
Amadhea tidak menjawab.
"Kamu punya masalah apa? Kalau punya masalah, cerita saja. Aku pasti mendengarkan. Bukan cuma aku, Zahra dan Greeta juga pasti mendengarkan," ucap Alinda.
"Aku... hanya sedikit ragu, apakah aku ini anak kandung orang tuaku atau bukan," gumam Amadhea.
Alinda mengusap bahu Amadhea.
Terdengar suara langkah seseorang menuju kamar. Pandangan Amadhea dan Alinda tertuju ke pintu.
Ternyata Zahra dan Greeta yang datang. Masing-masing membawa nampan. Sementara mulut Greeta tampak penuh.
"Dhea?!" Zahra terlihat senang melihat Amadhea sudah bangun.
Greeta meletakkan nampan di meja. "Kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit?"
Amadhea menggeleng. "Aku cuma pingsan, kok."
"Aku sudah menyuapinya bubur tadi," kata Alinda.
"Syukurlah," kata Greeta.
"Alinda, ini makanan kita. Kata Tante Irma kita makan di sini saja biar sekalian jagain Dhea," kata Zahra.
Saat mereka berdiskusi, Irma masuk ke kamar. "Dhea?"
Amadhea menoleh pada Irma. "Tante."
"Tante sudah menelepon dokter tadi . Katanya sedang dalam perjalanan. Mungkin terjebak hujan," ucap Irma sambil duduk di tepi ranjang.
Amadhea mengangguk. Ia menoleh pada teman-temannya. "Kalian makan, ya. Tante sudah makan?"
Irma mengangguk.
Tak lama kemudian, dokter datang dan memeriksa Amadhea. Irma menemani Amadhea di dalam kamar. Sementara teman-teman Dhea menunggu di luar kamar.
Setelah selesai diperiksa, ternyata Amadhea mengalami typhus ringan. Dokter memberikan resep obat.
Setelah dokter pergi, Irma juga pamit pulang. Ia menitipkan Amadhea pada teman-temannya.
Amadhea melihat teman-temannya makan. Ia menghela napas berat. "Selama 3 hari aku tidak boleh pergi ke sekolah."
"Sampai kamu sembuh, lebih baik jangan pergi ke sekolah dulu," kata Greeta.
Alinda mengangguk. "Iya, jangan memaksakan diri."
Zahra juga mengangguk.
Amadhea tersenyum. "Ada camilan di lemari itu. Kalian ambil saja."
"Lemari mana?" Greeta langsung merespon.
Amadhea menunjuk ke lemari yang ia maksud.
Greeta mengernyit. "Bukannya ini lemari pakaian?"
Amadhea menggeleng. "Aku biasa menyimpan camilan di sana."
Greeta membukanya. Ada banyak camilan di dalam lemari. "Wuaaaah! Apa ini boleh aku makan?"
"Bagi-bagi dengan Zahra dan Alinda," kata Amadhea.
"Alinda dan Zahra sedang diet," celetuk Greeta sambil membawa semua camilan itu.
"Itu punya kamu, Dhea," kata Zahra.
"Tidak apa-apa. Lagian aku tidak memakannya," ujar Amadhea.
Zahra, Alinda, dan Greeta tidur di kamar Amadhea. Mereka membawa kasur busa dari ruang kamar lain dan meletakkannya berdempetan dengan ranjang Amadhea. Ukuran dan tingginya tidak jauh berbeda.
"Ah, kasur ini nyaman sekali," kata Greeta yang telentang sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.
Zahra yang tidur di sampingnya juga terlihat nyaman. Sementara Alinda tidur satu ranjang dengan Amadhea.
Posisi mereka dari pintu adalah : Greeta, Zahra, Alinda, lalu Amadhea.
"Kamu nggak buka hijab kamu, Za?" tanya Alinda.
Zahra menggeleng. "Aku sudah biasa pakai hijab tidur seperti ini."
Alinda mengangguk mengerti.
"Sama aja hitam kayak kalian," ucap Zahra sambil tertawa kecil.
"Dhea, apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa pingsan? Apa kamu ingat?" tanya Greeta.
Amadhea tidak langsung menjawab. Kalau aku bilang aku jatuh dari lantai dua, mereka pasti panik. Selain itu, mereka mungkin tidak akan percaya. Orang yang jatuh dari lantai dua pasti mati atau paling tidak patah tulang dan lumpuh. Sementara aku baik-baik saja. Aku tidak merasa sakit sama sekali.
"Aku tidak ingat," jawab Amadhea setelah terdiam beberapa saat.
