Summer Breeze (Riana)

Summer Breeze (Riana)
Summer Breeze eps 5



Akhirnya operasi ibu selesai juga.


Selesai dari operasi ibu langsung dibawa kembali ke kamar pasien. Ibu masih belum sadarkan diri karena efek dari obat bius. Ku genggam erat tangan ibu dan ku pandangi wajahnya. Dalam hati tak henti-hentinya aku selalu berdoa agar ibu cepat sadar.


Ttiinnnggg tttiiinnnggg...


"Bagaimana keadaan ibumu? Apa ibumu sudah dioperasi?" isi pesan masuk dari Bos Jerry.


"Ibuku baru saja selesai dioperasi. Sekarang dia masih belum sadarkan diri efek dari obat bius" balasanku.


"Syukurlah kalau ibumu sudah dioperasi. Semoga ibumu cepat sadar dan lekas sembuh" balasnya lagi.


"Aamiin. Terima kasih" jawabku singkat.


Fokusku kembali pada ibu. Tak berapa lama. Jari-jari ibu sudah mulai bergerak. Ibu sudah mulai membuka matanya. Hatiku sangat senang sekali melihat ibu sudah sadar. Ibu tersenyum padaku. Banyak hal yang dia tanya setelah dia sadar. Mulai dari operasinya apakah berjalan lancar, kapan dia bisa pulang kerumah, kapan dia sudah bisa 100% sembuh. Ku jawab setiap pertanyaan yang dia lontarkan. Hingga akhirnya ibu bertanya tentang ayah.


"Apakah ayahmu ada kerumah sakit menjenguk ibu?" tanya Ibu


Jujur aku sangat malas jika harus membahas tentang ayah. Tapi aku tidak ingin membuat ibu penasaran dan kepikiran. Dengan terpaksa aku menjawabnya.


"Tidak Bu. Ayah tidak tahu kalau Ibu ada dirumah sakit. Aku juga sengaja tidak memberitahunya. Karena pasti ayah juga tidak akan peduli" jawabku.


Ibu lantas menjawab " tidak apa-apa. Ibu mengerti."


"Baiklah kalau begitu Ibu makan dulu. Ibu pasti sudah sangat laparkan." Kataku sambil mengambil semangkuk bubur yang disiapkan oleh pihak rumah sakit. Ibu pun mengangguk.


Ku suapi ibu sambil sesekali kami bercerita tentang masa-masa indah kami waktu aku masih kecil. Tak jarang ibu tertawa ketika menceritakan hal-hal lucu yang pernah terjadi padaku. Ahhh... Sudah lama sekali rasanya ibu tidak tertawa lepas seperti ini. Aku sangat bahagia melihatnya. Aku harap ibu akan selalu bahagia dan sehat untuk selamanya.


Setelah beberapa hari dirumah sakit untuk masa pemulihan pasca operasi. Akhirnya ibu sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Tetapi ibu masih harus mengonsumsi beberapa obat-obatan agar ibu bisa kembali sehat dengan optimal.


Sesampainya dirumah. Sudah ada Bi Asih yang telah menunggu kedatangan kami dengan membawa sekotak makanan didepan pintu rumah kami.


"Akhirnya kau sudah bisa pulang. Aku senang sekali" ujar Bi Asih.


"Aku juga senang akhirnya aku bisa pulang. Aku tidak betah kalau harus lama-lama dirumah sakit" kata ibu. Kami tersenyum bersama-sama.


"Oiya ini ku bawakan makanan. Ini sengaja ku masakkan untukmu. Aku masakkan yang spesial untukmu" kata Bi Asih sambil menyodorkan makanan yang dia bawa.


"Kau tidak perlu repot-repot begini. Kau menyambut ku seperti ini saja aku sudah sangat


senang sekali" kata ibu.


"Terima kasih ya Bi. Bibi sudah sangat baik sekali terhadap kami. Kami sangat berhutang budi pada bibi" ucapku.


"Sudah-sudah. Cepat masuk! ibumu harus segera istirahat" sahut bibi sambil membukakan pintu rumah kami.


