Summer Breeze (Riana)

Summer Breeze (Riana)
Summer Breeze eps 11



Aku dan ibu sedang bersiap-siap untuk bertamu kerumah Jerry. Seperti janjinya kemarin, malam ini Jerry akan menjemput kami untuk bertemu dengan keluarganya.


Ibu bertanya padaku "apakah baju ibu bagus?".


Aku mengangguk menyatakan iya.


"ini satu-satunya baju yang masih bagus diantara baju ibu yang lain. Ibu tidak ingin terlihat buruk didepan calon keluarga suamimu." lirih ibu. Setelah semuanya sudah beres kamipun menunggu Jerry didepan rumah. Dia bilang sebentar lagi dia akan sampai dirumah kami. Aku melirik ke arah ibu. Terlihat sekali kalau ibu sangat tegang. Jujur, akupun sebenarnya juga merasakan hal yang sama seperti ibu. Walaupun ini hanya pernikahan kontrak. Tapi disaat-saat seperti ini tidak bisa ku pungkiri kalau hatiku berdebar-debar seperti ingin bertemu dengan calon mertua sungguhan. Tak lama kemudian Jerry datang. Dia turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untukku dan ibu. Penampilan dia malam ini sangat berbeda. Dimata ku dia terlihat lebih tampan seperti biasanya. Aku hampir saja tersihir dengan pesonanya. Tapi aku tersadar kalau ini hanyalah sebagian dari pernikahan kontrak kami.


Tibalah kami dirumah Jerry. Rumahnya sangat mewah. Bahkan lebih mewah dari rumahku yang dulu. Halamannya sangat luas. Saking luasnya sampai bisa untuk dijadikan lapangan sepak bola. Didalam garasinya berjejer mobil-mobil yang harganya bukan main. Belum lagi motor dengan merk yang sangat terkenal yang tadi ketika lewat ku hitung ada 3. Aku sungguh tidak menyangka kalau dia ternyata sekaya itu. Kami berhenti tepat didepan tangga masuk rumahnya. Ketika berhenti, tepat disamping pintu mobil sudah ada 2 orang yang dengan sigap membukakan pintu. Kami bertiga pun turun bersamaan. Saat kami berjalan ingin masuk kerumahnya. Terlihat dikanan kiri ada 6 orang yang berdiri sambil membungkukkan badan mereka. Mereka kompak memakai pakaian hitam putih dengan celemek hitam dipinggang mereka. Aku rasa mereka adalah pembantu disini. Kami disambut dengan sangat hormat. Jerry membuka pintu dan menyuruh kami yang duluan masuk. Ketika masuk aku dan ibu sama-sama terperangah melihat isi didalam rumah Jerry. Sangat mewah seperti istana kerajaan. Banyak barang-barang mewah harga puluhan bahkan ratusan juta yang tersimpan rapi disetiap sudut rumahnya. Belum lagi kursi tamu yang terbuat dari kulit asli dan mejanya yang terbuat dari kayu jati. Kekayaan kami yang dulu tidak ada apa-apanya dibanding kekayaan keluarga Jerry.


"Duduklah. Saya akan panggilkan ibu" kata Jerry yang membuyarkan rasa takjub kami. Aku hanya mengangguk. Jerry pergi masuk kedalam. Aku dan ibu pun duduk. Kursinya sangat empuk. Beda sekali rasanya kalau duduk di kursi yang harganya standar.


"apakah ibu masih terlihat rapi" kata ibu menepuk bahuku.


"iya Bu. Ibu masih terlihat rapi." jawabku.


"Bagaimana dengan rambut ibu?berantakan?"tanyanya lagi. Aku menggeleng. Tak lama datang seseorang yang membawakan minuman dan cemilan kepada kami. "Silahkan diminum" ucapnya. Aku dan ibu membalasnya dengan tersenyum.


Selang beberapa menit kemudian Jerry datang dengan seorang wanita yang usianya tidak jauh berbeda dari ibuku dan juga dengan seorang gadis yang sangat cantik sambil merangkul tangan ibunya. Dan, ku rasa itu adalah adik perempuan Jerry. Aku dan ibu langsung berdiri. Ibu Jerry tersenyum melihat kami.


"Duduklah" sapa ibu Jerry. Lantas kami semua pun duduk bersama-sama.


"Bu kenalkan ini Riana dan ini ibunya" kata Jerry.


"Selamat malam Tante. Perkenalkan saya Riana dan ini ibu saya namanya ibu Devi" sapaku pada ibunya.


"Selamat malam. Saya ibunya Jerry dan ini adalah adiknya Jerry, Chelsea." sahut ibunya sambil menoleh ke perempuan yang ada disebelahnya. Sesuai dengan dugaanku gadis itu adalah adiknya Jerry.


"Maaf kalau saya lancang. Apa kalian hanya berdua saja yang datang kesini? Dimana ayahmu?" tanya ibu Jerry padaku.


Belum sempat aku menjawab. Ibu langsung bilang "saya dan ayah Riana sudah berpisah. Kami sekarang tidak tahu keberadaannya ada dimana".


"Oohhh.. tidak apa-apa kalau begitu. Ayah Jerry pun sudah tidak ada. Sudah meninggal sekitar 4tahun yang lalu" sahut ibu Jerry.