Jam menunjukkan pukul 10 malam. Zahra dan Alinda mabar game online, sementara Greeta makan camilan dari Amadhea. Amadhea sendiri tampak melamun dengan pandangan tertuju ke langit-langit kamar.
"Aku masih nggak nyangka bisa menginap di rumah Dhea," kata Alinda.
"Aku juga," kata Greeta.
"Aku juga nggak nyangka bakal dikasih izin sama Papa," kata Zahra.
Amadhea tersenyum mendengar percakapan teman-temannya. "Terima kasih kalian sudah mau menginap di rumahku."
Tapi, sebaiknya kalian jangan lama-lama. Aku tidak mau hantu-hantu itu mengganggu kalian juga, sahabat-sahabatku, batin Amadhea.
"Ada TV, kalau kalian mau nonton, nyalakan saja TV-nya," kata Amadhea.
Alinda mengambil remote lalu menyalakan TV. Mereka pun menonton TV bersama.
Setelah jam menunjukkan pukul 12 malam, Amadhea bangun. Ia melihat teman-temannya sudah tidur meninggalkan layar TV yang masih menyala.
Amadhea mengambil map hasil tes DNA. Ternyata 99,99% cocok. Amadhea menghela napas lega. "Tante Merlin dan Calvin hanya bicara omong kosong."
Akhirnya Amadhea bisa tidur nyenyak.
Pukul 5 pagi.
Adzan berkumandang membangunkan ummat muslim untuk sholat subuh.
Zahra bangun. Ia melihat Amadhea, Alinda, dan Greeta tampak tertidur lelap. Ia pun pergi ke kamar mandi yang letaknya di samping kamar Amadhea. Gadis itu berwudhu. Saat membasuh mukanya, ia menoleh ke pintu kamar mandi yang setengah terbuka. Samar-samar ia melihat seseorang berdiri di sana, tapi tidak ada siapa pun di sana.
Mungkin efek air yang membasuh wajahku, batin Zahra. Ia kembali membasuh wajahnya. Lagi-lagi siluet wanita yang ia lihat di pintu. Saat air wudhu mengalir begitu saja, Zahra tidak melihat siapa pun di sana.
Karena tidak khusyuk saat berwudhu, terpaksa Zahra mengulang lagi wudhu-nya. Setelah itu, ia keluar dari kamar mandi menuju ke kamar Amadhea. Namun, ia melihat seseorang bergaun putih berdiri di ujung tangga membelakanginya. Hanya rambut panjangnya yang dilihat Zahra.
Karena takut, Zahra segera masuk ke kamar Amadhea dan mengunci pintunya. Gadis itu menghela napas panjang kemudian berbalik. Wajah tertutup rambut tiba-tiba sudah berada di depannya.
"Hhhh." Zahra berteriak tertahan sembari menutup mulutnya.
Perempuan berambut panjang itu mendongkak menatap Zahra. "Kamu kenapa, sih?"
Ternyata Greeta.
Zahra menghela napas lega. "Nggak, aku barusan dari kamar mandi ngambil wudhu."
"Oohh." Greeta berlalu dan menarik knop pintu, tapi terkunci. Ia pun memutar kuncinya.
Zahra segera menahan Greeta. "Mau ke mana?"
"Mau minum, haus."
Zahra teringat dengan sesuatu yang tadi dilihatnya. "Emmm... aku punya jus buah."
Greeta tidak jadi keluar. Ia kembali mengunci pintunya. Zahra memberikan jus apel dalam botol pada Greeta.
"Terima kasih." Greeta menerimanya lalu meminumnya.
Zahra mengangguk. Ia mengambil mukena dari tasnya lalu memakainya. Gadis itu pun mulai sholat.
Greeta menghabiskan minumannya. Ia masih haus. Gadis itu pun keluar dari kamar kala Zahra tengah sholat.
Saat pintu kamar dibuka, Greeta tersentak kaget melihat sosok perempuan berambut panjang dan bergaun putih berdiri di ujung tangga membelakanginya. Ia melihat ke dalam kamar. Amadhea, Alinda, dan Zahra berada di kamar, lalu wanita itu siapa.
Saat kembali menoleh, jarak wanita itu tiba-tiba menjadi lebih dekat. Greeta tampak ketakutan.
Wanita itu berjalan mundur ke arahnya dengan cepat. Greeta terbelalak. Zahra yang masih memakai mukena segera menarik Greeta masuk ke dalam kemudian ia mengunci pintu lalu berdo'a.
Greeta masih syok. "Yang barusan itu apa?"
...π»π»π»...
^^^17.32 | 1 September 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^