Summer Breeze (Riana)

Summer Breeze (Riana)
Summer Breeze eps 4



"Bos Jerry ada?" tanyaku..


"ada di ruangannya" jawab teman kerjaku.


"oke, terima kasih" sahutku.


Aku pun langsung menuju ruangannya. Tok tok tok ku ketuk pintu, belum dia menjawab aku sudah langsung nyelonong masuk.


" Pagi Bos. Maaf saya tiba-tiba langsung masuk" kataku.


Dia hanya bergumam. Tanpa basa-basi lagi aku langsung mengutarakan tujuan ku datang kesini "Saya datang kesini untuk membicarakan masalah tawaran bos kepada saya. Dan, saya sudah memikirkannya dengan matang. Saya akan terima pekerjaan itu".


Dia membenarkan posisi duduknya setelah mendengar pernyataan ku.


"Kau yakin? apa kau sudah benar-benar memikirnya dengan matang? ini baru saja 1hari dari waktu yang ku tentukan untuk kau memikirkannya" tanyanya padaku.


Tanpa ragu aku mengangguk iya.


"Oke, baiklah kalau begitu. Minggu depan kita kerumahku untuk menemui kedua orang tuaku setelah itu baru kita menemui orang tuamu. Dan untuk masalahnya bayarannya. Berapa yang kau pinta? aku akan transfer DP-nya dulu ke rekeningmu. Sesuai perjanjian sisanya akan aku bayar setelah ibuku sembuh" lanjutnya.


"Untuk bayarannya. Saya minta anda untuk melunasi biaya operasi ibu saya. Karena ibu saya sekarang juga sedang sakit. Ibu saya divonis menderita leukimia stadium 2. Dan harus segera dioperasi agar bisa sembuh. Kemarin ibu saya pingsan dan masuk rumah sakit. Saya tidak akan meminta yang lebih dari itu. Saya hanya ingin ibu saya segera dioperasi" imbuhku.


Dia terdiam sebentar, lalu berkata "Baiklah kalau begitu. Dimana ibumu dirawat? Sekarang juga saya akan melunasi biaya operasinya" sambil dia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil jaket.


"Rumah sakitnya nggak jauh dari rumah saya" balasku.


"Ayo" ajaknya.


Aku langsung berdiri dan berjalan dibelakangnya. Kami langsung menuju rumah sakit dengan menggunakan mobil sport miliknya.


Sesampainya dirumah sakit kami langsung menemui dokter yang bersangkutan. Untung saja ada pendonor yang cocok untuk ibuku. Jadi setelah pembayarannya lunas ibuku bisa langsung dioperasi. Setelah semua urusan selesai. Aku mengantarkan bosku keluar rumah sakit. Tak lupa aku mengucapkan rasa terima kasihku kepadanya. Setelah dia pergi aku langsung menemui ibu dikamarnya. Ku lihat ada Bi Asih sedang menyuapi ibu makan.


"aaahhh syukurlah ibu sudah bangun" kataku dalam hati.


"Eh Ri kamu udah datang. Kamu darimana?" tanya Bi Asih.


"tadi ada urusan sebentar bi" jawabku.


Kuliat ibu, dia tersenyum menatapku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau seandainya senyuman itu tidak bisa ku lihat lagi. Mungkin aku bisa jadi sangat gila. Ku pegang lembut tangannya sambil ku cium.


"Bu, apa yang ibu rasakan sekarang?" tanyaku.


Aku tahu ibu pasti tidak ingin aku khawatir karena kondisinya. Dia ingin terlihat baik-baik saja di depanku. Tapi sayangnya aku sekarang sudah tahu penyakit ibu.


"Ri, apa kata dokter tentang ibumu? ibumu sakit apa? tanya Bi Asih.


Ibu langsung menyela pertanyaan Bi Asih "aku tidak sakit apa-apa. Aku rasa aku hanya kelelahan saja. Karena memang akhir-akhir ini pekerjaanku sedang banyak".


Aku langsung menyahut "Ibu menderita leukimia, Bi. Dan sekarang sudah stadium 2."


Bi Asih pun terkejut begitu pula dengan ibu.


