Summer Breeze (Riana)

Summer Breeze (Riana)
Summer Breeze eps 17



Tokkk... tokk.. tokk..


"iya sebentar "Jawabku dari dalam rumah.


"(siapa malam-malam datang begini)"batin ku.


Ketika aku membuka pintu sudah ada Jerry yang berdiri dibaliknya.


"Kenapa kamu kesini?" tanya ku


"Aku ingin menyerahkan ini. Dan ingin bertemu dengan ibumu" jawab Jerry sambil menyerahkan sebuah amplop coklat.


Sepertinya aku tahu isi didalam amplop coklat ini.


"Masuklah" ajak ku pada Jerry.


Jerry pun masuk. Aku menyuruh dia untuk menunggu diruang tamu sembari ku memanggil ibu. Ibu keluar dari dalam kamarnya menuju ruang tamu. Ekspresi ibu sangat datar ketika aku bilang kalau Jerry datang. Dengan langkahnya yang berat dia bersedia menemui Jerry.


"Ada apa kau datang kesini?" tanya ibu dengan nada agak ketus.


"Saya kesini mengantarkan amplop itu untuk ditanda tangani oleh Riana. Dan juga saya kesini untuk meminta pada anda" jawab Riana.


"Apa ini surat perceraian kalian?" tanya ibu lagi.


Jerry mengangguk pelan.


"Cepatlah kamu tanda tangani Riana. Agar dia cepat pergi dari sini" perintah ibu.


"Bu.. ibu tidak boleh begitu. Jerry datang kesini baik-baik. Tidak seharusnya ibu berbicara seperti itu" sahutku yang agak kesal dengan tingkah ibu.


Ibu terdiam. Ku buka amplop coklat itu. Tanganku gemetar saat menanda tangani surat itu. Sungguh berat rasanya. Tapi ini harus ku lakukan. Sesudah tanda tangani ku masukkan kembali surat itu dan ku serahkan pada Jerry.


"Saya ingin meminta maaf pada kalian berdua. Terlebih lagi pada anda. Maafkan atas sikap saya selama ini. Saya harap anda bersedia untuk memaafkan saya. Dan ini, maaf saya tidak bisa terima. Saya tidak akan meminta uang saya diganti atau apapun itu. Jadi saya mohon ambil kembali uang ini" kata Jerry sambil menyerahkan sebuah amplop putih yang berisikan uang yang diberikan ibu waktu itu padanya.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Dan sidang perceraiannya 3 hari lagi" sambung Jerry. Dia pun melangkahkan kakinya keluar dari rumahku. Aku reflek beranjak dari tempat duduk ku mengantarkan Jerry pulang.


"Maafkan ibuku" ucapku.


Jerry membalikkan badannya dan dia tersenyum padaku.


"Tidak masalah. Aku mengerti." jawabnya sendu.


Kami saling bertatapan. Aku merasakan kesedihan yang teramat dalam. Bahkan lebih sedih daripada ketika ayah meninggalkan aku dan ibu. Aku berusaha untuk menahan air mataku. Aku tidak ingin Jerry tahu kalau ternyata aku sangat sedih karena perceraian ini. Sungguh rasanya tidak rela berpisah darinya. Yang aku bayangkan setelah kami bercerai adalah Chelsea pasti akan lebih giat mendekati Jerry. Dan aku takut jika nanti aku harus menerima kenyataan Chelsea lah yang akan mendampingi Jerry. Sepertinya aku sudah jatuh cinta padanya


Tidak ada angin, tidak ada hujan. Aku terkejut ketika Jerry menarik tanganku. Kini aku sudah berada didalam pelukannya. Dia membelai rambut ku dengan sangat lembut. Dapat ku dengar dengan jelas hembusan nafasnya.


"Kau baik-baik ya. Jaga ibumu dengan baik. Aku minta maaf jika aku selama ini belum menjadi suami yang baik untukmu. Terima kasih karena sudah bersedia mengikuti keinginanku yang konyol itu. Aku harap setelah ini kamu bisa mendapatkan laki-laki yang baik. Yang benar-benar mencintaimu dengan tulus" lirihnya.


Aku sudah tidak mampu menahan airmata ku lagi. Ku balas pelukan Jerry dengan sangat erat dan aku menangis dalam pelukannya.


