
Amadhea telah tiba di rumahnya. Ia membuka pintu gerbang kemudian masuk. Rumah besar bertingkat dua itu tampak tua dan menyeramkan. Halamannya tidak terurus. Ada banyak sulur yang merambat ke pagar gerbang dan benteng rumah. Tanaman-tanaman hias di pot tampak sudah layu.
Burung-burung liar bertengger di kolam air mancur yang airnya sudah tidak mengalir lagi, tapi menggenang berwarna hijau kehitaman dan banyak jentik nyamuk di air kotor itu.
Meski pun ruangan di dalam rumahnya juga menyeramkan, tapi setidaknya tidak lebih menyeramkan jika dilihat dari luar.
Di ruang tamu, ada dua foto besar. Yang satu seorang pria paruh baya dengan kumis dan jambang yang sedikit memutih. Ia tersenyum bijak. Sementara foto yang satunya adalah wanita cantik yang kira-kira berusia 35 tahunan. Wanita itu tersenyum keibuan.
Di dapur, Amadhea memotong daging. Tampaknya ia sudah mandi dan terlihat lebih segar. Gadis itu mencuci potongan daging tersebut lalu mulai menyalakan kompor dan menumis bumbu.
Aroma rempah dari bumbu yang digoreng itu memenuhi seisi ruangan. Amadhea memasukkan daging yang sudah dipotong dan dicuci itu ke wajan lalu mengaduknya agar bumbu-bumbu yang ditumis itu meresap. Amadhea memasukkan sedikit air.
Sambil menunggu dagingnya matang, Amadhea menuangkan nasi dari rice cooker ke piring. Uap lembut menari-nari di atas gumpalan nasi itu. Kemudian Amadhea mengambil botol susu dari dalam kulkas.
Setelah masakannya matang, ia pun duduk di meja makan sendirian lalu menyantap makanannya dengan lahap.
Hening.
Yang terdengar hanya suara ketukan sendok dan piring. Bahkan detik jarum jam di ruang tamu pun sampai terdengar ke dapur.
Garpu di samping piring perlahan bergeser tanpa disadari Amadhea. Semakin lama, garpunya semakin bergeser.
Amadhea mengambil garpu dari samping piringnya, tapi tidak ada. Ia melihat garpu itu berada di jarak yang agak jauh dari tempatnya saat ia menyimpan tadi. Gadis itu terdiam sesaat dan tampak berpikir. Namun, ia tidak peduli lalu mengambil garpu itu dan menusukkannya ke daging dan memakannya.
Tiba-tiba botol susunya jatuh dan isinya tumpah membasahi lantai. Amadhea terpaksa berhenti makan. Ia berjongkok dan mengambil botol susu itu. Sesaat Amadhea berhenti melakukan aktivitasnya. Ia mendengar suara ketukan sendok dan piring. Padahal jelas ia tidak sedang makan, melainkan memegang botol susu yang tumpah. Dan yang pasti ia sendirian di rumah itu.
Amadhea menelan saliva. Ia melihat ke kolong meja di mana ada kursi kosong di depannya. Ia melihat ada sepasang kaki menandakan ada seseorang yang duduk di sana. Amadhea segera berdiri dan melihat ke kursi tersebut dan ke sekelilingnya. Tidak siapa-siapa di ruangan itu. Suara ketukan sendok dan piring yang ia dengar tadi juga sudah menghilang.
Namun, satu hal yang membuat Amadhea terkejut. Makanan di piringnya tampak acak-acakan seperti dicakar kucing. Padahal tadi ia baru makan 3 suap. Ia tidak pernah berantakan saat makan.
Keesokan harinya, di kantin sekolah.
Greeta _siswi yang suka makan di kelas_ sedang makan nasi kuning dengan lahap. Ia bahkan sudah makan 2 porsi sebelumnya. Terlihat dua piring yang menumpuk di meja.
Alinda _siswi yang kemarin di kelas memberikan kode pada Greeta agar berhenti makan saat pembelajaran Bu Tessa berlangsung_ hanya menggelengkan kepalanya melihat kerakusan Greeta.
"Kamu sudah nambah 1 porsi lagi, Greeta. Nanti kamu pengen ke toilet pas di kelas," tegur Zahra _siswi berhijab_.
"Aku sudah BAB tadi di rumah," ucap Greeta.
Alinda menyikut lengan Greeta. "Ih, jorok."
Amadhea memasuki kantin. Ia membeli roti kemudian melihat teman-teman sekelasnya juga ada di sana.
"Kalian tidak memakai masker?" tanya Amadhea.
