
Istana mulai sibuk menyambut para tamu yang akan menghadiri upacara pernikahan pangeran Myungsoo dan putri Suzy. Sementara Myungsoo menyambut mereka bersama raja, permaisuri dan ibu suri. Suzy mempersiapkan diri dengan menjalani perawatab badan dan wajah agar terlihat fress ketika prosesi upacara pernikahan.
"Apa menikah dengan pangeran istana itu harus seribet ini eonni? Menjalani proses dan perawatan sebanyak ini, huft... " keluh Suzy.
"Sepertinya putri Suzy sudah tidak sabar ya menjalani prosesi pernikahan dengan pangeran" goda Hyo ki mengerling genit pada Suzy
"Bukan begitu, rasanya melelahkan karena terlalu banyak prosesi yang harus aku jalani hehehe. Oiya Jin ae eonni apa pangeran tidak pernah memiliki kekasih?" tanya Suzy penasaran.
"Putri tidak tahu?" sahut Nana.
"Tahu apa?"
"Dulu pangeran juga punya kekasih putri, itu terjadi sebelum pangeran menjalani kuliah S2 diluar negri namun mereka berakhir tidak baik" jawab Jin ae.
"Kenapa mereka berpisah? Aku lihat Keluarga istana sepertinya tidak bermasalah jika pangeran berkencan dengan siapapun. Apa terjadi sesuatu? Atau dia selingkuh? Ayo jawab. Jangan diam saja" tanya Suzy terus menggali info tentang Myungsoo
"Kekasih pangeran punya niat yang tidak baik putri, dia menjauhkan pangeran dari keluarga istana. Dia mengincar status sosial dan kekayaan pangeran saja bukan karena dia mencintai pangeran" jawab Nana.
"Nana, kau jangan lancang. Itu tidak sopan!" bentak Jin ae.
"Biarkan saja eonni Nana berbicara. Aku hanya ingin tahu saja tentang calon suamiku karena kami akan menikah. Jangan terlalu formal jika hanya ada kita berempat, mengerti!"
"Nde putri"
"Lanjutkan ceritamu, Nana"
"Wanita itu membawa bencana putri untuk istana, permaisuri langsung jatuh sakit dan ibu suri yang marah tidak mau bicara dengan pangeran hingga akhirnya raja yang mengambil keputusan mengasingkan pangeran Myungsoo sementara dengan kuliah S2 diluar negri. Tidak ada keceriaan selama beberapa tahun terakhir hingga anda datang dan membawa keceriaan itu kembali"
"Memang apa yang dilakukan wanita itu? Apa dia seorang kriminal atau dia mencuri di istana" tanya Suzy yang membuat ketiganya terdiam dan menunduk. Suzy yang berendam dibak besar dengan bunga mawar menunggu mereka bicara namun tidak ada yang bicara. "Apa aibnya sungguh besar? Hingga kalian tidak mau memberitahuku? Ayo katakan padaku dia kenapa hingga istana berantakan karenanya."
"Kami tidak berani menjawab putri"
"Begini saja aku yang akan bertanya, kalian hanya cukup iya dan tidak. Bagaimana?"
"Nde"
"Apa wanita itu melakukan kejahatan?"
"Aniya"
"Apakah wanita itu berselingkuh dari pangeran"
Ketiganya hanya saling berpandangan saja, tidak menjawab iya ataupun tidak.
"Hmmm. Apa ya? Hmmm... Apakah wanita itu pernah menikah?"
Ketiganya mengangguk yang langsung membuat Suzy berdiri dari berendamnya, ketika sadar Suzy langsung kembali berendam.
"Astaga, dia sudah pernah menikah dan pangeran tidak tahu? Lalu keluarga istana? Apa mereka juga tidak tahu"
"Kami tidak tahu secara detailnya putri? Tapi istana sangat heboh dimedia berita masa anda tidak tahu putri?"
"Aku sibuk belajar mana pernah ada waktu walau hanya sekedar menonton TV, ceritakan garis besarnya saja agar aku mengerti."
