
Jalan setapak yang mereka lalui tertutup rerumputan liar. Amadhea menghentikan langkahnya. Ia tampak kebingungan.
"Aku tidak bisa melihat jalannya, aku takut kita tersesat," kata Amadhea.
Mereka pun terpaksa berhenti sebentar. Amadhea membuka ponselnya dan melihat screenshot rumah dalam hutan bakau. Ia melihat ke sekeliling.
"Tidak ada sinyal di sini. Percuma kita mencari lokasi," kata Elan.
"Ini screenshot, bukan Google Maps," ucap Amadhea.
"Oh."
Tiba-tiba sosok bayangan melintas tak jauh di depan mereka membuat mereka kaget.
Amadhea menghela napas panjang. Ia menutup matanya.
"Dhea, kamu kenapa?"
"Kenapa kamu menutup matamu di saat seperti ini?"
Sekali ini saja, aku ingin melihat jalan menuju ke rumah itu, batin Amadhea.
"Dhea?"
"Dhea?"
"Amadhea... Amadhea...."
Suara teman-temannya tidak terdengar lagi. Hanya suara deburan ombak dan hewan malam yang terdengar. Perlahan Amadhea membuka matanya.
Suasana hutan menjadi pagi. Amadhea melihat jelas jalan setapak yang ia injak, tidak ada rumput liar sama sekali. Tentu gadis itu masih ingat arah menuju ke rumah tua di dalam hutan bakau kalau jalan setapaknya kelihatan seperti itu.
Amadhea merobek sebagian roknya kemudian ia membaginya menjadi beberapa bagian dan mengikatkannya ke dahan pohon bakau di sepanjang jalan setapak tersebut.
Sampailah Amadhea di depan rumah terbengkalai itu. Ia mengikatkan bagian terakhir dari sobekan roknya di dahan pohon depan rumah tersebut.
Amadhea kembali menutup matanya.
"Dhea? Dhea?"
Perlahan Amadhea membuka matanya. Ia melihat teman-temannya menatap cemas padanya.
"Kenapa kamu tiba-tiba tidur sambil berdiri?"
"Aku baik-baik saja." Amadhea melangkahkan kakinya. Ia menyorotkan senter ponselnya ke dahan pohon. Benar saja, kain sobekan rok Amadhea tampak mengikat dahan di salah satu pohon.
"Kain biru itu apa? Ini seperti warna kain rok yang kamu pakai, Dhea," ucap Alinda dengan pandangan tertuju ke rok yang dikenakan Amadhea.
Zahra terkejut melihat sebagian rok yang dipakai Amadhea robek. "Rok kamu robek, tapi sejak kapan? Perasaan tadi rok kamu nggak robek. Kamu nggak jatuh, kan?"
Amadhea menggeleng. "Tidak apa-apa. Kita ikuti petunjuk ini, ya."
Mereka pun sampai di depan rumah terbengkalai di tengah-tengah hutan bakau. Amadhea menyentuh kain terakhir yang ia ikat di pohon depan rumah sewaktu di dimensi lain.
Amadhea menyentuh gagang pintu lalu mendorongnya. "Tidak terkunci."
"Ini menyeramkan sekali," kata Greeta sambil memeluk lengan Elan.
"Aku akan berjaga di luar," kata Arnold.
"Aku juga," ucap Zayn.
Selain Zayn dan Arnold, yang lainnya masuk ke dalam. Ruangannya sangat gelap. Tidak ada penerangan apa pun. Mereka menggunakan senter ponsel untuk melihat ke sekitar.
"Aaa!!!" teriak Alinda senternya tidak sengaja menyorot sosok menakutkan.
Amadhea meraba-raba ke dinding mencari saklar. Saat saklar lampu dinyalakan, lampu temaram yang menerangi ruangan itu.
Ini seperti di mimpiku, batin Amadhea. Ia melihat ke sekeliling. Posisi benda-benda di ruangan itu masih sama seperti di mimpinya. Hanya saja sofa, meja, dan lemarinya berdebu. Bahkan ada banyak sarang laba-laba menghiasi ruangan tersebut.
"Dari mana listriknya? Bukankah hanya ada satu rumah di sini?" tanya Elan.
"Entahlah." Xaga mengedikkan bahunya.
Terdengar suara serak wanita membaca mantra. Mereka mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tiba-tiba tubuh Zahra terseret oleh sesuatu yang tak terlihat.
"Zahra!!!" Alinda dan Elan berlari mereka menarik tangan Zahra.
Saat Xaga dan Greeta ingin membantu, tiba-tiba tubuh Amadhea tertarik ke sisi lain.
"Dhea!" Xaga dan Greeta menarik tangan Amadhea.
