Summer Breeze (Riana)

Summer Breeze (Riana)
Summer Breeze eps 1



"plaakk" "dasar kau wanita ******!!! apa kau tidak bisa membuat kopi dengan benar, hah!!! dasar kau istri tidak becus!!! buat kopi saja kau tidak bisa!!! menyesal aku menikahimu".


"brak" terdengar suara pintu dibanting. Dan, terdengar langkah kaki ayahku yang meninggalkan rumah ini sambil mengumpat. Sedangkan ibuku hanya bisa menangis sesenggukan dimeja makan. Aku sudah lelah meminta ibuku meninggalkan ayahku yang arogan. Tapi, ibu selalu menolak dengan alasan ibu terlalu mencintai ayah. Hampir tiap hari ibu dipukuli dengan ayah. Ibu hanya diam dan menangis. Ibu tidak pernah melawan ayah sedikitpun. Ibu selalu saja diam ketika ayah mengeluarkan sumpah serapah dari mulutnya untuk ibu. Pernah aku mencoba untuk melindungi ibu dari ayah. Tak ayal akupun ikut dihajar oleh ayah. Sejak saat itu ibu memperingatkan ku untuk tidak keluar kamar ketika ayah sedang marah.


Namaku, Riana. Usiaku sekarang 20th. Aku seorang karyawan disebuah cafe ternama dikotaku. aku adalah anak tunggal. Aku akan bercerita sedikit tentang keluargaku. Dulu keluargaku adalah keluarga yang sangat harmonis. Ayah adalah seorang pengusaha yang sukses. Ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat bahagia saat itu. Nama ayahku adalah Heru. Dan, nama ibuku adalah Devi. Hampir semua kebutuhan ibu dipenuhi oleh ayah. Dulu, ayah sangat mencintai ibu. Setelah, 2th pernikahan hadirlah aku sebagai anak mereka. Kehidupanku tak jauh berbeda dengan kehidupan anak-anak orang kaya pada umumnya. Karena aku adalah anak satu-satunya. Aku selalu dimanja. Hampir tiap hari ibu dan ayah membelikan aku baju-baju yang mahal, sepatu yang cantik-cantik, mainan yang bagus-bagus. Semua kebutuhanku tercukupi dengan baik. Bahkan, tak jarang kami bertiga liburan keluar negeri.


Sampai pada saat aku berusia 16th. Tepatnya, pada hari Senin. Saat itu aku tak masuk sekolah karena sedang sakit demam. "brum brum" ku dengar suara mobil ayahku datang. Ku tengok jam didinding. "hmmm baru jam 11 siang tumben ayah sudah pulang" pikirku. Aku langsung bergegas keluar dari kamarku ingin menyambut ayah. Belum sempat aku "say hello" dengan ayah. Tiba-tiba ayah marah tanpa ku tahu penyebabnya apa.


"sial!!! kenapa bisa jadi begini. Arrrgghhhh.... !!! " bentak ayah sambil membanting tas kerjanya kelantai. Ibu yang sedari tadi sudah siap menyambut ayahpun terkejut.


" kau kenapa sayang, kenapa tiba-tiba kau marah? baru saja kau sampai dirumah" tanya ibuku yg kebingungan.


"perusahaanku bangkrut!!! aku telah ditipu milyaran rupiah oleh kolegaku sendiri. Sekarang aku sudah tidak punya apa-apa. Semua karyawan sudah meminta haknya. Sedangkan aku sudah tidak punya uang lagi untuk membayar gaji mereka. Lalu, aku harus bagaimana sekarang?!!!" kata ayah.


"bagaimana bisa kau ditipu oleh kolegamu?" tanya ibu. "mereka menawariku berinvestasi dengan modal yang cukup banyak. mereka mengiming-imingiku dengan keuntungan 3x lipat dari modal yang ku investasikan. karena aku percaya dengan mereka aku mengiya-iyakan saja. sudah cukup lama mereka menjadi kolegaku, makanya aku percaya. tidak ku sangka ternyata mereka menipuku." jawab ayah.


"lalu bagaimana sekarang?" tanya ibu lagi. Ayah tidak menjawab pertanyaan ibuku. Dia lalu beranjak pergi tidak tau kemana.


Pukul 10 malam ayah juga belum kunjung pulang. Aku dan ibu sudah menunggu ayah pulang untuk makan malam bersama dari tadi.


"kau makanlah dulu. kau pasti sudah lapar. setelah selesai makan masuklah kekamar dan tidur. besok kau harus sekolah" kata ibu.


Aku hanya mengangguk. Kuhabiskan makananku lalu aku langsung masuk ke kamar dan langsung tidur, mengingat besok pagi-pagi sekali aku harus berangkat ke sekolah karena ada ujian.


Keesokan paginya ketika aku sudah bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Aku keluar dari kamar. Ku tengok ibuku didalam kamar dia tak ada.


