
Aku lanjut pergi ke cafe setelah membawa ayahku pulang kerumah. Aku sengaja meninggalkan mereka berdua agar mereka bisa dengan leluasa menumpahkan segala kerinduan.
"kamu sudah datang kak? Ku pikir hari ini kamu tidak akan ke cafe. Bagaimana tadi kak, apakah ibu kakak bahagia melihat ayah pulang?" tanya Susi dengan antusias ingin tahu cerita pertemuan orang tuaku.
"Syukurlah! Ibu bahagia ketika bertemu ayah. Awalnya aku pikir ibu marah ketika melihat ayah karena saat melihat ayah ekspresi ibu sangat datar. Tapi ternyata aku salah. Ibu justru sangat bahagia." jawabku
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Oiya kak, tadi ada pelanggan yang datang ingin memesan kue kita untuk acara ulang tahun tempat perusahaan dia bekerja" ucap Susi memberitahu ku.
"Oya. Kapan acaranya?" tanyaku.
"Lusa kak." jawab Susi.
"Ada berapa macam cake yang dia pesan?" tanyaku lagi
"Ini notanya. Semuanya sudah ku catat disini" jawab Susi sambil menyodorkan nota kepadaku.
"Oke. Besok kita lembur ya" kataku.
"Siap!!!" sahut Susi.
Keesokan harinya.
Hari ini aku dan Susi benar-benar sibuk. Selain kami harus melayani pelanggan yang langsung datang ke cafe. Kami juga harus menyelesaikan pesanan untuk besok. Kami bergantian melayani pelanggan yang datang.
Akhirnya cafe tutup dan pesanan untuk besok pun sudah kami selesaikan.
"Aaahhhhh aku lelah sekali hari ini" Ujar Susi sambil duduk dan meregangkan kedua tangannya.
"Kau benar, aku juga merasa sangat lelah. Tapi untunglah semua bisa kita selesaikan dengan baik." sahutku sambil meletakkan kepala dikedua tanganku diatas meja cafe.
"Aku pulang dulu ya kak. Besok kita masih harus mengantarkan pesanan itu ke alamat pemesan" kata Susi.
"Iya. aku juga" timpalku.
Akhirnya aku sampai dirumah. Ibu dan ayah sudah menungguku untuk makan bersama.
"Mana Susi? apakah dia tiduk ikut?" tanya ayah.
"Tidak yah. Dia langsung pulang. Karena besok kami masih harus mengantarkan kue ke gedung di daerah A." jawabku.
"Oh begitu. Duduklah, kamu pasti belum makan. Ayo kita makan sama-sama. Ibu mu sudah masak enak hari ini" ucap ayah.
Aku mengangguk. Sudah lama aku tidak makan malam bersama seperti ini. Rasanya kenangan masa kecilku yang bahagia terulang lagi. Aku senang melihat ibu selalu tersenyum semenjak ayah pulang. Dan begitu juga dengan ayah. Sekarang ayah kembali seperti ayah yang dulu. Ayah yang selalu mencintai istri dan anaknya.
Pagi harinya.
Hari ini aku berangkat sangat pagi-pagi sekali ke cafe. Bahkan aku berangkat sebelum orang tuaku bangun. Susi sudah menungguku diluar cafe ketika aku sampai. Ternyata dia datang lebih dulu dari pada aku. Di cafe ku periksa lagi pesanan yang sudah ku buat takutnya ada yang kurang. Tepat jam 7 pagi kami dijemput oleh supir pemesan kue kami. Lalu, kami pun berangkat ke tempat tujuan.
Di depan pintu gedung sudah ada seorang wanita yang menunggu kami. Ku rasa dia lah orang yang sudah memesan kue di cafe ku.
"Selamat pagi" sapanya ramah.
"Selamat pagi" sapa ku kembali.
"Bisa langsung masuk saja. Akan aku tunjukkan mejanya" ujarnya
Aku dan Susi langsung mengambil kue-kue yang masih ada didalam mobil. Sesampainya dimeja kami langsung menata kue-kue itu dengan sangat hati-hati.
Sebelum kami selesai menata kue-kue. Ternyata acara pembukaannya sudah dimulai. Awalnya aku tidak terlalu menghiraukannya acaranya. Karena jujur saja aku fokus dengan pekerjaanku. Tapi mendadak fokusku hilang ketika pembawa acaranya memanggil nama yang sangat familiar untuk ku.
"Para hadirin sekalian. Sebelum kita memulai acaranya akan ada sambutan dari Direktur kita. Langsung saja kita persilahkan masuk Bapak Jerry Prakoso." Sambut pembawa acara.