Sejak malam itu aku tidak pernah lagi bertemu dengan Jerry. Dia juga tidak pernah menghubungiku lagi. Bahkan saat sidang perceraian kami, dia tidak datang. Hanya ada asisten pribadinya yang hadir mewakili dirinya. Sekarang kami sudah benar-benar berakhir. Aku tidak akan pernah melihat wajahnya lagi. Dan mungkin saja kami tidak akan pernah bertemu lagi.


Hari ini adalah hari yang sangat sibuk. Banyak pelanggan yang mampir di cafeku. Sampai-sampai aku dan Susi kewalahan melayani mereka. Tapi aku bersyukur setidaknya walau cafe ku termasuk cafe baru sangat ramai pengunjung. Sejak bercerai aku memutuskan untuk membuka usaha cafe sendiri. Cafe ku ada dipinggiran pusat kota. Tidak heran jika banyak yang singgah dicafe ku. Karena disini pusatnya perbelanjaan. Aku ditemani dengan seorang gadis muda yang usianya dibawah 3 tahun dariku. Sekarang usiaku sudah 25tahun. Namanya Susi. Orangnya sangat ceria dan juga cekatan. Dia orang yang sangat menghibur.


"aahhhh aku lelah kak" ujar Susi menghela nafas.


Aku hanya tersenyum mendengar celotehannya.


"Hari ini banyak sekali pengunjung kita tidak seperti biasanya" lanjutnya.


"Berbereslah. Sebentar lagi kita pulang ini sudah hampir jam 5 sore." ujarku menimpali celotehannya.


"Siap bos" sahutnya dengan meletakkan tangannya di dahi seperti orang hormat.


Kami pun siap untuk pulang.


"Bagaimana sebelum kita pulang. Kita pergi cari makan dulu. Aku yang traktir." ajak ku padanya.


Tanpa berpikir panjang dia langsung menyetujui dengan gembira.


Selesai makan kami tidak langsung pulang. Kami masih mencari cemilan dipinggir jalan.


"Kak, nanti kita singgah kerumah ayah angkat ku dulu ya. Aku ingin mengantarkan makanan ini" ucap Susi sambil menunjukkan bungkusan yang ia beli sebelum kami pulang tadi.


"Ayah angkat? sejak kapan kamu punya angkat? kok aku tidak tahu" kataku.


"Iya. Kami bertemu sekitar 2 tahun yang lalu saat dia sedang mencari makanan ditempat sampah. Keadaannya sungguh sangat memprihatinkan. Saat itu kebetulan aku juga sedang membawa makanan. Aku berikan pada dia. Dia sangat senang kak ketika menerima makanan dari ku. Dia orang yang baik. Berhubung aku yatim piatu. Maka aku menganggap dia sebagai ayahku. Kasihan dia kak. Dia pernah cerita padaku kalau dia terpaksa meninggalkan anak dan istrinya. Karena dia takut menyakiti perasaan mereka lagi. Dia menyesal karena sudah menyakiti anak dan istrinya. Lalu dia bilang dia sampai tidak berani kembali ke rumahnya karena sudah terlanjur malu terhadap mereka. Dia takut kalau mereka tidak mau menerima dia lagi." cerita Susi.


"Ahhh kasian sekali. Baiklah setelah ini aku akan menemani mu" kataku terharu.


Akhirnya sampai lah kami disebuah rumah kecil disudut gang.


"Nah itu rumahnya. Ayo kak" ujar Susi sambil menarik tanganku.


Susi sudah tidak sabar sekali ingin memberikan makanan yang ia bawa untuk ayah angkatnya. Kami pun sampai tepat didepan pintu rumah ayah angkatnya.


Tokkk tokkk tokkk.. Susi mengetuk pintu rumah tersebut.


"Ayah ini aku Susi. Anakmu yang paling cantik membawakan makanan untukmu" Gurau Susi.


Aku tersenyum melihat tingkah laku Susi ini.


"(Ada-ada saja dia ini)" batinku.


"Iya tunggu sebentar" sahut orang itu dari dalam.


Aku seperti tidak asing dengan suara ini. Aku seperti mengenalinya.


Tak lama kemudian ada yang membuka pintunya dan betapa terkejutnya aku dengan sosok dibalik pintu itu.


Bersambung...