"Dia sudah menikah dengan pengusaha namun pengusaha itu lumpuh karena kecelakaan besar dan wanita itu ternyata hanya menguras hartanya, setelah pengusaha itu meninggal wanita itu mendekati pangeran untuk status sosial dan ingin menguasai harta istana juga dibawah kakinya."
"Lalu kenapa yangmulia ibu suri, permaisuri dan raja harus terluka? Walau wanita itu tidak baikkan pangeran Myungsoo mencintainya. Kalau dia terlatih nanti juga hilang sikap matrenya."
"Anda tidak akan menduganya putri. Pengusaha dari mantan suami wanita itu adalah anak dari saudara sepupu raja"
"Astaga, tidak bisa aku bayangkan ini terjadi di istana. Bagaimana mungkin wanita itu pandai bersandiwara dan bermain rapi. Ckckck."
"Wanita itu mendekati pangeran juga semua beranggapan karena dia tahu dari mendiang suaminya, dia membuat pangeran jatuh cinta dan ingin menguras harta istana juga demi status sosial. Semua diketahui permaisuri dan ibu suri saat mereka mencari tahu latar belakang wanita itu, mereka bahkan hampir mendukung hubungan pangeran dan wanita itu. Namun wanita itu selalu mengelak jika yangmulia ingin mengetahui latar belakang keluarganya. Tapi syukurlah kebenaran akhirnya memnbongkarnya" jelas Jin ae yang membuat Suzy berpikir kenapa Myungsoo begitu dingin dan kasar padanya.
"Dulu pangeran Myungsoo juga orang yang baik, ramah, bersahabat dan murah senyum pada semua orang. Sejak insiden wanita itu dia menjadi sangat dingin bahkan saat raja mengasingkannya, dia meminta agar raja mengirimnya keluar negri yang jauh karena rasa bersalahnya yang membuat keluarga istana terluka" tambah Hyo ki.
"Semoga anda bisa membuat pangeran kami kembali menjadi pangeran yang hangat lagi dengan sikap anda, karena pangeran sudah setuju dengan pilihan istana. Istana kembali ceria setelah kedatangan anda setahun ini"
"Tapi dulu pangeran juga sempat dekat dengan seorang anak bangsawan, namun sepertinya hubungan mereka berakhir putri. Kami harap putrilah yang terakhir yang bisa membawa kedamaian dalam istana ini agar kelak istana ini smakin maju."
"Andai kalian tahu yang terjadi semalam" ucap Suzy dalam hati, namun wajahnya menunjukkan tersenyum.
"Putri, ayo segera berpakaian, airnya sudah mulai dingin"
Suzy berpakaian, dan memulai belajar lagi mengenai tahapan prosesi pernikahannya. Ibu suri dan permaisuri juga berkunjung sebentar saat makan siang melihat persiapan yang dilakukan Suzy.
"Astaga eonni kelasmu benar-benar melelahkan? Lebih senang mengajar dikelas dengan muridku yang nakal daripada kelasmu hari ini. Melelahkan!" keluh Suzy saat ajaran Jin ae selesai. Mereka bertiga hanya tertawa melihat gerutuan sang putri.
"Putri, obat anda" ucap Hyo ki menyerahkan obat yang harus diminum Suzy, Suzy langsung menerima dan meminumnya.
"Gomawo eonni"
"Putri, anda tadi bertanya tentang kekasih pangeran. Lalu anda sendiri bagaimana?" tanya Nana sedikit menggoda.
"Nana, itu tidak sopan" bentak Jin ae.
"Kalian ini penasaran sekali hahaha. Aku tidak punya, jatuh cinta itu saja aku tidak tahu. Hanya dulu aku pernah menyukai teman SMAku hanya saja karena aku terlahir yatim piatu membuatku takut memiliki dan dimiliki seseorang, aku tidak berani mencintai dan memilih menutup diri ku dari persoalan cinta. Namun aku bahagia saat tahu orangtuaku menitipkan aku pada istana, bukan bahagia karena menikah dengan pangeran tapi karena aku akan memiliki sebuah keluarga yang sangat aku impikan. Aku akan memiliki ayah, ibu dan nenek yang telah hilang dari hidupku" ucap Suzy dengan mata berkaca-kaca membuat ketiga dayangnya ikut bersedih.
