
Disisi lain..
Jerry mulai gelisah karena Riana. Sudah seminggu dari terakhir Jerry menghubunginya tapi belum ada kabar sama sekali. Jerry mulai berpikiran jelek "kenapa dia belum ada mengabariku. Apa jangan-jangan dia ingin menipuku. Huh.. awas saja kalau dia sampai berani menipuku. Akan ku tuntut dia" kata Jerry dalam hati. Ibu Jerry sudah tak sabar ingin bertemu dengan Riana. Hampir setiap hari ketika Jerry pulang dari cafe sang ibu selalu menanyainya. Sampai-sampai membuat Jerry tidak ingin pulang karena selalu dicecar dengan pertanyaan yang sama. Dia coba untuk menghubungi Riana untuk memastikan kapan dia bisa mengajaknya bertemu dengan sang ibu. Dan, Jerry berharap kali ini sudah ada kepastian dari Riana.
*Ttutt ttutt ttuutt ttuuuttt. Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi*
"Ah.. sial!!! Dia malah tidak mengangkat teleponku. Berani-beraninya dia." maki Jerry dalam hati. Jerry mencoba untuk menahan dan mengalihkan rasa emosinya. Dia memutuskan untuk jalan-jalan mencari angin. Saat diperjalanan tidak sengaja dia melihat Riana. Angkot yang ditumpangi Riana berpapasan secara berlawanan arah dengan mobil Jerry. Tanpa pikir panjang Jerry langsung membanting stir mobilnya dan mengikuti Riana dari belakang. Ia tetap berusaha untuk jaga jarak agar Riana tidak melihatnya. Sampailah mereka di suatu jalan yang dimana jalan ini merupakan jalan menuju ke rumah Riana. Jerry menghentikan mobilnya dengan jarak +/- 3meter dari angkot yang ditumpangi oleh Riana. Dimatikan mesin mobilnya dan dia melepaskan seat belt yang terpasang. Dilihatnya Riana turun dengan seorang wanita yang sudah paruh baya. Ia menduga wanita itu adalah ibunya Riana. Ketika Riana dan ibunya masuk kedalam gang. Jerry memutuskan untuk tetap mengikuti Riana sampai ke dalam. Dia gunakan kacamata dan topi hitam sebagai alat penyamarannya. Dia dan Riana hanya berjarak sekitar 2 meter. Sesekali Riana menengok ke belakang, karena mungkin Riana merasa seperti ada yang mengikutinya. Saat Riana menoleh kebelakang Jerry berhenti mengikuti dan pura-pura sedang mengangkat telepon. Dan, ketika Riana menoleh kedepan maka ia akan kembali mengikuti Riana.
Tibalah mereka tepat di depan rumah Riana. Jerry agak terkejut ketika melihat kondisi rumahnya. Dilihatnya rumah-rumah yang ada disekitar rumah Riana. Hanya rumah Riana yang kondisinya sangat memprihatinkan. Seketika ada rasa penyesalan karena sudah memecat Riana seenaknya. Pantas saja Riana tiba-tiba menyetujui pernikahan kontrak itu. Padahal awalnya dia sangat tegas menolak. Jika dilihat dari rumahnya saja mereka termasuk orang yang tidak mampu. Jadi bagaimana bisa Riana membayar biaya operasi ibunya yang cukup besar nilainya. Kini, Jerry sudah tahu alamat rumah calon istri kontraknya itu. Ia memutuskan malam nanti akan bertamu kerumah Riana.
Jerry pun langsung bergegas pulang kecafenya. Diperjalanan menuju cafe tanpa disadari ia terus-terusan memikirkan rasa bersalahnya pada Riana. Ia merasa sangat tak enak hati. Ia pikir selama ini Riana dan keluarganya masih tergolong orang yang mampu. Tak disangka kalau ternyata begitu kenyataannya. Tapi untungnya Jerry sudah membeli sebuah rumah yang sangat bagus dan juga sangat besar untuk ditempati ketika mereka sudah menikah nanti. Riana dan orang tuanya bisa tinggal dirumah itu.
Dirumah Riana..
