Summer Breeze (Riana)

Summer Breeze (Riana)
Summer Breeze eps 18



"Ayah!!!"


Aku benar-benar tidak menduga jika ayah angkat Susi adalah ayahku. Ayah yang sudah bertahun-tahun meninggalkan aku dan ibu. Kini ada dihadapan ku. Ingin rasanya aku langsung pergi meninggalkan mereka. Tapi aku ingat dengan cerita Susi tentang ayah. Kemarahan ku terhadap ayah berubah menjadi rasa kasihan.


"Riana" Ucap ayah terkejut melihat kedatanganku.


"Kalian berdua sudah saling kenal?" Tanya Susi yang kebingungan.


Kami tidak menggubris pertanyaan Susi. Kami masih saling bertatapan.


"Ayah, apakah kami boleh masuk?" pertanyaan Susi membuyarkan tatapan Ayah pada ku.


Dengan sedikit gugup Ayah mempersilahkan kami masuk. Sungguh sangat miris melihat kondisi ayah sekarang. Rumah yang ayah tempati jauh lebih buruk dari rumah yang pernah kami tinggali bersama. Kondisi ayah sekarang pun ku lihat sudah tidak sesehat seperti dulu. Badannya semakin kurus. Matanya cekung kedalam. Benar-benar tidak terurus.


"Silahkan duduk" ucap Ayah.


Kami pun duduk diruang tengah yang sekaligus menjadi ruang makan.


"Aku menyiapkan makanannya dulu ya sekalian akan membuat minum" kata Susi meninggalkan kami berdua ke dapur.


"Kenapa saat itu ayah pergi meninggalkan kami?" tanyaku tanpa basa-basi.


Ayah tertunduk ketika aku menanyakan hal itu.


"Apa ayah tahu ibu sangat merasa kehilangan ayah saat itu. Ibu sempat tidak mau makan berhari-hari karena terus-terusan memikirkan ayah." lanjutku.


Ayah masih tertunduk tanpa menjawab apapun dari pertanyaanku.


"Apa ayah tahu? Sejahat-jahatnya ayah pada ibu. Ibu masih tetap mencintai ayah. Bahkan hingga sekarang ibu masih sering menangis karena merindukan ayah. Tapi ayah kenapa berlaku kasar pada ibu. Semenjak ayah bangkrut ayah berubah. Ayah selalu memarahi ibu. Bahkan ayah sering memukul ibu. Seolah-olah kebangkrutan yang kita alami adalah karena kesalahan ibu" ucapku dengan suara agak lantang.


"Maafkan ayah" lirihnya.


Tak terasa airmata ku menetes. Ingin rasanya marah, tapi tidak bisa. Rasa amarah ku kalah dengan rasa iba ku pada ayah.


"Ayah benar-benar merasa bersalah terhadap kalian. Ayah sadar ayah sudah melakukan hal yang diluar batas terhadap kalian. Waktu itu ayah belum siap menerima kebangkrutan kita. Makanya ayah sering marah-marah karena ayah masih belum bisa terima. Sampai pada saat dimana ayah memutuskan untuk pergi dari kehidupan kalian. Sebelum itu ayah tidak sengaja bertemu dengan Bi Asih. Bi Asih menceritakan semuanya tentang kondisi ibumu. Tentang bagaimana kau membayar biaya operasi ibumu. Saat ayah tahu semuanya. Ayah benar-benar merasa menjadi ayah yang gagal. Ayah marah dengan diri ayah sendiri. Ayah malu!!! Dan ayah memutuskan untuk pergi dari kehidupan kalian. Agar kalian bisa bahagia tanpa ayah." ungkapnya sambil sesekali mengusap airmatanya.


"Pulanglah. Ibu menunggu ayah" pintaku.


Ayah mengangkat wajahnya. Dia memegang tanganku dan tangisnya pun pecah. Tak henti-hentinya dia bilang maaf padaku. Akupun sudah tak kuasa menahan air mata yang sudah ku bendung dari tadi.


"Terima kasih Susi. Berkat kamu aku bisa menemukan ayahku kembali." kataku saat kami pulang dari rumah ayahku.


Susi tersenyum dan meraih tanganku "Kakak, aku sungguh tidak menyangka kalau ternyata ayah adalah ayah kandung kakak. Bukan karena aku, kakak bisa menemukan ayah kakak kembali. Tapi ini adalah takdir. Aku sungguh bahagia".