Aku baru tahu kalau Jerry adalah anak yatim. Pantas saja dia sampai rela menikah kontrak dengan ku demi membahagiakan ibunya. Ibu Jerry adalah orang yang sangat baik. Terbukti dari cara dia menyambut kami yang begitu sangat ramah. Banyak hal yang dia tanya tentang kami. Dan tidak ada satupun yang kami tutupi darinya. Jarang sekali ada orang kaya raya yang sangat bijak seperti ibu Jerry. Dia tahu kami bukan orang yang mampu. Tapi dia tidak mempermasalahkannya. Dan raut wajahnya masih sama seperti awal dia menyambut kami. Tetap ramah. Bahkan dia bilang "saya tidak peduli dengan yang namanya status. bagi saya semua orang itu sama". Hatiku lumayan tenang mendengarnya.


"Nyonya makan malamnya sudah siap" ucap salah seorang pembantu yang ada dirumah mereka.


"ayo kita makan malam dulu. Sambil makan kita lanjutkan obrolan kita lagi" ajak ibunya.


"iya" jawabku.


Kami pergi menuju dapur. Diatas meja makannya tersedia banyak makanan lezat yang sangat menggunggah selera dan juga minuman yang menyegarkan.


"Ayo silahkan duduk" ucap ibu Jerry.


"iya Tante" sahutku.


Rasanya sudah tidak sabar ingin melahap semua makanan yang ada diatas meja. Karena jujur saja aku belum ada makan seharian ini. Aku sangat lapar. Aku terlalu sibuk memikirkan tanggapan ibu Jerry ketika bertemu denganku. Ibu pun sudah menawari ku makan beberapa kali. Tapi aku tidak menggubrisnya. Aku hanya bilang "iya" pada ibu tapi tidak memakannya. Acara makan malam saat itu berlangsung dengan lancar. Sesekali kami tertawa bersama. Ketika ibu Jerry menceritakan tingkah konyol Jerry pada kami. Jerry yang dulunya ku pikir tidak punya rasa malu. Ternyata bisa malu juga saat ibunya bercerita tentang kekonyolannya. Saat itu juga image dia yang biasanya terlihat berwibawa hilang begitu saja.


"Syukurlah semuanya berjalan dengan lancar. Aku senang melihat ibu ku bisa tertawa seperti itu." katanya sambil tersenyum. Aku tidak menjawabnya. Aku masih larut dalam pesona keindahan pada malam itu. Tiba-tiba aku teringat akan satu hal yang belum sempat ku tanyakan pada Jerry. Dan ini cukup membuatku sangat penasaran.


"Boleh saya tanya sesuatu pada anda?" kataku.


"Apa?" jawabnya.


"Darimana anda bisa tahu alamat rumah saya?" tanyaku.


Dia terlihat sedikit terkejut saat aku bertanya tentang hal itu.


"Apakah itu penting?" tanyanya kembali.


"Sebenarnya tidak. Tapi saya hanya penasaran. Darimana anda bisa tahu rumah saya, sedangkan saya tidak pernah memberikan alamat rumah saya pada anda" jawabku.


"Tidak sengaja waktu itu aku melihat kamu dengan ibumu dijalan. Karena waktu itu kamu belum memberi ku kabar kapan akan bertemu dengan ibuku. Jadi ku putuskan waktu itu aku mengikuti kalian." Sahutnya.


"Oohhh... Jadi laki-laki yang waktu itu pakai kacamata dan topi hitam itu anda?" tanyaku dengan suara agak tinggi.


Dia hanya mengangguk dengan santai dan berkata "Kenapa? Marah?" tanyanya mengejekku.


"Tidak. saya hanya sedikit kesal" jawabku cemberut.


"Kenapa harus kesal? salah sendiri kenapa tidak memberiku kabar." ungkapnya.


"Bukannya saya tidak ingin memberi kabar. Tapi waktu itu saya belum memberitahu ibu saya. Sampai pada saat malam itu saya baru saja akan bilang pada ibu kalau saya akan menikah. Dan tiba-tiba saja anda sudah datang" ujarku.


"Oh!" balasnya singkat.


"Cuma *oh*?" tanyaku yang mulai kesal atas responnya.


Dia menoleh padaku. Dengan ekspresi wajah yang dulu ketika aku masih bekerja hampir setiap hari aku melihatnya.


"Kenapa? kamu tidak terima aku cuma bilang *oh*. Apa kamu berharap aku akan meminta maaf karena malam itu telah datang secara tiba-tiba dan mengacaukan rencanamu?" dia tersenyum sinis padaku.


"Sudahlah. Lagipula itu sudah lewat bukan. Untuk apa aku meminta maaf padamu. Aku tidak merasa berbuat salah apapun. Kalaupun yang harus disalahkan itu adalah kamu. Kalau saja kamu lebih cepat memberi kabar padaku. Malam itu aku tidak mungkin akan kerumahmu" lanjutnya


Aku semakin kesal karena pernyataannya. Bagaimana bisa dia malah menyalahkan ku. Memang dasar manusia tidak punya otak!!!


"Ayo kita masuk kedalam. Suasananya semakin dingin. Oiya mulai sekarang biasakan untuk *aku dan kamu* bukan *saya dan anda*" ucapnya yang langsung berbalik badan.


Aku biarkan dia masuk kedalam. Aku belum ingin masuk lantaran masih kesal karena ucapannya tadi.


Tak berselang lama ada Chelsea yang sudah berdiri disampingku. Aku terkejut melihat dia tiba-tiba sudah ada di dekatku. Entah dari kapan dia berdiri disini.


Dia menoleh padaku dan tersenyum. Namun senyumannya sedikit tidak mengenakkan. Dari tadi kalau ku perhatikan dia memang lebih banyak diam daripada ikut mengobrol. Sesekali ketika mata kami saling bertatapan, dia melihatku dengan sinis. Dia seperti tidak suka padaku dan juga ibuku. Ada apa dengannya???


Bersambung...