"Lalu, bagaimana sekarang?" lanjut Bi asih dengan rasa khawatir


Aku pun menjawab rasa kekhawatiran Bi Asih, "Ibu harus segera dioperasi agar bisa sembuh. Dan lusa ibu sudah bisa dioperasi. Untungnya sudah ada pendonor sum-sum tulang belakang untuk ibu. Tapi ibu masih harus diperiksa dulu agar mengetahui apa ibu siap untuk dioperasi"


Ibu lalu menggenggam tanganku. Dengan wajah sedihnya dia bilang "Kita nggak punya uang nak, bagaimana kita bisa membayar biaya operasi ibu? bayarannya pasti sangat mahal. Kita nggak akan sanggup. Lebih baik ibu pulang saja. Ibu bisa minum obat-obatan herbal, ibu pasti bisa sembuh tanpa harus dioperasi"


Ku genggam balik tangan ibu. Kutatap matanya yang mulai meneteskan air mata. Dari matanya aku bisa liat rasa ketakutan yang sangat luar bisa. Aku coba untuk menenangkan ibu.


Aku tersenyum, "Ibu tenang saja. Semua biaya operasi dan perawatan ibu sudah aku lunasi. Ibu tidak usah pikirkan. Aku sudah mengurusnya dengan baik."


Ibu dan Bi Asih tercengang, seolah-olah mereka tak percaya dan berpikir aku dapat uang darimana untuk biaya operasinya. Tak ingin membuat mereka lebih khawatir lagi. Aku terpaksa berbohong kepada mereka. Tak mungkin aku bilang pada mereka kalau aku dapat uang dari hasil surat kontrak dengan bos Jerry.


Aku berusaha menutupinya. Aku bilang pada mereka kalau selama aku bekerja aku menyisihkan sebagian gajiku untuk ditabung. Dan, hasil dari tabunganku itu lah untuk membayar biaya operasi ibu. Untungnya mereka percaya dan tidak banyak tanya lagi. Tapi ada perasaan bersalah yang hinggap dihatiku. Karena telah membohongi mereka terlebih lagi ibu. Tapi aku terpaksa lakukan ini semua. Aku tidak mungkin bilang kalau aku telah menggadaikan harga diriku ke bos Jerry. Kalau aku berkata jujur ibu pasti akan sangat marah dan juga sedih.


Ibu mengucapkan rasa terima kasihnya kepadaku. Dia merasa bersalah karena sudah merepotkan ku. Ku katakan padanya kalau ini sudah menjadi kewajiban ku sebagai anak. Apa yang telah kulakukan untuk ibu tidak seberapa dengan yang ibu berikan untukku. Bahkan kalau harus ku berikan nyawaku padanya. Dengan ikhlas dunia akhirat akan ku berikan. Aku sangat mencintai ibu. Sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak membuat ibu menderita. Apapun akan ku lakukan demi bisa membuat ibu bahagia. Buatku ibu adalah prioritas utama dalam hidupku. Melihat dia sedih dan menangis membuat hatiku hancur. Aku selalu berdoa agar ibu selalu hidup bahagia bersamaku. Dan, aku berjanji suatu saat aku akan membuat ibu tidak menderita lagi.


"Bu doakan anakmu agar kelak aku bisa membawa ibu kekehidupan yang lebih baik lagi. Sekarang aku sedang berusaha untuk mencapai masa itu. Aku juga minta maaf kalau selama ini aku belum bisa menjadi anak yang patut untuk dibanggakan. Tapi percayalah Bu sebisa mungkin aku berusaha selalu menjaga martabat ibu. Tak akan ku biarkan orang lain memandang rendah ibu. Biarlah orang lain memandang aku rendah asal jangan ibu. Dan jangan lupa selalu doakan ayah juga agar ayah bisa kembali seperti ayah yang dulu." ucapku dalam hati.


Hari berganti hari. Hari ini ibu akan segera dioperasi. Kulihat dengan jelas ada kecemasan dalam hati ibu. Tapi dia selalu berusaha tersenyum seolah menyiratkan kalau semua akan baik-baik saja. Akupun selalu berusaha meyakinkan ibu bisa menjalani operasi ini dengan lancar dan ibu bisa pulang dalam kondisi yang sehat. Bibirnya tak henti-hentinya memanjatkan doa. Selama diperjalanan menuju ruang operasi. Ibu tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari tanganku. Bibirnya selalu tersenyum dengan indah. Saat tiba di depan ruang operasi. Semakin erat ibu menggenggam tanganku.


"Doakan ibu ya nak" ucap ibu.


Aku tersenyum, ku cium keningnya.


"pasti Bu. Aku pasti akan selalu mendoakan ibu. Aku selalu ada untuk ibu. Aku akan tunggu ibu disini. Aku janji aku gak akan kemana-mana" balasku.


Sambil tersenyum ku genggam tangan ibu dan ku usap-usap. Ibu pun masuk keruang operasi.


Bersambung...