Summer Breeze (Riana)

Summer Breeze (Riana)
Summer Breeze eps 2



Sudah hampir pukul 09.00wib aku harus pergi bekerja. Akupun langsung bergegas mengambil tas dan keluar kamar. Kulihat ibu masih menangis sembari membersihkan barang-barang yang ayah banting tadi. Ibu hanya tersenyum tipis melihatku seolah tidak terjadi apa-apa. Aku langsung berangkat tanpa pamit kepada ibu. Tak terasa ini tahun ke-3 aku bekerja Dimusim panas ini aku berharap kehidupanku berjalan lebih baik dari yang sebelumnya. Ku hirup dalam-dalam udara segar dimusim panas ini.


"Tttiinnggg" "Ttttiinnnggg" ada bunyi pesan masuk dihandphone ku. Kulihat itu pesan dari bosku.


"HEI!!! KAU TIDAK BEKERJA HARI INI? KAU TAHU INI SUDAH JAM BERAPA? APA KAU MAU DIPECAT, HAHHH??? " begitu isi pesannya. Aaahhh ntahlah, beberapa minggu belakangan ini dia sering sekali mengirim pesan seperti itu padaku. Padahal aku tidak pernah buat kesalahan selama aku bekerja. Aku selalu datang lebih awal sebelum cafe buka. Aku tidak pernah terlambat. Aku selalu berusaha maksimal dalam bekerja. Tapi ntah ada apa dengan bosku ini. Setiap kali ku tanya apa aku ada berbuat kesalahan. Dia selalu menjawab "tidak", hanya sepatah kalimat itu saja yang keluar dari mulutnya. Ingin rasanya aku resign dari pekerjaan ini. Tapi aku sadar aku butuh pekerjaan ini untuk membantu ibuku. Akupun langsung berlari agar lebih cepat ke cafe.


Sesampainya dicafe kulihat ada bosku sedang duduk sambil mencatat sesuatu.


"Selamat pagi bos" sapaku. Dia tidak menjawab. Jangankan menjawab melihat saja tidak. Aku langsung masuk keruang karyawan, berganti pakaian dan mengambil beberapa alat untuk bersih-bersih dicafe sembari menunggu karyawan yang lain datang. Setelah selesai bersih-bersih, cafe pun kami buka. Sudah banyak yang mengantri. Terkadang aku heran kenapa cafe ini bisa sangat ramai dengan pengunjung. Memang makanan dan minuman yang kami sajikan rasanya lezat semua. Yang bikin aku heran hampir semua pelanggan dicafe ini adalah perempuan. Setiap kali ada pelanggan yang order mereka selalu bertanya "dimana bos kalian, siapa namanya, apakah dia sudah punya pacar" Aaahhh aku rasa mereka kesini karena mengincar bos ku. Bos ku adalah seorang laki-laki. Namanya Jerry. Dia masih sangat muda. Usianya 25th. Berkulit putih, hidungnya mancung, alisnya tebal, bulu matanya lentik, matanya sangat indah, bibirnya merah, stylenya tidak kalah dengan artis-artis KPop, dan yang pasti dia anak orang kaya. Cewek mana yang tidak meleleh saat melihatnya. Kecuali aku. Ku akui dia tampan. Tapi selain tampan dia adalah orang yang sangat galak. Aku rasa kalau pelanggan-pelanggan kami tahu dia sangat galak, mereka pasti akan mundur teratur. Hufttt...


Akhirnya pekerjaan hari ini selesai juga. Jam sudah menunjukkan pukul 16.00wib. Sudah saatnya berganti shift. Saat aku sedang bersiap-siap untuk pulang tiba-tiba temanku yang juga karyawan dicafe ini memanggilku.


"Ri, kau dipanggil bos. Kau disuruh keruangannya" kata temanku. Kenapa dia memanggilku?Apa aku ada berbuat kesalahan hari ini?


"Iya" sahutku.


Aku pun langsung pergi ke ruangannya. Ku ketuk pintu ruangannya.


"Masuk" suara dari dalam.


"Permisi bos. Katanya bos memanggil saya" ujarku.


"Ah iyaa. Duduklah" jawabnya.


"Ada apa ya bos? Kenapa bos tiba-tiba memanggil saya? Apa saya ada berbuat kesalahan hari ini?" Tanyaku dengan rasa penasaran.


"Kenapa kau tidak bertanya satu-satu?! jawabnya tegas.


"Maaf" kataku.


"Hari ini kau ku pecat!" Ujarnya.


Hahhh!!! Aku dipecat! Kenapa? Apa salahku? Belum sempat aku bertanya lagi. Dia sudah melanjutkan omongannya.


