Summer Breeze (Riana)

Summer Breeze (Riana)
Summer Breeze eps 10



Mimpi apa aku semalam?! Aku sangat terkejut ketika sosok ini tiba-tiba ada di rumahku. Yaa orang yang berdiri tepat dihadapanku sekarang ini adalah mantan bosku, Jerry. Apa yang dia lakukan disini? Kenapa dia bisa tahu alamat rumahku?. Cepat-cepat ku tutup pintu rumah agar ibu tak melihatnya. Ku tarik ia sedikit menjauh dari rumahku.


"Apa yang sedang anda lakukan disini?" tanyaku padanya.


"Aku sengaja datang kerumahmu" jawabnya dengan santai.


"Untuk apa?" tanyaku lagi.


"Hanya ingin bertamu saja" sahutnya.


Ia berbalik badan ingin menuju kerumahku kembali tanpa memberikan alasan yang jelas padaku. Aku buru-buru menghadangnya.


"kenapa?" tanyanya singkat.


Ekspresi wajahnya yang terlalu amat santai membuatku rada kesal. Bagaimana bisa dia sesantai itu sedangkan aku merasa cemas sekarang. Dia tak menghiraukan ku. Dia tetap berjalan dengan langkahnya yang enteng kerumahku. Pasrah sudah. Aku serahkan apapun malam ini pada Tuhan.


Aku mengikutinya dari belakang masih dengan perasaan yang sama. Aku pikir dia gila. Kenapa dia bisa kerumahku tanpa memberitahuku sama sekali. Dan darimana dia tahu alamat rumahku. Ku buka kan pintu untuknya dan mempersilahkan masuk. Ketika dia masuk, dia menatapku dengan senyuman nakal. Ibu langsung berdiri menyambutnya.


"Selamat malam tante." Sapanya pada ibuku.


"Selamat malam." sapa ibuku kembali.


"Ini ada sedikit bingkisan untuk Tante" ucapnya sembari memberikan bingkisan itu pada ibuku. Ibuku menerimanya dengan senang hati.


"Terima kasih. Silahkan duduk. Tante akan membuatkan minum untukmu" kata ibu.


"Tidak perlu repot-repot Tante. Saya datang kesini karena ada yang ingin dibicarakan." ucapnya kembali.


Deg!!! jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang daripada sebelumnya. ******!!!


"Bu, ibu duduk saja. Biar aku yang membuatkan minumannya" ujarku yang langsung menuju dapur dengan tergesa-gesa.


Mereka berdua pun duduk diruang tamu. Sambil membuatkan minuman aku menguping pembicaraan mereka. Ku dengar dia masih memperkenalkan dirinya dan sedikit berbasa-basi pada ibuku. Minuman pun sudah jadi. Ku antar minuman itu pada mereka dan aku duduk disamping ibu.


"Minumlah dulu" kata ibu mempersilahkan dia minum. Dia pun mengangguk dan meminumnya seteguk.


"Katamu tadi ada yang ingin kau bicarakan, apa itu?" lanjut ibu bertanya padanya.


Dia tersenyum dan berkata "Sebelumnya saya minta maaf karena kedatangan saya sangat tiba-tiba. Saya datang kesini karena ingin meminta restu Tante untuk menikahi Riana".


Seketika aku dapat merasakan keringat dingin yang mengalir diseluruh tubuhku. Sedangkan, jantungku berdetak semakin kencang. Ku lihat Jerry seperti tidak ada beban sama sekali ketika mengatakan hal itu. Dia malah senyum-senyum tidak jelas. Ntah manusia ini terbuat dari apa sebenarnya. Lalu, bagaimana dengan ibuku? Sudah pasti ibu kaget. Ibu melongo saat mendengar ucapan Jerry. Bagaimana ibu tidak kaget. Kami baru saja membicarakannya. Bahkan aku belum bilang dengan detailnya pada ibu. Tiba-tiba saja Jerry datang dan langsung meminta restu pada ibuku. Ingin sekali aku memukul kepalanya.


"Maaf. Tante agak sedikit terkejut mendengar ucapanmu. Karena jujur saja. Tante dan Riana juga baru membicarakannya ketika makan malam barusan. Tante juga tidak menyangka kalau kau akan meminta restu secepat ini." Sahut ibu.


"Iya." jawab ibu sesingkat-singkatnya.


