
Ibu sudah menunggu diruang tamu. Aku melirik ke arah Jerry. Kami berdua saling bertatapan. Perasaan ku sangat gugup. Seperti akan ada kejutan besar yang sedang menunggu kami. Kami duduk berhadapan dengan ibu. Tanpa berbicara apapun. Ibu meletakkan sebuah amplop coklat dihadapan kami. Aku menengok ke arah Jerry sebelum mengambil amplop coklat itu.
"apa ini Bu?" ucapku sambil mengambil amplop coklat itu.
Ibu tidak menjawab pertanyaanku. Raut wajah ibu menunjukkan kalau dia sedang marah. Ku buka amplop coklat yang ada di tanganku. Betapa terkejutnya aku ketika melihat isi didalam amplop itu.
Yaa, ini adalah surat perjanjian pernikahan kontrak kami.
"Bu aku bisa menjelaskan ini semua?" kataku tergesa-gesa.
"Apa maksud dari perjanjian itu??? pernikahan kontrak???" tanya ibu dengan nada marah.
"Bu ini tidak seperti ibu kira. Darimana ibu mendapatkan ini?" tanyaku.
"Ibu sedang membereskan ruang kerja mu. Dan tidak sengaja amplop itu terjauh ketika ibu sedang merapikan berkas-berkas yang ada dimeja mu. Apa maksudnya? kenapa kalian menikah kontrak? untuk apa? " tanya ibu kembali dengan nada yang ketus.
"Maafkan aku. ini adalah murni kesalahanku" cetus Jerry sambil menundukkan wajahnya tidak berani menatap langsung ke arah ibuku.
Aku langsung menoleh kearahnya.
"Apa maksud dari ucapan mu. Bisa kau jelaskan maksud dari itu semua" ungkap ibu.
Jerry menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir. Aku berusaha untuk menahannya. Tapi, Jerry tidak menghiraukan ku. Dia terus-terusan berbicara.
"Apa kau gila?!!! kau membeli harga diri anak ku hanya untuk kepentingan mu? Dan kau Riana ibu tidak pernah meminta kau untuk melakukan itu. Hanya demi pengobatan ibu kau sampe rela menjual harga dirimu padanya!!! Bentak ibu sambil berdiri dari tempatnya.
Aku menangis. Aku sungguh sangat takut.
"Maafkan aku Bu. Ini semua ku lakukan demi ibu" lirihku.
"Demi ibu kau bilang!!! Waktu itu kau bilang uang pengobatan ibu dari hasil uang tabunganmu. Tapi ternyata kau berbohong. Ibu tidak menyangka tega-teganya kau berbohong pada ibu!!!" Kata ibu dengan air mata yang mulai bercucuran.
Aku menangis berlutut dihadapan ibu sambil memegang kakinya.
"Maafkan aku Bu. Aku tidak mau kehilangan ibu. Dengan terpaksa aku menyetujui perjanjian itu. Aku hanya ingin ibu sehat kembali." ucapku terisak-isak.
Jerry tidak berbicara apapun setelah menjelaskan semuanya tadi. Dia hanya duduk tertunduk sambil menggenggam kedua tangannya. Terlihat jelas diwajahnya jika dia juga sangat ketakutan seperti aku.
"Kalau ibu tahu. Ibu lebih baik mati!!! Daripada kau harus menjual harga dirimu. Ibu tidak rela nak!!! Ibu pikir kalian berdua saling mencintai. Tapi ternyata tidak. Selama ini kalian berdua telah membohongi ibu" Ucap ibu dengan sedikit berteriak.
Ibu lalu meninggalkan kami. Tak lama kemudian ibu kembali dengan membawa sebuah amplop putih.
"Ini!!!" ibu menghentakkan amplop itu diatas meja.
"Berapa semua total pengobatan biaya saya? saya akan mengganti semuanya. Dalam amplop ini isinya adalah uang. Saya akan membayar DP-nya terlebih dahulu. Sisanya akan saya usahakan." kata ibu sambil menatap tajam ke arah Jerry.
