
Xaga dan Amadhea berdiri di depan bingkai besar yang tertempel di dinding. Dalam bingkai tersebut terlihat foto Bu Bachtiar yang tersenyum keibuan.
"Mama meninggal sejak 4 tahun yang lalu karena kanker yang dideritanya," ucap Xaga.
Amadhea merasa sedih. Ia mengusap bahu Xaga.
Bu Bachtiar berdiri di belakang Xaga dan Amadhea. Ia tersenyum kemudian sosok itu melebur menjadi butiran pasir bercahaya dan menghilang.
Malam telah tiba. Di rumah Ratih.
Bola mata hitam di dalam toples bergerak-gerak. Tiba-tiba tiga lilin merah itu padam.
Ratih yang sedang membenarkan gorden menoleh melihat ketiga lilinnya mati. Ia mengambil korek lalu menyalakannya kembali. Saat kedua matanya melihat ke cermin, Ratih tersentak kaget melihat hantu bermata hitam pekat itu berada di belakangnya lewat pantulan cermin.
Ratih menoleh ke belakangnya, tapi tidak ada siapa-siapa. Ia kembali melihat ke cermin. Hanya ada bayangan dirinya. Ratih melihat toples di samping lilin merah. Bola mata hitam itu menghilang.
"Bagaimana mungkin?"
Tiba-tiba cerminnya pecah. Ratih berteriak kaget. Ia terpundur dan jatuh terduduk. Pipinya berdarah terkena pecahan cermin tersebut.
Terdengar suara serak wanita membaca mantra. Ratih melihat ke sekeliling. Dua sosok bertopeng yang merupakan penjaganya muncul di dekatnya.
Sebuah bayangan melintas di ambang pintu. Ratih menelan saliva. Ia berdo'a dalam ketakutan.
Suara cekikan dan bacaan mantra terus terdengar menggema di rumah itu. Ratih menutup telinganya.
Sementara itu, Amadhea sedang membereskan bukunya. Ia menyentuh plester yang menempel di dahi kirinya. Tiba-tiba ia mendengar suara lari anak kecil. Amadhea melihat bayangan yang melintas di ambang pintu kamarnya.
Amadhea keluar dan melihat hantu anak kecil itu berdiri di depan pintu kamar orang tuanya.
"Nino, apa kamu mau mengatakan sesuatu padaku?" tanya Amadhea dengan suara bergetar.
Tanpa diduga, hantu anak kecil itu menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Amadhea.
"Aku... aku minta maaf padamu. Aku minta maaf atas perbuatan Mama dan Papa. Maafkan aku." Amadhea menitikkan air matanya.
Hantu Nino juga menangis.
"Maafkan aku." Amadhea mengusap air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. "Tidak seharusnya kamu mendapatkan perlakuan buruk dari Papa dan Mama."
Hantu Nino berbalik.
Amadhea menelan saliva. Ia sudah pernah melihat wajah pucat menyeramkan hantu Nino dan matanya yang berwarna putih semua.
Namun, kali ini berbeda. Hantu Nino terlihat manis. Matanya juga terlihat normal. Ia adalah sosok anak laki-laki yang tampan. Hantu Nino tersenyum pada Amadhea.
Tanpa sadar, Amadhea juga tersenyum.
Senyuman hantu Nino memudar. Amadhea juga. Hantu anak kecil itu menunjuk ke belakang Amadhea.
Deg!
Amadhea mendengar suara napas tertahan dari belakangnya. Tubuhnya langsung gemetar.
Amadhea menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Saat kembali melihat ke depannya, hantu Nino sudah tidak ada. Amadhea memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan melanjutkan membereskan buku.
Tiba-tiba Amadhea terbatuk-batuk. Gadis itu menyentuh dadanya. Ia kembali terbatuk dan memuntahkan darah ke meja. Amadhea membulatkan matanya. Ia menyentuh dadanya yang terasa sangat menyakitkan.
"Amadhea... Amadhea...." suara itu kembali terdengar memanggilnya.
Amadhea menggelengkan kepalanya. Ia berteriak, "Tidak! Tidak! Jangan memanggil namaku! Berhenti!"
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan kasar. Amadhea melihat sosok wanita berwajah terbakar itu berdiri di ambang pintu.
Amadhea masih mengeluarkan darah dari mulutnya. Ia jatuh terduduk saat hantu berwajah terbakar itu menghampirinya. Amadhea beringsut menjauh. Sosok itu tiba-tiba menghilang.
