SURREPTITIOUS

SURREPTITIOUS
Part 22



Amadhea dan Alinda jatuh bersama-sama.


Amadhea menutup matanya, tapi ia tidak merasakan kerasnya terbentur dengan lantai. Ia merasakan sepasang tangan kekar yang menangkap tubuhnya.


Perlahan Amadhea membuka matanya. Ia melihat wajah tampan yang begitu dekat dengannya. Xaga yang menangkap tubuhnya. Mereka saling menatap untuk sesaat.


"Alinda." Amadhea segera turun dari Xaga dan melihat Arnold menggendong Alinda. Ternyata laki-laki itu juga menangkap tubuh Alinda seperti Xaga menangkap tubuhnya.


Alinda tampaknya tak sadarkan diri dalam pelukan Arnold.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Arnold.


Amadhea menggeleng. "Tolong bawa Alinda ke ruangan yang disediakan guru untuk orang pingsan, ya."


Arnold mengangguk.


Amadhea melirik Xaga. "Kamu ngapain di sini? Seharusnya kamu menolong teman-teman sekelas kamu."


Xaga tidak menjawab.


Amadhea berlalu melewati Xaga. Gadis itu menghampiri Greeta. "Lebih baik kita...."


Greeta mendongkak menatap Amadhea dengan mata merah.


Amadhea terkejut. Greeta juga kerasukan? Aku lengah lagi. Bagaimana ini?


Greeta mendorong Amadhea dan menindihnya. Gadis itu berteriak di depan wajah Amadhea.


Amadhea menahan bahu Greeta yang terlihat seperti ingin memakannya. "Greeta!"


"Kalian sudah mengambil rumah kami, sekarang kami akan mengambil rumah kalian dan raga kalian!" Greeta berbicara dengan suara berat seperti nenek-nenek.


"Aarrgghh!!!" Amadhea berteriak saat Greeta nyaris menggigit wajahnya.


Beruntung Elan dan Zayn datang. Mereka menarik tubuh Greeta yang menindih Amadhea.


Xaga juga menarik lengan Amadhea agar segera berdiri dan menjauh dari Greeta yang masih ingin melukai Amadhea.


"Kami akan membawanya ke ruangan di lantai 1. Semua siswi yang kerasukan dibawa ke sana untuk ditangani," kata Elan.


Amadhea mengangguk. "Tolong, ya."


"Rumahku! Rumahku!" Greeta mengamuk dalam ringkusan Elan dan Zayn.


Beberapa pemuka agama sudah tiba dan menolong para siswi yang kerasukan. Mereka memanjatkan do'a-do'a sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.


Para siswi yang kerasukan dipisahkan dari ruangan yang sama untuk menghindari kerasukan masal yang lebih besar.


Di lapangan basket, para murid yang tidak menunjukkan 'gejala' kerasukan dipersilakan untuk berdoa agar membantu kelancaran proses mengeluarkan makhluk-makhluk dari tubuh para siswi.


Hanya beberapa siswi yang tidak mengalami kerasukan. Rata-rata murid di lapangan basket adalah para siswa.


Salah satu siswi yang ada di lapangan basket adalah Amadhea. Bahkan ia satu-satunya siswi dari kelas XI-IPA-B yang tidak mengalami kerasukan atau pun pingsan.


Arnold duduk di sebelahnya. Ia meberikan sebotol air minum pada Amadhea. "Kita baru saja bersyukur, karena corona sudah tidak ada. Malah datang lagi masalah baru."


Amadhea menerima botol tersebut. "Kamu nggak minum? Dari tadi aku lihat kamu doang yang membawa siswi-siswi yang kerasukan di kelas kita. Siswa lainnya tidak melakukan apa-apa."


"Aku punya." Arnold menunjukkan botol miliknya yang sudah diminum setengah. "Lagian aku dibantu Zayn dan Elan, tetangga kelas kita."


"Iya, siswa kelas A sangat kompak. Berbeda dengan kelas kita," ucap Amadhea.


"Ya, meski pun kadang si Xaga menyebalkan, tapi tadi membantuku," ujar Arnold.


"Ya, dia memang menyebalkan," ucap Amadhea. "Eh, bagaimana keadaan Alinda?"


"Di antara semua siswi kelas kita, Alinda yang paling sulit ditangani. Aku khawatir padanya," jawab Arnold. Tersirat ekspresi kecemasan di wajahnya.


Amadhea terlihat sedih.


"Kamu bisa melihat hantu? Atau mungkin kamu punya indera keenam?" Arnold menatap serius pada Amadhea.