Malam hari,
Suzy melihat Myungsoo duduk ditaman istana sambil memegang buku ditangannya. Suzy duduk disampingnya.
"Boleh ku temani pangeran? Aku janji tidak akan mengganggumu" ucap Suzy.
"Ada apa? Apa merindukanku eoh? Kau bebas melakukan yang kau suka putri" goda Myungsoo dengan wajah datarnya.
"Hmm. Tidak berdebat denganmu rasanya membuatku rindu pangeran, sepi rasanya."
"Gadis aneh, bukankah ketika sakit kemarin kau memelukku begitu erat hingga aku kesulitan bernapas"
"Gomawo pangeran, kau sudah menjagaku selama aku sakit bahkan merelakan waktu tidurmu untuk menjagaku sepanjang malam"
"Kau mau meledekku permaisuriku. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja jangan percaya diri"
"Tapi sekali lagi gomawo sudah menjagaku sepanjang malam"
"Baiklah, bukankah itu konspirasi yang bagus putri"
"Sesukamu saja pangeran, aku mau tidur dulu. Selamat malam"
*
*
*
Suzy sudah didandani secantik mungkin oleh perias istana. Ketiga dayangnya membantu Suzy mengikuti prosesi demi prosesi adat pernikahan istana. Ibu suri, permaisuri dan raja sangat bahagia melihat acara pernikahan pangeran mereka yang berlangsung dengan lancar hingga malam hari.
Setelah acara selesai, Suzy membawa sebotol soju dan gelas untuk dibawa ke taman. Suzy melihat kearah langit yang begitu cerah dengan banyak bintang namun tidak dengan hatinya yang sedih.
Dibelakang pohon besar sambil menatap langit malam Suzy merasakan sesak didadanya, airmatanya mulai
mengalir deras.
"Ayah, kau tahu hari ini aku menikah. pernikahan mewah namun aku tidak bisa menikmatinya, karena tidak ada dirimu yang membimbing langkahku menemui calon suamiku, tidak ada tangan yang dapat kuraih saat aku merasa cemas dan gugup, tidak ada senyummu yang menenangkanku bahwa ini jalan terbaik yang akan ku jalani. Andai kau disini pesta ini akan jauh lebih meriah jauh lebih hangat. mengapa kau hadirkan keluarga terhormat ini untukku tapi kalian pergi meninggalkanku sendirian aku benar2
merindukanmu, ayah" Teriak Suzy dalam tangisnya. "Ibu, hari ini aku menikah. Hingga detik ini aku bingung harus bagaimana bersikap dihadapan Permaisuri. Apa boleh
aku memanggilnya ibu? mengapa bukan dirimu yang menyiapkan semua ini, menyiapkan pakaian pernikahanku, menghapus tangisku saat gelisah, menenangkan tidurku sebelum hari pernikahan. Mengapa tidak ada dirimu yang mengajariku bagaimana menjadi seorang istri yang baik nantinya, mengapa harus aku
menanggung sendiri semua ini. Kau tidak memberi nasihat sebelum aku melangkah menjalani hidup baru sebagai seorang istri, aku tidak bisa memberi penghormatan sebelum kau dan ayah menyerahkanku pada orangtua baruku. Kau tahu saat ini aku benar-benar ingin pelukmu... mengapa kau pergi begitu cepat." Suara Suzy makin menyesakkan.
