Summer Breeze (Riana)

Summer Breeze (Riana)
Summer Breeze eps 12



"Apa kalian berdua saling mencintai?" tanyanya padaku.


Aku terheran! Kenapa dia menanyakan hal itu padaku? Lantas aku balik bertanya padanya,"maksudmu?"


"Aku lihat kalian bukan seperti sepasang kekasih yang bahagia karena akan segera menikah. Ada yang janggal pada kalian" ungkapnya seperti seorang detektif.


Aku tertawa kecil mencoba untuk menutup kegugupanku.


"Aku rasa itu hanya perasaanmu saja. Kami berdua saling mencintai" ucapku.


"Benarkah?" ujarnya seraya mensipitkan matanya menelisik lebih dalam.


"iya. Kalau kami tidak saling mencintai. Untuk apa kami menikah" lanjut ku berusaha meyakinkan Chelsea.


Dia mendekatkan wajahnya perlahan padaku. Dia tatap mataku seperti ingin mencari sebuah bukti yang tersembunyi. Lalu kemudian menjauh kembali.


"Aku tidak yakin!" ujarnya. Dia lalu pergi masuk kedalam meninggalkan aku yang bingung karena sikapnya. Aku tidak ambil pusing atas perkataannya. Karena ku pikir wajar jika seorang adik menanyakan hal itu.


"Ibumu sudah ingin pulang, apa kau tidak ingin ikut?" suara Jerry mengejutkanku. Aku langsung masuk kedalam dan berkumpul lagi dengan mereka. Sebelum aku dan ibuku pamit pulang. Ibu Jerry dan ibuku menjelaskan dengan detail semua rencana yang sudah mereka susun pada kami berdua. Kami pun hanya mengangguk dan menyetujui semua rencana mereka. Dan tiba saatnya aku dan ibuku pamit pulang.


"Terima kasih atas sajiannya malam ini." kata ibuku.


"Iya. saya juga berterima kasih karena sudah mau berkunjung kerumah kami." sahut ibunya Jerry.


Kami semua tersenyum.


"Baiklah Bu kalau begitu aku mengantar mereka pulang dulu" ucap Jerry pada ibunya.


"Ahhh iya. hati-hati bawa mobilnya" ujar ibu Jerry.


Kamipun menuju ke mobil yang sudah disiapkan. Setelah saling memberi salam. Kami langsung berangkat pulang.


Tibalah kami didepan gang rumahku. Ibuku lebih dulu pulang kerumah. Tinggallah kami berdua.


"Lusa aku akan menjemputmu. Sekitar jam 10 pagi" kata Jerry.


"kita mau kemana?" tanyaku.


"Kita akan fitting baju pengantin. Dan juga akan menemui WO yang sudah ku booking dari jauh hari" jawabnya.


"baiklah" jawabku singkat.


"Selamat ya Riana sebentar lagi kamu akan menikah" ucap Bi asih sambil menjabat tanganku.


Aku tersenyum, "iya Bi. Terima kasih".


"Rencananya kapan kamu akan menikah." tanya Bi Asih.


"Kalau tidak ada halangan, 3 bulan lagi Bi" jawabku.


"Baiklah. Semoga lancar ya. Apa bibi harus beli baju baru untuk datang ke pernikahanmu?" ucap Bi Asih sumringah.


"Terserah bibi. Yang pasti bibi harus tampil cantik saat pernikahanku" selorohku.


"Ahhh.. sudah harus itu. Bibi akan berdandan sangat cantik" Ujarnya sambil tertawa.


Hari berganti hari. Waktu berjalan dengan sangat cepat. Beberapa bulan belakangan ini aku telah disibukkan dengan segala persiapan pernikahan. Tepat tanggal 3 Maret kami mengucapkan janji pernikahan. Semuanya berjalan sangat lancar tanpa ada hambatan. Ibu ku dan ibunya Jerry tampak sangat bahagia. Mereka terus mengumbar senyuman pada setiap tamu yang datang. Karena keluarga Jerry adalah salah satu konglomerat yang cukup terkenal dikotaku maka tidak heran kalau banyak orang-orang penting yang hadir.


