Summer Breeze (Riana)

Summer Breeze (Riana)
Summer Breeze eps 3



Aku terkejut! Ternyata itu Bibi Asih. Bibi Asih adalah tetangga kami. Dia orang yang sangat baik. Dia sering mengantarkan makanan ke rumah kami.


"Riana.." kata Bi Asih sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.


"kenapa bi? Kenapa bibi berlarian seperti itu?" Tanyaku.


"Ibumu..." Jawab Bi Asih.


Belum sempat Bi Asih melanjutkan omongannya langsung ku potong dengan pertanyaanku.


"Ibu kenapa bi?" Tanyaku lagi.


"Ibumu ada dirumah sakit sekarang. Tadi waktu bibi mengantarkan makanan, bibi lihat ibumu pingsan didapur. Bibi langsung membawanya kerumah sakit. Bibi minta maaf karena tidak sempat mengabarimu, karena bibi panik." jawab Bi Asih. Aku shock. Apa yang terjadi dengan ibu.


"Tidak apa-apa Bi. Sekarang ibu ada dirumah sakit mana?" Tanyaku dengan rasa khawatir.


"Ayo bibi antar kamu kerumah sakit" jawab bibi.


Aku dan Bi Asih langsung pergi ke rumah sakit menggunakan taksi yang tadi dipakai oleh Bi Asih. Selama diperjalanan menuju rumah sakit tak henti-hentinya aku berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan ibu. Hatiku rasanya tak karuan!


Akhirnya sampai juga kami dirumah sakit. Aku dan Bi Asih langsung menuju kamar ibu dirawat. Ku lihat ibu terbaring lemas ditempat tidur, memakai selang oksigen, dan infus ditangannya. Ku pegang tangan ibu sambil menangis.


"Bu ini Riana" bisikku. Tak lama kemudian ada dokter dan suster yang datang. Aku pun langsung bertanya pada dokter.


"Dok, ibu saya sakit apa?" Tanyaku.


" Anda anaknya?" Tanya dokter.


"Iya dok. Saya anaknya" jawabku.


"Hmmm.. Apa sebelumnya ibu anda sering pingsan?" Tanya dokter.


"Saya kurang tau dok. Yang saya tau selama ini ibu sehat-sehat saja. Dan tidak pernah mengeluh sakit apapun" jawabku.


"Jadi begini kami belum bisa memastikan ibu anda sakit apa. Tadi kami sudah mengambil darah ibu anda untuk sample. Dan ini masih dites di laboratorium. Kita tinggal menunggu hasilnya saja" kata dokter.


"Kapan hasilnya keluar dok?" Tanyaku.


"Kami belum bisa memastikan. Tapi nanti kalau hasil testnya sudah keluar. Akan segara kami kabari" jawab dokter.


Aku hanya mengangguk mendengar pernyataan dokter.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu" sambung dokter.


"Iya dok, terimakasih" balasku.


Airmataku terus menetes. Ku pandangi wajahnya yang sekarang sudah tak muda lagi. Dahinya sudah mulai berkerut. Tangannya yang kurus. Tak henti-hentinya aku berdoa dalam hati semoga tidak terjadi apa-apa pada ibu. Ku harap ibu hanya kelelahan saja.


"Ri.." suara Bi Asih menbuyarkan lamunanku.


"Iya Bi" jawabku.


"Bibi pulang dulu ya. Sebentar lagi paman pulang bekerja. Bibi belum menyiapkan makan malam untuk paman" kata Bi asih.


"Tidak perlu berterima kasih seperti itu. Bibi sudah menganggap kalian seperti saudara bibi. Jadi wajar kalau Bibi membantu kalian." Katanya.


Aku tersenyum, "sekali lagi terima kasih ya Bi"


"Kau ini.." jawab Bibi sambil mengelus punggungku. Bibi pun pulang. Tinggal aku dan Ibu berdua. Ingin rasanya aku memberi tahu Ayah. Tapi, aku rasa percuma. Ayah tidak akan peduli.


Keesokan harinya.


Aku tidak tidur semalaman. Aku menunggu Ibu terbangun dari tidurnya. Tapi sampai detik ini Ibu juga belum bangun. Aku terus-terusan berdoa demi kesembuhan ibu. Tak lama kemudian ada suster yang masuk dan memberitahu kalau dokter memanggilku.