Kami pun masuk kedalam rumah. Dan, Bi Asih langsung pamit pulang.


"Sepertinya ayahmu tidak ada dirumah." kata ibu sambil melihat sekeliling rumah. Akupun menjawab "Mungkin ayah sedang main judi sambil minum alkohol diwarung tempat dia biasa nongkrong. Ibu istirahat saja didalam kamar. Aku akan membereskan rumah dulu lalu menyiapkan makanan untuk ibu". Lalu, ku antar ibu kedalam kamarnya.


Setelah selesai beberes rumah dan menyiapkan makan untuk ibu. Aku langsung menuju kamar ibu. Ketika masuk ku liat ibu sedang tertidur pulas. Sepertinya ibu kecapekan. Ku urungkan niat ku untuk membangunkan ibu. Ku taruh makanan ibu dimeja kecil di samping tempat tidurnya. Agar dia bisa langsung makan ketika sudah bangun. Aku pun keluar dan langsung menuju kamarku.


Tiba dikamar, ku rebahkan tubuhku dikasur. Lelah rasanya. Hampir semingguan lebih ini aku sibuk bolak-balik rumah sakit. Pulang kerumah hanya untuk sekedar mandi dan berganti baju. Tapi, aku bersyukur setidaknya satu masalah sudah selesai. Tinggal masalah yang lain yang harus ku selesaikan.


"kriinggg kriingg kriingg" ku ambil handphone dalam tasku. Kulihat di layar handphone tertera nama mantan bos, Jerry. Sebenarnya disaat-saat seperti ini malas rasanya aku menerima telepon dari siapapun. Tapi, jika tidak ku angkat dia pasti akan marah dan bisa jadi dia akan memakiku. Dengan hati yang sedikit kesal terpaksa aku angkat teleponnya.


"halo" sapaku.


"bagaimana ibumu?" tanyanya tanpa membalas sapaan ku.


"Ibu baik-baik saja. Ibu sudah ada dirumah sekarang." jawabku dengan nada agak ketus.


"Syukurlah. Berhubung aku belum tahu alamat rumahmu. Jadi, malam nanti jam 7 aku tunggu kau di cafe. Kita kerumahku untuk menemui orang tuaku dan membicarakan masalah pernikahan kita. Aku sudah bilang pada orang tuaku, dan mereka sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu" sambungnya.


Saat dia berbicara seperti itu aku mulai agak emosi. Bagaimana bisa dia menentukannya sendiri tanpa berdiskusi denganku. Apa karena dia merasa bahwa dia yang sudah membayar biaya operasi ibuku, jadi dia berpikir bisa seenaknya padaku. Aku masih butuh istirahat. Otak ku masih belum mau berpikir yang berat-berat. Aku berusaha untuk meredam emosiku. Ku tarik nafas dalam-dalam. Dan ku hembuskan perlahan-lahan.


"Sebelumnya aku minta maaf bos. Bisakah pertemuannya diundur minggu depan atau minggu depannya lagi? Karena jujur saja semenjak ibuku dirumah sakit aku harus bolak-balik dari rumah ke rumah sakit. Dan itu membuatku sangat lelah. Aku butuh istirahat. Belum lagi ibu baru saja pulang dari rumah sakit. Aku juga belum bilang apa-apa ke orang tuaku. Setidaknya tunggu ibuku benar-benar sudah sehat. Aku tidak bisa tiba-tiba memberitahunya kalau aku akan segera menikah." jelasku.


Untung saja mantan bosku ini masih punya rasa pengertian. Dan dia menyanggupi keinginanku.


"Baiklah kalau itu keinginanmu. Minggu depan aku akan menghubungimu lagi. Ku harap pada saat itu kau sudah siap. Agar kontrak ini cepat selesai. Lebih cepat lebih baik bukan?" ucapnya.


"iya" balasku singkat.


Dia pun menutup teleponnya.


Aku berharap semua masalah ini cepat selesai. Dan, aku bisa hidup tenang tanpa harus memikirkan pernikahan kontrak itu lagi. Agar aku bisa memulai kehidupan yang baru untuk kesekian kalinya bersama dengan orang tuaku.


Bersambung...