"mungkin ibu sedang membuat sarapan" pikirku. Aku langsung bergegas ke dapur. Sesampainya di dapur ku liat ibuku tertidur dimeja makan. Ternyata ayah belum pulang juga. Sampai-sampai ibu ketiduran dimeja makan. Ku bangunkan ibuku.


"Bu, Riana berangkat sekolah dulu" kataku. Ibupun terbangun dengan wajah yang masih mengantuk. "Riana kau sudah mau berangkat sekolah?" tanya ibu. "iya Bu" jawabku.


"sebentar yaa ibu buatkan sarapan dulu untukmu" kata ibu.


"tidak usah Bu, aku sarapan dikantin sekolah saja" kataku.


"baiklah kalau begitu. Maafkan ibu tidak sempat membuatkanmu sarapan. Sepertinya ibu tidur larut malam sekali karena menunggu ayahmu pulang" ujar ibu.


"tidak apa-apa Bu" kataku.


Aku mencium tangan ibuku dan langsung berangkat ke sekolah.


Sesampainya disekolah entah kenapa suasana disekolah berbeda tidak seperti biasanya kali ini. Orang-orang melihatku dengan tatapan aneh sambil berbisik-bisik. Aku seperti merasa sedang dikucilkan. Sampai dikelas aku melihat sahabat-sahabatku sedang berkumpul disalah satu meja dan sedang asyik mengobrol. Akupun langsung bergabung dengan mereka.


"ada apa nih? kok kayaknya asik bener. ikutan dong" kataku basa-basi.


Mereka tidak menjawab ku sama sekali. malah mereka beranjak dari tempat mereka masing-masing dan pergi meninggalkanku. Akupun bingung, kenapa dengan mereka. Apa aku ada berbuat salah pada mereka. Aku coba mengingat-ingat. Aku rasa tidak ada. Tapi, kenapa mereka seperti itu terhadapku? hmmm....


Singkat cerita...


Pelajaran jam pertama sudah selesai. Saatnya istirahat.


"hmmm maaf ya Ri, bukannya aku gak mau kekantin bareng kamu. Tapi mulai sekarang aku dilarang oleh orang tuaku untuk berteman dengan kamu lagi. Kata orang tuaku, orang tuamu sudah bangkrut dan sekarang kalian sudah jatuh miskin. Jadi, aku tidak boleh berteman denganmu lagi." kata Aline sembari dia meninggalkanku dikelas.


Sakit sekali rasanya ketika Aline berbicara seperti itu. Aku tidak mampu berkata apa-apa. Kaget, sedih, marah semuanya bercampur jadi satu. Apakah berita ayahku bangkrut sudah tersebar seantero sekolah secepat ini? apakah karena berita itu hampir semua orang disekolah ini memandangku jijik pagi tadi? Aku tidak kuat menahan tangis, aku pun berlari ke toilet sekolah. Aku menangis sejadi-jadinya.


Jam kedua dan jam terakhir aku tidak masuk kelas. Aku bolos. Aku takut menghadapi tatapan jijik mereka terhadapku. Aku bertahan dalam toilet sampe jam pulang sekolah. Setelah sekolah sepi aku baru kembali kekelas dan mengambil tasku. Lalu bergegas pulang kerumah. Sesampai diluar gerbang sekolah ku liat tidak ada mobilku terparkir. Tumben Pak Aceng tidak menjemputku? Pak Aceng adalah supir pribadiku. ahhh.. mungkin dia pikir aku ada jam tambahan, makanya dia belum menjemputku. Akupun memutuskan pulang jalan kaki, karena aku sedang malas menunggu.


Tak hanya disekolah. Kesialanku berlanjut sampai kerumah. Belum sempat aku menginjakkan kakiku kehalaman rumah. Kulihat dari kejauhan ibu menangis meraung-raung sambil memohon kepada orang-orang itu. Sedangkan, ayahku tidak berbuat apa-apa. Dia cuma bisa diam berdiri terpaku sambil memegang kepalanya. Ntah siapa orang itu. Aku tidak kenal. Dan baru pertama kali aku melihat mereka. Ku hampiri ibuku.


"Bu, ada apa ini?" tanyaku pada ibu.


"siapa mereka, mau apa mereka kerumah kita" seruku pada ibu.


" Pak tolong pak jangan sita rumah ini" kata ibuku memohon.


"maaf Bu, ini sudah kebijakan dari Bank. Rumah ini harus disita. karena rumah ini sudah dijadikan jaminan hutang suami ibu kalau dia tidak mampu bayar." kata orang itu.


" kami janji pak akan segera melunasinya" kata ibuku. "maaf Bu. kami cuma menjalankan perintah. Kalo Ibu tidak ingin rumah ini disita, hari ini juga segera lunasi pembayarannya beserta denda dan angsuran yang menunggak dari beberapa bulan yang lalu" kata laki-laki berjaket kulit hitam itu.