"Selamat pagi" sapa suster.


"Selamat pagi sus" sapa ku kembali.


"Anda diminta dokter untuk segera ke ruangannya. Dokter ingin memberitahukan hasil test Ibu anda" kata suster.


"Baik sus, terima kasih" sahutku. Aku langsung bergegas keruangan dokter yang merawat Ibuku.


Sesampainya di ruangan dokter. Ku ketuk pintunya dan tak lupa ku ucapkan salam.


"Permisi, selamat pagi dok. Katanya dokter memanggil saya" tanyaku.


"Selamat pagi. Benar, silahkan duduk" jawab dokter. Akupun duduk.


"Bagaimana apa Ibu anda sudah bangun" tanya dokter padaku.


"Belum dok. Ibu belum bangun sampai sekarang." Jawabku.


"Tidak apa-apa. Ibu anda butuh istirahat yang cukup" lanjut dokter.


"Jadi bagaimana hasilnya dok. Ibu saya sakit apa?" Tanyaku penasaran. Dokter membuka amplop yang ku rasa adalah hasil test darah Ibuku. Dan benar saja dokter pun membacakan hasil testnya, "Jadi menurut hasil test dari sample darah ibu anda yang telah diambil. Ibu anda didiagnosis menderita leukimia atau kanker darah. Dan sudah memasuki stadium 2."


Setelah mendengar hasil test yang dibacakan dokter. Rasanya seperti ada yang menusuk jantungku dengan sangat kencang. Sakitttt sekali. Aku bingung. Cobaan apa lagi ini. Kenapa tidak ada habisnya cobaan menimpa kami.


" Tapi masih ada harapan Ibu anda untuk sembuh. Ibu anda bisa menjalankan kemothraphi untuk memperlambat pertumbuhan sel kankernya. Atau bisa juga operasi sumsum tulang belakang jika ada donor yang cocok." Kata dokter coba menenangkan ku.


"Berapa biaya kemo dan juga operasinya dok?" Tanyaku


"Yang pasti tidak sedikit. Ibu anda harus menjalani beberapa kali kemo jika memang hanya ingin di kemo saja. Setidaknya anda harus menyiapkan puluhan juta. Jika tidak segera diobati takutnya sel-sel kankernya cepat menyebar ke seluruh bagian tubuh. Dan itu bisa sangat fatal sekali. Bisa saja nyawa ibu anda taruhannya." jawabnya.


Aku semakin bingung. Dapat darimana uang sebanyak itu. Sedangkan untuk makan sehari-hari saja kami masih kesusahan. Apalagi untuk membayar biaya kemo dan juga operasi yang tidak sedikit. Otakku terus berputar mencari cara agar aku bisa mendapatkan uang untuk kesembuhan ibu. Setelah selesai urusan ku dengan dokter. Aku pun pamit.


Aku sudah tak tahan lagi menahan tangis,hatiku sedih. Aku tidak mau penyakit ibu lebih parah lagi. Aku ingin ibu bisa cepat sembuh. Aku tidak ingin ibu meninggal. Aku masih butuh ibu. Aku belum bisa membuat ibu bahagia. Aku tidak mau terjadi hal-hal yang buruk pada ibu.


Tiba-tiba aku teringat surat kontrakan itu. Yaa surat kontrak pernikahan dengan mantan bosku itu. Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan uang dengan cepat. Dan ibu bisa segera dioperasi. Tidak ada cara lain lagi. Disaat seperti ini aku sudah tidak peduli lagi dengan harga diriku. Persetan dengan harga diri!!! Aku hanya ingin ibu bisa cepat sembuh. Aku langsung beranjak pulang kerumah untuk mengambil surat kontrak didalam tas yang tidak sengaja tertinggal kemarin.


Sesampainya dirumah ada ayah dimeja makan yang sedang sibuk makan mie dan minuman alkohol ditangan kirinya. Dia benar-benar tidak peduli. Dia hanya melirik ke arahku. Dia tidak bertanya tentang ibu atau bertanya aku darimana. Aku pun malas menegurnya. Aku langsung masuk ke kamar ku dan mencari surat kontrak itu. Dapat!!! Aku langsung mandi dan bersiap-siap untuk menemui mantan bosku itu. Setelah semuanya beres. Aku langsung menuju ke cafe untuk menemui bosku.


Bersambung...