Sincerely Love

Sincerely Love
Chapter 32



Suzy terkejut mendengar suara jatuh namun saat dia membuka mata dia terkejut melihat Chae Young yang melukai dirinya sendiri dengan mengiris nadinya yang begitu dalam hingga darah mengucur deras dipergelangannya. Tubuh Chae Young tergeletak disampingnya membuat Suzy terkejut tidak bisa berkata apa-apa. Myungsoo segera berlari menghampiri tubuh Chae Young dengan wajah khawatir, Myungsoo mengeluarkan sapu tangan untuk membalut tangan Chae Young dan mengangkat tubuh itu. Sikap itu membuat Suzy sedikit tercubit karena suami yang mulai dicintainya mementingkan wanita lain yang merupakan mantan kekasihnha daripada menanyakan kabarnya bagaimana akibat perbuatan Chae Young.


"Putri Sohee dan Pangeran Eunwoo tolong bawa putri kembali ke istana, aku akan mengantar Chae Young ke rumah sakit dimana ibu suri dirawat. Aku akan segera kembali bersama pangeran Himchan dan putri Eunji setelah mengurus ibu suri dan Chae Young. Kalian kembalilah ke istana terlebih dulu agar aman dari media" ucap Myungsoo yang langsung membawa tubuh Chae young keluar ballroom. Tubuh Suzy rasanya lemas melihat itu.


"Putri jangan berpikiran yang macam-macam, pangeran hanya peduli karena rasa kemanusiaan bukan karena mencintai masih mencintai nona Son" ucap Sohee memegang pundak Suzy yang lemas.


"Ah.. Aku hanya..."


"Aku tahu perasaanmu, ayo kita bawa putri kembali ke istana pangeran Eunwoo. Putri Suzy pasti masih shock dengan kejadian yang baru saja terjadi" ucap Sohee lagi yang menuntun Suzy untuk menuju pintu keluar dari ballroom.


"Iya, ayo." ucap Eunwoo yang juga berjalan di dbelakang mereka berdua. "Putri, andai aku mengenalmu terlebih dulu sebelum kau menjadi milik pangeran Myungsoo. Aku pasti akan menikahimu dan membahagiakanmu tapi takdirmu memang bukan untukku" batin Eunwoo sambil menatap Suzy yang berjalan dituntun Sohee.


Suzy tiduran diranjang tidurnya seorang diri tapi dia tidak bisa tidur, dia begitu mencemaskan bagaimana keadaan ibu suri dan juga Chae young dengan rasa gelisah. Myungsoo masuk kamar mereka terkejut melihat Suzy yang mendesah panjang.


"Kenapa masih belum tidur? Ini sudah hampir jam 11 malam, bukankah kau biasanya sudah tidur di jam pukul 9" tegur Myungsoo yang masuk kamar dan melepas jas yang melekat pada tubuhnya.


"Aku mencemaskan ibu suri dan nona Son. Kau kenapa baru pulang sekarang, apa sebegitu memyenangkan bermesraan dengan nona Son mu itu makanya kau pulang jam segini" sinis Suzy yang duduk dari tidurnya.


"Aku capek tapi kau malah ingin mengajakku bertengkar, putri Suzy banyak yang harus aku urusi"


"Tentu saja, dia itu orang yang kau cintai makanya kau rela berlama-lama dengannya. Nyatanya tadi kau lebih suka menolongnya daripada melihatku dan bertanya apakah aku baik-baik saja atau tidak"


"Putri jangan kekanakan, aku melakukan itu karena rasa kemanusiaanku bukan karena aku mencintainya. Kau ini benar-benar ish terserah saja kalau kau mau marah. Aku mau mandi dulu bertengkar denganmu membuat kepalaku semakin pusing" ucap Myungsoo melepaskan kemejanya dan langsung berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan kepalanya.