Seharusnya ini menjadi saat-saat yang membahagiakan untukku. Tapi justru kebalikannya. Bagaimana bisa aku bahagia jika ini sebenarnya hanya pernikahan kontrak. Belum lagi ayah yang tidak hadir. Entah ada dimana dia sekarang. Dari lubuk hati ku yang paling dalam ada rasa kesedihan yang tidak bisa ku ungkapkan. Dan, juga rasa bersalah terhadap ibuku dan ibunya Jerry. Aku merasa sangat berdosa terhadap mereka. Secara tidak langsung aku telah menyakiti perasaan mereka. Aku tidak tahu apakah Jerry juga merasakan hal yang sama denganku. Dari awal acara dimulai tidak ada tersirat rasa bersalah yang nampak diwajahnya. Dia justru begitu sangat menikmati acara ini. Ingin rasanya aku kabur dari acara ini. Tapi, aku tidak bisa. Apapun yang aku rasakan saat ini, aku cukup memendamnya.


Selesai acara aku dan Jerry langsung bertolak ke hotel yang sudah disiapkan oleh ibu Jerry untuk bulan madu kami. Sesampainya di hotel. Kami tidak tidur dalam satu kamar. Jerry sudah memesan kamar lain tanpa sepengetahuan ibunya. Sedangkan ibuku menginap dirumahnya Jerry. Sepanjang malam aku menangis karena kebohongan yang telah ku perbuat. Tanpa ku sadari aku telah membohongi banyak orang. Tidak hanya ibu kami. Ada Bi Asih dan juga orang-orang yang sudah datang ke pernikahan kami. Walaupun ini semua bukan murni atas kemauanku.


3 hari telah berlalu. Bulan madu seharusnya menjadi hal yang sangat menyenangkan oleh setiap pasangan yang sudah resmi menikah, tapi tidak untukku. Selama 3 hari berada di hotel rasanya waktu berjalan sangat lambat. Aku dan Jerry sibuk dengan urusan kami masing-masing. Kami tidak peduli satu sama lain. Tak jarang ibuku atau ibunya Jerry meneleponku. Mereka menanyakan bagaimana bulan madu kami. Dan, aku harus berbohong pada mereka lagi. Aku merekayasa keadaan kami selama dihotel. Aku bilang pada mereka kalau kami berdua sangat menikmati bulan madu kami. Mereka tertawa bahagia mendengarnya. Entah sampai kapan kebohongan ini akan terus berlanjut?.


Akhirnya bulan madu itu telah selesai. Keluar dari hotel Jerry langsung membawaku kerumah kami yang baru.


"Ini kunci rumahnya. Kau pegang satu. Aku juga pegang satu." ucapnya. Ku terima kunci rumah itu.


"Mulai sekarang kita akan tinggal disini" lanjutnya.


Aku masuk kedalam. Aku tertegun. Rumah ini sangat bagus. Didalamnya sudah dilengkapi dengan segala perabotan rumah tangga. Ada beberapa pembantu juga yang sudah disiapkan oleh Jerry.


"Diatas itu adalah kamar kita" celetuk Jerry yang ada di belakangku.


Dia melanjutkan, "Kau tenang saja. Walaupun kita satu kamar. Tapi kita tidak akan satu kasur. Aku sengaja membeli ranjang yang khusus dua kasur. Jadi kau bisa tidur diatasnya, aku yang dibawah. Dan ruangan yang disebelahnya adalah kamar untuk ibumu. Ajaklah dia tinggal bersama kita. Aku tidak tega kalau harus membiarkan ibumu tinggal sendirian dirumah itu."


Aku senang mendengarnya. Walaupun aku hanya istri kontraknya. Tapi setidaknya dia memikirkan nasib ibuku. Kemudian dia menjelaskan setiap bagian-bagian yang ada dirumah ini. Dia juga memperkenalkan pembantu yang akan membantu kami. Namanya Bi Nining dan juga Bi patri. Selain kunci rumah dia juga memberikan kunci mobil padaku. Dia menawari supir pribadi untukku. Karena dia pikir aku tidak bisa mengendarai mobil. Tapi, ku tolak. Dulu sewaktu aku masih kaya, aku sempat belajar mengemudi dengan ayahku.


Sebenarnya kalau dipikir-pikir semua ini sangat berlebihan bagiku. Mengingat aku cuma istri kontraknya. Aku tidak mengerti kenapa Jerry memberikanku semua fasilitas ini. Padahal seharusnya dia tidak perlu seperti itu. Toh ini semua hanya sementara sampai pernikahan ini habis batas waktunya. Justru dia akan sangat rugi karena telah memberikanku semua fasilitas ini.


Bersambung...