Summer Breeze (Riana)

Summer Breeze (Riana)
Summer Breeze eps 13



Setelah jam makan siang. Aku pergi kerumah ibuku untuk menjemputnya. Selain menjemput ibu aku juga ingin membereskan beberapa barang-barangku yang harus dibawa. Aku senang karena akhirnya aku dan ibu akan tetap tinnggal bersama. Sampai dirumah, aku langsung menemui ibu. Ibu sangat senang ketika melihatku. Aku menjelaskan maksud kedatangan ku kesini. Awalnya ibu menolak untuk tinggal bersama kami. Karena dia merasa tidak enak jika harus menumpang tinggal dirumah kami. Tapi setelah ku jelaskan jika Jerry sudah menyiapkan kamar khusus untuknya, akhirnya ibu mau ikut bersamaku.


Ku bantu ibu membereskan semua barang-barangnya. Selain itu aku juga membereskan beberapa barang yang harus ku bawa. Tidak semua barang dapat kami bawa. Beberapa barang masih kami tinggal dirumah yang lama. Kami memutuskan untuk meminta bantuan mobil angkut guna membawa sebagian barang kami yang masih tertinggal.


Saat aku dan ibuku keluar dari rumah. Tiba-tiba sudah ada Bi Asih yang langsung melontarkan banyak pertanyaan karena melihat kami membawa koper. Aku dan ibu menjawab pertanyaannya secara bergantian. Dia sangat sedih ketika tahu kalau kami akan pindah. Ku bilang padanya jika dia mau dia bisa berkunjung kerumah kami yang baru. Tak lupa ku tuliskan alamat baru ku disecarik kertas untuk diberikan pada Bi Asih. Kemudian bi Asih memeluk kami berdua. Sambil sesekali dia menyeka air mata yang jatuh dipipinya. Tidak lupa aku mengucapkan terima kasih terhadap bibi dan keluarganya karena sudah mau membantu kami selama ini. Bi Asih semakin menangis tersedu-sedu. Dia semakin tidak rela untuk berjauhan dengan kami. Ibu coba untuk menenangkannya. Dan berjanji akan tetap berkunjung kerumahnya walaupun kami sudah tidak bertetangga lagi. Bi Asih masih tetap menangis sambil melambaikan tangannya pada kami. Ketika kami sudah berjalan keluar gang. Sampai didepan gang kumasukkan koper ibu kedalam bagasi mobil dan aku membukakan pintu untuknya. Kemudian aku masuk dan kami pun pergi kerumah kami yang baru.


Sesampainya dirumah sudah ada ibu Jerry yang sedang duduk diruang tengah bersama Jerry. Aku kemudian mendekatinya dan mencium tangan ibu mertuaku itu. Jerry menjelaskan maksud kedatangan ibunya kesini. Ibu Jerry memintaku untuk mengelola bisnis butiknya. Awalnya aku keberatan. karena aku sadar diri. aku ini hanyalah lulusan SMP. Aku tidak pernah mempelajari dunia bisnis sebelumnya. Aku takut jika nanti bisnis butik ibunya Jerry malah bangkrut. Ibu Jerry terus memaksaku. Dia bilang dia mempercayakan semuanya padaku. Dia juga sudah meminta Jerry untuk mengambil alih perusahaan mendiang ayahnya. Aku melirik ke arah ibuku.


"Terimalah nak. Apa kau tidak kasihan melihat ibu mertuamu. Seraya kau belajar untuk berbisnis" tutur ibuku.


Atas restu dari ibuku, aku menyanggupi permintaan ibu mertuaku. Dan, besok aku dan ibu mertuaku akan pergi ke butiknya.


Ibu mertuaku pun pulang. Dan kemudian aku membantu ibu membereskan baju-bajunya kedalam lemari.


"Bu.. apa ibu yakin aku bisa mengelola butik ibunya Jerry dengan baik" tanyaku yang masih ragu.


"Ibu yakin. Setidaknya ini peluang untukmu. Cari pekerjaan saat ini susah nak. Ini adalah kesempatan untukmu belajar berbisnis. Lagipula apa kamu tidak kasihan dengan ibu mertuamu. Dia sudah memohon padamu" jawab ibu.


