
Bus lewat.
Amadhea berdiri dan melambaikan tangannya, tapi bus itu sudah melaju pergi.
Amadhea mendengus menyesal. "Ah! Kenapa juga aku melamun?! Itu bus terakhir."
Xaga berdiri tak jauh dari stasiun. Ia melihat hantu siswi yang memiliki luka di wajahnya berdiri di samping Amadhea di tepi jalan. Hantu itu memegang payung merah.
Xaga terbelalak melihat hantu siswi itu mendorong Amadhea ke jalan raya.
"Aduh."
Xaga melihat sebuah truk melaju ke arah Amadhea. Bunyi klakson terdengar nyaring di tengah derasnya hujan. Amadhea menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Xaga segera berlari ke arah Amadhea. Ketika truk itu nyaris melindasnya, Xaga datang tepat waktu. Laki-laki itu menarik jaket Amadhea dan membawanya ke tepi jalan.
Saat ada kesempatan, Xaga memasukkan bawang putih ke saku jaket Amadhea. Ia harap Amadhea tidak diganggu lagi oleh makhluk halus.
"Aku ketinggalan bus terakhir. Aku duluan, ya." Amadhea bergegas pergi.
Xaga diam-diam membuntutinya. Ia melihat hantu-hantu yang bertemu Amadhea dalam perjalanan tidak mendekatinya, mereka menjauh.
Apakah bawang putih itu berfungsi? Apakah hantu-hantu itu takut dengan bawang putih yang Amadhea bawa, atau takut pada hantu bermata hitam yang selalu mengikutinya itu? Pikir Xaga.
Sesampainya di rumah, Amadhea segera memasuki rumah tersebut. Xaga cukup terkejut melihat bangunan tua di depannya.
Jadi, selama ini Amadhea tinggal di rumah menyeramkan ini? Bahkan rumah ini tidak bisa dihuni manusia, batin Xaga sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Xaga melihat banyak sekali hantu yang berkeliaran di rumah itu. Tanpa ia sadari, hantu wanita bermata hitam itu berdiri di belakangnya.
"Jangan mengganggu!"
Deg!
Serasa ada gada yang menghantam jantungnya mendengar suara serak itu dari belakangnya. Xaga menoleh ke belakang. Hantu itu sudah tidak ada.
Dia memiliki aura negatif yang sangat kuat sampai-sampai aku tidak menyadari kehadirannya, batin Xaga.
Keringat dingin mengalir dari dahinya. Tangannya mengepal. Aku belum pernah bertemu dengan hantu yang sekuat ini seumur hidupku.
"Kamu sedang apa di sana?"
Xaga terkejut saat ada yang menegurnya. Ia menoleh, ternyata Irma.
"Kamu ngintip Dhea, ya?" tanya Irma curiga.
"Ah? Nggak, kok." Xaga mengibaskan kedua tangannya.
"Kamu nggak punya niat jahat, kan?" selidik Irma.
Xaga menggeleng. "Permisi, Tante."
Sebelum Xaga benar-benar pergi, ia melihat makhluk berwajah terbakar berdiri di jendela lantai dua dan menatap ke arahnya.
π»π»π»
"Xaga!" Amadhea keluar dari kelasnya.
Xaga, Zayn, dan Elan menoleh padanya.
Amadhea memberikan kotak bekal tersebut pada Xaga. "Terima kasih sudah menolongku kemarin."
Xaga menerima kotak tersebut. Ia melihat ada belatung, kelabang, dan cacing di makanan yang diberikan Amadhea.
Tanpa pikir panjang, Xaga membuang isinya ke wadah sampah. Elan dan Zayn tidak mengira Xaga akan melakukan hal tersebut.
Amadhea melihat nasi gorengnya berakhir di tong sampah.
"Xaga, lo...." Elan menahan diri untuk tidak memaki.
"Jangan membuat makanan lagi," kata Xaga pada Amadhea kemudian berlalu begitu saja.
π»π»π»
Xaga dan Arnold sedang membawa siswi yang kerasukan di tandu PMR. Pandangan Xaga tertuju ke kelas IPA-B. Ia melihat Alinda yang dirasuki makhluk mengerikan merangkak di langit-langit ruang kelas. Tidak hanya Alinda, Amadhea juga menggantung mencoba menolong Alinda.
"Arnold! Lihat!" Xaga menunjuk ke dalam kelas IPA-B.
Saat Amadhea dan Alinda jatuh, kedua laki-laki itu tepat di waktu menangkap tubuh mereka.
Sejenak Xaga menatap Amadhea yang menutup matanya rapat saat berada dalam rengkuhan kedua lengan kekarnya.