"Kau yang menyebalkan, pergi saja sana dengan nona Son itu jangan kesini. Kau pikir aku ****** yang bisa kau datangi dan kau tinggal begitu saja" kesal Suzy pada Myungsoo yang ntah mendengar atau tidak dengan ucapannya itu


Myungsoo mencoba memejamkan matanya setelah ritual mandi kilatnya, Suzy yang tidur disebelahnya hanya berguling ke kanan ke kiri mencari posisi tidur yang nyaman namun dia tidak juga bisa tertidur padahal ini sudah satu jam berlalu. Tentu saja Suzy mana bisa tidur jika tidak menciumi ketiak Myungsoo terlebih dulu, ketiak yang slalu dianggapnya menggoda dan menenangkannya untuk tidur nyenyak bahkan setiap pagi mualnya akan hilang hanya dengan menciumi ketiak suaminya itu. Karena mode marah Suzy malas melakukannya namun Suzy juga menderita tidak bisa tidur nyenyak dan hanya bisa berguling kenanan ke kiri namun tidak kunjung tidur juga. Myungsoo yang tahu hanya tersenyum geli melihat betapa gengsi dan kekanak-kanakan sikap Suzy, ibu hamil memang sensitif dan menyebalkan baginya. Namun karena tidak tega Myungsoo akhirnya menarik kepala Suzy untuk mendekat pada ketiaknya itu.


"Aku tahu kau tidak akan bisa tidur sebelum menciuminya, walau menjijikan tapi aku tidak tega kau dan anak kita tidak akan segera tidur dengan nyenyak" ucap Myungsoo yang mendekatkan kepala Suzy pada ketiaknya.


"Aku memang menginginkannya tapi ingat aku masih marah padamu. Kau menyebalkan!" ucap Suzy yang tentu saja menikmati menciumi ketiak Myungsoo.


"Iya, aku tahu. Kau sudah mendapatkan yang dimau anak kita jadi cepat tidur, ini sudah tengah malam dan tidak baik untuk kesehatan kalian"


"Hmmm"


Tak lama kemudian Myungsoo mendengar suara dengkuran halus dari sang istri, Myungsoo bahkan heran apa yang menarik dari ketiaknya hingga Suzy betah sekali menciuminya disetiap mau tidur dan bangun tidur, bahkan di tempat umum Suzy tidak malu mengendusinya seperti kucing. Myungsoo membenarkan rambut Suzy yang berantakan dan menarik Suzy agar tidur dibantal, membenarkan selimut mereka dan memeluk perut Suzy yang dirasa sudah mulai membuncit karena memang sudah 4 bulan berjalan.


"Kau ini calon pangeran atau putri anakku, tapi kenapa ibumu menyidam hal yang tidak biasa. Apa itu karena ibumu mencintaiku atau memang kau yang nakal ingin kami selalu berdekatan, nak walau aku dan ibumu belum yakin jika kami saling mencintai namun kami akan slalu mencintaimu. Jadi sekarang kau juga harus tidur dan jangan menyusahkan ibumu" ucap Myungsoo pada bayi diperut Suzy dengan mengelusnya yang dibalas dengan tendangan halus. "Kau memang pintar nak, selamat tidur"


Pagi-pagi Suzy sudah bangun dan hanya mendapati dirinya sendiri diatas ranjang dengan selimut yang menutupi seluruh badannya. Suzy merasa perutnya mual makanya dia terbangun dan kesal karena tidak mendapati Myungsoo disampingnya untuk menuntaskan rasa mualnya.


"Huft, kau ini sebenarnya anakku apa anak si es itu. Kenapa kau menyusahkan ku setiap pagi dengan mencari bau ketiak si es itu, sialan sekali si es itu meninggalkanku sendiri demi nona Son itu lagi." dumel Suzy yang sudah duduk dipinggiran ranjang dan keluar dari selimut.


"Berhenti mengumpat tuan putriku sayang, itu bisa didengar olehnya" goda Myungsoo yang baru keluar dari kamar mandi, Myungsoo terlihat seksi dimata Suzy namun karena masih kesal Suzy gengsi mengakui itu.


"Kau..."


"Apa?"


"Sana pergi, aku masih marah denganmu"


"Kau yakin? Bukankah biasanya setiap pagi kau mencari ketiakku dan bau badanku untuk kau endusi seperti kucing agar tidak mual."


"Aku sedang marah denganmu jadi aku tidak minat pada ketiak jelekmu itu. Sana pergi saja ke nona Son mu"


"Baiklah, aku akan ke rumah sakit. Kau ingin ikut tidak? Aku akan pergi menjenguk ibu suri sekalian memadu cinta dengan nona Chae Young. Kau yakin tidak ingin ikut denganku?"


"Aku bisa pergi sendiri" ucap Suzy berdecak yang langsung bangun menuju kamar mandi, membuat Myungsoo geleng-geleng.


