
Pagi-pagi sekali Suzy datang ke paviliun ibu suri untuk mengatakan jika dia dan pengeran Myungsoo lebih baik bercerai karena mereka rasanya tidak cocok menjadi pasangan dimasa depan. Dirinya hanya wanita biasa yang tidak pantas mendampingi pangeran Myumgsoo yang begitu penuh dengan kharisma.
"Apa yangmulia ada?" tanya Suzy pada dayang ibu suri.
"Hormat putri Suzy, ah yangmulia ada didalam. Silahkan masuk" jawab dayang yang berjaga didepan pintu paviliun. Suzy kemudian masuk dan menemui asisten setia ibu suri.
"Mama, putri Suzy datang ingin menghadap untuk menemui anda" ucap dayang Han yang mengetuk pintu ruang kerja ibu suri.
"Suruh masuk"
"Silahkan putri"
Suzy masuk langsung disambut ibu suri untuk duduk disampingnya dan memeluknya secara erat membuat hati Suzy merasa hangat dan tidak tega mengatakan maksudnya datang.
"Aku merindukanmu nak. Kau sibuk belajar hingga jarang bermain kesini untuk menemani wanita tua ini." ucap ibu suri setelah melepaskan pelukannya, Suzy malu apalagi didepannya dia diperhatikan oleh orang lain.
"Maafkan saya yangmulia, saya akan lebih sering mengunjungi anda"
"Kenalkan mereka adalah sepupu pangeran Myungsoo. Mereka juga yatim piatu sepertimu dan mereka baru menyelesaikan study dan urusan mereka di London"
"Wah pangeran kita pintar memilih istri hehehe."
"Benar, istrinya sungguh cantik sayang saat pernikahan mereka kita sibuk"
"Kalian ini, perkenalkan diri kalian agar tidak membuatnya bingung"
"Anyeong eonni aku Kim Sohee, kau bisa memanggilku Sohee."
"Aku Kim Himchan. Kami sepupu pangeran Myungsoo dan wanita cantik ini istriku"
"Anyeong aku Kim Eunji, sepupu iparmu"
"Anyeong, kalian pasti sudah tahu namaku. Salam kenal"
"Aigo kau manis sekali eonni. Mimpi apa pangeran Myungsoo yang irit bicara bisa menikah denganmu yang manis ini"
"Kau yang sabar nde menghadapinya karena dulu Myungsoo tidak begitu. Sewaktu kecil kami selalu bermain bersama hingga kami berpisah karena pendidikan masing-masing namun insiden terakhir membuatnya seperti itu"
"Pangeran Chanie"
"Iya nenek. Maaf aku lupa hehehe"
Suzy mengobrol dengan mereka hingga dia tidak berani mengatakan maksudnya untuk bercerai. Myungsoo yang mendengar Suzy ke paviliun ibu suri segera menyusulnya kesana.
"Aigo nenek lihat cucu kesayanganmu ini, dia datang tahu istrinya bersama kita. Aduh kau sungguh manis pangeran" goda Sohee namun Myungsoo memandang datar.
"Duduklah nak."
"Baik yangmulia"
"Disini hanya ada kita, jangan terlalu formal"
"Kalian datang tidak memberitahuku? Menghubungi aku saja tidak. Sepupu macam apa kalian ini" ucap Myungsoo sedikit kesal.
"Ini namanya kejutan yang menyenangkan. Nenek sudah lama meminta kami menetap disini walau kami lebih suka tinggal di London sebenarnya" ucap Himchan sambil tersenyum.
"Kau akan menetap disini?"
"Tentu saja. Istriku juga rindu tanah kelahirannya jadi setelah kontrak kerja kami habis kami memutuskan untuk kembali"
"Akhirnya kau kembali ke tempatmu yang benar"
"Kau pikir aku diluar sana tidak hidup benar pangeran Myungsoo?"
"Siapa tahu saja"
"Sudah-sudah. Kalian bertiga pergilah istirahat karena perjalanan kalian dari London pasti melelahkan, diluar sudah ada dayang Han yang akan mengantar kalian. Putri Suzy kau disini dulu nde temani wanita tua ini mengobrol" ucap ibu suri pada cucu-cucunya.