Ketiga siswi itu menoleh padanya. Zahra segera menaikkan maskernya. Alinda mengikuti apa yang dilakukan oleh Zahra. Sementara Greeta masih peduli dengan makanannya.
"Aku sedang makan, bagaimana caranya makan sambil memakai masker?" celetuk Greeta.
Amadhea duduk di samping Zahra. Ia menurunkan maskernya sedikit lalu memakan rotinya. Baru saja digigit, bel berbunyi.
Para murid di kantin segera membayar makanan mereka, termasuk Greeta kemudian mereka memasuki kelas masing-masing.
Di dalam kelas, murid-murid tampak serius mengerjakan tugas. Guru laki-laki duduk di meja guru sambil melihat buku. Dari pin di bajunya, tertera nama Dedi.
Zahra tampak serius mengerjakan soal matematika di bukunya, begitu pun dengan Amadhea yang duduk di bangku yang bersebelahan dengannya.
Di belakang mereka ada Greeta dan Alinda. Alinda tampak fokus mengerjakan soalnya. Sementara Greeta meringis sambil memegangi perutnya. Bahkan perutnya kini berbunyi.
Alinda menoleh pada Greeta.
Greeta memberikan kode sambil memegangi perutnya. Alinda menganggukkan kepalanya.
"Pak." Greeta mengangkat tangan.
Pak Dedi mendongkak dan menoleh pada Greeta. "Ada apa, Greeta?"
"Saya izin ke toilet sebentar," ucap Greeta.
Pak Dedi mengangguk. "Silakan."
Tak lama kemudian, bel berbunyi.
Semua murid keluar dari kelas. Alinda dan Zahra melihat ke sekeliling.
"Kok, Greeta lama banget, sih. Dia ngapain di toilet?" gerutu Alinda.
"Mungkin dia mandi," celetuk Zahra.
Amadhea keluar dari kelas menyusul Alinda dan Zahra. "Greeta ke mana?"
"Mungkin dia masih di toilet," jawab Zahra.
"Kalian pulang naik bus?" tanya Amadhea.
"Aku dijemput Ayah," jawab Zahra.
"Rumahku dekat, aku tinggal jalan kaki," kata Alinda.
"Hei, tunggu!" Greeta berlari menghampiri mereka bertiga.
"Kamu lama banget, sih? Ngapain di WC?" gerutu Alinda.
"Perutku sakit," ujar Greeta sambil mengusap perutnya.
"Aku 'kan udah bilang, jangan makan terlalu banyak," ucap Zahra.
"Iya, iya, lain kali aku makan 2 porsi saja," celetuk Greeta.
Zahra dan Alinda terlihat kesal. "Ah, Greeta."
Amadhea tersenyum di balik maskernya melihat tingkah teman-teman. "Greeta, kamu pulang naik bus?"
"Tadi aku sudah janji sama Elan mau pulang bareng, maaf, Dhea." Greeta terlihat sedih.
Amadhea menggeleng. "Oh, tidak apa-apa."
"Greeta!" panggil seorang siswa yang baru keluar dari kelas tetangga, yaitu kelas XI-IPA-A.
Greeta dan ketiga temannya menoleh pada laki-laki itu.
"Elan!" Greeta melambaikan tangannya.
"Aku duluan, ya." Greeta menggandeng tangan Elan kemudian melambaikan tangannya pada Amadhea, Alinda, dan Zahra.
"Hei, jangan gandengan begitu, nanti terpapar virus!" Ledek Alinda.
"Kita yang nungguin dia, eh dia malah pergi sama orang lain," ujar Zahra.
"Ya, hanya dua yang tidak bisa Greeta tolak, makanan dan Elan," gerutu Alinda.
Zahra menggandeng tangan Amadhea. "Ayo, Dhea, pulang denganku saja. Ayahku akan mengantarmu sampai rumah."
"Tapi, apa tidak merepotkan?" Tanya Amadhea.
"Kamu tidak digendong ayahku, jadi tidak merepotkan," ujar Zahra.
Alinda mengangguk. "Iya, bareng sama Zahra saja."
Mereka bertiga pun berlalu.
"Dhea!" panggil seorang guru perempuan.
Langkah mereka bertiga terhenti dan menoleh pada wanita itu.
"Dhea, bisa bicara dengan Ibu sebentar?" tanyanya.
Alinda dan Zahra saling pandang. Amadhea mengangguk. Ia pun memasuki ruang guru.
^^^π»π»π»^^^
^^^09.33 | 1 September 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah^^^