"Jadi, bagaimana Tante apakah Tante merestui kami berdua?" tanya Jerry.


Ibu langsung menolehku dengan wajah yang penuh keraguan. Ia pegang tanganku dengan erat. Aku hanya menunduk tidak berani menatap ibuku.


Dan, ibupun berkata "Kalau boleh Tante jujur, bukannya Tante tidak ingin merestui kalian. Ini terlalu sangat cepat untuk Tante melepaskan anak perempuan Tante satu-satunya. Tante takut jika kalian menikah nanti malah terjadi hal-hal yang buruk. Apakah kalian tidak mencoba untuk saling mengenal lebih dalam dulu?".


"kami berdua sudah cukup lama kenal. Tapi memang sebelumnya kami tidak punya hubungan apa-apa. Selama kami kenal saya sudah cukup mengenal kepribadian Riana. Dan saya rasa begitu juga dengan Riana. Saya rasa kami tidak perlu berpacaran seperti orang lain. Bukannya niat baik lebih baik untuk segera dilaksanakan." tuturnya.


Jujur saja aku sedikit merasa kesal ketika Jerry berbicara seperti itu pada ibu. Aku merasa bahasa dia terlalu kasar pada ibuku. Dia pikir dia siapa berani-beraninya berbicara tidak sopan pada orang tua. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa melawannya.


"Baiklah. Tante merestui kalau kau merasa seperti itu. Tapi, Tante punya syarat?" ujar ibu. Aku agak terkejut saat ibu bilang ibu punya syarat. Apa syaratnya?


"Apa syaratnya Tante?" tanya Jerry mewakili pertanyaanku.


"Tante minta jika kalian sudah menikah nanti. Apabila suatu saat nanti kalian sudah merasa tidak cocok satu sama lain. Jangan sakiti Riana. Tapi kembalikan Riana pada Tante." syarat dari ibu.


" Saya berjanji saya tidak akan menyakiti Riana. Saya akan berusaha membuat dia selalu bahagia." sahut Jerry.


Entah drama apa yang sedang dimainkan olehnya. Sampai-sampai dia berjanji seperti itu pada ibuku. Sehingga ibu merasa yakin dengan janjinya. Bukankah ini hanya pernikahan kontrak. Untuk apa dia berjanji seperti itu pada ibuku. Padahal kontrak ini akan berakhir kalau ibunya sudah sembuh. Sebelum dia pulang. Dia dan ibuku masih berbincang-bincang sedikit. Malam besok dia akan menjemput kami berdua untuk menemui orang tuanya. Dan ibuku menyanggupinya. Setelah itu dia berpamitan pada ibuku. Dan aku mengantarnya sampai ke depan rumahku. Kami tidak berbicara apapun. Dia hanya menatapku sebentar lalu masuk kedalam mobilnya dan berlalu begitu saja.


Didalam rumah ku lihat ibu masih duduk diposisi yang sama. Dia memberikan kode menyuruhku untuk duduk disampingnya. Ibu menatapku sambil membelai wajahku. Terlihat sangat jelas dari raut wajah ibu. Jika ibu memang belum siap melepaskanku.


"Sebentar lagi kau akan menjadi seorang istri. Itu tandanya kau sudah menjadi milik suamimu. Kemanapun suamimu membawamu kau pasti harus ikut. Ibu tidak akan meminta lebih pada kalian. Sering-seringlah menengok ibu. Karena ibu pasti akan merasa kesepian dirumah ini." ucap ibu.


Tiba-tiba saja aku ingin menangis saat ibu bilang seperti itu padaku. Tapi ku tahan. Karena aku tidak ingin melihat ibu jadi sedih nantinya.


"Bu, sampai kapanpun aku tidak pernah akan meninggalkan ibu. Dimana pun aku tinggal nanti. Ibu tetap harus ikut denganku." jawabku.


"Bagaimana jika suamimu tidak setuju ibu ikut tinggal bersamamu?" tanya ibu padaku.


"Aku akan memohon padanya sampai dia mengizinkan." sahutku.


"Ibu tidak apa-apa kalau harus tinggal sendirian dirumah ini. Asal kau sering menengok ibu" jawab ibu.


"Tidak Bu. Kita harus tetap tinggal bersama. Aku tidak mau berpisah dari ibu" kataku.


Ibu hanya tersenyum. Dia mencium keningku lalu memelukku.


Bersambung...