
Suzy duduk disamping Myungsoo yang sibuk dengan beberapa dokumennya, bahkan sejak sarapan Myungsoo hanya diam menikmati makanannya tanpa menegur Suzy. Suzy juga tidak mempedulikan sikap Myungsoo yang cuek, judes, dingin dan menyebalkan karena ini hanya pernikahan semu baginya. Suzy juga lebih memilih menikmati pemandangan dari luar mobil yang penuh dengan bangunan-bangunan besar dan tinggi.
Selama diperjalanan mereka berdua yang lumayan jauh mereka hanya saling diam, tidak ada yang bicara hanya sibuk dengan pemikiran masing-masing dimana Myungsoo yang sibuk dengan dokumen walau sesekali melirik Suzy, mereka sedang melakukan perjalanan menuju wilayah Incheon dimana akan diadakannya rapat dengan beberapa pejabat dilanjutkan dengan perjalanan menuju Daegu dimana pameran benda tradisional yang akan dipamerkan, disana selain melihat pameran mereka juga akan ada pertemuan dengan beberapa pejabat penting di istana.
Setelah melakukan rapat yang membahas kenegaraan diwilayah Incheon, mereka melanjutkan perjalanan kewilayah Daegu untuk melihat pameran benda tradisional. Suzy hanya memberikan senyum kepada rakyat-rakyat yang melihat mereka disepanjang jalanan yang mereka lewati menuju lokasi pameran.
"Apa kau harus tersenyum terus seperti itu dan melambaikan tanganmu didepan mereka agar mereka yakin kau calon ibu negara yang baik dimasa mendatang, hmm.. Sungguh menjijikan sekali sikapmu itu putri" bisik Myungsoos sambil mengejek.
"Aku tidak perlu pura-pura tersenyum untuk menjadi baik pangeran. Aku ini memang orang yang baik jadi tidak perlu menjadi pura-pura terhormat hanya untuk mendapat pengakuan sebagai ibu negara. Toh kau sudah memberikan status itu sejak kita menikah bukan?"
"Ingatkan dirimu untuk tidak jatuh cinta padaku, putri!"
"Apa kau mulai mencintaiku makanya kau bersikap begini pangeran karena kau takut terpikat oleh pesonaku, aku benarkan. Kau selalu saja mencari masalah denganku untuk hal sepele yang kau besar-besarkan. Atau jangan-jangan kau mengajakku tugas keluar karena kau takut posisimu sebagai pangeran mahkota direbut orang lain, atau mungkin orang specialmu hadir juga disini jadi kau ingin menunjukkan padanya kau sudah move on. Apa aku benar?"
"Kau..." ucap Myungsoo mengangkat tangannya.
"Apa? Apa?" tantang Suzy.
"Pangeran, putri kita sudah sampai" ucap Seungho yang membukakan pintu untuk Myungsoo menghentikan perbedabat mereka berdua, sedangkan Jin ae membukakan pintu untuk Suzy.
"Hmm" jawab Myungsoo yang keluar dari mobil. Dia berjalan berdampingan dengan Seungho sambil melambaikan tangannya dan tersenyum pada rakyat yang menonton diluar gedung. Suzy berjalan dibelakangnya diikuti dengan Jin ae yang berjalan disampingnya.
"Eonni, aku sungguh gugup sekali. Astaga" tutur Suzy yang dilanda kegugupan.
"Tenang putri, anda hanya harus relax seperti yang saya ajarkan tadi. Bukankah sudah saya ajarkan tadi caranya agar relax dan tidak gugup" ucap Jin ae.
"Tapi ini tempatnya lebih terbuka dan banyak sekali wartawan dan reporter dari yang ku perkirakan eonni."
"Anda harus membiasakan diri putri, mulai hari ini anda akan berhadapan dengan wartawan dan reporter setiap hari."
"Iya, semangat! Relax-relax huft.."
Myungsoo dan Seungho berbincang dengan beberapa tamu bangsawan yang hadir dalam pameran klasik, sementara Suzy berkeliling ditemani Jin ae dimana dia terus diliput oleh banyak wartawan.
"Putri sungguh cantik dan murah senyum, cocok dengan pangeran"
"Putri sungguh menawan sekali"
"Putri gadis biasa, mantan guru pasti menerima pernikahan ini karena kekayaan istana dan agar naik derajatnya menjadi istri pengeran"
"Dia terlihat pura-pura dan tidak cocok dengan pangeran, lihat senyum soknya"
"Dia sungguh beruntung. Andai yang menolong keluargaku pasti aku yang diposisinya"
"Dia yatim piatu pasti ingin menguasai istana untuk dirinya sendiri"
Banyak yang berkomentar baik dan menyetujui dirinya sebagai putri, namun banyak juga yang tidak menyukainya bersanding dengan Myungsoo. Andai mereka tahu apa yang dialami Suzy, namun Suzy hanya diam saja dan terus memberikan senyumnya didepan kamera diikuti Jin ae yang berada dibelakangnya.
