakan demi teriakan kembali terdengar seperti kemarin. Hanya para siswi yang mengalami kerasukan masal. Yang paling banyak adalah siswi kelas IPS, karena kelas mereka dekat dan sejajar dengan pohon yang ditebang itu.


Lagi-lagi para guru kewalahan menangani siswi-siswi yang kerasukan. Bahkan hari ini jumlah siswi yang kerasukan dua kali lebih banyak dibandingkan kemarin.


Amadhea melihat banyak sekali makhluk mengerikan di dalam kelasnya yang menarget para siswi di ruangan tersebut. Ya, karena hantunya memang merasuki para siswi.


Semua murid di kelas IPA-B tampak panik dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengosongkan pikiran, terutama para siswi. Mereka berdo'a dengan khusyuk.


Makhluk besar merayap di dinding dan langit-langit ruangan. Makhluk yang tidak jelas jenisnya itu menuju ke arah Alinda.


Amadhea segera menarik lengan Alinda agar terhindar dari makhluk yang ingin merasukinya itu.


"Aduh," Alinda meringis pelan.


Amadhea menangkup wajah Alinda. "Fokus, Lin! Jangan bengong! Kamu harus berdo'a!"


Alinda mengangguk-anggukkan kepalanya.


Amadhea melihat Greeta jatuh tersungkur ke lantai. Sosok makhluk melata yang memiliki banyak tentakel di punggung tampaknya mengganggu Greeta. Tentakelnya melilit kaki Greeta sementara tentakel lainnya mencoba membuka mulut gadis itu.


"Greeta!" Amadhea berlari ke arah Greeta. Hantu itu melepaskan Greeta saat Amadhea mendekat.


Greeta menggenggam tangan Amadhea dengan gemetar. "Dhea, aku takut."


Amadhea mengeluarkan kalung salib dari balik seragam Greeta dan menyuruhnya untuk menggenggamnya. "Berdo'alah, jangan melamun sepertiku."


"Aku takut, aku takut." Greeta menangis dengan keringat dingin mengalir dari sekujur tubuhnya.


"Aaarrrgghh!!!!"


Amadhea tersentak kaget mendengar suara teriakan Alinda. Ia menoleh dan melihat tubuh Alinda melayang di udara. Bukan melayang, tapi makhluk yang tadi mengganggu Greeta merangkak di dinding melilit tubuh Alinda dengan tentakelnya.


Mulut Alinda yang terbuka lebar dimasuki oleh tentakel makhluk itu yang perlahan mulai masuk merasuk seluruh tubuhnya ke dalam diri Alinda melalui mulutnya. Tubuh Alinda akan jatuh.


Amadhea segera berlari dan menangkap tubuh Alinda. Karena tidak kuat, keduanya sama-sama jatuh ke lantai. Dengan posisi Alinda jatuh menimpa tubuh Amadhea.


Zahra yang masih fokus berdo'a tampak kepanasan. Ada mahkluk mirip landak yang menempel di punggungnya.


Greeta masih mencoba fokus dan berdo'a.


Amadhea menangkup wajah Alinda. "Sadar, Alinda! Alinda!!!!"


Alinda menyeringai. Tentakel-tentakel itu mencuat dari mulutnya. Amadhea benar-benar kesal.


"Keluar dari tubuh sahabatku, makhluk jelek!" gerutu Amadhea. Ia mengguncangkan tubuh Alinda.


Alinda tertawa mengejek.


Zahra terkulai pingsan. Makhluk landak itu tampaknya masih mencoba merasuki Zahra, meski tidak ada yang dilakukannya. Hanya memperhatikan Zahra dari dekat.


Amadhea ingin menolongnya, tapi ia tidak bisa meninggalkan Alinda. Amadhea kebingungan. Akhirnya ia memilih menolong Zahra dulu. Ia tidak ingin lebih banyak lagi yang kerasukan.


Amadhea mengikatkan tasbih kecil milik Zahra ke tangan gadis itu. Hantu landak itu menjauh saat Amadhea mendekat. "Apa ini aman?"


Ketika Amadhea akan kembali pada Alinda, hantu landak itu mendekati Zahra lagi. Melihat itu, Amadhea kesal. Ia kembali lalu menatap tajam pada makhluk mengerikan itu.


Mereka saling menatap untuk sesaat kemudian makhluk itu menghilang. Amadhea melihat Greeta yang sekarang diganggu hantu siswi berwajah penuh luka. Amadhea berlari menghampirinya. Hantu siswi itu mundur.


Amadhea mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukkan promo spesial makanan di aplikasi pemesan makanan pada Greeta. Tentu saja secepat kilat direspon oleh Greeta.


"Wah, aku mau yang ini." Sempat-sempatnya Greeta lapar mata saat keadaan kacau balau.


Kalau Greeta fokus pada makanan, aku yakin dia tidak akan mudah kerasukan, pikir Amadhea.


Amadhea menyuruh beberapa siswa untuk membawa Zahra yang pingsan ke ruang PMR atau ruang lain yang disediakan guru sebagai tempat untuk orang-orang yang kerasukan seperti yang dilakukan siswa-siswa kelas lain.


"Kenapa kalian diam saja?! Lihat siswa kelas lain sibuk membantu siswi kelas mereka yang kerasukan untuk dipindahkan ke tempat yang disediakan!" gerutu Amadhea sambil menangis khawatir. Ia menangis karena tidak bisa membantu banyak.


"Bagaimana kalau kami yang kerasukan?!" gerutu para siswa.


"Tidak ada yang tertarik merasuki kalian! Cepat bantu Zahra dan siswi lainnya yang pingsan!" bentak Amadhea.


Akhirnya para siswa menurut. Mereka membawa Zahra keluar dari kelas menggunakan tandu PMR.


Amadhea melihat Alinda lagi-lagi merayap ke dinding. "Makhluk menyebalkan itu! Mulai sekarang sepertinya aku akan berhenti makan gurita dan cumi-cumi."


"Alinda!" Amadhea mendorong meja lalu naik dan menarik Alinda agar tidak menjatuhkan dirinya ke lantai. Namun, bukannya berhasil menarik tubuh Alinda, Amadhea malah ikut menggantung.


Alinda merayap ke langit-langit ruangan membuat kaki Amadhea tidak lagi menapak ke meja. Ia juga menggantung bersama Alinda.


"Oh, aku benar-benar benci gurita!" Amadhea melihat ke bawah. Lumayan tinggi dan bisa membuat tulang terkilir atau bahkan patah kalau jatuh.


Alinda menatap Amadhea kemudian menyeringai menakutkan. Gadis itu melepaskan tangannya.


Amadhea menggeleng. "Tidak! Jangan melepaskan pegangan tanganmu!"


Alinda tidak mendengarkan. Gadis yang sedang kerasukan itu melepaskan kedua tangannya.


Amadhea membulatkan matanya merasakan tubuhnya melayang beberapa saat sebelum mendarat bersama Alinda ke bawah.


...πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»...


^^^04.47 | 1 September 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^