π» End Flashback π»
Wajah Amadhea tampak memucat setelah mendengar penjelasan Xaga. Ia membuang napas kasar.
"Sebenarnya aku tidak mau mengatakan semua ini, aku tahu kamu pasti takut. Tapi, setelah melihatmu menyadari keberadaan mereka, aku rasa lebih baik aku mengatakannya padamu," kata Xaga.
Amadhea melihat ke belakangnya. "Apa saat ini dia juga di belakangku?"
Xaga melihat hantu wanita bermata hitam itu berada di samping Amadhea. "Tidak di belakangmu, tapi di sampingmu."
Amadhea mendesah pelan. Ia membatin, aku menyesal bertanya padanya.
"Aku tidak hanya melihat hantu wanita bermata hitam itu, tapi juga hantu berwajah terbakar, dan hantu anak kecil," jelas Xaga.
Amadhea menatap Xaga dengan serius. Dia mengatakan yang sebenarnya. Sejauh ini memang ketiga hantu itu yang sering menggangguku.
"Aku pernah sekali melihat hantu wanita yang wajahnya terbakar sewaktu kamu makan di kantin sendirian," kata Xaga.
Xaga benar, waktu itu hantu berwajah terbakar itu menyerupai Greeta dua kali, ucap Amadhea dalam hati.
"Itulah sebabnya aku membuang makanan darimu waktu itu, karena isinya belatung, cacing, dan kelabang. Sepertinya itu adalah ulah hantu berwajah terbakar itu. Dia yang paling sering mengganggumu. Aku sudah bilang, jangan memasak lagi, kan? Dia akan senang hati mengubah makananmu menjadi serangga menjijikan," jelas Xaga.
Amadhea jadi mual. "Jadi, selama ini aku memakan belatung?"
Xaga tidak langsung menjawab. "Sebaiknya kamu langsung memakan masakan yang sudah kamu masak. Jangan menundanya terlalu lama. Kamu juga harus berdo'a sebelum makan."
Amadhea mencerna ucapan Xaga. Ia kembali bertanya, "Bagaimana dengan hantu bermata hitam itu?"
Xaga mengalihkan pandangannya. Ia menatap lurus ke depan menghindari tatapan dari hantu wanita di samping Amadhea yang sedari tadi menatap tajam padanya.
"Meski pun dia tidak mengganggumu seperti wanita berwajah terbakar itu, tapi dia yang paling kuat di antara yang lainnya. Dia juga sangat berbahaya. Aku rasa, bawang putih itu tidak membantu banyak. Para hantu yang menghindar darimu lebih takut pada hantu bermata hitam itu ketimbang bawang putih," jawab Xaga.
Amadhea terdiam untuk sesaat. "Aku tidak mengira kamu memperhatikanku sampai sejauh ini."
Xaga gelagapan, "Aku... aku hanya melihat sekali-kali, tidak terlalu memperhatikan."
Amadhea tersenyum. Ia tahu Xaga berbohong. "Jadi, kamu bisa melihat hantu. Kamu punya indera keenam sejak lahir?"
Xaga mendongkak menatap langit. "Iya, sejak kecil aku bisa melihat kehadiran mereka. Aku pikir itu karena aku masih kecil, jadi aku bisa melihat mereka. Namun, sampai sekarang aku bisa melihat mereka. Bagaimana denganmu? Apa kamu memiliki indera keenam?"
Amadhea menggeleng. "Aku bisa melihat mereka setelah orang tuaku meninggal."
Xaga mencena ucapan Amadhea. Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benak laki-laki itu.
Hening.
Xaga mengambil sesuatu dari saku dalam jaketnya lalu memberikannya pada Amadhea. "Tuhan selalu melindungimu."
Amadhea menerimanya. Ternyata rosario.
Adzan berkumandang menandakan waktu dzuhur telah tiba. Kaum hawa melaksanakan sholat dzuhur di mushola sekolah, sementara para siswa berjama'ah sholat jum'at di mesjid.
"Sebentar lagi bel masuk berbunyi. Aku harus kembali ke kelas," kata Amadhea.
Xaga mengangguk. Ia menatap punggung Amadhea yang pergi menjauh. Laki-laki itu menghela napas berat kemudian ia beranjak menuju ke kelasnya.
Zayn dan Naufal memasuki kelas mereka sambil membawa peci hitam di tangan mereka.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Naufal.
Elan menjawab, "Tidak ada yang kerasukan. Mungkin hari ini semua murid berdo'a dengan khusyuk, jadi para hantu tidak berani mengganggu lagi."
"Alhamdulillah, semoga tidak ada kerasukan lagi di sekolah kita," ucap Naufal.
"Amiiinnn."
...π»π»π»...
^^^19.06 | 1 September 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^