Summer Breeze (Riana)

Summer Breeze (Riana)
Summer Breeze eps 8



Malam pun telah tiba. Aku memutuskan untuk pulang kerumah setelah seharian mencari pekerjaan. Hari ini usahaku sia-sia. Tidak ada satu pun tempat yang sudah ku datangi menerimaku sebagai karyawan. Kaki ini terasa seperti ingin lepas saking lelahnya. Ingin rasanya cepat-cepat sampai dirumah. Dan, beristirahat. Setibanya dirumah ku liat ibu sedang duduk di teras rumah.


"Ibu kenapa duduk diluar?" tanyaku.


Ibu berdiri dari tempat duduknya dan menjawab pertanyaanku "kau sudah pulang rupanya". Ku raih tangan ibu dan menciumnya.


"Ayo kita masuk. Ibu sudah menyiapkan makan malam untukmu" lanjut ibu.


Kami berdua pun masuk kedalam rumah bersama-sama. Ibu menyuruhku duduk dan menyiapkan makanan untukku. Malam ini ibu berbeda. Wajah ibu tidak terlihat sedang sedih seperti kemarin. Apa mungkin ibu sudah mulai melupakan kesedihannya?. Ku liat makanan yang ibu hidangkan diatas meja malam ini terasa sangat lezat sekali. Dan, ibu menyuruhku untuk segera makan dan menghabiskannya. Dengan lahap ku santap semua makanan yang dimasak oleh ibu. Karena memang aku sedang kelaparan setelah seharian mencari pekerjaan. Hari ini belum ada nasi yang masuk kedalam perutku. Kecuali roti dan sekotak susu yang ku beli pagi tadi di supermarket dekat rumah. Selama kami makan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami. Sesekali ibu memandangiku sambil tersenyum. Dalam hati, aku bersyukur karena ibu terlihat sudah lebih baik. Setidaknya rasa lelah hari ini terkalahkan karena senyuman ibu.


"Aku sudah selesai makan" ucapku sambil memegangi perutku yang kekenyangan. Ibu menatap piringku yang bersih tidak bersisa sedikit pun lalu kemudian menatapku.


"apa kau sangat lapar?" tanya ibu.


Aku tersipu malu saat ibu bertanya seperti itu. Ibu tertawa kecil karena tingkahku. Tiba-tiba ibu memegang tanganku dengan tatapan yang penuh kasih. Dan, ibu meminta maaf padaku. Aku agak terkejut dan juga sedikit bingung kenapa tiba-tiba ibu berkata seperti itu. Padahal ibu tidak berbuat salah apa-apa padaku.


"Maafkan ibu. Karena telah menyusahkan mu. Ibu berjanji tidak akan seperti itu lagi" ucap ibu. Sekarang aku mulai paham maksud dari ucapan ibu. Ku genggam kembali tangan ibu sambil terus menatapnya.


"Bu... tidak ada yang perlu dimaafkan dan meminta maaf. Aku tidak pernah merasa disusahkan oleh ibu. Semua yang aku lakukan karena aku sayang sekali pada ibu" lirihku.


"Ibu sadar selama ini ibu sudah sangat egois terhadapmu. Tanpa ibu sadari ibu sudah mengabaikan perasaan mu. Ibu hanya memikirkan perasaan ibu sendiri. 3 tahun ini ibu biarkan kau menderita menyaksikan perlakuan ayahmu terhadap ibu. Berkali-kali kau meminta ibu untuk meninggalkan ayah tapi ibu menolak. Hanya karena ibu terlalu mencintai ayah. Sekarang ibu sadar. Ibu tidak boleh egois. Selain ayah, ibu masih memilikimu. Ada cinta lain yang harus ibu pikirkan yaitu kamu." kata ibu.


Aku tidak tahan menahan air mata bahagiaku ini. Ku dekati ibu. Ku tatap wajahnya dan kupeluk ibu. Aku menangis dipelukan ibu.