"Putri, anda baik-baik saja. Anda bisa beristirahat terlebih dahulu jika anda lelah" ucap Jin ae yang selalu mengikuti sang putri.
"Aniya, aku baik-baik saja eonni. Ayo kita lihat-lihat yang dilorong sana eonni"
"Baik putri"
Setelah jam makan,
Pangeran Myungsoo dan putri Suzy mengadakan konferensi pers dadakan tentang tugas pertama Suzy keluar dari istana. Karena saat ini mereka sedang diliput oleh berbagai reporter TV nasional maupun internasional yang begitu penasaran dengan pendamping pangeran yang akan naik tahta berikutnya.
"Selamat sore, saya pembawa acara dipameran lukisan klasik yang berada di Daegu. Saat ini saya sedang bersama pangeran Myungsoo dan putri Suzy yang sedang hangat-hangatnya sebagai pengantin baru. Nah semua pasti sudah bertanya-tanya mengenai kehidupan sang pangeran dan putri yang tiba-tiba saja menikah dadakan. Bisakah pangeran menceritakan kapan kalian bertemu?"
"Kami bertemu saat aku baru saja kembali dari paris, putri adalah cucu dari sahabat kakek buyutku yang sengaja dipilihkan untukku. Dia cantik, baik, bijak, cerdas dan calon ibu negara yang baik untuk negara ini" sindir Myungsoo melirik dengan nada mengejek ke arah Suzy.
"Wah Kalian adalah pasangan yang telah dijodohkan? Apakah ini sebuah keharusan dari istana? Atau memang anda sudah tertarik pada putri sejak awal?"
"Tidak-tidak, istana tidak seburuk itu. Yangmulia ibu suri membebaskan aku dalan memilih pasangan hidup namun aku yakin pilihan istana adalah itu yang terbaik. Aku tidak mau membuat istana kecewa jika aku memilih wanita yang salah jadi semua aku serahkan pada istana karena istana pasti memberikan yang terbaik untukku."
"Tentu saja, karena istana tahu apa yang dibutuhkan negara ini tentunya yang aku butuhkan"
"Baiklah, saya akan membuka sesi pertanyaan kepada para wartawan dan reporter yang penasaran dengan kisah pasangan muda pangeran dan putri istana seoul, dari sini siapa yang ingin mengajukan pertanyaan kepada pasangan muda ini?"
"Saya Kim Youngjin, saya ingin bertanya apakah pangeran tidak pernah tertarik pada wanita lain diluar istana setelah batal menikah waktu itu, sehingga pangeran menerima wanita pilihan dari istana?"
"Silahkan pangeran menjawab"
"Begini tuan Kim Youngjin, istana tidak pernah memaksaku sama sekali masalah pemilihan istri seperti yang aku katakan tadi, aku bukan tidak tertarik dengan wanita di luar istana hanya saja aku tidak mau salah pilih kembali seperti waktu itu. Aku harap kalian tidak salah paham yang berkaitan dengan masalaluku karena itu tidak ada hubungannya dengan pernikahanku dengan putri Suzy ataupun dengan putri Suzy yang merupakan wanita pilihan dari istana. Cukup!"
"Pangeran sudah menjelaskan tuan Youngjin. Pertanyaan berikutnya, siapa yang ingin mengajukan pertanyaan?"
"Saya Jung Hyorin, saya ingin bertanya pada putri Suzy. Menurut kabar yang beredar dimedia anda hanyalah seorang guru di SMA Namwon, apakah anda menikah dengan pangeran itu hanya untuk mengubah status sosial anda dari seorang guru menjadi seorang tuan putri?"
"Silahkan dijawab putri"
"Maaf nona Hyorin berita itu tidak benar, saya sebenarnya tidak ingin melepaskan tugas saya sebagai seorang guru namun saat melihat yangmulia yang mengharapkan agar cucunya segera memiliki pendamping yang membuat saya berpikir ulang karena kami tidak saling mengenal dan apakah semua akan berjalan lancar, awalnya saya sudah menolak menjadi tunangan pangeran namun yangmulia berkata agar saya mau menikah karena kakek saya dan kakek pangeran telah membuat janji untuk menikahkan kami saat kami telah dewasa agar saya bisa memiliki keluarga lengkap karena kalian pasti tahu saya hanyalah wanita yatim piatu yang hanya dibesarkan oleh seorang ibu asuh. Saya merasa janji kakek kamilah yang mengikat benang jodoh kami hingga kami akhirnya bisa menikah, urusan cinta saya rasa bisa datang nanti jika kami terbiasa bersama"
"Lalu apakah putri masih mengajar? Dan apakah pangeran memperbolehkannya?"