"Kemasi baju-baju mu. Kita pergi dari rumah ini sekarang juga!!!" lanjut ibu padaku.
"Tapi Bu?" gumam ku.
"Tapi apa lagi. Apa kau masih ingin tetap tinggal disini dengan laki-laki yang sudah membeli harga dirimu, HAH??? bentak ibu.
Aku langsung kembali ke ruang tamu setelah selesai mengemasi semua pakaianku ke dalam koper. Ibu masih berdiri sambil melipat kedua tangan di dadanya. Disampingnya sudah ada koper baju ibu. Sedangkan Jerry masih duduk sambil terus menundukkan kepalanya. Aku tahu dia juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan sekarang. Takut dan bingung bercampur menjadi satu. Aku memaklumi kalau Jerry sampai tidak berbicara apapun. Karena aku juga tidak tahu harus berbicara apa lagi. Ibu langsung keluar menuju taksi yang sudah dipesannya. Aku mengikutinya dari belakang. Kamipun pergi.
Didalam mobil.
"Bu kita mau kemana?" tanyaku.
"Kita akan kembali kerumah kita yang dulu." ucap ibu singkat.
"Apa ibu mertuamu tahu tentang pernikahan kontrak itu?" sambung ibu
Aku menggelengkan kepalaku. Lantas ibu meminta supir untuk belok ke arah kanan. Sedangkan arah ke rumah kami yang dulu masih lurus lagi
"Kita mau kemana Bu?" tanyaku lagi.
"Kita akan kerumah mertuamu. Ahh tidak. Kerumah orang tua laki-laki itu." jawab ibu.
"Untuk apa Bu? Tidak usah Bu lebih baik kita langsung kerumah kita yang dulu saja" ucapku terkejut.
"Ibu Jerry harus tahu tentang kelakuan anaknya" Gerutu ibu.
"Tapi Bu ini tidak hanya kesalahan Jerry. Ini juga kesalahanku." Ungkap ku sambil memohon kepada ibu.
"Justru itu! Ibu Jerry juga harus tahu. Kau lebih baik baik diam saja!" ucap ibu dengan nada yang agak meninggi.
Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan sekarang. 30 menit kemudian kami sudah sampai di rumah ibu Jerry. Ibu langsung masuk kedalam rumahnya tanpa mengucapkan salam. Aku berusaha mengejar ibu. Agar dia tidak terlalu gegabah.
"Ahhh kalian. Kenapa kalian tiba-tiba datang kesini. Seharusnya kalian menelepon saya dulu. Biar kami menyiapkan makanan." Ucap ibu Jerry yang terkejut dengan kedatangan kami yang sangat mendadak.
"Maaf. Saya telah lancang masuk begitu saja tanpa mengucapkan salam. Saya datang kesini karena ada yang ingin dibicarakan." kata ibu tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa. Masuklah. Tentang apa? Ahhh lebih baik kita ke taman belakang saja mengobrolnya. Biar lebih santai. Ayo" ajak ibu Jerry.
Aku dan ibu mengikutinya dari belakang. Ibu Jerry mempersilahkan kami duduk digazebo yang ada di taman belakang rumahnya.
"Sebentar saya akan menyuruh pembantu membuatkan kalian minum" Kata ibu Jerry.
Ibuku menyela "tidak perlu. Kami hanya sebentar saja disini. Selesai berbicara kami akan lanjut pulang".
"Benarkah?! kenapa hanya sebentar saja. Jarang-jarang kita bisa berkumpul seperti ini. Sebentar yaa saya panggilkan dulu" sahut ibu Jerry.
"Tidak perlu!" ucap ibuku tegas.
Aku langsung menoleh kearah ibu. Ibu Jerry kelihatannya agak terkejut dengan ucapan ibu.
"Baiklah kalau begitu. Ada apa? Hal apa yang ingin dibicarakan. Sepertinya sangat serius" kata ibu Jerry datar.
Ibu menghela nafas. Aku berharap ibu berpikir 2 kali sebelum membicarakan hal ini. Aku tidak bisa membayangkan apa lagi yang akan terjadi setelah ini.
Bersambung...