"Terima kasih Bu. Terima kasih karena sudah bisa bangkit dari penderitaan yang ibu alami selama ini. Dan terima kasih juga karena telah mencintaiku. Aku janji pada ibu. Aku tidak akan pernah meninggalkan ibu sedikitpun. Aku akan selalu ada untuk ibu. Aku mencintai ibu " ucapku.


Ibu semakin erat memelukku, begitu juga aku. Sungguh, aku tak menyangka kalau saat ini akan tiba. Hal yang sudah ku tunggu dari sekian lama akhirnya terjadi juga. Ada hikmah yang bisa di ambil dari setiap kejadian yang terjadi. Dan, ada hikmah dibalik perginya ayah.


Malam itu sangat penuh haru. Sekarang ibu sudah terlihat bisa lebih menikmati hidupnya. Walaupun terkadang ku liat ibu masih suka memandangi foto ayah sambil menangis, tapi itu tidak lagi bertahan lama. Setelahnya ibu akan kembali ceria seperti sedia kala.


Pagi ini aku menemani ibu ke pasar untuk mencari sayur. Setelah lelah berkeliling ibu mengajakku mampir ke sebuah warung makan untuk sarapan. Selesai memilih menu kami pun mencari tempat duduk. Dan, tak lama kemudian makanan yang kami pesan sudah siap dimeja kami.


"iya Bu" jawabku


"sejak kapan?" tanya ibu lagi.


"Sejak hari pertama ibu masuk rumah sakit" sahutku.


"kenapa? apa kau melakukan kesalahan hingga kau dipecat?" kata ibu.


Aku menggelengkan kepala. "Lalu?" ibu melanjutkan pertanyaannya. Jujur aku bingung harus menjawab apa. Disaat-saat terdesak seperti ini aku tidak bisa bepikir dengan jernih. Kalau aku bilang aku dipecat karena diminta untuk menikah kontrak dengan mantan bosku. Bisa-bisa ibu akan sangat marah. Ibu terus menatapku dengan tajam. Seperti seekor elang yang siap untuk menyantap mangsanya. Apa mungkin ini sudah waktunya aku bilang kepada ibu kalau aku akan segera menikah. Tapi,bagaimana reaksi ibu nanti. Aku takut kalau ibu tidak setuju. Kalau sampai ibu tidak setuju, habislah aku. Bisa-bisa aku disuruh mengganti semua biaya operasi ibu. Sedangkan aku tidak punya uang sebanyak itu. Hufttt... Oke, lebih baik aku bilang saja pada ibu. Aku harap ibu setuju.


Sebelum aku menjawab pertanyaan ibu. Aku membenarkan posisi dudukku. Ku tarik nafas perlahan-lahan dan menghembuskannya.


"Bu.. aku berhenti bekerja karena aku akan segera menikah" kataku pelan.


Kali ini ibu yang terbatuk-batuk karena terkejut dengan jawabanku. Sama dengan yang ku lakukan tadi. Ia langsung meminum minuman yang ada diatas meja.


"Apa kau bilang?! kau berhenti kerja karena akan segera menikah" tegas ibu.


Dengan rasa yang penuh ketakutan aku menganggukkan kepala.


"Apa kau sudah gila. Kenapa kau tidak bilang dulu pada ibu." kata ibu sambil membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel dimulutnya.


"Bukannya aku tidak ingin bilang dulu pada ibu. Tapi akhir-akhir ini kita kan sedang banyak masalah. Aku pikir bukan saatnya bilang pada ibu. Makanya aku menunggu waktu yang tepat." jawabku.


"Makanlah dulu. Kita lanjutkan lagi dirumah. Tidak enak kalau dibicarakan ditempat ini" perintah ibu.


Aku pun melanjutkan makan ku. Walau sebenarnya sudah tidak selera. Selesai makan dan membayar makanan yang kami pesan tadi. Ibu langsung mencari angkot dan menyuruhku cepat-cepat masuk. Selama diangkot ibu terlihat sangat tidak sabar untuk melanjutkan pembicaraan kami yang sempat tertunda tadi. Dalam hati aku masih khawatir kalau ibu tidak setuju aku menikah...


Bersambung...