"Nde yangmulia"
Himchan, Eunji dan Sohee pergi meninggalkan ibu suri untuk beristirahat. Sedangkan Suzy masih duduk diam bersama ibu suri dan Myungsoo didalam ruangan ibu suri.
"Kau tidak memiliki pekerjaan pangeran? Kenapa masih disini?"
"Hari ini jadwal saya tidak padat yangmulia, jadi saya menyempatkan diri untuk datang kesini setelah mendengar bahwa pangeran Chanie dan putri Sohee datang"
"Bukan karena putri Suzy juga kesinikan? Kau ini jangan gensi mengakuinya. Benarkan putri?"
"Ah, nde mama"
"Berhubung kalian berdua disini. Ayo temani aku jalan-jalan berkeliling kota, sudah lama aku tidak menghirup udara segar diluar istana" ucap ibu suri bangkit dari duduknya yang diikuti Suzy, karena Myungsoo tidak berani menolak dia ikuti saja kemauan neneknya.
Myungsoo berjalan ke tempat parkir istana untuk mengambil mobil diikuti Suzy dan ibu suri. Seungho dan beberapa pengawal yang melihat segera mengambil tempat.
"Kami hanya berjalan-jalan sebentar, tidak perlu ada pengawalan" ucap Myungsoo.
"Tapi demi keselamatan yangmulia kami harus tetap menjalankan protokol istana pangeran" ucap Seungho sopan.
"Sudah-sudah bawa saja beberapa orang. Aku hanya ingin jalan-jalan bersama cucuku. Kalian berjaga saja dari jauh" ucap ibu suri menengahi.
"Baiklah mama"
"Ayo putri kita masuk mobil"
"Baik mama"
Mereka bertiga jalan-jalan mengelilingi kota dengan Myungsoo yang membawa mobil dengan santai. Karena pernintaan ibu suri juga Suzy duduk didepan kemudi bersama Myungsoo, sedangkan ibu suri sendiri duduk dibelakang seorang diri.
"Aku sungguh bahagia sekali, rasanya sudah lama sekali aku tidak melakukan jalan-jalan berkeliling kota. Putri terima kasih kau sudah datang menyetujui permintaanku, itu membuatku dan keluarga istana merasakan kebahagiaan. Jika tidak ada kau istana pasti masih merasa suram, aku sungguh beruntung karena mendiang raja memilihmu sebagai cucu menantu di istana. Maafkan pangeran Myungsoo jika kadang dia membuatmu kesal dan tertekan dengan sikap maupun perkataannya"
"Anda terlalu berlebihan mama, saya melakukan ini karena saya rasa ini suatu keharusan dan saya tidak kesal namun saya bahagia karena di istana saya mendapatkan keluarga yang sangat menyayangi saya jadi kekesal akibat pangeran tidak membuat saya kesal sama sekali"
"Ajaib sekali wanita ini. Didepanku suka membalas ejekanku tapi didepan ibu suri sikapnya manis. Sungguh menggelikan" batin Myungsoo sambil menyetir sesekali melirik Suzy yang memasang wajah tersenyumnya.
"Putri, apa belum ada tanda-tanda?" tanya ibu suri antusias.
"Maksud yangmulia apa?" jawab Suzy bingung.
"Itu apa kau belum menunjukkan tanda-tanda hamil? Aku sudah tidak sabar menunggumu hamil calon penerus istana" ucap ibu suri lagi sambil tersenyum.
"Ah itu..." ucap Suzy gugup tidak tahu harus menjawab apa, karena memang dirinya belum hamil.
"Yangmulia harus sabar sebentar lagi, kami sedang mengusahakan agar penerus istana segera hadir. Kesibukanku dengan pekerjaan membuat kami jarang bisa bersama. Benarkan putri?" kini Myungsoo yang membantu menjawab karena melihat Suzy gugup bingung mau menjawab apa, bukankah permainan ini semakin seru.
