Sincerely Love

Sincerely Love
Chapter 26



Suzy menemani Eunwoo 2 minggu terakhir ini untuk terapi berjalan agar kakinya dapat berjalan dengan normal kembali. Kenapa bukan Myungsoo yang menemani sesuai perkataannya? Itu karena pekerjaan Myungsoo yang begitu banyak membuatnya harus merelakan sang istri yang menemani sepupu untuk terapi. Suzy setia menemani dan menyemangati Eunwoo agar dapat berjalan normal dengan kembali walau masih kesusahan.


"Pangeran Eunwoo, bagaimana?" tanya Suzy yang berdiri dari duduknya saat melihat Eunwoo keluar dari ruang terapi


"Masih susah putri, kakiku masih sangat sakit jika dipaksa berjalan" jawab Eunwoo sedih yang mengambil duduk di bangku yang di duduki Suzy. Suzy menyodorkan air mineral dan duduk disampingnya. Tentu saja mereka dikawal oleh beberapa pengawal istana yang melakukan protokol istana untuk keamaan keluarga istana.


"Ya sudah jangan dipikirkan, berusahalah dan semangat. Kau pasti akan berjalan dengan normal lagi seperti dulu jadi jangan bersedih"


"Nde putri, aku akan berusaha keras karena istana akan malu jika memiliki pangeran yang cacat seperti aku ini dan kakakku dulu. Dia idiot karena semua syaratnya tidak berfungsi sehingga membuat suka hilang kendali, membuat ibu terus menyalahkan kepergian ayah dan ketidakadilan istana padahal itu kesalahan dari ambisinya. Kini semua pergi dan hanya aku yang tersisa untuk mendapatkan karma dari perbuatan mereka dimasa lalu"


"Pangeran, anda tidak boleh menyalahkan keadaan. Semua sudah digariskan oleh Tuhan jadi anda tidak boleh menganggap anda akan mendapat karma karena kesalahan orangtua anda. Optimislah karena hidup ini indah jika kau bisa menikmatinya, aku sudah yatim piatu sejak usia 9 tahun dan hanya memiliki ibu asuh sampai aku di takdirkan menjadi istri pangeran Myungsoo, istana adalah keluarga yang baik walau aku sempat berpikir mereka mungkin akan bersikap seperti di buku yang sering aku baca tapi ternyata mereka baik karena menerima orang seperti aku. Anda yang sudah ada di garis keturunan pasti dapat diterima dengan baik oleh istana, jadi jangan khawatirkan apapun. Okey"


"Terima kasih putri"


"Tidak perlu berterima kasih. Ayo kita kembali ke istana, mereka pasti menunggu kita"


"Nde"


Eunwoo dan Suzy masuk ke mobil yanga akan membawa mereka untuk kembali ke istana. Eunwoo dan Suzy menjadi teman yang akrab karena setiap hari Suzy menemani Eunwoo terapi berjalan sebelum Suzy menjalani tugas istana yang lainnya. Selama perjalanan pulang mereka mengobrol biasa.


"Putri, aku dengar kau dulu seorang guru? Bagaimana bisa kau dijodohkan dengan pangeran Myungsoo yang dingin?"


"Awalnya aku juga tidak tahu, saat itu ada utusan yangmulia ibu suri datang ke rumah dan menyuruhku datang ke istana untuk menemui mereka. Ya awalnya seperti itu, aku sudah berniat menolak tapi melihat yangmulia aku tidak tega dan lagi aku ingin memiliki keluarga lengkap makanya aku setuju. Di istana aku memiliki keluarga yang lengkap dan itu membuatku bahagia walau pangeran Myungsoo belum mencintaiku"


"Andai saja kau bukan istri sepupuku, aku juga ingin menikahimu putri"


"Eh?"


"Aku bercanda hehe"


"Dasar"


"Putri, bisakah kau ajak makan aku diluar sebelum kita kembali ke istana. Tiba-tiba saja aku lapar"


"Ah maafkan aku pangeran Eunwoo lupa menawarkan makan pada anda setelah melakukan terapi karena kau pasti lapar setelah melakukan berbagai kegiatan. Aku akan mencarikan tempat yang enak untuk makan anda"


"Tidak perlu begitu, perutku bisa makan apapun walau di tempat makan biasa"


"Baiklah"


Suzy kembali ke istana bersama dengan Eunwoo setelah makan siang di sebuah tempat makan langganannya dulu ketika masih bekerja. Mereka juga berjalan-jalan dulu sebelum kembali ke istana karena Eunwoo ingin berkeliling Seoul, dia belum pernah ke Seoul karena dia tinggal di wilayah asia tepatnya di negara Thailand sejak dia kecil hingga dia lulus kuliah.


Suzy masuk ke paviliun saat Myungsoo baru saja menyelesaikan makan siangnya dan kembali dengan pekerjaannya. Suzy masuk ke ruang kerja Myungsoo untuk melihat apa yang dilakukan, mungkin saja ada yang bisa dia bantu. Suzy masuk dan duduk di sofa dimana banyak sekali tumpukan berkas dimeja depan sofa.


