
Di kamarnya, Amadhea tengah duduk di meja belajarnya seperti biasa. Saat ia serius membaca buku materi, tiba-tiba bawang yang digantung diatas meja belajarnya jatuh berhamburan.
Amadhea tersentak kaget. Ia mendongkak menatap gantungan bawang itu yang habis tinggal ikatannya.
Sejenak Amadhea meninggalkan bukunya. Ia mengambil gantungan bawang yang baru kemudian ditempel lagi di atas sana. Gadis itu kembali duduk dan melanjutkan membaca.
Terdengar suara napas tertahan dan suara serak seseorang yang membaca mantra. Amadhea pura-pura tidak mendengar.
Yang datang pasti hantu bermata hitam itu, batin Amadhea.
Suara itu menghilang.
Aroma terbakar memenuhi seisi ruangan. Amadhea membuang napas kasar. Ngapain juga hantu berwajah terbakar pake datang segala?!
Tiba-tiba semua bawang putih yang digantung di seluruh ruangan berhamburan dan berjatuhan ke lantai. Amadhea menjerit kaget. Ia melompat ke atas kursi dan melihat bawang-bawang di lantai menjadi hangus seolah-olah terbakar.
"Bagaimana bisa?" Amadhea turun dari kursinya. Ia menyentuh bawang-bawang yang sudah hangus itu.
"Aw, panas!" Amadhea meniup jemarinya.
Amadhea terdiam kala merdengar suara tawa anak kecil menggema di rumah itu.
Tiba-tiba kursinya terlempar ke arah Amadhea. Gadis itu berteriak panik. Ia langsung berjongkok. Kursi itu terbanting membentur jendela kamar hingga kacanya pecah dan kursinya keluar jatuh ke tanah.
Amadhea menyentuh dadanya. Jantungnya berdegup kencang. Apabila ia tidak segera merunduk, maka kursi itu akan membentur tubuhnya.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan bantingan keras. Amadhea melihat hantu berwajah terbakar itu berdiri di ambang pintu. Hantu wanita itu menyeringai menakutkan. Tiba-tiba ia sudah berada di depan Amadhea.
Lutut Amadhea lemas. Ia jatuh terduduk. Hantu wanita itu mencekik leher Amadhea. Rasanya seperti dililit ular. Amadhea mengeluarkan rosario milik Xaga kemudian ia menamparkan rosario tersebut ke wajah hantu itu.
Wanita berwajah terbakar itu berteriak. Asap mengepul dari wajahnya. Amadhea melihat bekas rosario tercetak di pipi hantu wanita itu.
"Hrrraaagghhhh!" Hantu itu menghilang dari hadapan Amadhea.
Amadhea mengatur napasnya yang terengah-engah. Ia jatuh terduduk di lantai sambil menangis ketakutan.
Tiba-tiba suara wanita membaca mantra kembali terdengar. Amadhea menangis sambil menutup kedua telinganya. Ia tidak ingin mendengar apa pun lagi. Gadis itu merasakan tangan dingin menyentuh kepala dan dahinya.
Ia berusaha meronta, tapi tubuhnya seolah membeku, sangat sulit digerakkan.
Hantu bermata hitam itu berada dekat di belakangnya. Ia membisikkan mantra secara langsung ke telinga Amadhea sembari memegang kepala dan dahi kiri gadis itu.
Amadhea menangis dalam diam. Tangannya yang memegang rosario gemetar. Ia benar-benar sangat ketakutan.
Rosario di tangannya putus dan berhamburan ke lantai tanpa sebab. Amadhea melihat sosok anak kecil yang mengintip di ambang pintu. Anak kecil itu terlihat ketakutan.
Amadhea menyentuh tangan yang menutupi dahinya. "Berhenti!! berhenti menggangguku!!!"
Wanita bermata hitam itu tertawa cekikikan. "Amadheaaaa!!!"
Amadhea membuka matanya. Sebelah matanya, tepatnya mata yang kiri berubah menjadi hitam semua. Pembuluh darahnya muncul di pipi dan dahi kirinya.
"Aarrgghh!!!" Amadhea berteriak kesakitan. Ia jatuh terkulai ke lantai.
Suara mantra-mantra itu perlahan menghilang. Amadhea masih terkulai. Suasana menjadi hening. Detik jarum jam dari lantai satu terdengar sampai ke kamarnya.
Amadhea bergerak. Ia bangkit kemudian berdiri sempoyongan sambil memegangi kepalanya. Gadis itu mendongkak menatap ke depannya. Mata kirinya kembali normal.