"Hormon ibu hamil memang ajaib, apa benar nyidam anehnya pada ketiakku sudah hilang. Aku sangat bersyukur jika itu terjadi karena aku seperti ikan asin saja jika terus diendusi setiap pagi dan malam untuk menghilangkan mualnya"


Suzy datang ke rumah sakit setelah diantar sopir dan beberapa pengawal, Myungsoo yang melakukan itu untuk menjaga keselamatannya setelah kejadian semalam. Saat sampai didepan ruang perawatan ibu suri, Suzy mendapati Myungsoo yang tertidur di sofa panjang sedangkan Himchan duduk dikursi samping ibu suri.


"Putri kau datang, syukurlah. Aku harus pergi sebentar karena ada urusan, tolong kau temani pangeran Myungsoo menjaga ibu suri. Dia tertidur karena capek mengurusi nona Son dan ibu suri bersamaku semalam" ucap Himchan yang bangkit dari kursinya


"Nde pangeran, bagaimana keadaan ibu suri?"


"Kondisi pada jantungnya sudah kembali membaik. Tinggal menunggu sadar untuk pemulihan saja"


"Syukurlah, aku senang mendengarnya."


"Apa kau baik-baik saja karena kejadian semalam, putri. Pangeran Myungsoo begitu khawatir namun setelah mendapat kabar kau sudah kembali ke istana bersama yang lain, barulah dia tenang semalam saat mengurusi segala hal bersamaku disini"


"Nde, aku baik-baik saja. Apa pihak istana sudah menjenguk nona Son?"


"Aku dan pangeran Myungsoo sudah memastikan dia baik-baik saja walau luka pada nadinya cukup dalam. Pejabat Son juga sudah datang meminta maaf karena putrinya sudah membuat kekacauan pada keluarga istana yang membuat ibu suri terkena serangan jantung"


"Kasihan sekali dia"


"Putri, kau duduklah dulu atau bangunkan pangeran Myungsoo untuk pindah tempat kesini agar kau dapat duduk dengan nyaman"


"Aniya, aku akan duduk disebelah ibu suri saja. Itu tidak akan mempengaruhi kehamilanku. Kau hati-hati dijalan pengeran Himchan"


"Nde, anyeong"


"Anyeong"


Himchan pamit untuk pergi, sedangkan Suzy menaruh paper bag yang dibawanya ke meja dekat Myungsoo lalu memilih duduk di kursi samping ibu suri. Suzy meraih tangan ibu suri yang tergolek lemah tak berdaya dengan infus dan alat bantu lainnya.


"Mama, cepatlah sembuh aku sangat khawatir padamu. Kau adalah orang yang slalu baik padaku dan menyayangiku seperti cucumu sendiri dan selalu mengulurkan tangan ini untuk menguatkan aku, aku minta maaf jika semua ini terjadi karena aku tapi aku mohon segeralah sembuh, mama" ucap Suzy dengan tulus.


Suzy sudah mulai bosan dengan kegiatannya yang hanya duduk disamping ibu suri, kadang dia membersihkan keringat yang keluar. Karena terlalu lama duduk dan membuat pinggangnya sakit Suzy memutuskan untuk berdiri dan berjalan melihat pemandangan dari luar jendela, dia melihat banyak anak kecil yang bermain dengan orangtua mereka di taman.


"Akankah kita nanti juga begitu bahagia nak, hmm kau pasti juga akan seperti itu walau aku tidak yakin. Apa kau lapar? Kau belum makan apapun sejak tadi pagi karena memuntahkan semua yang aku makan? Apa kau tidak tahu ibu sedang marah pada ayahmu yang menyebalkan itu. Kenapa kau suka sekali pada ketiaknya itu bahkan aku benci mengakui itu hal yang paling aku sukai bagaikan kecanduan minum bir saat ini, ketiak itu bisa membuat mualku hilang dan bisa membuatmu makan apapun" gerutu Suzy yang sambil mengelus perutnya kini berbalik untuk duduk karena sudah tidak pegal lagi, saat akan duduk matanya menangkap Myungsoo memamerkan ketiaknya walau Myungsoo mengenakan kemeja panjang, itu di karena Myungsoo menggunakan lengannya untuk menutupi matanya yang terpejam, pemandangan itu sungguh membuat Suzy tergoda. "Astaga otakku. Tidak-tidak aku kan sedang marah padanya, tapi bau ketiaknya menggoda sekali walau tertutupi kemeja. Aigo..."


