SURREPTITIOUS

SURREPTITIOUS
Part 10



Pemerintah menyatakan bahwa masa pandemi corona telah berakhir di Indonesia. Para murid diperbolehkan mengikuti pembelajaran tatap muka secara keseluruhan, pabrik-pabrik dan perkantoran kembali buka, shift tidak berlaku lagi, para karyawan tidak lagi WFH.


Dunia kembali aman dari virus mematikan yang telah lama singgah di planet bumi.


Amadhea pergi ke sekolah. Ia melihat murid-murid yang bergerombol di kantin dan koridor. Mengingat kejadian sebelumnya, Amadhea tidak ingin melihat mereka. Ia menunduk menghindari pandangan dari mereka.


Bagaimana jika mereka hantu seperti waktu itu? Menyeramkan, batin Amadhea sambil mempercepat langkahnya.


Karena terlalu menunduk, tiba-tiba ia bertubrukan dengan seseorang. "Aduh, maaf."


Amadhea mendongkak menatap siswa tinggi yang barusan bertubrukan dengannya. Ternyata laki-laki kelas XI-IPA-A yang waktu itu menatapnya dengan ekspresi dingin. Dari tanda namanya tertera Xaga Agustan B.


"Sangat mengganggu!" ucap laki-laki bernama Xaga itu dingin.


"Apa?" gumam Amadhea. Ia pun menyingkir memberikan jalan untuk Xaga.


Setelah mereka berpapasan, Xaga dan Amadhea melanjutkan langkah. Namun, Xaga menghentikan langkahnya. Ia menoleh menatap punggung Amadhea yang kemudian menghilang di belokan koridor.


SMA Germada terlihat lebih ramai sekarang. Pak Juki dan Pak Tarmin tampak mengerjakan tugas masing-masing. Para guru juga antusias mengajar murid-murid yang lengkap. Beberapa murid ada yang mendengarkan, menuliskan materi, dan ada juga yang tertidur di kelas. Itu pemandangan yang biasa dan lebih baik dari pada kelas kosong dengan semua murid serta pengajar yang duduk berjauhan dengan masker menutupi hidung dan mulut mereka.


Gerakan tangan Amadhea yang sedang menulis di buku tampak sangat cepat. Ia menuliskan semua yang didikte oleh guru. Meski pun tatapannya kosong. Ia melamun lagi.


Kebetulan yang mengajar Bu Tessa. Ia menghela napas berat melihat Amadhea yang terus melamun walau tangannya terus menulis. Tidak ada gunanya menegur Amadhea, gadis itu sudah pasti bisa menjawab pertanyaannya. Setelah itu, melamun lagi.


Bel istirahat berbunyi.


Greeta menggandeng tangan Alinda. "Di depan gerbang ada banyak pedagang sekarang. Pasti banyak makanan enak, ayo kita borong. Zahra, Dhea, ayo!"


"Aku mau makan di kantin saja. Capek naik turun tangga," kata Zahra.


"Aku juga," sahut Amadhea.


"Kalau begitu, kami duluan, yaaa!" Greeta menarik Alinda.


"Hei, jangan buru-buru!" gerutu Alinda.


Amadhea dan Zahra menggeleng pelan melihat itu. Mereka berdua pergi ke kantin dan membeli beberapa makanan lalu duduk di salah satu meja.


Zahra berdo'a dulu sebelum makan kemudian ia menyantap makanannya.


"Ini enak sekali," kata Amadhea.


Zahra mengangguk.


"Zahra?"


Amadhea dan Zahra menoleh pada kedua siswa yang masing-masing membawa piring berisi makanan.


"Zayn?" Tampaknya Zahra mengenali salah satu dari siswa itu.


Amadhea melihat pada siswa yang satunya, ternyata Xaga.


"Mejanya penuh, apa kita bisa bergabung?" tanya siswa bernama Zayn itu.



(Zayn)


Zahra menoleh pada Amadhea seolah meminta izin darinya. Amadhea hanya mengangguk. Xaga dan Zayn duduk berhadapan dengan Amadhea dan Zahra. Mereka berempat makan bersama.


Selesai makan, Amadhea berharap Zahra dan dirinya segera kembali ke kelas, tapi Zahra malah berbicara dengan Zayn.


"Peringkatku menurun, sebelumnya aku menduduki peringkat kedua. Semester kemarin aku menduduki peringkat ketiga," kata Zayn.


