
Sudah 3 hari ayah belum pulang sejak kejadian itu. Ibu selalu mengkhawatirkan ayah. Sekali-kali ia menengok keluar rumah berharap ayah pulang.
"Bu makanlah dulu" tawarku.
Ibu menuju ke arah meja makan dengan rasa khawatir dihatinya. Ku siapkan makanan untuk ibu. Ku tarik kursi untuknya. Ibu pun duduk dan siap menyantap masakan ku.
" Dimana ayahmu, apa dia sudah makan?" tanya ibu dengan cemas.
"Bu, jangan khawatirkan ayah. Makanlah dulu. Ibu harus banyak makan dan tidak boleh terlalu banyak pikiran." jawabku
"Ibu khawatir terjadi apa-apa pada ayahmu" kata ibu sembari menyuap makanan kedalam mulutnya.
"Ibu tenang saja. Aku yakin ayah baik-baik saja" ujarku.
Tak lama kemudian ayah datang. Ibu langsung menghampiri ayah.
"kau darimana saja? apa kau sudah makan? makanlah dulu. Riana sudah menyiapkan makan" ujar ibu.
"Tidak usah pedulikan aku." sahut ayah. Tumben!!! tidak biasanya ayah berbicara dengan nada yang biasa. Biasanya ia menjawab dengan sangat ketus. Kali ini sangat berbeda. Ayah langsung bergegas masuk kekamar. Ntah apa yang akan dilakukannya?. Ibu kembali duduk dan berkata "syukurlah ayahmu sudah pulang. Ibu sudah tenang sekarang". Aku tidak menggubris perkataan ibu. Aku tetap melanjutkan makan ku. Tak lama kemudian ayah keluar kamar dan membawa koper. Ibu yang melihat, tergesa-gesa ia menghampiri ayah.
"kau mau kemana? kenapa kau membawa koper?" tanya ibu.
"aku akan pergi dari rumah ini" jawab ayah.
"kenapa? kenapa kau ingin pergi" tanya ibu lagi.
"bukankah itu yang kalian mau" ujar ayah menimpali pertanyaan ibu.
"tidak!!! tidak ada yang memintamu untuk pergi. tetaplah disini. jangan pergi kemana-mana" kata ibu yang mulai menitikkan airmata.
"Ku mohon!!! jangan pergi." lanjut ibu sambil memegang tangan ayah.
Ayah tepis tangan ibu. Dan, ia tetap berlalu meninggalkan kami. Ibu coba mengejar sambil terus memohon ayah untuk jangan pergi. Ku ikuti mereka dari belakang.
"aku mohon jangan pergi. Tidak ada yang memintamu pergi dari rumah ini" ujar ibu sambil menangis. Ayah tetap tidak memperdulikan ibu. Ayah terus menepis tangan ibu yang berusaha memegang tangannya. Berkali-kali ibu terjatuh mengejar ayah. Berkali-kali pula aku mencoba mengangkat ibu. Ayah masuk kedalam taksi. Ibu mengetuk-ngetuk jendela taksi berharap ayah akan keluar dari taksi sambil terus memohon. Tapi, ayah tidak menggubrisnya. Bahkan, menoleh ke wajah ibu pun tidak. Taksi itu pun mulai memacu kecepatannya. Dan, ibu masih terus berusaha. Ibu mengejar taksi yang ditumpangi ayah. Ku kejar ibu sambil terus berteriak memanggilnya. Akhirnya aku dapat menggapai ibu. Ku tahan ibu agar tidak terus mengejar ayah. Ibu memberontak sambil terus berteriak memanggil ayah.
"ibu sudah Bu. ayah sudah jauh. kita tidak mungkin dapat mengejar ayah" ucapku sambil terus berusaha menahan ibu yang memberontak.
"Ayahmu.. Ayahmu pergi" kata ibu. Ibu menangis semakin kencang. Dia merasa sangat kehilangan ayah. Ku tenangkan hati ibu dan membawa ibu kembali ke rumah.
"ibu sudah ya. Ibu jangan menangis lagi. aku yakin ayah tidak akan lama. ayah akan pulang" ujarku.
"ayahmu tidak akan kembali lagi. Ibu sangat tahu dengan ayahmu. Jika dia sudah mengatakan dia akan pergi maka dia akan tetap pergi dan tidak akan kembali lagi" sahut ibu yang sudah mulai agak tenang. Ia minum sekali lagi dan berdiri.