Kami berpelukkan dengan sangat erat. Malam ini aku sangat bahagia. Bukan hanya karena telah bertemu dengan ayah. Tapi juga karena telah bertemu dengan orang sebaik Susi. Besok aku akan menjemput ayah dan membawanya pulang kembali kerumah. Aku sengaja tidak memberitahu ibu. Karena aku ingin membuat ibu terkejut dengan kedatangan ayah. Ibu pasti sangat bahagia. Akhirnya ibu akan bertemu dengan ayah kembali setelah sekian lama menahan rindu pada ayah.


Keesokan harinya..


Tepat jam 9 pagi aku sudah sampai dirumah ayah. Ku bantu ia membungkusi baju-bajunya dalam kardus. Tidak banyak barang yang dibawa. Hanya baju-baju saja karena benda yang ada dirumah ini adalah kepunyaan si pemilik rumah.


"Ayah sudah siap" kataku sumringah.


"iya. Tapi apakah ibu mu tidak akan marah jika ayah pulang" ucapnya cemas.


"ayah tenang saja. Ibu tidak mungkin marah. Aku rasa ibu akan sangat bahagia." sahutku dengan yakin.


"Baiklah kalau begitu, ayo" seru ayah.


Kami menuju taksi yang sudah menunggu dari tadi. Sepanjang perjalanan ku lihat raut wajah ayah berseri-seri. Tak jarang dia tersenyum. Tapi juga terkadang dia seperti merasa cemas. Aku berusaha untuk meyakinkan hatinya jika semuanya akan baik-baik saja dengan cara menggenggam tangannya.


Setengah jam kami diperjalanan akhirnya kami sampai dirumah.


"Apakah kita tidak salah alamat." tanya ayah yang bingung saat pertama kali melihat rumah kami yang baru.


"Tidak. Kita tidak salah alamat ayah. Aku dan ibu sudah pindah dari rumah kita yang dulu. Sekarang disini rumah kita." jawabku.


Ayah melihat sekeliling rumah kami yang baru. Yaa... tidak lama setelah kami pindah kerumah kami yang lama ketika aku bercerai dengan Jerry. Selain aku membuka cafe aku juga membeli rumah kami yang sekarang dengan menyicil. Hasil dari cafe ku ini buat aku membayar biaya cicilan rumah ini. Dan untungnya pendapatan dari cafe bisa mencukupi kebutuhan kami selama ini.


"Ayo kita masuk kedalam" ajakku sambil menggandeng tangan ayah.


Ayah mengangguk. Aku sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi ibu.


Ku ketuk pintu rumahku. Tidak perlu menunggu waktu yang lama ibu membukakan pintu. Awalnya ibu sempat bingung kenapa tiba-tiba aku pulang. Karena biasanya siang begini aku ada dicafe.


"Kenapa kamu pulang. Siapa yang menjaga cafe." kata ibu kebingungan.


"Ada Susi yang menjaga cafe. Aku pulang karena ingin memberikan ibu kejutan" ucapku dengan senyum bahagia.


"Kejutan??? Kejutan apa? bukankah ulang tahun ibu masih lama." sahut ibu.


Aku tidak menjawab pertanyaan ibu. Aku bergeser sedikit dari hadapan ibu. Dan memperlihatkan ayah yang sudah berdiri dibelakang ku.


Ibu terdiam kaku saat melihat ayah. Tidak ada ekspresi di wajahnya. Aku sempat berpikir apakah ibu tidak senang jika ayah pulang. Namun perkiraan ku salah. Ibu mulai meneteskan air matanya. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan berjalan menuju ayah. Dengan tangan yang gemetar ia menyentuh wajah ayah dengan air mata yang terus mengalir dipipinya. Ibu tidak berkata apa-apa. Hanya suara isak tangisnya yang terdengar dengan sangat jelas. Aku yakin pasti ini seperti mimpi bagi ibu. Ibu tidak menyangka jika suami yang selama ini ia rindukan sekarang ada dihadapannya. Ibu memeluk ayah dengan sangat erat dan ayah pun membalasnya. Aku yang melihat mereka dari tadi juga tidak bisa menahan tangis bahagia ini lagi. Ini adalah moment paling bahagia di hidupku. Menyatukan ayah dan ibu kembali.


Bersambung....