"Pangeran, apa ini? Banyak sekali" tanya Suzy yang memicingkan matanya melihat banyak tumpukan berkas.


"Itu berkas untuk beberapa proyek yang mau aku tangani. Aku belum sempat melihatnya karena yang ini belum selesai" jawab Myungso yang matanya masih sibuk dengan berkas didepannya.


"Kau sudah makan siang? Jangan lupa makan walau sibuk"


"Apa kau sedang perhatian padaku? Aku Sungguh tersanjung tapi kau sendiri asyik berkencan dengan sepupuku hingga sore. Kau melupakanku? Seharusnya kau sudah di istana sebelum jam 12 tapi lihat ini jam 2"


"Aku tidak melupakanmu. Aku hanya menemaninya jalan-jalan setelah mengantarnya terapi. Dia belum pernah ke Seoul jadi aku menunjukkan betapa indahnya kota seoul padanya. Maaf jika tidak memberimu kabar"


"Hmmm"


"Ayolah pangeran, jangan marah." rengek Suzy


"Aniya, aku hanya kesal pada diriku sendiri karena aku yang menyanggupi untuk mengantarkannya tapi aku ingkar janji karena kesibukanku tidak bisa aku tinggalkan. Aku jadi merepotkanmu putri"


"Tugasmu banyak, aku tahu itu. Tugasku tidak begitu banyak jadi aku bisa mengantarnya, kau jangan khawatir. "


Myungsoo menutup berkasnya, dia berdiri dari duduknya menghampiri Suzy yang duduk di sofa sambil membolak-balik berkas Myungsoo yang menggunung di meja. Myungsoo duduk dan memeluk Suzy dari samping, merebahkan kepalanya dipundak Suzy.


"Kau kenapa pangeran? Lelah?" tanya Suzy yang hanya dibalas dengan ciuman di sekitar leher putihnya.


"Hmmm" jawab Myungsoo masih menyurukkan kepalanya ke leher Suzy.


"Ish dasar, minggir" ucap Suzy berusaha menyingkirkan kepala usil Myungsoo namun Myungsoo malah memeluknya


"Aku sedikit lelah , biarkan sebentar jadi jangan mendorongku."


"Istirahatlah pangeran jika kau lelah, pekerjaan ini bisa menunggu atau mau aku bantu mengerjakannya?"


"Nanti saja, bagaimana denganmu? Bagaimana perkembangan mengenai kondisi kaki pangeran Eunwoo" tanya Myungsoo saat dirinya sudah duduk normal kembali di sofa samping Suzy.


"Memang belum ada perkembangan yang baik untuk saat ini, namun jika terus berlatih aku rasa kakinya akan segera membaik dan bisa berjalan normal kembali." jawab Suzy memanyunkan bibirnya.


"Maaf membuatmu repot putri, padahal aku sudah berkata akan mengantarnya tapi selama 2 minggu ini kau yang menemaninya setiap hari untuk terapi dan menambah tugasmu sebagai putri. Besok aku akan meluangkan waktu untuk menemanimu mengantarnya terapi"


"Tidak apa pangeran, aku senang melakukannya karena aku terasa memiliki seorang adik yang tampan dan imut sepertinya"


"Benarkah? Apa berkencan dengan adik ipar itu menyenangkan putri. Ingat batasanmu jika tidak sedang bersamaku"


"Apa kau takut aku lebih tertarik dengannya yang imut daripada denganmu yang tukang marah. Tapi jika dipikir-pikir itu bagus juga, dia lebih keren darimu pangeran Myungsoo" goda Suzy.


"Yaaa berani kau melakukannya, apa kata orang di istana setelah menikah denganku, lalu bercerai dan menikahi sepupu iparmu? Apa kau ini memang mau dianggap sebagai wanita rendahan yang mengincar harta" teriak Myungsoo yang sedang kesal.


"Kau mengerjaiku, dasar!"


"Hahahahaha"


"Awas kau ya" ucap Myungsoo yang langsung mengelitiki pinggang Suzy.


"Hahahahaha ampun oppa, ini geli hahahaha" ronta Suzy yang terus digelitiki Myungsoo membuat keduanya tertawa.


"Berani kau menggodaku lagi ha!"


"Ampun, ampun. Cukup oppa." ucap Suzy yang berhasil menghalangi tangan Myungsoo agar berhenti menggelitikinya.


"Suruh siapa menggodaku?"


"Suruh siapa cemburumu itu berlebihan begitu ckck"


"Aku tidak cemburu, aku hanya mengingatkan saja akan posisimu agar tahu batasanmu sebagai istriku dan putri di istana ini"


"Baiklah. Sesukamu saja pangeran asal kau senang. Aku mau pergi dan mengerjakan tugasku, menggodamu sungguh tidak asyik." ucap Suzy yang berdiri untuk beranjak pergi meninggalkan Myungsoo sendirian lagi diruang kerja pria itu.