"Nde yangmulia"
"Tidak perlu mama, kami bisa mengatasi hal ini lagipula kami masih sangat muda dan baru saling mengenal. Bukankah kami masih bisa berpacaran dulu setelah menikah sebelum kehadiran bayi yang akan menyita waktu putri"
"Ya sudah terserah kalian saja, yang penting kalian bahagia"
"Apa jadinya jika aku hamil dan memiliki anak dengan pangeran tapi kami tidak saling mencintai. Apa jadinya anak kami jika dia hadir dari orangtua yang tidak saling mencintai. Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Aku bahagia memiliki keluarga yang sayang padaku tapi pangeran tidak mencintaiku. Apa yang harus ku lakukan? Minta ceraipun aku tidak tega pada pada keluarga istana yang juga sayang padaku" ucap Suzy dalam hati yang dilanda gelisah.
*
*
*
Suzy duduk di taman belakang istana dengan membawa buku belajarnya, Sohee yang baru saja bangun tidur duduk menghampirinya. Sohee terlihat gadis yang ceria dan baik hati saat pertama kali Suzy melihatnya. Sohee mengambil duduk disamping Suzy
"Eonni apa yang kau lakukan disini?"
"Aku sedang membaca, kau sendiri?"
"Aku berjalan-jalan, tidur terlalu lama makin membuat badanku sakit saja. Menjadi calon ibu negara pasti membuatmu kesusahan, harus mempelajari ini itu harus mengerti adat dan tradisi istana yang begitu banyak. Aku saja dulu pusing apalagi kau dari luar istana, namun nenek sebagai petinggi istana untuk tidak begitu primitif mengenai peradapan zaman"
"Tidak juga, aku suka belajar makanya membaca dan belajar mengenai tata cara hiudp di istana bukan hal sulit untukku"
"Wah kau hebat eonni. Wanita itu dulu saja selalu membuat banyak alasan untuk belajar adat istiadat istana. Upss aku kelepasan. Mianhae eonni-ya"
"Tidak apa. Aku sempat mendengar masalalu pangeran Myungsoo dengan mantan dan wanita yang dekat dengan pangeran dari beberapa dayangku"
"Pangeran Myungsoo dulu sangat baik namun karena membuat istana terluka jadi dia berubah dan menjadi merasa bersalah karena merasa dia yang menyebabkan keluarga istana terluka. Aku harap walau pangeran Myungsoo dingin, datar dan menyebalkan padamu aku yakin eonni pasti bisa membuat dinding es yang dibuatnya itu mencair. Smoga eonni bisa bertahan dengan sikapnya ya"
"Nde, aku akan berusaha membuat pangeran Myungsoo kembali menjadi pangeran yang hangat"
"Aku ikut senang karena aku yakin eonni orang yang baik dari pertama aku melihat eonni tadi. Aku dengar eonni mantan guru pasti menyenangkan"
"Tentu saja, mengajar itu lebih menyenangkan daripada harus belajar dikelasnya Jin ae eonni"
"Sabar, karena ini yang terbaik untuk eonni hehe. Eonni ayo kita jalan-jalan melihat kuda istana dibersihkan, aku ingin memberi makan mereka"
"Ayo, aku juga ingin melihatnya"
Suzy menutup bukunya dan mengikuti langkah kaki Sohee yang membawanya ke kandang kuda yang berada dibelakang istana, dimana disana memiliki hamparan lapangan yang luas karena didekat kandang digunakan untuk berkuda. Hamparan lapangan itu dikelilingi pohon dan danau yang sangat indah sekali.
"Paman, apa kau masih mengingatku" teriak Sohee menghampiri penjaga kuda yang sedang memandikan kuda kesayangan Myungsoo.
"Tentu saja putri Sohee, anda pergi ke London saat anda dan kakak anda remaja. Tentu saja saya masih mengingat anda. Bagaimana kabar anda? Senang bisa melihat anda kembali" ucap Penjaga kuda itu.
"Aku baik. Aku kembali karena yangmulia bilang kami harus kembali untuk melihat istri pengeran Myungsoo. Dan sungguh beruntung si pangeran es mendapatkan istri secantik ini"
"Benar, putri Suzy membawa istana kembali terutama ibu suri dan permaisuri. Apa anda akan menetap kembali di istana?"