"Kakek, nenek, kalian tidak ada hadiah untukku? hari ini aku menikah, setidaknya kau bisa hadiahkan senyuman untukku seperti ketika ulang tahun kau tidak menemaniku meniup lilin, setidaknya kau hadir memberi pelukan untukku saat ini. Apa aku nakal hingga kalian pergi tanpa mau menunggu aku menikah dan berkenalan dengan suamiku. Dulu aku bilang aku ingin menikah saat usiaku 28 tahun agar bisa terus bersamamu, tapi sekarang semua kupercepat diusia 23 tahun tapi mengapa kalian meninggalkan aku. Ayah, ibu, kakek, nenek aku ingin foto keluarga bersama kalian. Mengapa kalian tidak mau bersabar menunggu hingga hari ini, mengapa kalian meninggalkan aku sendiri? Aku merindukan kalian. Apa kalian dengar, aku selalu merindukan kalian, aku mencintai kalian, aku ingin kalian disini, hiks.." Suzy duduk bersimpuh menangis sejadi-jadinya, tanpa disadari beberapa matapun ikut
menangis merasakan kesedihannya.
"Putri Suzy hiks..." ucap Hyo ki dan Nana ikut menangis saat melihat tuan putrinya menangis frustasi seperti itu.
"Hapus air mata kalian sebelum putri Suzy tahu, dan kembali kedalam" perintah Myungsoo.
"Nde pangeran"
Ibu suri juga ikut menangis ditemani Jin ae dan permaisuri, cukup lama Myungsoo membiarkan Suzy menangis sebelum akhirnya dia melangkah mengahmpiri Suzy dan menyampirkan baju hangat untuk sang istri. Suzy tahu ini ulah Myungsoo, Suzy segera berdiri dan menghapus air matanya sebelum berbalik kearah Myungsoo.
"Maaf, aku meninggalkan pestanya begitu saja. Gomawo baju hangatnya" ucap Suzy yang berjalan melangkah akan masuk ke tempat pesta namun tangan Myungsoo menariknya.
"Ikuti aku"
"Eh"
Myungsoo menarik Suzy masuk kedalam mobilnya, melajukan mobil menyusuri jalan raya yang tidak pernah sepi.
"Kita mau kemana pangeran? Pestanya bukannya belum selesai didalam." tanya Suzy dengan bingung.
"Aku ingin berkenalan dengan mertuaku dan keluarga istriku? Kau maukan mengantar suami tampanmu ini untuk menemui mereka" jawab Myungsoo dingin namun sebenarnya ingin menghibur.
Suzy yang bingung dengan sikap Myungsoo tetap menunjukkan jalan menuju perbukitan dimana keluarga Suzy dimakamkan. Saat sampai Myungsoo langsung mengikuti langkah kaki Suzy, udara yang dingin semakin menusuk tulang karena sebentar lagi pergantian musim. Mendekati makam keluarganya Suzy meraih tangan Myungsoo hingga berdiri dimakam keluarga Suzy.
"Ayah, ibu, kakek, nenek hari ini aku menikah. Tidakkah aku cantik? Perkenalkan ini pangeran Myungsoo yang kalian pilih untukku, dia tampan dan serasikan denganku bukan?" ucap Suzy gembira. Suzy terus menceritakan setiap prosesi pernikahannya dengan suara yang makin lama makin menyedihkan.
"Udara makin dingin, ayo kita pamitan untuk pulang" ucap Myungsoo membantu Suzy berdiri dari makam.
"Pangeran, maukah kau mengantarku singgah sebentar dirumahku? Aku ingin menemui ibu asuhku"
"Tunjukkan jalannya."
Suzy menunjukkan jalan rumahnya yang ternyata tidak jauh dari bukit tempat pemakaman keluarganya. Suzy mengetuk pintu lumayan lama karena waktu sudah dini hari. Seorang bibi terkejut melihat nonanya datang.
"Nona Suzy"
"Bibi Hwang kau apa kabar? Kau sehat dan banyak istirahatkan " ucap Suzy yang dimana Bibi Hwang langsung memeluk nonanya erat dan mengelus rambut Suzy dengan sayang. Menyadari Suzy tidak sendiri bibi Hwang langsung bertanya. "Nona kau menggunakan baju pengantin? Kau baru menikah? Pangeran, astaga. Mari masuk aku akan membawakan teh untuk kalian" ucap bibi Hwang mempersilahkan masuk dan segera masuk kedalam untuk membuatkan teh kepada pasangan suami istri tersebut.