"Tidak, saya memutusak berhenti mengajar bukan karena tidak diperbolehkan tetapi saat saya menjadi tunangan pangeran. Saya memutuskan untuk mengundurkan diri karena sejak saya masuk kedalam istana, saya rasa hidup dan mati saya saat mulai saat itu hanyalah mengabdi pada istana dan negara ini selama sisa hidup saya. Jadi mohon dukungannya agar saya bisa melakukan yang terbaik untuk negara ini. Terima kasih"
"Baiklah, bagaimana? Apakah ada yang masih ingin bertanya"
"Saya Son Chae Young, saya ingin bertanya jika pangeran Myungsoo menerima putri Suzy sebagai pilihan dari istana kenapa pangeran baru membawa putri Suzy untuk keluar istana baru sekarang? Bukankah kita semua tahu jika putri Suzy sudah lama sekali tinggal di istana jauh sebelum pangeran pulang dari paris, atau pangeran memang membawa putri keluar dari istana karena permintaan kami para wartawan yang ingin melihat putri Suzy dari dekat?"
Deg.
Suzy langsung melayangkan tatapannya kepada gadis berambut panjang yang memiliki kulit seputih susu dengan pipi tembam namun matanya indah bagaikan bulan purnama. Inikah gadis yang dimaksudkan para dayangnya, batin Suzy bertanya-tanya terhadap Son Chae Young.
"Itu tidak benar nona Son, aku tidak membawa putri kemana aku pergi bukan aku tidak mau tapi karena putri masih perlu banyak adaptasi dengan istana, protokol istana, tata cara hidup di istana, dan juga masih banyak aturan istana yang harus dipelajari karena dia bukanlah wanita yang hidup di kalangan bangsawan jadi dia harus banyak belajar dan berlatih didalam istana. Benarkan putri Suzy?" ucap Myungsoo dengan nada datar seolah menegaskan pada Suzy akan posisi wanita itu.
"Nde, saya hanya gadis yatim piatu dan hidup sebatang kara bersama ibu asuh, dimana selama hidup saya itu saya gunakan untuk belajar jadi perkataan pangeran benar bahwa saya masih harus banyak adaptasi agar tidak mempermalukan istana dikemudian hari." ucap Suzy menguatkan dirinya sendiri.
"Karena kalian adalah pasangan perjodohan maka kami mengira pangeran Myungsoo tidak mau menunjukkan putri pada kami. Dan hari ini tiba-tiba membawanya membuat saya dan para wartawan disini bertanya-tanya apakah ini karena permintaan kami atau karena pangeran memang ingin membawanya"
"Itu tidak benar nona Son, aku akan membawa putri keluar jika memang sudah saatnya bukan karena permintaan siapapun. Ku rasa itu saja yang ingin ku sampaikan pada kalian semua di konferensi dadakan yang membuat putri terkejut."
"Saya rasa sudah cukup konferensi hari ini, sampai bertemu diacara berikutnya bersama pangeran Myungsoo dan putri Suzy" ucap MC yang dipilih untuk konferensi dadakan Myungsoo dan Suzy.
Pip.
Ibu Suri membuang remote TVnya ke meja, saat ini dia bersama Raja Hwanhee dan permaisuri sedang menonton secara langsung dirumah.
"Apa-apan nona Son bertanya seperti itu? Apa dia sedang cemburu kepada Putri Suzy karena menikah dengan pangeran kita"
"Mama, itu tidak mungkin. Anak pejabat Son dan pangeran hanya berteman dekat tidak pernah berkencan sama sekali jadi hamba rasa itu tidak benar, nona Son hanya reporter jadi apa yang dia tanyakan pasti sudah disiapkan oleh perusahaan TV yang menaunginya"
"Dan pangeran bagaimana bisa menjawab datar seperti itu. Jika dia tidak suka harusnya dia menolak bukan bicara seperti itu didepan kamera" ucap ibu suri sedih.
"Mama, pangeran Myungsoo memang begitu namun tidak bermaksud menyakiti siapapun."
"Dayang Han bagaimana hubungan mereka selama di paviliun mereka?" tanya raja Hwanhee.
"Mereka tidur terpisah kembali yangmulia setelah kembali dari ritual malam pertama mereka. Para dayang juga sempat bingung karena putri Suzy yang tidur dikamar sebelah kamar utama yang lebih kecil dan pangeran juga tidak berusaha untuk menyusulnya jadi dapat dipastikan mereka tidur terpisah"
"Astaga, apa aku salah telah menikahkan mereka oh Tuhan. Dosa apa yang aku perbuat dulu hingga membuat pangeran menjadi begini, harusnya dia menolak jika tidak suka dengan pilihanku. Aku tidak akan memaksanya lagi, biarkan mereka bercerai walau aku akan memilih pergi dari istana dan menghabiskan hariki didesa kelahiranku" ucap ibu suri sedih sambil memijat kepalanya.
"Mama, jangan berkata seperti itu" ucap pernaisuri yang ikut pusing.
"Tolong, biarkan aku sendiri. Aku ingin istirahat dan kalian bisa pergi ke kamar kalian" perintah ibu suri, segera saja raja Hwanhee, permaisuri dan para dayang pergi dari paviliunnya.