Aku langsung menengok ke arah mimbar. Dan benar saja itu Jerry mantan suami kontrak ku dulu. Aku cukup lama terdiam memperhatikannya ketika dia berjalan menuju ke arah mimbar. Dia berubah sekarang. Dia menjadi sosok laki-laki yang sangat berwibawa. Berbeda dengan yang dulu.
Susi membuyarkan perhatianku ke Jerry.
"i.. iya ada apa sus?" tanyaku gelagapan.
"Kerjaan kita udah selesai kak. Ayo kita kembali ke cafe" Ajak Susi.
"Aaa benarkah? O.. oke baiklah" Jawabku yang masih agak gugup.
Di cafe...
Semenjak kami pulang dari tempat itu. Bayangan Jerry masih melekat di pikiranku. Aku tidak menyangka jika pihak perusahaan yang memesan kue kami adalah karyawan Jerry. Entah ini kebetulan atau tidak. Akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan Jerry. Walau hanya menatapnya dari kejauhan.
"Kak.. dari tadi ku perhatikan semenjak kita dari acara itu kakak diam saja. Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Susi yang keheranan melihatku diam dari tadi.
"Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya kelelahan saja. Dari kemarin kita kan lembur." Alasanku pada Susi.
"Oohh.. kalau begitu kakak pulang saja dan beristirahat. Urusan cafe serahkan padaku" Lanjut Susi.
"Ahh tidak apa-apa. Ini cuma lelah biasa saja. Aku ke dapur dulu ya" Sahutku sembari meninggalkannya ke dapur.
Keesokan harinya...
"Permisi" Ucap seorang pelanggan yang datang ke cafe.
"Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?" sahut Susi melayani pelanggan tersebut.
"Saya Tia. Saya yang kemarin pesan kue untuk acara ulang tahun perusahaan tempat saya bekerja." Ucap pelanggan.
"Ahhh iya. Saya ingat. Apa ada yang bisa saya bantu? Atau apa ada masalah dengan kuenya?" Tanya Susi.
"Tidak. Saya kesini disuruh direktur saya untuk membeli beberapa kue yang ada disini. Karena kata direktur saya kuenya enak. Dan dia ingin mencobanya lagi" jawab pelanggan.
"Ohhh begitu. Silahkan dipilih saja kak. Ini baru sebagian yang diletakkan disini. Di dapur masih ada yang belum selesai kuenya" Ujar Susi sambil menyiapkan kotak untuk bingkisan.
"Baiklah" Ujar pelanggan tersebut sambil memilih beberapa kue yang ada dan membayarnya sebelum dia pergi.
Aku keluar dari dapur untuk meletakkan beberapa kue yang sudah siap untuk dijual.
"Kak sepertinya kita akan punya pelanggan baru" ucap Susi.
"Maksudmu?" tanyaku yang kebingungan dengan pembicaraannya.
"Tadi ada pelanggan yang datang kesini. Dan dia adalah orang yang kemarin pesan kue kita untuk acara ulang tahun perusahaannya. Lalu dia bilang padaku kalau direkturnya suka dengan kue-kue kita. Jadi tadi dia datang kesini karena disuruh oleh direkturnya beli kue kita lagi" lanjut Susi.
Aku cukup terkejut mendengar cerita Susi. Tapi aku berusaha untuk bersikap biasa saja ketika mendengar cerita Susi dihadapannya.
"Benarkah. Syukurlah kalau begitu. Itu tandanya kita tidak mengecewakan pelanggan" Sahutku.
"Tapi kalau boleh aku jujur kue-kue buatan kakak memang enak-enak semua. Pantas saja banyak orang yang datang ke cafe ini. Aku rasa mereka sependapat denganku." lanjut Susi dengan wajah yang serius.
"Apa kamu sedang merayuku? Apa kamu sedang ingin sesuatu?" canda ku sambil menyentuh ujung hidungnya.
"Tidak kak. Aku serius. Aku tidak pernah berbohong pada kakak" ujarnya meyakinku.
"Baiklah. Aku percaya. Nanti setelah cafe tutup. Kamu pulang kerumahku. Ibu dan ayah menyuruhku untuk mengajakmu makan malam dirumah. Ibu sudah berencana masak enak hari ini" kataku.
"Benarkah??? Baiklah. Kalau begitu aku tidak boleh makan banyak siang ini. Agar aku bisa menghabiskan semua masakan ibu nanti malam." Ucapnya sambil cengengesan.
"Astaga" Sahutku sambil berjalan ke arah dapur.
Bersambung...