Summer Breeze (Riana)

Summer Breeze (Riana)
Summer Breeze eps 16



"Saya ingin anak kita bercerai" ucap ibuku.


Aku dan ibu Jerry sama-sama terperangah mendengar ucapan ibuku.


"Bu.." lirihku


"Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba anda ingin anak kita bercerai? Bukannya mereka baik-baik saja. Jangan bercanda" sahut ibu Jerry sambil tertawa kecil.


"Saya serius! saya ingin anak kita bercerai" ibu mempertegas perkataannya.


"Tapi kenapa?" tanya ibu Jerry.


"Anak kita telah membohongi kita. Selama ini mereka hanya menikah kontrak" ungkap ibu.


"Benarkah itu Riana?" tanya ibu Jerry padaku.


Aku menatap mata ibu Jerry dengan penuh rasa ketakutan. Aku mengangguk.


"Kenapa? apa alasannya? kenapa kalian harus menikah kontrak?!" Tanya ibu Jerry padaku.


Aku tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Ibuku menjelaskan semuanya.


"Saya tidak menyangka kenapa kalian tega berbuat seperti itu pada kami?" tanya ibu Jerry dengan berlinang airmata.


"Maafkan saya" lirihku.


Hanya kata maaf yang bisa ku ucapkan sekarang. Selebihnya tidak ada. Ibuku terus melanjutkan pembicaraannya. Ibuku benar-benar tidak terima dengan hal ini. Ibuku tetap bersikeras ingin kami bercerai. Dengan terpaksa ibu Jerry menyetujuinya. Sekarang hilang sudah rasa percaya ibu Jerry terhadapku. Begitu juga dengan ibu. Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Selain menuruti apa kata mereka.


Kami pun kembali kerumah kami yang lama. Bi Asih menghampiri kami ketika kami datang.


"Kenapa kalian bawa koper?"tanya Bi Asih


"Bisakah kami menyewa rumah itu lagi?" tanya ibu tanpa menghiraukan pertanyaan Bi Asih.


"Tentu saja masih bisa. Tapi kenapa kalian ingin menyewa rumah ini lagi? bukannya kalian sudah tinggal dirumah yang mewah." tanya Bi asih penasaran.


"Ceritanya panjang." jawab ibu singkat.


"Yaa sudah kalau begitu. Aku ambilkan kuncinya dulu sebentar" sahut Bi Asih.


Kemudian bi Asih masuk kerumahnya untuk mengambil kunci.


Dirumah ibu Jerry.


Sekarang Jerry sudah berhadapan dengan ibunya.


"Apa benar tentang pernikahan kontrak itu?" tanya ibu Jerry pada Jerry.


"Iya" jawab Jerry singkat.


"Untuk apa kalian melakukan itu?" tanya ibunya lagi.


"Ini ku lakukan untuk ibu. Karena ibu terus memintaku untuk menikah" jawab Jerry.


"Tapi kenapa sampai harus menikah kontrak? Kalau memang kau belum ingin menikah. Bilang saja pada ibu. Ibu tak jadi masalah" ungkap ibu Jerry.


"Ibu pernah bilang padaku kalau ibu ingin melihatku menikah sebelum ibu pergi karena ibu merasa ibu sering sakit-sakitan" sahutnya.


"Memang benar ibu berkata seperti itu. Tapi ibu ingin melihat kau menikah dengan orang yang benar-benar kau cintai. Bukannya malah menikah kontrak seperti ini" sambung ibu Jerry.


Jerry hanya terdiam tertunduk lesu.


"Apa kau tahu ibu Riana sungguh marah besar. Dia ingin kalian bercerai" lanjut ibu Jerry.


"Benarkah? Lalu ibu bilang apa pada mereka?" tanya Jerry.


"Terpaksa ibu menyetujuinya. Kalau pun ibu menolak itu akan percuma. Sebenarnya ibu tidak ingin kalian bercerai. Ibu sudah terlanjur sayang pada Riana. Dia wanita yang baik. Dan selama kalian menikah ibu lihat dia menjalani kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik walaupun kalian menikah kontrak. Makanya ibu sangat percaya menyerahkan butik ibu padanya." jawab ibu Jerry


"Maafkan aku" ucap Jerry.


"Tidak perlu meminta maaf pada ibu. Seharusnya kau meminta maaf pada ibunya Riana. Dia sangat marah." kata ibu Jerry.


"Baguslah. Dan lebih baik kau cepat mengurus perceraian kalian. Ibu Riana ingin kalian segera bercerai" lanjut ibu Jerry.


