Summer Breeze (Riana)

Summer Breeze (Riana)
summer Breeze eps 20



Sejak kembalinya ayah kerumah ibu nampak lebih bersemangat menjalani hari-harinya. Kehidupan keluarga kami pun kembali normal seperti sebelum ayah bangkrut. Ibu banyak bercerita tentang hal kepada ayah. Dari mulai kehidupan kami setelah ditinggal pergi ayah, aku menikah, hingga akhirnya aku bercerai. Ayah cukup terkejut ketika mengetahui aku telah menikah sebelumnya. Ayah turut menyesal atas apa yang sudah menimpaku. Akupun berusaha meyakinkan ayah kalau dia tidak perlu menyesal. Karena bagaimanapun ini bukan kesalahan ayah.


"Ibu, ayah aku pergi ke cafe dulu yaa" ucapku saat keluar dari kamar.


"baiklah. hati-hati dijalan. Oya kalau bisa malam nanti kamu pulang cepat ya. Biar kita bisa makan malam sama-sama" kata ibu sambil menyeduh teh untuk ayah.


"ku usahakan ya Bu" sahutku sambil keluar dari rumah.


Entah kenapa tiba-tiba aku memikirkan Jerry. Aku tidak bisa membohongi hatiku. Sejak terakhir kali aku melihat dia di perayaan perusahaannya ingatan ku tidak pernah lepas darinya. Dari lubuk hatiku yang sangat dalam ku akui aku merindukannya. Saat itu ingin sekali aku berlari ke arahnya dan memeluknya. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Karena aku sadar aku bukan siapa-siapanya. Ada rasa penyesalan setelah aku bercerai darinya yaitu kenapa cinta tumbuh di saat kami telah berpisah. Karena mencintai tapi tidak bisa memiliki sungguh sangat menyakitkan.


Sesampainya dicafe..


"Kak, ada tamu yang menunggumu" kata Susi ketika aku baru saja masuk ke dalam cafe.


"tamu??? Siapa??? " tanyaku keheranan.


"aku tidak tahu. Aku tidak sempat menanyakan namanya. Tamunya adalah seorang pria tampan" jawab Susi.


"Pria??? Dimana dia sekarang?" tanyaku lagi.


"Dia ada di ruanganmu. Aku menyuruhnya untuk menunggumu di ruanganmu" jawab Susi


"Baiklah. Kalau begitu aku masuk dulu. Terima kasih ya" kataku sambil menuju ke ruangan ku.


Sesampainya didepan pintu ruangan ku, aku langsung masuk kedalam.


"Maaf anda sudah menunggu terlalu lama" Ucapku.


Orang itu pun berbalik badan menghadap ke arahku. Saat aku tahu siapa tamuku itu. Aku tidak bisa berkata apa-apa.


"Apa kabar?" kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.


"Apa kamu masih ingat denganku?" lanjutnya.


Yaa tamuku ini adalah Jerry. Orang yang selama ini ku rindukan. Jujur aku bingung harus berbuat apa sekarang. Karena aku tidak menyangka jika Jerry akan datang menemuiku.


"Te.. tentu saja aku masih ingat." sahutku dengan rasa gugup.


"Syukurlah" balasnya.


Aku masih berdiri kaku dihadapannya. Aku sedang berusaha menertralkan perasaanku yang saat ini campur aduk.


"Apa kamu tidak ingin menyuruh ku duduk?" Ucap Jerry sambil tersenyum.


"Ma.. maafkan aku. Silahkan duduk" sahutku sambil berjalan ke arah kursi ku.


Sekarang aku telah duduk berhadapan dengan Jerry. Aku masih merasa gugup karena ini pertama kalinya lagi kami berhadap-hadapan seperti ini setelah sekian lama. Aku berusaha untuk bersikap tenang didepannya.


"ada apa kamu datang kesini?" tanyaku.


"tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertemu denganmu" jawab Jerry.


"bertemu denganku?" sahutku.


"iya. Sudah lama kita tidak bertemu sejak kita bercerai." ucapnya.


"darimana kamu tahu kalau ini adalah cafeku" tanyaku penasaran.


"Dari asisten pribadiku" jawabnya.


"Asisten pribadi? Bagaimana bisa?" tanyaku yang makin keheranan.


"iya. Saat acara perayaan kantorku selesai. Dia memberitahuku jika ia memesan kue dicafemu" jawabnya.


"sebentar. kenapa dia cerita padamu kalau dia memesan kue dicafe ku. Apa dia kenal denganku?" tanyaku kembali.


"iya. Dia mengenalimu" jawabnya singkat.


Aku semakin bingung. Kenapa asisten pribadi Jerry bisa mengenaliku. Apa dia tahu kalau aku adalah mantan istri Jerry.


Aku mengangguk pelan berharap dia mau menceritakannya lebih jelas.


"Baiklah kalau kamu penasaran. Akan aku jelaskan. di ruangan ku, aku sengaja menyimpan fotomu dimejaku. Suatu hari dia masuk kedalam ruangan dan tidak sengaja melihat fotomu. Lalu, dia bertanya padaku siapa perempuan yang ada difoto itu." Jerry sengaja menjeda pembicaraannya.


"Lalu???" tanyaku dengan rasa yang semakin penasaran.


"Aku jawab dia adalah perempuan yang aku cintai" Lanjut Jerry.