"ibu mau kekamar. Ibu ingin tidur" kata ibu menyudahi percakapan kami. Aku tahu ibu sedang berbohong. Dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya dan menerima kenyataan jika ayah sudah meninggalkan kami. Sebenarnya aku juga tidak rela ayah pergi meninggalkan kami. Aku berharap ketika ayah pulang tadi keadaan sudah lebih membaik. Tapi kenyataannya tidak. Ayah malah meninggalkan kami tanpa alasan yang jelas. Aku terus berpikir. Mungkin ini semua demi kebaikan kami bersama. Dan, mungkin ayah tidak ingin menyakiti ibu lagi maka ia memutuskan untuk pergi dari rumah.
Hari demi hari berlalu. Semenjak ayah pergi ibu tidak pernah keluar kamar. Kecuali kalau dia mau mandi dan makan saja. Setelah itu dia akan masuk lagi ke kamarnya. Setiap hari aku mengecek kondisi ibu. Takut ibu kenapa-kenapa. Ibu hanya terbaring dengan tatapan kosong sambil terus menatap foto ayah. Setiap kali ku ajak berbicara dia tidak pernah menghiraukan ku. Aku sangat paham sekali dengan perasaan ibu. Ibu sangat kehilangan ayah. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan ayah saat ini. Hari Senin pagi aku memutuskan untuk mencari pekerjaan. Karena uang gaji dan pesangonku sudah mulai menipis. Sampai detik ini ibu belum tahu kalau aku sudah tidak bekerja lagi. Aku belum menemukan waktu yang tepat untuk bilang kepadanya. Aku bergegas mandi dan bersiap-siap. Setelah siap ku masukkan berkas-berkas yang memang sudah ku susun rapi di map ke dalam tasku. Saat aku keluar dari kamar ku lihat ibu sedang didapur sambil menyeduh teh kesukaannya. Aku harap ibu sudah mulai membaik sekarang.
"Bu aku pergi dulu ya. Ibu jangan lupa makan. Aku sudah menyiapkan makanan untuk ibu. Dan, jangan lupa juga obatnya diminum" kataku sambil mencium tangan ibu. Ibu tidak menjawab apapun. Ibu hanya mengangguk. Saat keluar rumah aku mampir sebentar ke rumah Bi asih. Aku ingin menitipkan ibu padanya. Karena terus terang aku takut jika ibu melakukan hal-hal yang bodoh.
"Bi.. Bi asih" panggilku sambil mengetuk pintu rumah Bi Asih.
"iya.. sebentar" sahut Bi Asih dari dalam. Tak lama Bi Asih membuka pintu rumahnya.
"Eh Riana.. Ada apa? Tumben pagi-pagi kamu sudah kesini" tanya Bi Asih.
"iya Bi. Aku mau minta tolong ke bibi" jawabku.
"oohh.. mau minta tolong apa?" Bi asih kembali bertanya.
"Aku mau titip ibu ke Bi Asih. Aku mau cari pekerjaan. Tapi aku takut meninggalkan ibu sendirian dirumah. Takut terjadi apa-apa dengan ibu" sahutku.
"Loh, bukannya kamu kerja dicafe" tanya Bi Asih yang keheranan.
"Aku sudah berhenti kerja dari cafe Bi. Makanya sekarang aku ingin mencari pekerjaan lagi" jawabku seadanya.
"Kenapa kamu berhenti kerja? apa kamu dipecat?" tanya Bi asih yang diselimuti dengan rasa penasaran.
"Ceritanya panjang. Aku harus segera pergi takut kesiangan" kataku.
"Baiklah. Bibi akan kerumah mu menjaga ibumu" ujar Bi asih.
"Terima kasih ya Bi" sahutku. Bibi mengangguk.
Aku mulai berjalan meninggalkan Bi Asih yang akan segera pergi kerumahku. Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan ibu dirumah. Aku jadi tidak konsentrasi mencari pekerjaan. Tapi, aku terus berusaha dan tidak pernah lupa berdoa agar aku bisa secepatnya mendapat pekerjaan. Dari semua cafe maupun toko-toko kecil yang ku datangi mereka menolak ku. Kali ini aku tidak seberuntung tiga tahun yang lalu waktu pertama kalinya aku mencari pekerjaan. Sesekali aku mengeluh putus asa. Di musim panas kali ini aku benar-benar diuji. Mulai aku dipecat dari pekerjaanku secara mendadak, pernikahan kontrak, ibu yang harus dioperasi, dan ayah yang pergi meninggalkan kami. Ingin rasanya aku berhenti sampai disini saja. Tapi ibu selalu menjadi kekuatanku untuk bertahan. Andai aku tidak kuat dan memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Bagaimana dengan ibu? Dia pasti akan sangat sedih. Dan, akan sangat kecewa padaku karena aku memilih untuk mati konyol. Iya.. Kalau tidak karena ibu aku tidak akan mungkin bisa bertahan sejauh ini.
Bersambung....