"Peringkatku juga menurun," sahut Zahra.


"Jadi, sekarang siapa peringkat pertama di kelas XI-IPA-B?" tanya Zayn.


"Amadhea." Zahra menunjuk Amadhea yang duduk di sampingnya.


"Wah, dia sama denganmu," ucap Zayn sambil menyikut lengan Xaga.


Xaga tidak merespon. Amadhea juga tampaknya tidak peduli.


Zahra mengangguk. "Sepertinya semua kelas memang sama."


Bel berbunyi.


Semua murid kembali ke kelas masing-masing. Setelah pembelajaran berakhir, semua murid pun pulang.


Amadhea memilih untuk menaiki bus bersama Zahra yang tidak dijemput oleh ayahnya, karena Pak Ahmad sedang sakit.


"Kamu sering menaiki bus ini kalau pulang?" tanya Zahra.


Amadhea mengangguk sambil duduk di dekat jendela dan Zahra duduk di sebelahnya.


"Kebetulan rumahku dekat dengan pemberhentian bus," ucap Zahra.


"Benarkah?"


Zahra mengangguk sambil mengeluarkan ponselnya lalu memainkannya.


Sementara Amadhea terlihat khawatir. Ia membatin, semoga kali ini tidak ada kejadian aneh lagi seperti waktu itu.


Bus melaju meninggalkan terminal.


Melihat Zahra yang fokus dengan ponselnya, Amadhea juga memainkan ponselnya. "Mabar, yuk."


"Mabar apa?" Zahra tertarik.


"Congklak, catur, atau ludo," jawab Amadhea.


"Okay!" Zahra tampak antusias.


Mereka berdua sibuk bermain game bersama. Amadhea mendengar suara tangisan bayi dari kursi belakang. Padahal dari tadi tidak ada penumpang bus yang membawa bayi.


Amadhea mengambil cermin dari tasnya lalu ia bercermin. Sebenarnya gadis itu tidak benar-benar ingin mengaca, tapi ia ingin melihat penumpang di belakangnya dengan menggunakan cermin tersebut sebagai spion.


Namun, tidak ada siapa-siapa di belakangnya.


"Giliran kamu, Dhea," ucap Zahra.


Amadhea menjalankan bidak caturnya di layar. Suara tangisan bayi itu semakin terdengar jelas.


"Wah, ini susah." Zahra tampak berpikir keras.


Amadhea memanfaatkan kesempatan itu untuk berdiri dan pura-pura membenarkan AC bus lalu menoleh ke belakang. Ia melihat wanita hamil yang waktu itu pernah ia lihat sewaktu di bus dulu.


Namun, sekarang keadaannya berbeda. Wanita itu terlihat menakutkan dengan baju putih panjang. Darah di mana-mana. Ia menggendong dua bayi. Salah satu adalah bayi utuh yang terus menangis dan satunya bayi yang berbentuk janin setengah bayi. Anak kecil perempuan yang waktu itu juga duduk di sampingnya menatap pada Amadhea.


Sementara Amadhea yang melihat mereka berpura-pura mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Ternyata dia sudah meninggal dan menjadi hantu. Apa dia menggugurkan kandungannya? Kasihan sekali bayi-bayi itu, batin Amadhea sambil kembali duduk melanjutkan permainan.


Tiba-tiba kepala itu muncul dari samping Zahra dan melihat ke arah Amadhea. Keringat dingin mengalir dari dahi Amadhea. Gadis itu menelan saliva.


Kenapa dia muncul dan selalu menggangguku setiap aku naik bus? Dia sangat menakutkan, jerit Amadhea dalam hati.


Tiba-tiba hantu itu bersuara, "Aku tahu kamu bisa melihatku. Aku juga mendengar apa yang kamu pikirkan."


Deg!


Serasa ada godam yang menghantam jantungnya. Amadhea benar-benar takut sekarang.


Rambut anak kecil itu bergerak-gerak seolah hidup dan menggelitik hidung Zahra dan Amadhea. Karena Zahra tidak bisa melihat hantu itu, ia tampak biasa-biasa saja, sementara Amadhea benar-benar ketakukan. Ia ingin berteriak sekencang mungkin jika ia bisa.


Hantu anak kecil itu tersenyum mengerikan. Sudut bibirnya nyaris menyentuh telinga.


Apa yang harus aku lakukan?!!


...πŸ‘»πŸ‘»πŸ‘»...


^^^07.55 | 1 September 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^