"Kau duduklah dan nyamankan dirimu, aku mau ganti pakaian dulu" ucap Suzy.
"Eoh"
Bibi Hwang membawakan teh hangat terlihat dari uap yang mengepul, Myungsoo duduk diruang tamu sedangkan Suzy masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian.
"Kau pangeran Myungsoo kan?" tanya bibi Hwang.
"Bagaimana anda tahu bibi?" jawab Myungsoo dengan terkejut.
"Perjodohan kalian terjadi saat nona Suzy baru saja lahir, itu sebagai ungkapan terima kasih dan rasa bahagia keluarga Bae. Anda tahu pangeran, jika tuan besar dan tuan muda Bae tidak membantu permaisuri saat itu mungkin selamanya permaisuri tidak memiliki keturunan. Permaisuri selalu mengalami pendarahan sehingga dia hanya bisa melahirkan anda dan saudari kembar anda putri Minkyung. Cerita ini pasti istana lebih paham namun pangeran bolehkan aku minta tolong pada anda?"
"Apa bibi?"
"Tolong jaga Nona Suzy, dia begitu
kesepian dan terlalu rapuh untuk udara dingin, kesendiriannya banyak membuatnya melarikan diri dari keramainnya. Nona bukan terlahir sebagai orang yang cerdas hingga bisa begitu cepat menyelesaikan sekolahnya, karena statusnya sebatang kara dia memiliki tekad untuk bisa menyelesaikan semua pendidikannya dengan cepat "
"Maksud anda?" tanya Myungsoo bingung.
"Nona selalu sendiri setiap kali menghadiri acara sekolah yang memerlukan kehadiran orangtua, Nona selalu tampil sendiri setiap kali ia mendapatkan penghargaan atas prestasinya, hidupnya hanya dilalui untuk belajar, mengikuti semua test kenaikan tingkat untuk mencapai jenjang pendidikan selanjutnya, hingga akhir dimana untuk teman sebayanya mereka baru akan masuk kuliah, Nona malah sudah lulus dari bangku kuliah dan mengajar
di sebuah SMA. Karena keadaanlah yang memaksanya menjadi pintar, mempelajari semuanya, apapun yang ada dibangku sekolah
atau yang dia dapat dari pengalaman hidupnya"
"Lalu hubungannya dengan tubuhnya yang tak kuat udara dingin?"
"Dulu sepulang sekolah Nona banyak menghabiskan waktu dimakam keluarganya, tidak peduli musim dan cuaca, apapun dia ceritakan disana. Nona sering jatuh pingsan akibat kedinginan, penjaga makam disana seringkali mengantarkan Nona dengan tubuh menggigil. Pangeran, maukah anda menggantikan aku untuk menjaganya" Pinta bibi Hwang dan percakapan terhenti saat Suzy keluar membawakan baju hangat untuk Myungsoo.
"Ayo pulang, hari sudah malam. Bibi kami pulang, lain kali kami akan mampir kesini lagi" ajak Suzy.
"Berhati-hatilah"
Myungsoo melajukan kendaraannya menuju istana. Suzy bingung saat Myungsoo menariknya untuk menuju paviliun dimana dirinya tinggal.
"Kau mulai malam ini tidur disini, barangmu sudah dipindahkan kesini tadi pagi" ucap Myungsoo menunjuk pintu kamar disebelah kamarnya.
"Kita tidak sekamar?" tanya Suzy.
"Kau tidak berharap kita tidur satu kamarkan?" goda Myungsoo.
"Tidak, baguslah" balas Suzy.
"Kita lihat saja nanti, apa kau akan meminta kita sekamar atau tidak"
"Dalam mimpimu pangeran" ucap Suzy yang langsung membuka pintu dan masuk kedalam kamarnya, Myungsoopun melakukan hal sama. Masuk ke dalam kamarnya sendiri.