*


*


Suzy makan malam dan menonton drama kolosal korea di paviliun ibu suri bersama Eunwoo, Sohee dan Eunji saja. Myungsoo ada pertemuan dengan raja Hwanhee dan permaisuri dibalai kota. Suzy tidak ikut karena dia diperbolahkan tidak ikut oleh raja karena aktivitasnya didalam istana sudah padat dan lagi Suzy harus mengurusi sepupu Myungsoo yaitu Eunwoo yang harus terapi kaki dan Eunji istri sepupu Myungsoo yang tengah hamil tua.


"Aku sungguh bahagia kalian bertiga mau menemani wanita tua ini makan malam dan menonton drama kolosal tahun 1819. Film dokumenter ini memang membosankan tapi aku harap kalian dapat memahami makna didalamnya" ucap ibu suri setelah drama kolosal yang mereka tonton berakhir.


"Nde yangmulia. Kami sangat senang bisa mendampingi yangmulia seperti ini, benarkan putri Suzy?" ucap Eunji yang duduk disamping kanan ibu suri bersama Suzy yang duduk berada di sisi kiri, sedangkan Eunwoo duduk di sofa tunggal sebelah Suzy


"Benar mama apa yang dibilang putri Eunji. Film ini membuat kita semua tahu bahwa perjuangan orang-orang zaman dulu sangat sulit dan berharap kita melestarikan negara ini agar lebih baik dan lebih maju lagi." tambah Suzy sambil tersenyum.


"Begitukah? Kita harus membuat jadwal untuk menonton drama dokumenter setiap minggunya. Agar kalian mendapat manfaat dari film itu"


"Nde mama. Kami senang menemani anda"


"Aku sungguh senang mendengarnya, permaisuri dulu juga seperti kalian namun sejak banyak kegiatan sehingga kami tidak ada waktu lagi menonton bersama"


"Jangan bersedih mama, sekarang sudah ada kami yang menemanimu"


"Kalian benar. Pangeran Eunwoo bagaimana menurutmu? Mengingat kau pertama kali menonton film dokumenter seperti ini" tanya ibu suri pada Eunwoo yang sedari tadi diam saja melihat interaksi tiga wanita didepannya.


"Saya pernah melihat drama kolosal saat saya kuliah mama, namun jika membuat jadwal seminggu sekali untuk melihat drama kolosal semacam ini saya rasa itu bagus. Saya senang karena itu akan menambah wawasan saya dan membuat saya mengerti bahwa Seoul menjadi seperti sekarang karena perjuangan raja terdahulu yang hebat." jawab Eunwoo memberi tanggapannya.


"Baiklah. Kalau begitu kita akan membuat jadwal menonton mulai sekarang, jika semua bisa ikut untuk melihat drama semacam ini bersama akan lebih bagus lagi"


"Nde mama"


Suzy masuk paviliunnya saat Myungsoo juga akan masuk paviliun membuat keduanya berpandangan sebentar sebelum ditegur Jin ae.


"Putri kembali, pangeran juga kembali? Kalian datang bersama" sambut Jin ae saat Suzy dan Myungsoo masuk ke dalam.


"Kami bertemu didepan. Kau belum beristirahat eonni? Ini sudah malam" tanya Suzy.


"Saya menunggu anda dan pangeran tuan putri, mungkin anda atau pangeran memerlukan sesuatu sebelum anda berdua pergi tidur" jawab Jin ae.


"Tidak perlu nona Jin ae, putri akan mengurusku dengan baik jika aku perlu sesuatu. Pergilah istirahat jika sudah waktunya kau pergi, kami berdua bisa mengatasi semuanya jika itu kau khawatir. Jangan kaku begitu atau takut, jika memang kami perlu mendesak maka kami akan mengirim pesan padamu"


"Nde pangeran. Saya permisi kalau begitu"


"Pergilah"


"Hati-hati eonni, sampai besok"


"Saya pamit putri, pangeran" ucap Jin ae yang berpamitan dan pergi dari paviliun menuju tempat khusus para sanggung, dayang dan pelayan istana istirahat karena jam kerja mereka sudah habis.


"Eonni terlalu rajin dan disiplin, padahal aku bisa melakukan apapun sendiri jika mengurusimu"


"Aku tahu kau bisa mengurusku dengan baik, tapi mereka hanya melakukan tugasnya. Tugasmu hanya perlu melahirkan anak untukku jadi kau tidak boleh terlalu capek, aku bahkan sudah meminta yangmulia agar tidak membuatmu capek beraktivitas"


"Ish, kau menyebalkan. Aku sedang serius kau malah bercanda dengan mengatakan hal menyebalkan"


"Siapa yang bercanda putri, aku serius dengan ucapanku"


"Tapi kita sudah berjanji menunda memilikinya sampai kita saling cinta."


"Aku tahu tapi bukan berarti aku tidak boleh menyentuhmu kan?"


"Baiklah, kau menang"


"Tentu saja"


Myungsoo langsung menggendong Suzy ala bridal menuju kamar mereka dan menghabiskan malam indah mereka bersama, menyalurkan gairah cinta mereka berdua yang menggebu ingin memiliki, mengembara mencari arti cinta dihati mereka masing-masing.