Ibu cuma bisa diam sambil terus-terusan menangis. Dan orang-orang itu berlalu pergi.


Masih belum terjawab rasa penasaranku, akupun bertanya lagi pada ibu.


"Bu ada apa ini sebenarnya? kenapa rumah kita disita Bu?" tanyaku. Sambil menangis ibu menjawab


"Nak, kita sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang, semuanya telah habis. Rumah, mobil dan semua harta yang kita punya sudah tidak ada. Semuanya sudah diambil untuk melunasi hutang-hutang ayahmu" jawab ibuku.


Aku terdiam. Kenapa ini semua begitu cepat terjadi. Apa salah kami sehingga kami diberi cobaan sebesar ini. Semuanya seperti hanya mengedipkan mata sekejap lalu hilang tak bersisa.


"Lalu kita sekarang bagaimana Bu? Apa yang harus kita lakukan sekarang? kita mau tinggal dimana" tanyaku.


"Ibu juga tidak tahu nak, ibu bingung" jawab ibu.


"Yah, bagaimana?" tanyaku pada ayah.


Ayah cuma diam tidak menjawab pertanyaanku. Ayah lalu pergi, aku dan ibu mengikutinya dari belakang. Sekarang semuanya telah hilang. Tidak hanya harta. Sahabat yang ku pikir benar-benar sahabatpun mendadak hilang dari hadapanku. Tidak ada satu pun dari mereka yang tersisa. Selama dijalan tidak ada satupun diantara kami yang berbicara. Kami semua cuma dia membisu. kami hanya mengikuti kemana arah angin akan membawa kami.


Tiba-tiba ibu memulai pembicaraan "sayang, aku masih punya kalung. kita bisa menjual kalung ini lalu mencari tempat tinggal. setidaknya hasil dari penjualan kalung ini masih bisa membuat kita bertahan beberapa saat sampai kau mendapatkan pekerjaan" kata ibu kepada ayah.


Lagi-lagi ayah tidak menjawab apapun. Dia langsung mengambil kalung yang dipegang ibu lalu menjualnya ke toko emas terdekat. Setelah selesai kami menjual emas. Kami pun mencari rumah kontrakan dan membeli sedikit makanan untuk mengganjal perut kami yang lapar. Tak lama kamipun mendapat rumah kontrakan yang sangat murah. Saking murahnya bisa dibilang rumah kontrakan kami ini jauh dari kata layak huni. Sangat jauh perbedaannya dari rumah kami yang sebelumnya. Tapi, setidaknya kami bersyukur masih bisa berlindung dari panas dan hujan. Dan, hari ini kehidupan kami yang baru telah mulai.


Semenjak kejadian itu. Keluargaku sudah tidak harmonis seperti dulu. Sekarang ayah sudah tidak lembut seperti dulu. Ayah jadi lebih sering marah pada kami, suka berjudi dan mabuk-mabukan. Ayah sudah berubah. Sedangkan ibu, sekarang ibu jadi lebih sering menangis karena sikap ayah. Ayah menjadi sangat tempramen terhadap ibu. Salah sedikit saja ibu bisa dihajar habis-habisan oleh Ayah. Tidak cuma dihajar bahkan kerap sekali Ayah mengeluarkan kata-kata kasar kepada ibu. Ibu hanya bisa diam tidak melawan. Ayah tidak bekerja hanya Ibu yang bekerja sebagai buruh disalah satu pertanian yang ada disekitar tempat tinggalku. Gaji ibu perhari cuma Rp 25.000. Hanya cukup untuk makan kami sehari-hari. Itupun kadang masih kurang. Belum lagi untuk membayar kontrakan. Selain jadi buruh di pertanian. Ibu juga menjadi tukang cuci baju. Bayaran dari cuci baju itulah yang ibu tabung untuk membayar kontrakkan. Tak tega aku melihat ibu bekerja dengan susah payah sendirian. Aku memutuskan untuk mencari pekerjaan. Sejak ayahku bangkrut aku memutuskan untuk berhenti sekolah. Awalnya ibu menolak. Tapi dengan segala alasan yang ku berikan, dengan berat hati ibu pun menyetujuinya. Tak usah tanya bagaimana pendapat Ayah. Karena sejak itu ayah sudah tidak peduli pada kami.


Syukurlah, Aku tak perlu lama-lama menanti pekerjaan. Kebetulan disekitar tempat tinggalku akan ada cafe baru yang akan dibangun. Otomatis mereka pasti sedang mencari karyawan. Berbekal ijasah SMP, aku coba memberanikan diri untuk mendaftar menjadi karyawan dicafe tersebut. Seperti yang sudah ku duga. Mereka sedang mencari banyak karyawan. Pendidikan terakhir tidak diutamakan. Yang penting rajin, ulet, jujur dan bertanggung jawab. Dan, aku diterima bekerja di cafe itu...


bersambung...