Suzy menggeleng-gelengkan kepalanya, namun dia sudah lapar karena belum bisa makan apapun sejak pagi. Akhirnya Suzy menyerah, dia jongkok didepan ketiak Myungsoo dan mengendusinya membuat Myungsoo terkejut.


"Astaga putri, apa yang kau lakukan? Kau membuatku terkejut" ucap Myungsoo yang terkejut dan langsung membuka matanya menatap Suzy.


"Diamlah, aku sedang menuruti keinginan anakku. Dia sudah menderita karena aku mual dan tidak bisa makan" ucap Suzy yang ingin mengendus ketiak Myungsoo lagim


"Ayo bangun, dia bisa kesakitan terhimpit begitu jika kau jongkok begini"


"Tidak mau. Aku masih marah padamu"


"Hmmm. Senangnya"


"Aku pikir nyidam anehmu sudah hilang karena kau mengusirku pagi tadi ternyata kau menahannya. Hihihihi"


'"Hmmm. Diamlah! Aku masih marah padamu"


"Kau bilang laparkan tadi karena tidak bisa makan apapun sebelum menciun ketiakku, ayo makan. Itu paper bag berisi makan siangmu kan?"


"Aku masih menikmati ketiakmu kenapa kau cerewet sekali" ucap Suzy dengan wajah cemberutnya.


"Makan dulu, nanti kau bisa menikmatinya lagi. Kasihan kau dan aegy yang belum makan sejak pagi"


"Baiklah. Ayo suapi kami"


"Hmmm"


Myungsoo mengambil paper bag yang berisi banyak makanan sehat dan jus sehat untuk Suzy. Myungsoo membuka dan mengambil sendok untuk menyuapinya, Suzy tentu saja senang di suapi begitu apalagi dengan sikap Myungsoo yang sekarang lebih sering mengalah padanya.


"Ah kenyangnya" ucap Suzy sambil membelai perutnya.


"Suruh siapa tidak makan?"


"Aku sudah mencoba makan sampai berganti menu sebanyak 4 kali tapi makanan itu keluar lagi karena aku belum mencium ketiak jekekmu. Anakmu memang jahat padaku bahkan hanya mau mendengarkanmu saja? Aku yang hamil tapi aku yang menderita huwa..."


"Astaga penyakit kekanakanmu kumat lagi, sudah-sudah jangan menangis." ucap Myungsoo membawa Suzy ke dalam pelukannya lagi, belum selesai dramanya mereka dikejutkan ibu suri yang sadar.


"Air... Aiiir..."


"Mama" ucap keduanya yang lalu melepaskan pelukan mereka dan menghampiri ibu suri.


"Aiiirrr..."


Suzy segera mengambilkan air dalam gelas yang telah tersedia didalam meja, dan membantu ibu suri agar dapat minum dari sedotan. Sedangkan Myungsoo menelpon pihak rumah sakit dari telpon yang terpasang disamping meja.


"Dokter akan datang setelah ini, yangmulia kami senang anda sudah sadar"


"Nak, aku senang kau baik-baik saja."


"Nde mama, anda juga harus baik-baik saja"


Dokter dan perawat berdatangan untuk memeriksa ibu suri. Myungsoo dan Suzy menunggu diluar ruangan.


"Pangeran?"


"Ada apa? Kau ingin mencium ketiakku lagi?"


"Bukan, hmmm. Apa kau tidak menjenguk nona Son? Bukankah dia di rawat dirumah sakit ini juga"


"Kenapa? Kau berpikir dengan aku datang maka dia akan sembuh dan menyerah, itu bukan jalan terbaik. Jika aku datang dia akan semakin berharap padaku"


"Aku tidak tahu seperti apa hubungan kalian dulu? Kalian berkencan berarti pernah ada dimana kalian sama-sama saling menyukai. Lalu kau pergi dan tiba-tiba kita menikah dijodohkan, bagian mana yang aku harus percaya jika kau mencintaiku?"


"Aku mencintaimu dengan tulus karena benang jodoh kita memang mengikat kita untuk bersama. Kau yang suka mengacaukan hariku, bedebat denganku, berbagi tempat tidur denganku dan mengobati kesepianku. Rasa itu timbul karena kita terbiasa bersama. Apa itu tidak cukup?"


