
"Sedang apa kalian di rumahku?!"
Amadhea, Xaga, dan Greeta tersentak kaget. Mereka melihat nenek tua itu duduk di kursi roda di dekat pintu.
"Karnilah?" gumam Amadhea.
Pandangan wanita tua yang ternyata Karnilah itu tertuju pada Amadhea. Ia menyipitkan matanya. "Apa aku mengenalmu?"
Amadhea mengerutkan dahinya. Ia bergumam, "Bagaimana mungkin dia masih hidup? Lalu hantu bermata hitam yang menggangguku siapa...."
"Apa?" Karnilah tampak tersinggung.
Amadhea menggelengkan kepalanya. "Maksudku... Nenek Karnilah, ini saya... saya... putri dari Sudarman dan Ayuni, sepasang suami istri yang membeli rumah Anda."
Wanita tua itu tampak terkejut. "A-apa?!"
Sementara itu, Alinda, Zahra, dan Elan sedang mencari jalan keluar.
Alinda melihat ke jendela ruangan tersebut. Ia menyingkapkan gorden dan melihat ke luar jendela.
"Lihat! Ada jendela di sini!" seru Alinda.
Elan dan Zahra menghampiri Alinda. Mereka melihat ke luar jendela. Elan mencoba membukanya, tapi sulit. Ia mengambil kursi kemudian membantingnya ke kaca jendela tersebut hingga pecah.
"Apa ini tidak masalah?" tanya Alinda.
"Rumah ini kosong, tidak ada pemiliknya. Kalian mau dimakan hantu penunggu ruangan ini?" tanya Elan. Ia menyingkirkan pecahan kacanya agar tidak melukai mereka saat keluar lewat sana.
Zahra dan Alinda menggeleng.
"Bagaimana caranya kita turun?" tanya Zahra.
"Sebentar," kata Elan. Ia sedikit membungkuk lalu menyingkirkan menyingkirkan pecahan kaca di tanah depan jendela dengan papan yang tergeletak di sana.
Alinda bersuara, "Tapi, Elan... rumah ini mungkin ada peghuninya. Kalau tidak ada penghuninya, kenapa sesajen itu di sana? Kenapa dupa itu menyala?"
Mendengar pertanyaan Alinda, sesaat Elan menghentikan aktivitasnya. Tampaknya Zahra menunggu jawaban Elan. Namun, laki-laki itu kembali melanjutkan menyingkirkan pecahan kaca itu tanpa memberikan jawaban.
"Sudah selesai." Elan keluar duluan kemudian ia membantu Alinda turun lewat jendela. "Hati-hati."
Alinda berhasil turun.
"Ayo, Zahra." Elan dan Alinda membantu Zahra. Saat Zahra akan turun, tiba-tiba tubuhnya kembali tertarik ke dalam dan terlempar membentur lemari. Gadis itu pun tak sadarkan diri.
"Zahra!" Alinda akan masuk. Elan membantunya menaiki jendela, tapi anehnya jendela tersebut ada kacanya. Padahal tadi sudah pecah dibanting kursi oleh Elan.
"Bagaimana ini?! Zahra masih di dalam!" tangis Alinda panik. Ia menggedor-gedor kaca.
Elan juga terlihat cemas.
Alinda memukuli dada Elan sambil menangis. "Ini karena kamu! Kenapa kamu ceroboh!"
Elan menenangkan Alinda. "Kita beritahu Zayn dan Arnold. Mereka pasti masih di depan."
Alinda masih terlihat panik. Mereka pun segera berputar dan sampai di halaman depan.
Melihat Alinda dan Elan yang tiba-tiba muncul dari halaman belakang, Arnold dan Zayn kebingungan.
"Kenapa kalian muncul dari sana? Yang lainnya mana?" tanya Arnold.
"Kami terpisah saat berada di dalam. Aku, Zahra, dan Elan terjebak di salah satu ruangan. Kami menemukan jendela besar dan menghancurkan kacanya. Kami berhasil keluar, tapi Zahra masih terjebak di sana," jelas Alinda khawatir.
"Apa?!" Zayn dan Arnold tampak terkejut. Mereka segera memasuki rumah itu disusul Alinda dan Elan.
Mereka melihat ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa di ruang tamu.
"Amadhea, Xaga, dan Greeta di mana lagi? Kenapa mereka menghilang?" tanya Arnold.
"Ruangan yang itu." Alinda menunjuk salah satu pintu.
Zayn menggedor pintu tersebut. "Zahra? Zahra?"
Arnold mencoba mendobrak pintunya, tapi tidak bisa. Zayn juga mendobrak bersama Arnold.
Alinda terlihat khawatir. "Zahra, maaf."