Baru saja Amadhea menghela napas lega, tiba-tiba tubuhnya tertarik keluar dari kamar.
"Aaarrghhhh!! Tolooong!!!" Amadhea terseret sampai ke bawah tangga. Gadis itu meringis kesakitan di sekujur tubuhnya.
Tiba-tiba semua lampu di rumahnya mati. Amadhea benar-benar ketakutan sekarang. Ia meraba-raba ke meja mencoba mencari telepon rumah. Ia menemukannya, tapi tiba-tiba tubuhnya terseret lagi. Ia merasakan kepalanya terbentur dinding.
Amadhea meringis kesakitan. Samar-samar Amadhea mendengar suara percakapan antara dua wanita dalam kegelapan itu.
"Kenapa kamu melakukannya?"
"Ini tidak akan lama, Nak. Ibu hanya akan mengambil tubuhnya lalu setelah itu Ibu akan membangkitkanmu."
Deg!
Serasa ada godam yang menghantam jantungnya kala ia mendengar percakapan itu yang ia yakini kalau dua wanita yang sedang berbicara itu adalah hantu bermata hitam dan hantu berwajah terbakar.
"Amadhea... Amadhea...."
Amadhea bergumam pelan, "Bunuh saja aku... aku sudah lelah."
"Amadhea! Amadhea!"
Perlahan Amadhea membuka matanya. Ia melihat Xaga dan teman-temannya tengah menatap padanya.
"Dhea!" Greeta memeluk Dhea.
Amadhea menyentuh dahinya yang terasa basah, ternyata darah. Ia benar-benar berdarah. Tubuhnya juga terasa sakit. Ia mengira kalau yang barusan hanya mimpi seperti apa yang terjadi biasanya.
"Dahi kamu berdarah, ayo ke dokter," kata Zahra.
"Iya, Xaga membawa mobil APV, kita semua bisa pergi ke rumah sakit terdekat," ucap Elan.
Amadhea menggeleng. "Kenapa kalian ke sini? Seharusnya kalian tidak datang. Ini berbahaya."
"Bukannya kamu yang menelepon?" tanya Zahra.
"Aku?" Amadhea kebingungan.
Alinda mengangguk. Ia menunjukkan layar ponselnya. "Iya, kamu meneleponku, tapi kamu tidak mengatakan apa-apa. Karena aku mendengar suara teriakan, aku segera menelepon yang lainnya untuk datang ke rumahmu. Kami juga mendengar suara-suara aneh."
Amadhea tampak berpikir. Siapa yang menelepon mereka? Ponselku di kamar. Apa mungkin... Nino?
Tiba-tiba terdengar suara nyanyian yang menggema di rumah tua itu. Tidak jelas seperti apa liriknya, karena yang dinyanyikan adalah lagu tradisional dengan bahasa daerah.
Amadhea, Xaga, Zahra, Zayn, Alinda, Arnold, Elan, dan Greeta mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dan pecah entah dari mana asal suaranya. Mereka tersentak kaget. Dengan penuh kekhusyukan, mereka semua mulai berdo'a menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
Terdengar suara teriakan keras yang meraung-raung. Amadhea menutup rapat matanya. Ia merasakan suhu meningkat di ruangan itu. Amadhea yakin kalau suara itu adalah suara hantu wanita berwajah terbakar.
Tiba-tiba semua kaca jendela di rumah tua itu pecah. Namun, hal tersebut tidak membuat mereka terganggu apalagi goyah.
Hening.
Yang terdengar hanya suara detik jarum jam dan bacaan do'a dari 8 orang itu meski pelan.
Tiba-tiba terdengar suara tawa cekikikan wanita. Rosario, tasbih, kalung salib, dan gelang tasbih yang dipakai mereka putus dan berhamburan ke lantai.
Hantu bermata hitam itu datang, batin Amadhea.
"Astagfirullah."
"Bagaimana bisa?" Pandangan Arnold tertuju ke rosario, kalung salib, dan tasbih mereka di lantai.
"Apa hantunya sekuat itu?" gumam Elan.
"Hantu itu pasti memuja setan. Dia tidak akan berhenti sampai tujuannya tercapai," ucap Xaga.
Amadhea tampak khawatir.
"Tujuan apa?" tanya Alinda.
Xaga tampak ragu. "Ilmu hitam... mungkin?"
Semuanya diam.
"Ayo, Dhea. Kita pergi ke rumah Mbak Ratih lagi untuk meminta tolong."
...π»π»π»...
^^^21.46 | 1 September 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^