Jujur hatiku sangat berbunga-bunga saat itu. Tapi aku masih ragu kenapa dengan yakinnya dia menjawab seperti itu. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu? Padahal yang aku tahu dia tidak pernah bilang kalau dia mencintaiku. Apa ini pertanda jika sebenarnya perasaan Jerry sama seperti perasaanku.


"Apa maksudmu?" tanyaku tersipu malu.


Jerry terkekeh " sudahlah. Oya malam nanti apa kamu punya waktu luang?" tanyanya kembali.


"Tidak ada. Kenapa?" sahutku.


"Malam nanti aku tunggu kamu dicafe langganan kita jam 7." jawabnya.


"Akan aku usahakan" gumamku.


"Bisa atau tidak bisa kamu tetap harus datang. Aku akan menunggumu" sahutnya kembali.


Jerry langsung beranjak dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam. Ternyata sifat keras kepalanya tidak pernah berubah.


Malam harinya..


Hatiku sangat berdebar-debar sekali. Sudah lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini. Rasanya sangat campur aduk. Dari mulai senang sampai rasa penasaran yang masih berlanjut dari tadi siang. Kenapa dia tiba-tiba mengajakku untuk makan malam? akan ada apa malam ini? atau apa ini hanya makan malam biasa untuk merayakan pertemuan kami kembali.


Ku pacu laju mobilku ke cafe tempat biasa kami bertemu. Sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya aku senyum-senyum sendiri. Aku sudah seperti orang gila saja.


Akhirnya aku sampai. Tapi kenapa cafe ini sangat sepi. Bukannya cafe ini sangat ramai pengunjungnya. Awalnya aku ragu untuk masuk. Tapi ku lihat ada mobil Jerry diparkiran. Dan, aku putuskan untuk masuk.


Ketika masuk aku benar-benar bingung. Tidak ada siapa-siapa disini. Aku mencari Jerry disekeliling cafe. Tapi aku tidak melihatnya. "Apa dia sedang mengerjai ku" pikirku. Aku tidak tahu harus menghubungi Jerry kemana. Karena tadi siang aku tidak sempat meminta nomor hpnya. Ditengah rasa kebingunganku tidak lama ada sosok laki-laki yang menghampiriku.


"Apakah anda Nona Riana?" tanyanya.


Rupanya dia adalah karyawan dicafe ini.


"Iya benar. Saya Riana" jawabku.


"Kalau begitu mari ikut saya. Tuan Jerry sudah menunggu anda dari tadi" Sahutnya.


Ku ikuti karyawan itu dari belakang. Saat memasuki bagian belakang dari cafe ini ada banyak lilin-lilin yang diletakkan memanjang ke arah salah satu meja yang letaknya ditengah. Selain lilin, ada juga bunga-bunga yang dihias seindah mungkin disekelilingnya. Karyawan tersebut mengantarkan ku pada Jerry yang sudah menungguku. Dia mengenakan pakaian yang sangat rapi. Sehingga membuatku terpesona dengan ketampanannya. Didepannya sudah ada makanan-makanan lezat yang dihidangkan diatas meja. Jerry langsung menghampiriku dan menarik kan kursi untukku. Dia mempersilahkan aku untuk duduk. Aku merasa agak canggung malam ini. Aku tidak pernah diperlakukan seperti ini. Sehingga membuatku bingung untuk bersikap seperti apa. Sepanjang makan malam kami tidak banyak mengobrol. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ku tanyakan padanya. Tapi ku lihat dia sangat menikmati makan malamnya. Jadi ku urungkan niatku.


"bagaimana? Apa kamu suka dengan makanannya?" tanyanya tiba-tiba.


"hmmm.. iya. Aku suka" jawabku.


"Syukurlah kalau kamu suka. Ada yang ingin ku bicarakan padamu" katanya dengan wajah yang sangat serius.


Jerry bangun dari tempat duduknya dan menghampiriku. Ia menggenggam tanganku agar aku berdiri. Lalu ia bertekuk lutut dihadapanku.


"Kamu kenapa? Bangunlah. Tidak enak kalau dilihat orang" ucapku menyuruh untuk berdiri.


Dia tidak menggubris perkataan ku. Dia malah mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong bajunya.


"Maukah kamu menikah denganku lagi?" ucapnya sambil menyodorkan sebuah kotak yang berisi cincin.


Aku sangat terkejut. Ditengah keterkejutan ku dia melanjutkan pembicaraannya "Aku ingin jujur satu hal padamu. Sejak awal kita bertemu, aku telah jatuh cinta padamu. Alasanku yang sebenarnya saat mengajak mu menikah waktu itu bukanlah karena ibuku. Melainkan karena aku memang ingin memilikimu. Tapi aku telah berbuat kesalahan besar saat itu. Aku sudah melakukan hal bodoh dengan membuat rencana pernikahan kontrak itu. Padahal aku serius menikahimu. Hingga akhirnya kita bercerai. Sejak kita bercerai aku selalu mencari-cari keberadaan mu. Tapi tidak pernah ketemu. Hingga akhirnya aku putus asa. Disaat aku sudah putus asa Tuhan mempertemukan kita kembali. Dan, sekarang aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Aku janji padamu. Kali ini aku akan menjadi suami yang sebenarnya. Tidak akan ada lagi yang namanya pernikahan kontrak. Kali ini adalah pernikahan yang sebenar-benarnya. Jadi, Nona Riana maukah kau menerimaku kembali?"


Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya mampu berdiri terdiam kaku dihadapannya.


"Kenapa kamu hanya diam? apa kamu tidak suka? apa kamu sudah mempunyai kekasih?" lanjutnya...


Bersambung...