Elan membawa kursi lalu menghantam pintu tersebut dengan kursi. Bukannya terbuka, malah kursinya yang hancur.
Zayn dan Arnold mendengus kesal. Napas mereka terengah-engah.
Zayn, Arnold, dan Elan mendobrak bersamaan, akhirnya pintu terbuka.
"Zahra!" Alinda segera masuk dan mencari Zahra.
"Zahra?" gumam Zayn saat melihat Zahra berdiri di sudut ruangan sambil menunduk dalam.
"Zahra?" panggil Elan.
Zahra mendongkak menatap keempat temannya yang berdiri di depan pintu. Ia tersenyum lebar.
"Apa dia kerasukan?" tanya Arnold.
"Tidak mungkin." Zayn menggeleng. "Zahra! Istigfar, Zahra!"
"Bisa bantu aku?" Zayn bertanya pada Alinda.
Alinda mengangguk ragu. "Aku... aku akan berusaha membantu."
"Pegangi Zahra saat dia sudah tenang," kata Zayn.
Alinda mengangguk.
Tiba-tiba sebuah kursi melayang dan terlempar ke arah mereka berempat.
"Awas!" Arnold melindung Alinda kemudian mereka segera merunduk.
Alinda menghampiri Zahra. "Zahra! Sadar, Zahra!"
Namun, baru beberapa langkah, Alinda terpental. Beruntung Arnold sigap dan menangkap tubuh Alinda.
"Zahra, kamu sedang diperdaya oleh jin, sadarlah! Ucapkan istighfar dan kalimat-kalimat Allah!" ucap Zayn.
Zahra menyeringai.
Zayn menengadahkan tangannya kemudian berdo'a. Tiba-tiba Zahra berteriak kepanasan.
"Berhenti! Berhenti!" teriak Zahra.
Barang-barang di ruangan itu melayang dan menyerang mereka berempat.
"Zayn! Awas!" ketiga temannya menghindar dan menarik Zayn agar tidak terkena benda-benda itu.
Sebuah papan terlempar mengenai perut Zayn, tapi itu tidak menggoyahkan kekhusyukan do'anya. Darah mengalir dari sudut bibirnya disela do'a yang ia panjatkan.
"Oh, Zayn!" Alinda terkejut melihat darah yang mengalir dari sudut bibir Zayn.
Zahra terkulai jatuh ke lantai, begitu pun dengan Zayn.
"Zayn!" Elan segera menangkap tubuh Zayn.
Arnold dan Alinda segera berlari menghampiri Zahra.
"Zahra." Alinda menangis khawatir sambil mengguncangkan tubuh Zahra.
Elan membantu Zayn bangkit. Mereka menghampiri Zahra.
"Zahra, kamu nggak apa-apa?" tanya Zayn.
Zahra menggeleng lemas. Zayn menghela napas lega.
"Kamu kenapa berdarah?" tanya Zahra pelan.
Zayn mengusap darah di sudut bibirnya. "Bukan apa-apa."
Alinda berdiri lalu menaburkan garam yang ia bawa dari rumah ke sesajen di meja. Tiba-tiba sesajen itu terbakar.
"Ayo, kita keluar," kata Alinda.
Mereka pun keluar dari ruangan tersebut. Elan berjalan duluan disusul Alinda yang membopong Zahra. Lalu yang paling belakang Arnold membopong Zayn.
"Yang kamu tabur tadi itu apa?" tanya Elan.
"Itu garam dan pasir yang sudah diberi do'a. Aku mendapatkannya dari Mama setelah pulang dari China," jawab Alinda.
"Oh."
Mereka keluar dari rumah itu.
"Makasih, Zayn, makasih teman-teman," ucap Zahra.
Elan tampaknya merasa bersalah. "Maafkan aku, Zahra, Zayn. Ini semua karena kecerobohanku."
"Kenapa kamu meminta maaf? Kamu nggak salah," kata Zahra.
"Iya, kamu nggak salah, kok. Karena dalam keadaan panik, semua orang pasti melakukan hal yang sama saat berada di posisimu," kata Zayn.
Alinda membantu membenarkan hijab Zahra. Sementara Zahra diam membiarkan Alinda.
"Aku tidak mengira sampai kerasukan begini. Padahal aku tidak sedang melamun," gumam Zahra.
"Aku juga tidak menyangka. Aku sangat khawatir melihatmu yang terus tertawa dengan suara seperti laki-laki," kata Alinda.
"Apa mungkin karena aku sedang menstruasi? Jadi, mereka lebih mudah menggangguku?" gumam Zahra.
Alinda tampak berpikir. "Aku pikir begitu, karena kamu sedang datang bulan, kamu jadi nggak bisa sholat, kan?"
Zahra mengangguk.
...π»π»π»...
^^^17.43 | 1 September 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^