"Nanti malam saja kita lanjutkan pembicaraan kita tadi. Ibu lupa kalau ibu sudah ada janji dengan Bi Asih mau membantu dia masak-masak." Kata ibu yang langsung pergi kerumah Bi Asih. Akupun masuk kamar. Ku ambil handphone yang ada diatas meja. Tak sengaja aku meninggalkannya tadi ketika aku menemani ibu kepasar. Ada telepon panggilan tak terjawab dari mantan bosku. Ku pikir mantan bosku itu pasti ingin mempertanyakan kesiapanku. Ku matikan handphoneku agar dia tak menghubungi lagi. Dan, aku lebih memilih untuk tidur daripada menelponnya balik.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Aku terbangun dari tidurku dan keluar dari kamar. Sedangkan ibu belum pulang dari tempat Bi Asih. Aku memutuskan untuk membereskan rumah. Setelah selesai berberes aku beranjak pergi mandi dan menyiapkan makan malam aku dan ibu.
"Baiklah. Kita sudah selesai makan malam. Nanti saja kita membereskannya. Kita lanjutkan pembicaraan kita yang tadi siang." kata ibu.
"Ceritakan pada ibu. Mengapa kau tiba-tiba ingin menikah?" lanjut sang ibu.
Jujur, aku sendiri bingung ingin menjawab apa. Karena aku tidak mungkin menceritakan alasan yang sebenarnya. Kali ini terpaksa aku harus berbohong lagi.
Dilihatnya sang anak yang nampak kebingungan, ibunya kemudian melanjutkan pembicaraannya "Usia mu baru akan beranjak 21tahun. Apa tidak terlalu cepat jika kau menikah. Ibu bukannya tidak setuju kau menikah. Tapi ibu ingin kau memikirkannya dengan matang. Hidup setelah menikah itu tidak gampang. Ketika kau memutuskan untuk menjadi seorang istri. Itu tandanya kau harus siap mengabdikan diri untuk suami dan anakmu kelak. Kau harus rela jika nantinya impian mu tidak terwujud. Banyak hal yang harus dikorbankan dan dipikirkan setelah menikah. Lagipula, selama ini kau tidak pernah mengenalkan kekasihmu itu pada ibu. Jadi wajar jika ibu merasa terkejut ketika kau bilang kau akan menikah."
"Maafkan aku Bu. Bukannya aku tidak ingin mengenalkannya pada ibu. Karena sebenarnya aku juga kaget tiba-tiba diajak menikah. Kami sudah kenal selama 3tahun. Sebelum dia mengajak ku menikah kami tidak punya hubungan apa-apa. Dan tiba-tiba dia mengajakku menikah. Aku tidak langsung bilang iya padanya. Tapi setelah ku pikir-pikir tidak baik jika aku menolak niat baiknya. Makanya ku terima ajakannya untuk menikah." jawab Riana.
Sang ibupun menyahut "Kau benar. Tidak baik menolak seseorang yang punya niat baik kepada kita. Tapi apa kau siap? Apa kau sudah memikirkannya dengan sangat matang. Menikah bukan hal yang sepele. Untuk memutuskan menerimanya kita harus berpikir dengan benar. Tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan. Lalu apa kau sudah mengenal dengan baik calon suami dan keluarga barumu jika kalian saja sebenarnya tidak punya hubungan apa-apa. Apa tidak sebaiknya kalian saling mengenal lebih dalam satu sama lain sebelum menikah. Nak, ibu bukannya ingin berprasangka buruk terhadap calon suami mu. Tapi bagaimana jika calon suami mu itu bukanlah laki-laki yang baik. Ibu tidak ingin terjadi hal-hal yang buruk setelah kau menikah nanti."
Aku merasakan kekhawatiran ibu. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Yang aku lakukan semata-mata demi ibu seorang. Belum sempat aku menjawab omongan ibu. Tiba-Tiba ada yang mengetuk pintu rumah kami. Aku meminta izin kepada ibu untuk membuka pintu. Saat aku membuka pintu. Betapa terkejutnya aku dengan sosok yang tepat berdiri dihadapanku sekarang.
Bersambung...