Jerry hanya mengangguk. Pikirannya sekarang campur aduk. Jauh di lubuk hatinya ia menyesal melakukan pernikahan kontrak ini. Bukan karena menikahi Riana. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi. Dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menceraikan Riana.


Tiga hari berlalu sejak kejadian itu. Jerry memutuskan untuk menghubungi Riana mengajaknya bertemu.


"Halo" sapa Jerry.


"Iya" jawab Riana dibalik sambungan telepon itu.


"Apakah kamu sedang sibuk?" tanya Jerry.


"Tidak. Ada apa?" Riana balik bertanya.


"Aku ingin mengajak kamu bertemu di cafe tempat biasa kita malam ini jam 7" jawab Jerry.


"Baiklah. Aku akan langsung kesana nanti malam" ucap Riana yang langsung mematikan ponselnya karena takut jika ibunya tahu kalau yang menelepon adalah Jerry.


Malam pun tiba. Jerry sudah menunggu Riana ditempat mereka janjian. Tak lama kemudian Riana datang dan langsung menghampiri Jerry.


"Ada apa? Kenapa kamu mengajakku bertemu?" Tanya Riana.


"Bagaimana dengan ibu mu? apakah dia masih sangat marah?" kata Jerry.


"Begitulah. Ibu masih belum mau menegurku." sahut Riana.


"Maafkan aku. Karena keegoisanku kita mendapat masalah yang besar." ucap Jerry.


"Sudahlah. Bukan hanya kamu yang salah. Aku juga salah. Seandainya waktu itu aku menolak kita tidak akan seperti ini." sambung Riana.


"Ibu ku bilang ibu mu ingin kita bercerai" lanjut Jerry.


"Iya" jawab Riana.


"Aku akan mengurusnya besok. Sekarang kalian tinggal dimana?" tanya Jerry kembali.


"Kami kembali kerumah kami yang dulu." ucap Riana.


"Jika berkas perceraiannya sudah selesai. Aku akan mengantarnya kerumah mu untuk meminta tanda tanganmu. Sekalian aku ingin meminta maaf pada ibu" kata Jerry dengan suara yang lirih.


Riana hanya mengangguk.


Pertemuan itu diakhiri dengan makan malam berdua untuk yang terakhir kalinya. Selesai dari makan malam Jerry berniat untuk mengantar Riana pulang. Tapi Riana menolaknya. Ia takut jika ibunya marah kalau tahu ia habis bertemu dengan Jerry. Karena Riana tidak bilang pada ibunya kalau ia akan bertemu dengan Jerry. Riana memutuskan pulang naik taksi.


Didalam taksi.


Sepanjang perjalanan pulang kerumah, aku terus merasakan sesuatu yang sungguh menyesakkan dadaku. Ada sebuah rasa penolakan yang sama seperti ketika aku memutuskan untuk menikah kontrak dengan Jerry. Jika dulu aku dengan berat hati harus menikah dengan Jerry. Kali ini aku juga merasa berat hati untuk bercerai dengan Jerry. Aku pun merasa bingung dengan perasaanku sekarang. Tapi ku putuskan untuk tidak menghiraukan perasaanku. Karena aku pikir, aku sudah cukup merasa gila dengan masalah yang kuhadapi sekarang. Aku tidak ingin memikirkan hal yang lain lagi. Yang aku inginkan hanya masalah ini cepat selesai.


Sesampainya dirumah. Aku membuka pintu dengan sangat pelan. Aku takut ibu mengetahui kedatanganku. Karena aku tadi diam-diam pergi dari rumah tanpa bilang apapun pada ibu.


"Darimana saja kau?" suara ibu mengagetkanku.


"Ibu belum tidur?" tanyaku gugup.


"Ibu belum mengantuk. Kau darimana? kenapa tidak bilang pada ibu kalau kau akan keluar" tanya ibu serius.


"aku hanya keluar mencari angin sebentar Bu. Karena aku bosan dirumah. Jadi aku memutuskan untuk jalan-jalan ditaman sebentar." jawabku berbohong.


"Apa kau membohongi ibu lagi? Apa kau diam-diam bertemu dengan Jerry?" tanya ibu dengan penuh curiga. Semenjak kejadian itu. Ibu tidak gampang percaya padaku. Ibu jadi mudah curiga padaku.


"Tidak Bu. Aku tidak berbohong. Aku benar-benar habis dari taman" sahutku berusaha meyakinkan ibu.


"Baguslah kalau begitu. Ya sudah ibu masuk kekamar dulu" ujar ibu.


"baik Bu" jawabku.


Aku pun juga masuk kedalam kamarku.


Bersambung...