
Jam 2 siang aku terbangun. Ku dengar ada suara gaduh didalam kamar ibu. Aku langsung beranjak dari kasurku. Yang ku takutkan adalah jika ayah memarahi ibu lagi. Dan, benar saja ketika sampai dikamar ibu. Ayah sedang memarahi ibu dan melempar barang yang ada dikamar mereka.
"DASAR KAU ISTRI YANG TIDAK BERGUNA!!! KEMANA SAJA KAU BARU ADA DIRUMAH?! KAU PIKIR KAU BISA SEENAKNYA DATANG DAN PERGI DARI RUMAH INI!!! bentak ayah pada ibu. Ibu hanya menangis dikasurnya. Aku yang tidak tega melihat ibu dimarahi dengan ayah. Langsung menghampiri ibu dan memeluknya.
"Apa-apaan ayah ini?! Pulang kerumah langsung marah-marah." kataku dengan nada tinggi.
"KAU TIDAK USAH IKUT CAMPUR. INI URUSAN AKU DAN IBUMU" jawab ayah.
"bagaimana bisa ini bukan urusanku. Apapun yang terjadi dirumah ini juga menjadi urusanku" balasku.
"KAU TAHU. IBUMU INI BARU SAJA PULANG. NTAH DIA DARIMANA. PULANG-PULANG BUKANNYA MEMBAWA UANG. DIA MALAH ENAK-ENAKAN TIDUR. KAU JUGA. SAMA SAJA DENGAN IBUMU. SUDAH SEMINGGU INI KALIAN BERDUA TIDAK PULANG KERUMAH. KEMANA SAJA KALIAN?!. APA KALIAN SENGAJA INGIN PERGI MENINGGALKAN RUMAH INI. HAHHH?!!! ujar Ayah semakin emosi. Aku pandangi wajah ibu yang sudah basah oleh air matanya. Sungguh aku sangat tidak tega melihat ibu seperti ini. Kuhapus air mata ibu. Sedangkan ayah masih melanjutkan rasa emosinya "KAU TAHU. GARA-GARA KAU TIDAK ADA DIRUMAH. TIDAK ADA YANG BEKERJA DIRUMAH INI. YANG PUNYA KONTRAKAN SUDAH MENAGIH UANG KONTRAKANNYA. DALAM WAKTU SEMINGGU JIKA KITA TIDAK BISA MEMBAYAR UANG KONTRAKAN, KITA HARUS ANGKAT KAKI DARI RUMAH INI. POKOKNYA AKU TIDAK MAU TAHU!!! SEKARANG JUGA KAU HARUS SEGERA BEKERJA!!! ujar ayah yang semakin tidak tahu diri. Aku yang sedari tadi sudah menahan emosi tidak bisa ku bendung lagi. Aku langsung berdiri dan mendekat pada ayah. Tepat dihadapan ayah. Ku tatap matanya dengan penuh rasa emosi.
"KENAPA.. KENAPA HANYA IBU YANG BEKERJA?! KENAPA BUKAN AYAH SAJA YANG BEKERJA. BUKANNYA MENCARI UANG ITU ADALAH TUGAS AYAH. BUKAN TUGAS IBU!!!" ucapku dengan sangat emosi. Ibu yang mendengarku berbicara seperti itu mencoba untuk menghentikan ku "sudah.. sudah nak, ibu tidak apa-apa" bisik ibu padaku. Tidak ku hiraukan ucapan ibu. Karena aku sudah telanjur dirudung emosi.
"BICARA APA KAU, HAH?! BERANI-BERANINYA KAU BICARA SEPERTI ITU PADA AYAHMU. DASAR ANAK TIDAK TAHU DIUNTUNG!!! bentak ayah.