"Aku..."


"Sudahlah putri. Aku tidak ingin berdebat denganmu, lebih baik kita jangan bahas nona Son karena aku tidak ingin kau salah paham lagi yang akan melukaimu." ucap Myungsoo yang berjalan masuk ke ruangan ibu suri karena melihat dokter dan perawat yang memeriksa ibu suri sudah keluar ruangan.


Suzy berjalan menyusuri lorong dimana kamar Son Chae young dirawat. Ketika ingin masuk Suzy ragu karena melihat Chae Young sedang ditunggui oleh ibu dan ayahnya.


"Putri Suzy, silahkan masuk" ucap tuan Son, ayah Chae young yang merupakan pejabat istana.


"Nde tuan Son" ucap Suzy yang masuk ke ruang rawat Chae young.


"Kami akan tinggalkan kalian berdua, ayo istriku" ucap tuan Son mengajak istrinya keluar dari ruang rawat putrinya.


"Ada apa putri kemari? Apa ingin menertawakanku?" ucap Chae Young yang menatap jendela kamar rawatnya menandang ke arah luar.


"Aku hanya ingin menjengukmu nona Son"


"Apa kau merasa kasihan melihatku? Melihatku rapuh karena mencintai suamimu"


"Tidak seperti itu. Aku tulus menjengukmu sebagai teman."


"Kenapa kau baik padaku? Padahal aku ingin membunuhmu kemarin"


"Aku tahu itu bukan kemauanmu, kau sebenarnya tulus mencintai pangeran tapi takdir pangeran adalah hidup denganku. Jika memang menjadi takdir dari pangeran, aku tidak akan pernah melarangmu untuk menjadi istri keduanya"


"Pangeran hanya mencintaimu putri, dulu kami hanya teman kencan untuk mengisi kekosongan dihatinya yang terluka. Pangeran sudah akan menikah dengan nona Park Jiyeon, kau pasti sudah mendengar kisah yang membuat istana suram akibat itu. Pangeran memang tidak menjanjikan apapun padaku, semua salahku yang terlalu mencintainya dari dulu hingga sekarang."


"Kami pasangan yang dijodohkan dan kami berusaha untuk saling mencintai ntah pada akhirnya kami saling mencintai atau berpisah. Kami akan memikirkan hal itu nanti bagaimana baiknya setelah anak ini lahir? Jika kami bercerai mungkin kau bisa mendekatinya dan mengambil hati keluarga istana."


"Pangeran sudah mencintaimu jadi mana mungkin pangeran akan melepaskanmu pergi, putri. Pangeran mempunyai prinsip dan janji jika dia hanya akan menikah satu kali, walaupun kau tidak mencintainya tapi aku tahu ada anak sebagai pengikat kalian dan dia tidak akan pernah melepaskanmu pergi dari hidupnya."


"Aku..."


"Pergilah putri, jangan bersikap seolah pangeran bisa aku dapatkan karena pada kenyataannya dia sudah memilihmu. Aku ingin istirahat jadi tolong keluarlah sekarang"


Suzy pergi meninggalkan ruang rawat Chae young dengan rasa bersalah, sepertinya dia menerima menikah karena ingin punya keluarga malah berakibat melukai perasaan orang lain. Tapi dia juga ingin bahagia apa itu juga salah. Suzy menoleh ke arah Chae young saat berada dipintu keluar namun Chae young tidak menoleh sedikitpun, sepertinya bicara pada orang patah hati sungguh susah.


"Putri, maafkan putri kami yang telah melukaimu semalam. Tolong jangan pecat hamba dari istana" ucap tuan Son bersama istrinya di luar ruangan.


"Itu bukan salahmu tuan Son, aku tidak akan menyuruh istana memecat anda. Ini bukan salah siapapun karena cinta memang tidak bisa ditebak akan jatuh pada siapa" jawab Suzy


"Terima kasih putri Suzy, anda sungguh wanita baik. Istana tidak salah memilih anda. Saya janji putri saya tidak akan mengganggu anda lagi"


"Dia tidak melukaiku, ini hanya salah paham. Cukup beri dia pengertian saja"


"Nde"


"Bisakah aku membawa pergi istriku" ucap Myungsoo yang membuat semua orang menoleh termasuk Suzy.


"Pangeran" ucap Suzy dan kedua orangtua Chae Young yang terkejut melihat Myungsoo.