Alinda dan Elan tidak cukup kuat. Alhasil mereka tertarik masuk ke salah satu ruangan bersama Zahra. Pintunya terbanting dan langsung terkunci.
"Xaga!" Greeta yang masih menarik tangan Amadhea menoleh pada Xaga.
Amadhea melihat kepala rusa yang ditempel di dinding akan jatuh. Ia segera mendorong Greeta agar menjauh.
Kepala rusa itu jatuh, tapi beruntung tidak mengenai Amadhea, karena gadis itu langsung menggelinding ke samping kanan.
"Kamu nggak apa-apa?" Greeta menangkup wajah Amadhea. Amadhea menggeleng.
Mereka berdua menghampiri Xaga. Amadhea membantu Xaga berdiri. Sementara Greeta mencoba membuka pintu yang menjebak Zahra, Alinda, dan Elan.
"Alinda?! Zahra! Elan?! Kalian di dalam?!" panggil Greeta. Ia menggedor-gedor pintu tersebut.
Di dalam ruangan itu, tampak Zahra, Alinda, dan Elan.
Zahra memegangi lengannya yang sakit. "Aduuhh."
Alinda mengusap lengan Zahra. "Sakit sekali, ya?"
"Kenapa di sini gelap sekali?" Elan mencari saklar lampu dengan meraba-raba dinding. Ia menemukannya. Lampu menyala redup di ruangan itu.
"Apa itu?" Zahra menunjuk sesajen dan dupa di meja.
"Alinda, apa kamu mengerti ini apa?" Elan bertanya pada Alinda.
"Ini seperti persembahan untuk pemujaan setan. Lihatlah, semua jumlah sesajennya ganjil," kata Alinda.
Terdengar suara gedoran di pintu disertai suara Greeta, "Alinda?! Zahra! Elan?! Kalian di dalam?!"
Elan memutar knop pintu, tapi terkunci. "Aku di sini, Greeta."
"Kalian baik-baik saja? Bagaimana kondisi Zahra?" tanya Greeta dari luar sana.
"Lengan Zahra terkilir, Alinda sedang memberikan penanganan," jawab Elan. "Bagaimana dengan kalian? Kalian baik-baik saja?"
"Zahra terkilir?!" Greeta yang terlihat khawatir. Ia melihat pada Xaga yang duduk bersandar ke dinding sementara Amadhea berjongkok di depannya. "Xaga terlempar dan membentur dinding,"
"Apa dia berdarah? Dia tak sadarkan diri?" tanya Elan.
"Dia tidak berdarah, juga tidak pingsan, tapi dia kesakitan," jawab Greeta.
Sementara Zayn dan Arnold tidak mendengar apa pun. Mereka mengedarkan pandangannya ke sekeliling mengawasi situasi.
"Sinyal di sini memang jelek, tapi aku akan menghubungi polisi untuk berjaga-jaga," ucap Arnold sambil melihat ke layar ponselnya.
"Bagaimana caranya?" tanya Zayn.
"Aku mengirimkan sinyal darurat. Setelah terhubung dengan radar, kepolisian akan menerima sinyalku dan datang ke lokasi kita," ucap Arnold.
"Wah, kamu keren sekali," puji Zayn.
"Aku belajar dari temanku yang kelas IPS, dia tergabung dengan ekstrakurikuler Geografi."
Amadhea melihat ke ruang tamu. Ada lukisan besar yang tertutup oleh sarang laba-laba. Gadis itu membersihkannya.
Seperti dalam mimpinya. Itu adalah lukisan tujuh orang wanita berkebaya. Ada wajah yang mirip dengannya.
Greeta dan Xaga menghampirinya.
"Wah, yang ini mirip sekali denganmu, Dhea," kata Greeta.
Amadhea menatap wanita cantik yang duduk di tengah. Tak lain itu adalah hantu wanita bermata hitam pekat. "Dia ibu dari semua wanita-wanita ini, tapi aku tidak melihat perbedaan mereka sama sekali."
"Iya, mereka semua terlihat seperti seumuran," ucap Greeta.
"Kira-kira lukisan ini dibuat tahun berapa, ya? Terlihat sangat tua dan sudah pudar catnya," gumam Xaga.
"Lukisan ini kurang lebih dibuat pada 1890-an," ucap Amadhea.
"Wah, kamu tahu?" tanya Greeta.
Amadhea mengangguk. "Biasanya ada tulisan tanggal dan nama pelukisnya di sudut belakang atau depan lukisan."
Xaga tampak penasaran. Ia mencoba mengangkat sedikit lukisannya untuk melihat bagian belakang sudutnya.
Tanpa mereka sadari sosok wanita tua tengah memperhatikan mereka. "Sedang apa kalian di rumahku?!"
...π»π»π»...
^^^16.16 | 1 September 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^