*PLAKKK!!!*
"Kalau ayah belum puas. Ayah boleh menamparku sesuka hati ayah,silahkan. Tapi ku mohon jangan sakiti ibu lagi. Sudah cukup ayah menyakiti ibu selama ini. Biarkan ibu hidup tanpa harus terbebani dengan ayah. Aku sudah tidak kuat melihat ayah terus-terusan menyakiti ibu. Kalau ayah sudah tidak mencintai ibu lagi. Ku mohon tinggalkan ibu. Jangan paksakan untuk tetap bersama kalau ayah hanya bisa menyakiti ibu. Ibu berhak bahagia. Ibu sudah mati-matian bekerja selama ini. Sampai-sampai ibu lupa dengan kesehatannya sendiri. Sedangkan ayah sendiri tidak bekerja. Dimata ayah, ibu selalu salah. Apapun yang ibu lakukan untuk ayah tidak ada artinya sama sekali. Yang ayah tahu ibu harus bisa menghasilkan uang agar ayah tetap bisa bermain judi dan minum minuman alkohol. Apa ayah tidak malu? dimana tanggung jawab ayah sebagai seorang suami. Semenjak ayah bangkrut ayah juga tidak pernah peduli lagi pada ibu. Jadi, untuk apa kalian masih ada didalam satu ikatan pernikahan. Kalau ayah sudah tidak mencintai ibu lagi. Bukankah lebih baik kalian bercerai. Agar kalian bisa menikmati hidup kalian masing-masing tanpa harus menyakiti satu sama lain." ucapku dengan tegas sambil berlinang air mata. Ayah tidak menjawab apapun. Ia hanya terdiam dengan nafasnya yang menggebu-gebu. Ibu menangis tersimpuh dilantai sambil sesekali menepuk dadanya. Aku tahu ibu pasti sangat sedih mendengarnya. Tapi ini ku lakukan demi ibu. Agar ayah tidak menyakiti ibu lagi. Tanpa membalas ucapanku ayah langsung pergi meninggalkan kami berdua didalam kamar. Aku langsung memeluk ibu dan berusaha menenangkannya.
"Aku minta maaf Bu. Benar-benar minta maaf. Ini semua kulakukan untuk ibu. Aku harap setelah ini ayah tidak akan bersikap kasar lagi pada ibu." ucapku.
"Bagaimana kalau seandainya ayah benar-benar meninggalkan kita. Ibu masih sangat mencintai ayahmu. Ibu tidak ingin berpisah dari ayahmu" sahut ibu sambil terus menangis.
"Bu, ibu tidak bisa terus-terusan begini. Ibu berhak untuk bahagia. Ayah sudah kelewat batas. Ayah sudah melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Ibu harus yakin ibu bisa hidup tanpa ayah. Masih ada aku. Aku akan selalu ada disamping ibu. Aku tidak akan pernah selangkahpun meninggalkan ibu. Tolonglah Bu!!! Percaya padaku" kataku berusaha meyakinkan ibu.
"Lalu jika seandainya ibu dan ayah benar-benar berpisah. Bagaimana dengan ayahmu?!" tanya ibu.
"Ayah bukan anak kecil lagi. Biarkan ayah hidup dengan caranya sendiri. Aku yakin jika ayah memang masih mencintai ibu dan ingin berubah. Ayah tidak akan meninggalkan ibu" jawabku sambil terus berusaha meyakinkan ibu. Ibu hanya terus menangis.
Yaa begitulah ibu. Sejahat apapun ayah padanya. Dia tetap mencintai ayah. Karena ayah adalah cinta pertama ibu. Sejak mereka mengucapkan janji pernikahan kala itu, selain berjanji dihadapan Tuhan. Ibu juga sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ibu tidak akan pernah meninggalkan ayah dalam kondisi apapun. Ibu berjanji akan terus selalu setia menemani ayah sampai ajal menjemput. Ibu sangat yakin kalau ayah akan berubah seperti ayah yang dulu. Ibu selalu bilang "ibu hanya menunggu waktunya saja". Tak pernah ibu berhenti mendoakan ayah. Sekalipun ayah tidak pernah peduli lagi pada ibu. Rasa cinta ibu teramat sangat besar pada ayah. Aku bisa merasakan itu. Aku bangga memiliki ibu seperti dia. Walaupun sering sekali disakiti oleh ayah. Tapi rasa cintanya tidak pernah berkurang sedikitpun untuk ayah. Ibu masih tetap melayani ayah dengan penuh rasa cinta. Bagi ibu, bukan materi yang bisa membuatnya bahagia. Yang bisa membuatnya bahagia hanya aku dan ayahku. Aku dan ayah adalah kebahagiaan yang tidak pernah bisa digantikan dengan apapun. Dan, kebahagiaan yang tidak akan pernah ibu lepas sampai kapanpun.
Bersambung....