Gadis itu melihat wanita berwajah terbakar itu berdiri tak jauh darinya. Ia menatap nyalang padanya. Tiba-tiba hantu itu sudah berada di depannya dan mendorongnya ke jendela yang sudah pecah kacanya karena lemparan kursi tadi.
"Hhhh." Amadhea merasakan tubuhnya melayang di udara sesaat sebelum dirinya terjatuh dan mendarat di tanah.
Amadhea tidak merasakan sakit, meski pun ia jatuh dari lantai dua. Mungkin karena rasa sakit yang diberikan hantu bermata hitam jauh lebih menyakitkan ketimbang jatuh dari lantai dua.
Perlahan kedua mata Amadhea tertutup. Samar-samar ia mendengar suara serak yang bergumam tepat di telinganya, "Aku hanya ingin mengambil milikku."
Setelah itu, ia tak sadarkan diri.
Clak!
Terdengar suara tetesan air.
Perlahan Amadhea membuka matanya. Langit kelabu yang pertama kali Amadhea lihat kala matanya terbuka. Tetesan demi tetesan air dari langit berjatuhan ke wajahnya.
Apa aku sudah mati?
"Hhhh." Amadhea meringis. Ia mencoba bangkit, tapi tidak bisa. Dengan seluruh tenaganya, Amadhea merangkak menuju ke teras rumah.
Gadis itu akhirnya sampai ke teras rumah dengan bajunya yang kotor karena terkena lumpur tanah yang basah terkena air hujan. Amadhea menangis dalam diam. Tatapannya kosong menatap lurus ke depan.
Kenapa aku tidak mati saja? Sulit dipercaya, aku jatuh dari lantai dua, tapi aku tidak mati, batin Amadhea.
Amadhea melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 4 sore. Gadis itu sangat terkejut.
Jadi, aku pingsan selama 19 jam?
Hari mulai gelap.
Mobil Pak Ahmad berhenti di depan rumah Amadhea. Di dalam mobil itu ada Pak Ahmad, Zahra, Alinda, dan Greeta.
Alinda dan Greeta melihat ke jendela mobil. Alinda bertanya, "Apa ini benar-benar rumah Amadhea? Dia tinggal sendirian di rumah ini? Menakutkan sekali."
"Wah, dia benar-benar pemberani," gumam Greeta.
"Papa, kalau Amadhea sakit, Zahra boleh menginap, kan? Kasihan dia sendiri," pinta Zahra.
Pak Ahmad mengangguk. "Kalau ada apa-apa, telepon saja, ya."
Zahra mengangguk.
Mereka bertiga keluar dari mobil sambil membawa tas masing-masing.
"Permisi?" Alinda mengetuk-ngetuk gerbang rumah tua itu.
"Tidak dikunci, masuk saja," celetuk Greeta sambil melihat ke sekeliling. Ia tampak khawatir.
Alinda mengangguk kemudian membuka gerbangnya.
"Kalian sedang apa?"
Ketiga gadis itu tersentak kaget mendengar suara wanita yang menegur mereka. Zahra, Alinda, dan Greeta menoleh ke sumber suara, ternyata Irma.
"Tante Irma?" Zahra mengenal Irma, karena waktu itu ia dan ayahnya pernah datang dan membantu pemakaman Aulia.
"Hari ini Dhea tidak masuk sekolah. Karena khawatir, kami datang untuk menjenguknya," jelas Zahra.
Irma tampak berpikir, kenapa mereka datang malam-malam? Hantu penunggu rumah tua itu pasti akan mengganggu mereka. Aku harus menemani mereka agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Ya sudah, ayo! Tante temenin, ya." Irma membuka gerbang dan masuk duluan.
"Terima kasih, Tante," kata Greeta.
Alinda mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah tua itu. Halaman luas dengan penerangan yang temaram, karena lampu halamannya yang terhalang debu dan tanaman rambat.
Greeta memeluk lengan Alinda tanpa mau melihat ke sekelilingnya. Ia menatap lurus ke depan.
Zahra tampak berbincang dengan Irma. Mereka berdua berjalan paling depan.
"Pagi ini Tante tidak melihat Amadhea. Tante kira dia pergi ke sekolah atau mungkin di dalam rumah," ucap Irma.
Zahra tampak khawatir. "Dhea tidak pergi ke sekolah. Biasanya dia akan memberitahu kami kalau dia tidak akan masuk."
...π»π»π»...
^^^07.26 | 1 September 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah^^^