"Sepertinya begitu paman, yangmulia ibu suri memaksa aku dan kakak pulang padahal kami menikmati hidup di London."
"Paman siapa namanya?" tanya Suzy yang mengelus kepala kuda berwarna hitam dan sedikit putih dibadannya.
"Hero, putri. Ini kuda kesayangan milik pangeran Myungsoo"
"Halo Hero, aku adalah istri dari tuanmu" ucap Suzy mengelus kepalanya yang dibalas auman ala kuda.
"Hero sepertinya menyukai anda tuan putri"
"Benarkah, apa aku boleh mencoba menaikinya?"
"Tapi dia hanya jinak dengan pangeran Myungsoo saja tuan putri"
"Tidak apa, Hero mari bekerja sama. Aku adalah istri tuanmu jadi kau harus menurut juga padaku. Paman, tolong pegang bukuku." ucap Suzy menyerahkan bukunya dan dibantu penjaga kuda untuk menaiki Hero, kuda kesayangan Myungsoo. "Ayo sohee, ini menyenangkan" teriak Suzy yang memacu kudanya menjauh.
"Dia gadis yang baik, smoga istana bahagia dan tidak ada luka lagi"
"Benar"
"Paman, aku pinjam kudanya satu nde"
"Silahkan"
Sohee akhirnya mengambil kuda dan menyusul Suzy yang sudah berkuda terlebuh dahulu.
Suzy dan Sohee kembali saat hari mulai sore, ditempat kuda sudah berdiri Myungsoo dan penjaga kuda yang menunggu kedatangan mereka. Myungsoo membantu Suzy turun dari kuda kesayangannya dan menyerahkan Hero pada penjaga.
"Kau menjaga istriku dengan baik, Hero" ucap Myungsoo pada kudanya. Sepertinya mengerti si kuda mnjerit membalasnya.
"Aigo pangeran kita sungguh manis sekali" goda Sohee yang menggoda pasangan ini.
"Makanya menikah biar bisa seperti kami" balas Myungsoo yang hanya dibalas kekehan oleh Sohee. "Kau kenapa?" tanya Myungsoo yang melihat Suzy berjalan menahan sakit saat mengambil bukunya.
"Eonni tadi.." ucap Sohee langsung dipotong Suzy dengan isyarat memohon agar tidak mengatakan apapun.
"Pingganggku pegal baru pertama menaiki kuda, jadi rasanya nyeri" ucap Suzy dengan segera.
"Hati-hati makanya jika baru pertama"
"Nde, hari sudah hampir gelap. Ayo pulang"
"Kami pamit paman"
"Hati-hati"
Didalam pavuliun mereka.
Suzy baru mandi dan duduk diruang depan dimana Myungsoo duduk sambil membaca buku dan menikmati tehnya.
"Pangeran apa kau menghawatirkan aku makanya menyusulku" tanya Suzy sambil tersenyum mengejek.
"Bukankah seorang suami yang baik harus mencari istrinya yang belum pulang menjelang senja" balas Myungsoo mengejek Suzy sambil tersenyum sinis.
"Kau sungguh manis pangeran, apa kau mulai jatuh cinta padaku pangeran?" goda Suzy.
"Bukankah itu maumu putri jika aku jatuh cinta padamu?"
"Sungguh anugerah terindah cintamu itu pangeran rasanya aku takut bangun dari mimpi ini"
"Nikmati saja mimpimu itu. Sampai kapanpun aku tidak akan mencintai wanita licik sepertimu yang ingin status sosialita saja"
"Apa aku yang sebatang kara ini begitu rendahan dimatamu hingga kau terus menghinaku pangeran. Terima kasih atas hinaanmu, aku tahu aku datang kesini bukan karena kehendakmu tapi bisakah kau sedikit saja baik padaku" ucap Suzy dengan tatapan sedih dan berkaca-kaca menatap Myungsoo namun saat mata mereka bertemu Suzy beranjak lalu pergi, melihat itu membuat hati Myungsoo sedikit merasa bersalah.