"Tapi aku takut nantinya aku malah membuat kerugian Bu" kataku.


"Cobalah dulu. Kalau kamu tidak mencobanya. Bagaimana kita bisa tahu kamu bisa atau tidak." sahut ibuku.


Aku kemudian masuk kekamar ku dan Jerry. Ku lihat dia sudah tertidur dengan lelap. Tidak pernah terbayangkan kalau aku akan menikah dengan bosku sendiri. Semua ini masih terasa seperti mimpi. Malam ini adalah pertama kalinya aku tidur sekamar dengan Jerry. Walaupun kami tidak satu kasur. Canggung rasanya. Aku takut dia melihat kebiasaan burukku saat tidur. Bisa-bisa dia akan mengejekku. Tanpa ku sadari akupun mulai terlelap.


Ketika aku bangun pagi. Kulihat Jerry sudah berpakaian rapi berdiri didepan cermin. Dia melihat ke arahku sambil tertawa.


"Kenapa?" tanyaku bingung.


Dia hanya menggelengkan kepala tetap sambil tertawa.


"Apa ada yang lucu?" tanyaku lagi.


"Tidak."jawabnya


"Lalu kenapa kau tertawa?" ucapku.


Selesai mandi dan berdandan. Aku menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Didapur, sudah ada ibu yang sedang menyiapkan sarapan.


"Apa yang bisa ku bantu Bu?" tanyaku.


"Tidak perlu. Semuanya sudah siap. Panggil lah suamimu. Biar kita sarapan sama-sama" jawab ibu.


"Iya. Tapi Bu biar lain kali aku yang memasak ya. Atau kan ada bibi. Ibu tidak perlu repot-repot menyiapkan sarapannya" ucapku.


"Tidak apa-apa. Ibu bisa bosan kalau tidak melakukan apa-apa. Cepatlah panggil suamimu" ujar ibu.


Sesuai perintah ibu. Aku memanggil Jerry dan memintanya untuk turun. Pagi itu kami sarapan seperti keluarga pada umumnya. Selesai sarapan Jerry langsung pergi kekantor. Dan aku juga langsung pergi kerumah mertuaku.


Sesampainya dirumah mertuaku, ada Chelsea sedang duduk diruang tamu sambil membaca majalah.


"Selamat pagi" sapaku.


Dia hanya menoleh tanpa membalas sapaan ku. Kenapa dengan anak ini? Dia kelihatan sangat membenciku. Apa aku pernah berbuat salah padanya? Aku berusaha untuk tidak mengambil hati atas tingkah lakunya.


Aku duduk didepannya sambil menunggu ibu mertuaku. Tak lama ibu mertuaku keluar dari kamarnya dan menghampiri kami diruang tamu. Aku mengucapkan salam dan mencium tangannya.


"Kalian sudah disini ternyata" kata ibu Jerry.


"Iya bu." sahut Chelsea.


Oohh.. aku pikir kami cuma berdua saja. Ternyata dengan Chelsea juga.


"Baiklah. Kalo begitu ayo kita berangkat. Kita naik mobil ibu saja." ujar ibu Jerry.


Aku mengikuti mereka berdua dari belakang. Aku semakin merasa ada yang tidak beres dengan Chelsea. Dia sepertinya memang tidak menyukaiku. Sangat terlihat jelas dari gesture tubuhnya. Selama dalam perjalanan menuju ke butik ibunya Jerry, setiap kali ibu Jerry berbicara padaku dan ketika aku ingin menjawabnya, dia selalu menyela. Dia tidak memberikanku kesempatan untuk mengobrol dengan ibu Jerry. Sesekali dia melirikku lewat kaca mobil dengan tatapan yang sangat sinis. Dari awal kami bertemu. Dia seperti sudah menunjukkan rasa tidak sukanya terhadapku. Seolah-olah dia sedang memperingatiku untuk tidak melanjutkan pernikahan ini. Karena kalau sampai aku melanjutkan pernikahan ini maka aku akan merasakan akibatnya.


Bersambung...