"Kau tidak membuat kesalahan apa-apa. Tenang saja kau tetap akan mendapatkan gaji dan pesangonmu. Dan aku punya pekerjaan lain untukmu" katanya.


"Iya. Pekerjaan lain. Jika kau menyetujuinya, aku akan membayarmu 10x lipat dari gaji mu yang sekarang." Katanya. Hmmm... Menggiurkan.


"Pekerjaan apa bos?" Tanyaku.


"Menikah dengan ku" jawabnya.


HAH???!!!! APA????!!!! MENIKAH DENGANNYA?!!! mimpi apa aku semalam. Pekerjaan apa ini.


"Tentu saja ini bukan pernikahan betulan. Ini hanya pura-pura. Aku disuruh oleh kedua orang tuaku menikah secepatnya, karena sekarang ibuku sedang sakit. Dia takut tidak sempat melihat aku menikah" lanjutnya.


"Tentu saja aku belum ingin menikah. Aku masih ingin fokus dengan usahaku. Tapi tiap hari aku terus-terusan didesak oleh mereka. Aku sudah lelah. Jadi dengan terpaksa aku mengiyakan keinginan mereka." Masih lanjutnya.


"Tapi, kenapa saya? Apa bos tidak punya kekasih yang bisa bos ajak menikah." tanyaku.


Dia tersenyum tipis, "Kau kan tau hampir sebagian waktuku ku habiskan dicafe. Mana aku punya kekasih. Dan lagipula aku tidak pernah kepikiran untuk mencari kekasih karena sangat merepotkan bagiku. Aaahhh... sudahlah tidak usah terlalu banyak tanya. Kalau kau setuju kau tandatangani surat kontrak ini. Kontrak ini berlaku sampai ibuku sembuh. Jika ibuku sudah sembuh kita akhiri kontrak ini. Aku akan membayar DP 50%. Sisanya akan aku bayar setelah kontrak kita selesai. Bagaimana?" Tanyanya.


"Maaf bos. Tapi aku tidak bisa" kataku dengan tegas.


"Kau yakin kau menolaknya? Bayarannya lumayan cukup besar. Bisa kau jadikan modal untuk membuat usaha. Atau apa bayarannya kurang? Kau mau berapa tinggal sebut saja aku pasti akan membayarnya." Ujarnya


"Bukan masalah bayarannya. Tapi ini tentang harga diri. Bagaimana bisa saya menggadaikan harga diri saya hanya demi uang" kataku dengan agak emosi.


Dia menghela nafas, "baiklah. Kalau tidak kau pikirkan saja dulu tawaranku ini. Kau pikirkan baik-baik. Aku tidak ada bermaksud untuk membeli harga dirimu. Hanya saja ini untuk kepentingan bersama. Aku tahu kau sangat membutuhkan uang untuk membantu orang tua mu. Dan aku juga sangat butuh bantuanmu." Dia membuka laci mejanya dan menyerahkan amplop padaku.


"Ini gaji mu bulan ini serta pesangonmu. Dan bawalah kontrak ini. Aku beri kau waktu 3 hari. Dalam kurun waktu 3 hari ini pikirkan dengan baik tawaranku ini. Aku tunggu! kesempatan hanya datang sekali!. Katanya mengakhiri pembicaraan.


Aku langsung beranjak pergi setelah menerima amplop itu. Selama diperjalanan pulang aku terus-terusan memikirkan kontrak itu. Jujur saja bayarannya sangat menggiurkan. Kapan lagi aku mendapatkan uang banyak. Lagipula bos sendiri yang menawarkan berapapun yang aku minta. Setidaknya dengan uang itu aku bisa membantu ibu membuka usaha. Tapi, dimana harga diriku kalau sampai tawaran itu ku terima. Aarrggghhhh...!!!! Pilihan yang sangat susah!!! Apa yang harus aku lakukan sekarang??? Aku sangat bingung. Jika aku tolak maka hilang sudah kesempatan itu.


Akhirnya aku tiba juga dirumah. Aku langsung masuk kedalam.


"Bu..." Panggilku. Tidak ada sahutan. Ku cari ibu didapur tapi ibu tidak ada. Ku tengok meja makan tidak ada makanan apapun. Apa ibu sedang tidur? Pikirku. Mungkin saja dia ketiduran karena lelah bekerja seharian. Akupun langsung kekamar ibu untuk memastikannya. Tapi, ibu juga tidak ada. Tidak mungkin kalau dia masih bekerja. Belum habis kebingunganku. Tiba-tiba ada suara langkah kaki berlari dirumahku....


Bersambung....