"Dari kemarin aku melihatmu sibuk sendiri ke sana ke mari seperti sedang menolong teman-teman kamu agar terhindar dari sesuatu. Aku kira kamu melihat mereka," kata Arnold.


Amadhea tampak berpikir. "Sebenarnya kemarin dan tadi aku merasa tidak enak badan. Aku pikir aku hampir kerasukan, jadinya aku mencari kesibukan sendiri agar tetap fokus. Salah satunya dengan cara mengingatkan teman-temanku agar tetap fokus dan berdo'a."


"Oh." Tampaknya Arnold percaya.


Amadhea membatin, aku bisa melihat hantu-hantu itu semenjak orang tuaku meninggal dunia. Sebelumnya aku tidak bisa melihat mereka, tapi aku merasakan kehadiran mereka. Masalah hantu di rumahku saja belum selesai, ditambah masalah hantu di sekolah.


Terlintas di benak Amadhea bayangan hantu wanita berwajah terbakar, hantu anak kecil bemata putih, dan hantu wanita bermata hitam semuanya.


Hantu-hantu di rumahku tampak normal. Tidak lebih menyeramkan dibandingkan dengan hantu-hantu di sini yang bentuknya aneh, tapi aku merasa aura yang berbeda saat bertemu dengan mereka. Hantu-hantu di rumahku memang terlihat seperti hantu manusia normal, tapi aura mereka jauh lebih menakutkan, ucap Amadhea dalam hati.


Pandangannya tertuju ke hantu-hantu yang berkeliaran di lapangan basket. Tampaknya hantu-hantu itu mencari siswi yang bisa mereka ganggu untuk dirasuki. Amadhea menghela napas berat.


Kenapa mereka memilih merasuki para siswi? Apa karena mereka berpikir kalau siswi lebih lemah dan lebih mudah dirasuki? Pikir Amadhea.


Xaga, Zayn, dan Elan duduk di samping Amadhea dan Arnold sesuai instruksi guru agar murid duduk rapi di lapangan basket sesuai urutan kelas masing-masing.


"Kamu doang yang sadar? Maksudku yang nggak kerasukan?" Elan bertanya pada Amadhea yang duduk tepat di sampingnya. Ia melihat semua murid kelas XI-IPA-B di lapangan basket laki-laki semua, kecuali Amadhea.


Amadhea mengangguk. Ia melihat kumpulan siswa IPA-A tidak ada siswinya satu pun.


"Zahra di mana? Dia kerasukan juga?" tanya Zayn.


Amadhea menggeleng. "Tadi dia pingsan. Aku meminta bantuan siswa di kelasku untuk membawanya dengan tandu ke ruangan di lantai 1."


"Bagaimana dengan Greeta? Apa dia baik-baik saja?" Amadhea balik bertanya.


"Dari tadi dia meneriakkan, 'rumahku, rumahku!' terus. Dia sedang ditangani," jawab Elan.


Amadhea melihat Xaga yang diam saja sedari tadi. Laki-laki itu tampak melamun.


Arnold menepuk bahu Xaga. "Hei, jangan melamun. Nanti kalau lo kerasukan gimana?"


Xaga melirik kesal pada Arnold. Amadhea menyikut lengan Arnold agar tidak membuat Xaga tersinggung.


"Mereka hanya mengincar para siswi." Setelah mengatakan itu, Xaga beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi entah ke mana.


"Dhea."


"Hm?" Amadhea menoleh.


"Kami minta maaf karena Xaga tadi membuang makanan kamu. Dia sebenarnya bukan orang yang seperti itu," kata Zayn.


"Dia bukan orang yang seperti itu, tapi wajah dan sikapnya memang agak nyebelin, sih," sahut Elan.


Arnold mendengarkan.


"Bukan kalian yang salah, tapi kenapa kalian yang meminta maaf? Lagian aku yang salah, kok. Seharusnya aku nggak ngasih makanan ke orang itu," kata Amadhea.


"Tapi, kan, Xaga juga teman kami. Gara-gara masalah itu, Greeta jadi marah padaku," ujar Elan.


"Sepertinya Zahra juga marah padaku," ucap Zayn.


"Mereka tidak marah, kok," hibur Amadhea.


Do'a dimulai.


Zayn menengadahkan tangannya dan berdo'a dengan khusyuk. Elan dan Arnold menangkup dan menautkan jemari. Dua laki-laki itu juga berdo'a.


Amadhea membatin, semoga setelah ini semuanya baik-baik saja.


...πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»...


^^^13.33 | 1 September 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^